
Rianti mencoba menelpon Emir berkali-kali tapi tak ada jawaban sama sekali darinya, dia juga mengirimkan pesan pada Emir tapi juga tak ada balasan darinya.
Rianti dan Jodi masih berdiri di depan rumah Lilia dengan banyak barang seserahan di sekelilingnya. keduanya menunggu sang tuan rumah yang belum juga keluar menemui mereka.
"Sebenarnya kemana sih dia...dia tak bisa di hubungi....dia memang selalu tak bisa datang tepat waktu......dasaarr..."
umpat Rianti lirih yang masih bisa di dengar oleh Jodi.
"Sudahlah maa...aku yakin dia tak akan datang....dia sangat membenci Ara...lagi pula aku juga tak berharap dia datang..."
kata Jodi dengan wajah malasnya menatap layar ponsel Rianti yang masih menyala.
"Tapi dia sudah bilang bahwa dia bersedia untuk datang sayang...tunggulah sebentar lagi..."
"Sudahlah maa....jangan berharap pada orang yang tak bisa di harapkan seperti papa..."
Hendak berdebat lagi keduanya di kagetkan dengan sapaan Lilia yang tiba-tiba ada di hadapannya.
"Nyonya Rianti...Jodi...ada apa kalian datang kemari di malam hari seperti ini..apa ada hal yang penting... kenapa kalian juga membawa ini....ini seperti seserahan lamaran.... ini untuk siapa nyonya..."
kata Lilia mengernyitkan dahi melihat seluruh seserahan yang di taruh di sebuah meja dan bangku di depan rumah Lilia. Bangku dan meja itu tampak penuh sesak dengan barang-barang yang di bawa oleh Rianti dan Jodi.
"Selamat malam Tante..."
sapa Jodi ramah.
"Selamat malam nyonya Lilia...ada hal penting yang harus segera kami bicarakan nyonya...dan untuk apa lagi semua ini jika bukan untuk melamar anak nyonya...Ara...."
kata Rianti dengan sangat yakin.
"Ara...mereka datang untuk melamar Ara..."
kata Bima yang baru saja tiba di belakang Lilia, dia terkaget dengan perkataan Rianti.
Sementara Ara yang berada di belakang Bima hanya terdiam, dia tercengang dengan apa yang dilakukan oleh Jodi dan juga Rianti.
aku bahkan baru saja berpisah dengan Chandra....lukaku belum benar-benar sembuh setelah mengetahui semuanya...aku juga belum bisa melupakan rasaku pada Chandra...aku rasa aku belum bisa menjalin hubungan baru lagi...apalagi dengan Jodi...aku sangat merasa bersalah ketika melihatnya....karna aku telah berkhianat darinya..
batin Ara sambil melihat seluruh barang yang di bawa oleh Jodi untuknya.
"Benar tuan...kami datang untuk Ara...perkenalkan nama saya Rianti...ini anak saya Jodi...dia yang ingin melamar Ara..."
kata Rianti ramah sambil mengulurkan tangannya pada Bima, memperkenalkan dirinya karna baru kali ini keduanya bertemu.
"Nama saya Bima nyonya...tapi apa semua ini tidak terlalu terburu-buru...anak saya baru saja..."
__ADS_1
kata-kata Bima terpotong oleh Rianti yang langsung menjawab dengan cepat.
"Ya saya tau hubungan barunya dengan anak Anda Chandra... saya sudah tau semuanya..bukankah lebih baik Ara segera menjalin hubungan baru agar dia bisa secepatnya melupakan semuanya.."
kata Rianti mencoba membujuk.
"Baiklah..baiklah... lebih baik kita membicarakan ini semua di dalam...mari masuk..."
kata Lilia akhirnya mempersilahkan keduanya masuk, dia lalu juga menyuruh para pelayannya untuk membawa barang-barang yang di bawa oleh Rianti dan Jodi.
Baru saja masuk ke ruang tamu keduanya sudah di kagetkan dengan suara dingin Chandra yang ternyata sudah duduk di sofa ruang tamunya.
"Untuk apa kalian datang kesini....kehadiran kalian tak di harapkan disini....pergi sebelum aku mengusir kalian dengan cara yang kasar....apalagi kau..."
kata Chandra di akhir kalimatnya menunjuk Jodi dengan sorot matanya.
"Chandra...tunjukkan rasa sopan santunmu...hargai mereka....mereka tamu di rumah kita..."
bentak Bima pada Chandra yang di nilai sudah keterlaluan.
"Mereka yang tak punya sopan santun pa.... Ara bahkan baru saja berpisah denganku..tapi dia sudah berniat untuk menikahinya..."
kata Chandra dengan penuh amarah.
"Bukankah tidak ada pernikahan di antara kalian...semua itu tak boleh terjadi bukan..."
"Cukup.... Chandra kau masuk... jangan buat suasana semakin tak terkendali...mereka kesini dengan niat yang baik...tidak bisakah kau sedikit saja menghargai mereka..."
kata Bima membentak pada Chandra.
Akhirnya Chandra pun masuk meskipun harus dengan paksaan dan bentakan berulang dari Bima, dia terus saja mengumpati Jodi, tak ingin Jodi benar-benar memiliki Ara.
Sekarang Bima, Lilia, Rianti dan Jodi duduk berhadapan mereka membicarakan mengenai lamaran Jodi. Awalnya Bima tak setuju karna dia berfikir semua itu terlalu cepat, Ara dan Chandra juga belum sepenuhnya menerima keadaannya sekarang. Meski tak terucap tapi Bima tau apa yang tengah mereka pendam dalam hati dan fikiran mereka.
Lama berunding akhirnya baik Bima dan Lilia pun akhirnya setuju dan menerima lamaran Jodi. Sementara Ara hanya terdiam melihat dan mendengar apapun yang mereka bicarakan disana, setiap di tanya Ara hanya menjawab semua terserah Lilia dan Bima dia sudah pasrah dengan jalan hidupnya, karna dia memang tak pernah di berikan pilihan dalam hidupnya, semua berjalan seakan karna kehendak Tuhan.
Tengah asyik berbincang berbagai hal disana, tiba-tiba saja Emir datang dan langsung masuk ke ruang tamu berdiri tepat di belakang sofa Jodi dan Rianti.
Bima hanya menatap ke arah Emir tak tau siapa dia sebenarnya, sementara Lilia seketika terperanjat dan berdiri, dia menatap Emir dengan seksama, matanya bahkan tampak memicingkan untuk memperjelas pandangannya.
kenapa dia ada disini...bagaimana dia tau rumahku....apa dia mengenal Bima...
batin Lilia menatap Emir dan Bima bergantian.
Ssiiiaal...kenapa aku harus bertemu dengan dia disini...siapa dia...apa hubungannya dengan wanita itu...
__ADS_1
batin Emir sambil menatap Ara dan Lilia bergantian.
Melihat tingkah Bima dan juga Lilia seketika Rianti menoleh ke arah belakang dan melihat siapa yang berada disana.
astaga dia baru saja datang...kehadirannya sekarang benar-benar sudah tidak di butuhkan...
batin Rianti sambil berjalan mendekati Emir.
"Kenapa kau selalu datang terlambat..kau benar-benar mengecewakan..."
bisik Rianti pada Emir.
"Untuk apa kita datang kesini...ayo segera pulang...ini bukan tempat yang baik.."
kata Emir dengan lirih juga, menggandeng tangan Rianti mengajaknya pergi.
"Hey...apa kau sudah gila...kau terlambat...sekarang kau malah bertanya untuk apa aku disini..."
Bisik Rianti dengan amarah, matanya bahkan membulat sempurna ke arah Emir.
Ara yang melihat tingkah keduanya hangat bisa memalingkan wajahnya bernafas dengan jengah, apalagi melihat Emir Ara kembali mengingat rasa sakit hatinya dulu. Mengingat lagi bagaimana Emir mencaci, menghina dan mengusirnya.
"Maaf nyonya...dia ini siapa...mari duduklah tuan..."
kata Bima dengan ramah pada Rianti dan Emir.
"Ohh...hehe..maaf tuan Bima...perkenalkan dia ini adalah Emir...dia ayah dari Jodi...lebih tepatnya adalah suami saya..."
kata Rianti menjawab dengan canggung karna malu dengan tingkahnya di depan calon besannya.
"Apaaaa....d...dia ayah dari Jo..Jodi...."
kata Lilia kini bersuara dengan lantang karna terkaget dengan penuturan dari Rianti. Lilia juga memandang Emir dengan tatapan kebencian, tangannya terkepal kuat seakan ingin melampiaskan sesuatu yang tiba-tiba bergejolak dalam tubuhnya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...