Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Kecewa


__ADS_3

"Cepat katakan apa maksud dari foto ini...."


kata Jodi membentak pada Leo yang ada di sampingnya.


Sang asisten Leo segera mendekat dan memegang ponsel Jodi dengan cepat, melihat apa yang di pertanyakan oleh tuannya.


Leo hanya terdiam tak berani menjawab, dia juga terkaget dengan apa yang dia lihat sekarang. ya.. disana terpampang jelas foto Ara menggunakan gaun pengantin sedang menggandeng tangan Chandra yang ada sampingnya tepat di atas altar pernikahan.


"Itu tidak benar kan Leo..."


kata Jodi yang melihat Leo hanya terdiam.


Leo menaruh ponsel Jodi di atas meja dan mundur beberapa langkah dari meja kerja Jodi.


"Itu hanya akal-akalan papa kan...dia ingin aku menyerah dengan semua syaratnya ini kan..."


tanya Jodi lagi.


Sementara Leo lagi-lagi hanya terdiam di tempat, dia menundukkan kepala dalam.


"Leeo...apa kau tuli...katakan sesuatu aku bertanya padamu..."


suara bentakan Jodi terdengar menyeramkan.


"Maaf tuan...sepertinya foto yang di kirim oleh tuan besar itu adalah foto asli..."


jawab Leo setengah gemetar.


"Jadi maksudmu Ara benar-benar menikah disana...dia menikah dengan orang lain..."


kata Jodi masih dengan nada tinggi.


"Maaf tuan..saya masih belum bisa pastikan kebenaran itu...saya akan segera menyelidikinya..."


jawab Leo.


Ingin menjawab perkataan Leo tapi tiba-tiba ponsel Jodi berdering, dia melihat Emir sedang menelponnya, dengan cepat Jodi mengangkatnya ingin segera memastikan kebenaran dari foto yang baru saja di kirim oleh papanya.


"Hallo pa... apa maksud dari foto ini...papa ingin menjebakku dengan mengirim foto palsu pernikahan Ara kan.. hmmm.... aku sama sekali tak akan percaya..."


kata Jodi dengan cepat setelah panggilan tersambung.


"Hahaha...kau kira aku tak memiliki pekerjaan lain disini.. hingga harus menjebakmu dengan mengirim foto palsu dari wanita malam itu...haha...sudah aku katakan dia tak benar-benar mencintaimu...sekarang apa kau percaya dengan perkataan ku..."


kata Emir yang terdengar malah tertawa renyah di sebrang sana.


"Aku kan sudah bilang dia hanya ingin mengincar hartamu saja Jodi...kau hanya inang untuk hidup nya... setelah kau pergi kau lihatkan...dia mendapatkan inang baru...dia tak benar-benar mencintaimu...sekarang dengan mudahnya dia malah menikah dengan orang lain..."


imbuh Emir lagi.

__ADS_1


"Tidak...aku yakin ini hanya akal-akalan papa... papa ingin aku menyerahkan...hanya kurang satu bulan aku akan menjalankannya lalu aku akan segera pulang dan menikahi Ara...papa tak boleh melarangku lagi...itu sudah janji papa... janji yang harus di tepati..."


kata Jodi dengan hati yang sudah tidak karuan, antara percaya dan tidak, hatinya sudah di liputi amarah karna melihat Ara yang bersanding dengan pria lain, meski di yakini Jodi itu hanyalah foto palsu.


"Haha...rupanya kau masih tak percaya dengan kebenaran itu...baiklah aku akan mengirim sebuah video padamu...agar kau percaya bahwa itu semua adalah nyata...bangun dari tidurmu Jodi...kau telah banyak di buai oleh mimpi indah pelacur gila itu..."


Tak berselang lama Emir mengirimkan sebuah video di ponsel Leo, yang langsung di lihat oleh Jodi. Disana di perlihatkan suasana pernikahan di rumah Ara, terlihat betapa bahagianya Ara dengan senyuman mengembangnya, memakai gaun pernikahan yang sama seperti di foto. Disana juga terlihat Nura dan Heni yang di kenal baik oleh Jodi sebagai sahabat Ara juga tersenyum bahagia untuk Ara.


Rupanya Emir telah menyuruh salah satu anak buahnya untuk menyelinap, menyamar sebagai salah satu anak buah Chandra. Dia bertugas untuk mengambil foto dan video sebagai bukti pernikahan Ara pada Jodi.


"Aaarrggh...siaaal...kenapa kau lakukan semua ini padaku Ara..."


kata Jodi berteriak kesal setelah melihat video di ponsel Leo.


"Sekarang kau percayakan dengan semua perkataanku...dia sudah meninggalkanmu....lebih baik kau bersama wanita pilihan papa dia lebih baik dari segala sisi daripada wanita murahan itu..."


kata Jodi di bumbui bujukan.


"Sekarang apa gunanya ini semua..aku tak peduli lagi...aku akan pulang...jangan menghalangi ku lagi....papa memang penyebab dari semua ini...papa membuat hidupku hancur sekarang..."


jawab Jodi malah berteriak-teriak marah, dia membanting ponsel yang masih menempel di telinganya hingga terpental tepat ke arah Leo.


Jodi menangis sejadi-jadinya, menyandarkan kepalanya di kursi kerjanya. Dia sangat menyesal ternyata pilihannya meninggalkan Ara, sebagai syarat dari sang papa untuk mendapatkan restu malah membuat dia kehilangan Ara untuk selamanya.


Dan pagi itu juga Jodi memutuskan untuk pulang dengan wajah penuh amarah, benci, kecewa, sedih semua bercampur menjadi satu.


"Tanpa aku minta... ternyata wanita itu meninggalkan Jodi dengan sendirinya...terimakasih bocah tengil kau telah mempermudah jalanku menyingkirkan wanita murahan itu dari kehidupan anakku...semoga kalian bahagia....hahaha..."


kata Emir sambil menaruh ponselnya, dia masih ingat betul wajah Chandra yang kala itu bertemu dan mengancamnya atas perampokan yang menimpa Ara.


Chandra mengancam Emir, tak memperbolehkannya untuk mengganggu Ara lagi. Jika saja Emir barusaja mengusik kehidupan Ara lagi, Chandra akan melaporkan perbuatannya pada polisi dengan semua bukti yang sudah dia pegang, yang tentu akan mencoreng nama baiknya.


"Hiduplah bahagia dengan wanita benalu itu....dasar bocah bodoh..."


umpat Emir pada Chandra di akhir kalimatnya.


***


Suasana pesta kecil-kecilan di rumah Ara cukup meriah, meski hanya di hadiri oleh pihak keluarga Chandra dan teman-teman mereka.


Ara dan Chandra terlihat menebar senyum bahagia pada siapa saja disana.


"Sayang... sekali lagi selamat ya...Mama bahagia dengan pernikahan kalian...segera berikan cucu yang lucu pada Mama ya..."


kata Lilia dengan senyum penuh menggoda, dia sudah benar-benar ihklas menerima Ara sebagai menantunya, mengesampingkan egonya untuk kebahagiaan Chandra.


"Terimakasih Ma....tentu saja aku akan segera memberikan cucu untuk Mama..."


kata Chandra dengan senyum menggoda pada Ara.

__ADS_1


Ara yang mendengar jawaban Chandra Seketika menoleh padanya.


kenapa dia bilang seperti itu...padahal kita kan sudah sepakat untuk tidak tergesa memiliki anak...dasar...


batin Ara melirik Chandra kesal.


"Iya kan sayang...."


imbuh Chandra lagi sambil merengkuh tubuh Ara mendekat padanya.


"Hehe iya Tante...terimakasih karna Tante sudah menerima saya sebagai bagian dari keluarga Tante.."


kata Ara dengan tersenyum cerah.


"Tante..haruskah kau memanggilku Tante sayang....panggil aku Mama...kau sekarang sudah menjadi menantuku...panggil aku Mama...kau juga anakku sekarang..."


kata Lilia juga tersenyum cerah pada Ara.


"Iya Ma... maaf.."


jawab Ara dengan senyuman penuh rasa bersalah.


"Iya Ara kau sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga kami...kami orangtuamu juga sekarang..."


kata Bima menimpali sambil menepuk lembut bahu Ara.


Sementara Ara hanya menatap Bima dengan tawa ringan.


"Baiklah..sekarang papa dan Mama yang minta maaf karna tak bisa menemani kalian disini sampai larut malam..karna ada sebuah pertemuan yang tak dapat kami wakilkan....kami berjanji akan datang kesini lagi nanti Setelah selesai...mungkin sore atau malam nanti kami akan kesini menemani kalian.."


kata Bima yang memang ada sebuah pertemuan dengan klien pentingnya, pertemuan itu tak dapat di batalkan karna telah di sepakati sebelumnya, sebelum Bima mengetahui rencana pernikahan Chandra.


"Tak apa aku mengerti pa..."


jawab Chandra dengan senyum cerah karna dia memang sudah mengerti jadwal pertemuan itu sebelumnya.


Akhirnya Bima dan Lilia harus pergi meninggalkan pesta dengan secepatnya. Chandra melihat kepergian mereka dengan senyuman, sementara Ara merasa kecewa karna tak bisa mempertemukan Lilia dan Bima dengan Alma yang tak kunjung datang ke pesta pernikahannya.


.


.


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2