Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Bangkit


__ADS_3

Melihat seluruh berkas dan fotonya yang berserak di lantai tubuh Emir seketika terasa lemas tak bertenaga, rahasia yang sudah dia jaga rapat-rapat dari Rianti ternyata sekarang terbongkar sudah.


"Sayang...sayang...aku mohon maafkan aku...aku khilaf...aku berjanji aku tak akan mengulanginya lagi...aku mohon beri kesempatan untukku berubah...aku berjanji aku akan merubah semuanya untuk keluarga kita....aku tak mau kita berpisah sayang...aku mencintaimu... aku tak bisa hidup tanpamu..."


kata Emir kini berlutut memeluk kaki Rianti yang sama sekali tak bergeming.


"Apa kau bilang.. khilaf...sudah berapa banyak wanita yang telah berhubungan denganmu...kau bilang itu hanya khilaf...apa semua ini cinta namanya...seorang tak akan berkhianat jika benar-benar mencintai dan pada kenyataannya kau tak mencintaiku tapi kau hanya mencintai seluruh hartaku...kau memanfaatkan kekayaan keluargaku untuk kesenangan pribadimu... iya kan..."


jawab Rianti sambil berusaha menghindari Emir yang sedang berlutut di kakinya.


"Sayang aku mohon semua perkataanmu itu tidaklah benar sayang...aku mohon beri kesempatan untukku lagi...aku akan memperbaiki semuanya..."


kini Emir tak lagi memperdulikan wibawanya yang biasa dia junjung dengan tinggi, kini Emir menangis dan memohon di bawah kaki Rianti.


"Sudah cukup aku kau bodohi selama ini...kau bahkan sudah berkhianat di belakangku sejak Jodi masih kecil kan...Ara merupakan bukti pengkhianatanmu....aku bukan orang bodoh yang akan jatuh ke lubang yang sama dua kali....sekarang kau angkat kaki dari sini...."


kata Rianti menunjuk ke arah pintu di akhir kalimatnya.


"Tidak...tidak...aku tak mau pergi darisini...aku mohon maafkan aku sayang..."


kata Emir menangis sejadi-jadinya.


"Evi...bawa pria ini keluar dari rumah ini...dia bukan lagi anggota keluarga Heswari....jangan pernah biarkan dia masuk lagi kesini..."


kata Rianti lagi dengan tegas.


"satu lagi...jangan biarkan dia membawa apapun dari rumah ini...dia tak pantas menerima apapun dariku lagi..."


imbuh Rianti lagi, lalu segera berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut menuju kamar pribadinya.


Emir pun di seret paksa untuk keluar tanpa membawa uang sepeser pun, dia terus saja memberontak, menangis, dan memohon agar Rianti mau memaafkannya. Tapi semua sudah terlambat, segala perbuatannya benar-benar membuat Rianti marah dan tak bisa dengan mudah memaafkannya.


Rianti berdiri diatas balkon rumahnya, memandang sejenak Emir yang di paksa keluar oleh para pelayannya.


mungkin jika kau hanya berkhianat dengan satu orang wanita saja mungkin aku masih bisa memaafkanmu... tapi kali ini berbeda... kau bahkan telah menyakiti banyak wanita di luar sana...kau menghamili wanita lalu meninggalkannya...membunuh janin yang tak berdosa...meninggalkan seorang anak yang tercipta karna keegoisanmu...jika aku masih bertahan bersamamu itu berarti sama saja aku telah mendukung semua perbuatanmu...biarkan semua ini menjadi balasan yang setimpal untuk semua kelakuan burukmu...


batin Rianti sambil menatap Emir yang masih memberontak.


kau dulu bukan siapa-siapa... sekarang pun berakhir menjadi orang yang sama...


batin Rianti lagi dengan seringainya, lalu dia segera masuk kembali ke kamarnya.


Rianti mengambil ponselnya lalu segera menghubungi Jodi yang masih berada di villanya.


"Sayang...."


kata Rianti saat telpon sudah tersambung.

__ADS_1


"Ya maa...ada apa..."


jawab Jodi dengan malas, setelah kejadian di malam itu Jodi kembali murung dan tak memiliki semangat lagi untuk menjalani hari. Baginya tak ada alasan lagi untuknya hidup, karna wanita yang di cintainya selama ini ternyata masih memiliki hubungan darah dengannya, dan lebih tepatnya adalah adiknya sendiri.


"Datanglah kemari sayang...tinggallah bersama Mama lagi disini..."


"Sudah aku bilang maa...aku tak mau lagi bertemu dengannya... aku lebih baik tinggal di villa ini selamanya dari pada harus melihat wajahnya.."


"Dia sudah tak tinggal disini lagi sayang...kemarilah...ada yang ingin Mama bicarakan..."


"Maksud Mama.."


jawab Jodi cukup terkejut.


"Kemarilah akan aku jelaskan semuanya..."


Akhirnya tanpa fikir panjang lagi Jodi segera berangkat menuju rumah mewahnya, dia tak tau apa yang telah terjadi antara Rianti dan Emir.


Selama beberapa hari Rianti bekerjasama dengan para pelayannya untuk membongkar seluruh kejahatan Emir tanpa di ketahui oleh Jodi sama sekali.


Sesampainya disana, Rianti pun menceritakan segalanya pada Jodi dan semua itu cukup membuat Jodi tercengang dan semakin membenci Emir. Jodi bahkan juga mendukung jika Emir di usir dari rumahnya, dia tak mau Rianti terus hidup berumah tangga dengan seorang pria seperti Emir yang berkelakuan buruk.


"Sudahlah lupakan tentangnya sayang....sekarang Mama ingin membicarakan sesuatu yang penting..."


"Penting...bicara tentang apalagi maa...aku kira Mama sudah membahasnya..."


"Lalu apa maa..."


"Perusahaan Heswari telah kehilangan pemimpin... dan kau adalah satu-satunya pewaris di keluarga ini....mulai sekarang kau yang akan memimpin perusahaan..."


Jodi terlihat tersenyum simpul lalu segera berkata.


"Aku selalu siap untuk itu maa...bukankah sedari dulu itu yang selalu Mama persiapkan untukku...untuk menjadi pemimpin perusahaan saat papa sudah tiada..."


"Sekarang anggap saja seperti itu....mulai sekarang kau adalah pemimpin perusahaan sayang..."


Rianti meneguk segelas susu di tangannya lalu berkata lagi.


"Dan Mama juga berfikir akan memperkerjakan Ara disana...sebagai bentuk tanggung jawab atas perbuatan papamu.... bagaimana pun dia tak bersalah...dia adalah korban keegoisan Emir kala itu...kasian selama ini dia harus hidup sendiri tanpa orangtua..."


imbuh Rianti lagi sambil membayangkan wajah polos Ara.


"Araa..."


tanya Jodi cukup terkejut


"Ya....apa kau keberatan..."

__ADS_1


jawab Rianti dengan cepat melihat ke arah Jodi.


"Tidak...sama sekali tidak..Mama benar dia hanyalah korban...dan bagaimana pun dia masih adikku bukan...dia masih saudaraku..."


kata Jodi mencoba tegar karna mengingat lagi tentang Ara.


aku tak boleh terus berada dalam perasaan ini...hidupku tak boleh berhenti disini...aku harus bangkit...untuk Mama dan untuk semua orang yang menggantungkan hidup di perusahaan di bawah pimpinan keluarga Heswari....


batin Jodi menyemangati dirinya sendiri.


**


Sementara di sebuah kamar, Ara dan Lilia sedang duduk di pinggiran ranjang.


"Aku tak bisa tinggal disini lagi maa..."


"Kenapa sayang...apa rumah ini kurang nyaman untukmu...katakan.. mana yang perlu Mama renovasi..atau kau kurang suka dengan kamar ini...kau bisa pindah di kamar manapun yang kau mau..."


"Tidak maa....aku nyaman tinggal disini...tapi aku mau suasana yang berbeda..."


"Apa kau mau tinggal sendiri di rumahmu lagi..."


tanya Lilia dengan wajah sedih.


"Tidak maa..."


"Tidak....lalu kau mau tinggal dimana sayang..."


tanya Lilia semakin bingung.


"Aku ingin tinggal di desa bersama ibu Alma...mungkin disana aku bisa mendapatkan ketenangan..."


Mendengarkan perkataan Ara seketika Lilia terkaget.


Almaa...ya...sudah lama aku tak bertemu dengannya...sungguh aku sangat merindukannya....


batin Lilia sambil menatap Ara.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2