
Ara telah sampai di depan bangunan panti asuhan, dia memarkirkan mobilnya di sudut halaman panti tempat biasa dia menaruh mobilnya.
Ara masuk membawa buah tangan yang baru saja dia beli, dengan langkah ragu Ara langsung menuju ruangan kantor tempat biasa para pengasuh berkumpul disana.
"M...m..."
Ara ragu untuk mengetuk pintu, dia berada di ambang pintu dengan kata yang seakan enggan keluar dari mulutnya.
"Bu..."
Akhirnya Ara memberanikan dirinya untuk memanggil seorang pengasuh tua yang dulu mengasuhnya, dia adalah pemimpin sekaligus pemilik panti asuhan tersebut.
"Rara...."
Kata sang pengasuh tua bernama Sani dengan mata berbinarnya.
"Ibu.. apa kabar..bolehkah aku masuk..."
kata Ara sudah mulai ingin menjejakkan kakinya di lantai kantor.
"Tentu saja nak...kemarilah..ibu sangat merindukanmu...kemana saja kau nak...sudah beberapa minggu kau tak datang kemari...aku sangat khawatir...apa terjadi sesuatu padamu..."
kata Sani sudah berdiri dan ingin menyambut Ara dengan pelukan hangatnya.
"Emm...aku tak apa Bu..hanya ada sedikit masalah dengan pekerjaanku..."
kata Ara yang mencoba mengarang cerita, pasalnya dia memang sering absen datang kesana hanya karna keuangan yang akhir-akhir ini menipis.
"Astaga nak..kenapa memangnya....kemarilah...ayo duduk dan ceritakan pada ibu..."
Sani memeluk Ara hangat lalu mengarahkan Ara duduk di sebuah kursi kayu yang ada disana.
"Tak Apa Bu...bukan masalah besar...hanya saja usahamu akhir-akhir ini sepi dan jarang ada pelanggan yang datang...maaf aku jarang kemari..aku tak enak hati jika harus datang kesini tanpa membawa apapun untuk ibu...apalagi untuk anak-anak Bu...mereka pasti akan kecewa jika aku kesini tanpa membawa mainan untuk mereka..."
kata Ara dengan wajah sedih dan malu.
"Sayang...kenapa kau harus malu datang kemari...aku tak pernah meminta apapun saat kau datang kemari nak...ini rumahmu juga kan...kenapa kau berfikiran seperti itu...dan untuk anak-anak mereka sudah cukup kau manjakan dengan berbagai mainan yang sudah kau belikan...mereka sudah punya banyak mainan Rara...tak perlu berfikiran seperti itu...."
Kata Sani dengan mengelus rambut Ara.
"Katakan ...apa yang bisa ibu bantu untukmu. ibu akan bantu sebisa ibu. "
imbuh Sani lagi.
"Maaf Bu...tapi memang itu yang aku rasakan....tak ada Bu...ibu hanya perlu doakan aku..itu sudah cukup untukku..."
kata Ara dengan senyum cerahnya dan mencoba memeluk lagi Sani di hadapannya.
Sani pun berlapang dada dia juga memeluk Ara dengan hangatnya.
"Kau sungguh anak yang baik nak...semoga apapun masalah dalam hidupmu segera terselesaikan..."
kata Sani mengelus lagi rambut Ara.
__ADS_1
Sani melihat pandangan yang tak asing di matanya, dia seperti sering melihat jaket yang di kenakan Ara.
ini...jaket yang sama persis seperti milik nak Chandra...apa kebetulan mereka mempunyai jaket dengan model dan warna yang sama..."
batin Sani sambil melihat setiap detail jaket yang di kenakan Ara..
"Nak...jaketmu baru..."
Sani akhirnya bertanya karna rasa penasarannya,dia juga heran pasalnya Ara tak pernah menggunakan jaket sebelumnya.
"emm...tidak Bu...sebenarnya aku kesini juga karna ada maksud lain...aku ingin bertanya sesuatu mengenai pemilik jaket ini .."
kata Ara sudah melepas pelukannya dan menatap Sani.
"Kalau tak salah ini milik nak Chandra..."
"Ya Bu..ini milik donatur baru yang sempat ibu beritahukan padaku dulu...dia meminjamkan jaketnya untukku..."
"Jadi kalian saling kenal..."
"Kami baru saja berkenalan dan dia memberikan jaketnya padaku.... dan tanpa aku sadari dia meninggalkan ceknya di saku jaket ini...jumlahnya sangat besar Bu...aku harus segera mengembalikannya...aku takut dia akan segera membutuhkannya...."
"Astaga...kau benar Rara...mungkin cek itu sangat penting untuknya...kau harus segera mengembalikannya..."
Kata Sani yang sudah berdiri menuju mejanya.
" dia anak yang baik Ra....dia sering kemari untuk membantu panti ini..."
imbuh Sani lagi.
"ya tentu saja...ibu selalu menyimpan data setiap orang yang datang kemari...semoga saja semua data itu benar.."
kata Sani sambil melihat ke sebuah buku besar miliknya, dia juga sudah menggunakan kacamata kesayangannya, karna mata tuanya sudah tak begitu jelas untuk membaca setiap tulisan yang ada.
Akhirnya Ara pun mendapatkan alamat rumah Chandra, dia segera pamit undur diri dan bergegas untuk pergi kesana.
Mengendarai lagi mobilnya dia pun sampai di sebuah rumah mewah yang terlihat memiliki 4 lantai. Hendak masuk di dalamnya, di depan gerbang Ara di hadang oleh seorang satpam.
"Maaf nona...ada keperluan apa nona datang kemari...apakah sudah mempunyai janji dengan pemilik rumah..."
"Maaf pak... saya hanya ingin mengembalikan jaket milik tuan Chandra...apa benar ini adalah kediamannya..."
"Benar nona ini kediaman tuan muda Chandra..bisa sebutkan nama nona..."
"Syukurlah.... nama saya Tamara...apa saya boleh masuk..."
" Tentu saja nona...saya akan segera memberitahukan kehadiran nona pada nyonya besar...."
"Nyonya besar...apa tuan Chandra tak ada di rumah..."
"Tuan muda keluar beberapa jam lalu dan belum kembali nona...apa Anda akan menunggunya..."
gila ...apa dia melupakan begitu saja cek yang ada di dalam jaketnya ini....dia bahkan belum pulang sejak tadi.....aku tak mungkin juga harus menunggunya pulang... aku akan menyerahkan ini pada ibunya lalu segera pergi dari sini...
__ADS_1
batin Ara.
Dan Ara pun di giring untuk memasuki rumah dan bertemu dengan ibu dari Chandra.
"Nyonya...ada seorang wanita muda yang ingin bertemu dengan nyonya...namanya Tamara mungkin dia teman dari tuan muda...dia mengenakan jaket milik tuan muda..."
kata seorang pelayan pada wanita yang sedang santai menonton acara TV nya.
Chandra memiliki teman wanita...mengenakan jaketnya...apa dia kekasih Chandra... sebelumnya tak pernah ada wanita muda yang datang kemari apalagi mencari Chandra....
batin ibu Chandra bernama Lilia.
"Baik aku akan segera turun menemuinya...."
Lilia pun turun dan melihat seorang wanita dengan paras yang cantik tengah duduk gusar di sofa ruang tamunya, matanya berkeliling ke setiap sudut ruangan.
astaga...dia benar-benar wanita yang cantik....dia mungkin kekasih Chandra...
Batin lilia terkagum dengan Ara.
"Selamat sore nona.."
sapa Lilia.
"Selamat sore nyonya...maaf telah mengganggu waktu Anda.."
"Tidak Tamara...duduklah...apa kau mencari Chandra..."
kata Lilia ramah pada Ara.
"Iya benar nyonya...saya hanya ingin mengembalikan cek ini pada anak nyonya...sepertinya dia melupakan cek yang ada di saku jaketnya..."
kata Ara yang tak ingin berbasa-basi lagi, Ara menyodorkan cek yang sedari tadi dia bawa.
"Cek di saku jaketnya...astaga...dia memang benar-benar anak nakal..."
kata Lilia sambil memegang cek yang di berikan Ara.
"Dia memang sering seperti ini Tamara...menaruh sembarangan barang yang penting seperti ini...dia benar-benar teledor...untung ada kau....bagaimana jika cek ini jatuh ...dan jatuh ke tangan orang yang salah...sungguh terimakasih kau telah mengembalikannya pada kami..."
kata Lilia melihat nominal besar yang ada di dalam cek yang ada di tangannya.
tapi bagaimana bisa jaket milik Chandra di pakai oleh Tamara....sebelumnya dia tak pernah meminjamkan barang pada siapa pun apalagi pada seorang wanita....
batin Lilia sambil memandang jaket yang Ara kenakan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....