Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Kecewa


__ADS_3

Dalam bayangan Ara kembali teringat, saat-saat bersama dengan Jodi.


Selama ini Jodi selalu melindungi Ara, mencukupi semua kebutuhannya, kasih sayang dan cintanya sangat terasa dalam hari-hari Ara, semua terasa tulus dari dalam hatinya.


Untuk alasan itu pula Ara perlahan mulai menaruh hati padanya, karna Ara merasa Jodi adalah lelaki yang tulus mencintainya tanpa memandang status Ara.


Tapi kini di saat Ara sudah sangat mencintainya, Jodi pergi begitu saja dan malah menikah dengan wanita lain.


Hati Ara terasa tersayat-sayat melihat nama mempelai di undangan tersebut, tertulis jelas nama Jodi Heswari dan juga sebuah foto prewedding yang terpasang disana.


Jodi terlihat memakai setelan jas, memeluk seorang wanita yang memakai gaun pengantin, wanita itu terlihat berasal dari luar negeri kulitnya yang putih dan rambutnya yang kekuningan memperlihatkan dia sebagai seorang turis.


dia menikah...lalu apa makna dari surat yang sempat dia kirimkan padaku...dia bilang kita harus menunggu waktu setahun untuk bisa menikah...waktu syarat yang di berikan oleh ayahnya untuk mendapatkan restu...waktu untuk menguji cinta kita....aku sudah berusaha untuk menata hati, menjaga dan selalu setia padanya... tapi apa yang dia lakukan sekarang... dia menikahi wanita lain disana...meninggalkanku sendiri dengan cinta yang sudah tumbuh dalam hatiku...


batin Ara, tubuhnya sekarang sudah bersimpuh di lantai, air matanya mengalir deras dari ujung matanya.


"Ara...jangan menangis seperti ini....ayo masuk dulu...kita lihat dulu apakah benar memang ini dari Jodi..."


kata Nura berusaha membantu Ara bangkit dari lantai.


"Apa foto ini tak cukup sebagai bukti...dia menghianatiku...dia pergi meninggalkanku Nura...."


kata Ara masih dengan isaknya.


Nura pun melihat foto yang terpajang di undangan tersebut dan benar saja memang foto Jodi bersama wanita lain ada di dalamnya.


Tak dapat berkata apapun lagi, kini Nura memeluk erat Ara berusaha menenangkan Ara sebisanya.


persetan dengan cinta....dia tak benar-benar mencintaiku....dia menebusku beralasan untuk menjadikan aku sebagai istrinya...dia berkata aku wanitanya..aku pilihan hidupnya..hanya aku yang pantas bersanding dengannya...itu yang selalu dia ucapkan...tapi semua hanyalah bualan belaka...dia membohongiku.... bahkan baru 3 bulan berjalan dia sudah menambatkan cintanya pada orang lain...mudahnya dia melupakanku....aku memang bukan wanita spesial untuk siapa pun.... aku di takdirkan untuk sendiri...hanya sendiri di dunia ini....


batin Ara sambil terus menangis di pelukan Nura.


"Ara ayolah...aku akan antarkan kau kekamar.."


kata Nura sambil menuntun Ara, Nura juga meneteskan air mata, dia tak tega melihat Ara yang sangat mencintai Jodi kini tengah menangis karna Jodi yang tiba-tiba menikahi wanita lain.


Telah sampai di kamar Ara, Nura turun kembali dan mengambilkan Ara segelas air putih untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Minumlah Ara.. agar kau bisa tenang..."


Kata Nura sambil menyodorkan segelas air pada Ara.


"Kenapa dia pergi meninggalkanku Nura....aku sangat mencintainya....aku bahkan sangat rindu padanya....aku tak bisa hidup tanpanya Nura..."


kata Ara dengan air mata yang terus menggenang di pipinya.


"Bersabarlah Ara...mungkin dia bukan jodoh yang baik untukmu...orangtuanya tak setuju denganmu kan...jika kau meneruskan hubungan ini, itu tak akan adil untukmu Ara...mereka pasti akan mengesampingkan kau..dan itu akan semakin membuatmu tersiksa nantinya..."


kata Nura yang sudah menitikkan air mata, mulutnya seakan tak ingin mengatakan apa yang ada di fikirannya, tapi hatinya semakin tak ingin membuat Ara terus berharap yang nantinya akan membuat Ara terluka.


"Aku memang wanita hina...aku tak pantas bersanding dengan siapapun..."


kata Ara sekarang malah memukul-mukul dirinya sendiri.


"Cukup Ara cukup...jangan sakiti dirimu seperti itu...maaf aku tak bermaksud mengatakan itu...aku hanya tak mau kau terlalu berharap bersamanya Ara...jika memang dia jodohmu seharusnya dia tak pergi meninggalkanmu apapun alasannya..."


"Aku tau Nura...memang orang kaya seperti mereka suka berbuat seenaknya...Jodi telah mempermainkan ku... dia tak benar-benar mencintaiku..."


Pagi itu pun Nura terus saja membuat Ara untuk tak berharap lagi bersama Jodi. Dia terus meyakinkan Ara bahwa Ara bisa mencari pria lain yang lebih baik dari Jodi. Nura juga terus memberikan semangat agar Ara tak terpuruk karna keadaannya sekarang.


Sampai menjelang sore Nura baru pergi dari rumah Ara, dia memastikan Ara telah tenang memberikan Ara makan dan menunggunya tertidur, Nura tak ingin Ara yang sedang dalam keadaan terpuruk sampai gelap mata dan melakukan hal-hal yang berbahaya untuk dirinya.


Malam itu Ara baru bangun dari tidurnya, dia mengerjapkan matanya perlahan, matanya terasa perih dan sakit karna seharian terlalu bekerja keras untuk mengeluarkan air mata.


Dia melihat lagi ke sekelilingnya, dia tak mendapati Nura disana. Diliriknya piring dan gelas bekas dia makan sebelum tertidur tadi.


Matanya lalu mulai tertuju pada sebuah undangan yang tergeletak di atas sprei ranjangnya.


Ara mengambil lagi undangan itu, tak terasa air matanya kembali menetes saat membaca nama Jodi Heswari disana.


"Dia benar-benar pergi meninggalkanku..."


kata Ara lirih dalam tangisnya.


Ara melihat lagi foto wanita yang ada di sebelah Jodi.

__ADS_1


"Kau wanita pilihannya... kau beruntung memiliki Jodi dalam hidupmu..."


Kata Ara lagi, sambil mengelus foto Jodi.


Ara memejamkan matanya, seakan tengah merasakan setiap sentuhan yang pernah dia terima dari Jodi. Perlakuan lembut, pelukan hangat dan semua yang telah Jodi perbuat padanya seakan kini tengah berparade dalam fikirannya. Air matanya semakin deras mengalir saat bayangan itu hilang berganti dengan Jodi yang tengah bermalam dengan wanita yang ada di foto undangan tersebut.


Dalam bayangan Ara keduanya tengah menikmati malam pertama yang penuh cinta, yang membuat hati Ara terasa hancur berkeping-keping perihnya bahkan sangat nyata dia rasakan.


Dengan gerakan cepat Ara yang masih di penuhi dengan rasa kecewa dan luka di hatinya, merobek kartu undangan itu menjadi beberapa bagian, lalu dia melemparkan begitu saja undangan itu ke tempat sampah.


Air matanya terhenti, kini berganti dengan sebuah gejolak kemarahan dalam hatinya, amarah karna telah di khianati.


Ara membersihkan diri, lalu memilih sebuah dress pendek dan memakainya, Ara berdandan secantik mungkin, lalu segera pergi mengendarai mobilnya dengan kencang.


Dia terus berpacu dengan amarahnya, rasa kecewanya terus membuat dia berkendara tak tentu arah. Hingga sampailah dia disebuah club, Ara lalu memarkirkan mobilnya sembarangan dan masuk ke dalam club.


Dia memesan sebuah tempat privat di bagian lantai atas, sebuah tempat VIP dengan harga yang cukup mahal. Ara kini seakan tak dapat berfikir normal, yang ada di fikirannya sekarang dia hanya ingin membuat dirinya tenang tak peduli berapa pun uang yang akan dia keluarkan. Ara bahkan menggunakan uang tabungan yang tersisa untuk sekedar menghibur dirinya yang kembali hilang arah, karna cintanya yang kini akan di miliki wanita lain.


Telah berada di meja VIP dia memesan beberapa botol anggur dan camilan untuknya.


Ara meneguk anggur-anggur itu dengan perasaan tak karuan, marah, sedih, kecewa semua menjadi satu, sampai-sampai dia tak dapat lagi mengekpresikan dirinya. Ara kini tengah meneguk anggur dengan air mata yang terus mengalir di pipinya, dia beberapa kali juga terlihat memukul-mukul meja di hadapannya, kadang juga terlihat mengacak-acak rambutnya kasar.


"Kenapa aku selalu melihatmu disini dengan keadaan yang sama...kau selalu menangis...apa disini tempatmu melampiaskan kesedihanmu Ara..."


kata Haris yang tiba-tiba ada di hadapan Ara.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2