Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Hilang arah


__ADS_3

Ara yang tersulut emosi karna perkataan Emir, dia kembali berjalan bahkan lebih cepat dari sebelumnya, dia masuk menuju kamar yang di tempatinya dan mengambil beberapa barang, dan memasukkan barang pemberian Jodi ke dalam koper.


"Hey sialan...kau tak mendengarku ya...jangan bawa apapun dari sini...atau kau akan tau sendiri akibatnya nanti..."


kata Emir lagi membentak Ara yang sedang serius memilah barangnya di kamar.


Ara sendiri tampak tak peduli dengan perkataan Emir, dia dengan wajah kesalnya dengan cepat menaruh barangnya ke koper berharap ingin segera pergi dari sana.


"Dasar wanita sialan....pelayaaaan...."


kata Emir semakin kencang.


"Bawa dia pergi dari sini...dan jangan biarkan tangannya membawa apapun dari villa ini.."


imbuh Emir lagi.


Para pelayan Emir pun yang berjumlah 4 orang pria segera masuk dalam kamar dan ingin membawa Ara keluar.


"Jangan sentuh aku...."


kata Ara terdengar dingin, yang seketika menghentikan langkah para pelayan.


"Aku bisa keluar sendiri tanpa bantuan kalian..."


kata Ara lagi, meneruskan lagi mengemasi kopernya.


"Kalian tak lebih rendah dari aku...yang hanya berani menyakiti seorang wanita hanya demi pria tua gila itu...."


kata Ara lagi sambil menarik kopernya dan menunjuk kearah Emir.


Ara pun berjalan keluar dan menghampiri Emir.


"Kau benar-benar kurang ajar..."


kata Emir semakin di buat geram karna mendengar perkataan Ara.


"Kau terkenal dengan nama yang di segani oleh banyak orang...tapi itu hanya lah sebuah kebohongan...perilaku dan sifatmu sangatlah buruk...sayang publik tak tau tentang itu...kau tak bisa menghargai seorang wanita...kau mengusir seorang dengan kata-katamu yang kotor itu....kau bahkan lebih rendah dariku...aku seorang wanita malam...tapi aku bisa membedakan dimana tempatku harus di hormati dan dimana aku harus menghormati.... banyak pria di luar sana yang menghargai


aku dengan pekerjaan ku...dan moralmu tak lebih baik dari mereka...tuan Emir Heswari....."


kata Ara dengan seringainya.


Emir yang mendengar perkataan Ara di buat semakin marah, dia membentak pada seluruh pelayannya yang bahkan hanya diam mematung di belakang Ara.


"Hey...kalian tunggu apalagi... segera seret dia keluar...sungguh aku muak melihat wajahnya..cepat...."


"Berhenti....aku tak perlu bantuan kalian ...aku akan keluar sendiri dari sini...aku tak perlu bantuan siapapun... jangan kotori tangan kalian dengan perintah pria gila yang tak bisa menghargai wanita ini..."


kata Ara sudah berjalan meninggalkan Emir disana.

__ADS_1


Ara menghela nafas panjang, dari dalam masih terdengar cercaan dari mulut Emir yang sama sekali tidak di gubris oleh Ara.


Hatinya kesal dan marah, bahkan nafasnya terdengar menggebu, tapi matanya kini berlinang air mata karna cintanya yang harus hilang begitu saja karna terhalang restu orangtua Jodi.


Ara memandang lagi villa di belakangnya, berusaha mengingat kembali kejadian apa saja yang di laluinya bersama Jodi disana, sebelum dia akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana, dan kembali menuju ke rumah pribadinya.


Telah sampai di rumah pribadinya, Ara segera saja masuk dengan menarik kopernya.


"Apa kabar non Ara..."


kata mbak Sarti yang menyambut Ara, yang pulang tanpa memberi kabar seperti biasanya.


"Baik mbak...."


jawab Ara singkat, dia lalu segera saja berlalu pergi menuju kamarnya.


Mbak Sarti yang terbiasa melihat Ara yang ceria, cukup heran dengan keadaan Ara sekarang, Ara bahkan sama sekali tak memandangnya dan berlalu begitu saja.


Ara menghempaskan tubuhnya di ranjang miliknya, lalu mengelus sprei yang ada disana.


"Baru beberapa hari yang lalu kau berada disini bersamaku...jika saja aku tau niatan kita yang ingin menikah terhalang restu seperti ini...aku memilih tak akan menikah denganmu...aku ingin kita memiliki hubungan meski tanpa pernikahan....itu lebih baik untukku daripada aku harus hidup tanpamu....dimana kau sekarang Jodi...aku meridukanmu....apa kau sudah tak mau lagi bersamaku...."


kata Ara lirih yang terdengar menyayat hati.


Perasaannya tak dapat di bohongi lagi, dia benar-benar mencintai Jodi. Hatinya terasa sangat sakit jika mengingat lagi perkataan orangtua Jodi, yang mengharuskan Ara untuk melupakannya.


Hari-hari pun berlalu, kabar pulangnya Ara kembali ke rumah pribadinya di dengar oleh para sahabatnya, yaitu Nura dan Heni.


Akhirnya mereka menemui Ara dan mendengar berbagai cerita dari Ara bahwa Jodi tiba-tiba hilang tanpa kabar, yang membuat Ara seperti hilang kendalinya dirinya.


Sama-sama pernah di bantu oleh Ara dengan permasalahan hidupnya, Baik Nura maupun Heni juga berusaha membantu dengan mencaritahu dimana Jodi berada. Tentu mereka tak akan dengan mudah mendapatkan informasi itu, karna keluarga Heswari adalah keluarga yang tertutup apalagi dengan orang-orang yang tak di kenalnya. Membuat mereka tak mendapatkan hasil apapun dan tak dapat membantu Ara sama sekali.


Kini Ara dan Heni sedang berada di sebuah cafe, cafe yang dekat dengan rumah 77 tempat biasa mereka memesan makanan dan menghabiskan waktu senggang mereka dulu.


"Bagaiman Hen...apa kau mendapatkan kabar tentangnya..."


tanya Ara dengan wajah antusiasnya.


"Maaf Ra...aku tak mendapatkan apapun.. sangat sulit mendapatkan informasi darinya...aku bahkan juga pergi ke kantornya...tapi karyawan disana sama sekali tak memberikan informasi tentang Jodi...seakan ada yang menghalangi mereka untuk berbicara...aku juga sudah melihat daftar tamu milik Bu bos...tapi nama Jodi tak terlihat disana...terakhir kali dia menyewa wanita hanyalah bersamamu dulu....aku tak melihat namanya lagi setelah itu..."


Kata Heni dengan wajah sedihnya, dia merasa gagal karna tak dapat membantu Ara meski hanya sekedar memberikan informasi padanya.


"Huufh..."


Ara menghela nafas panjang dan menaruh kepalanya dengan lemas di meja.


"Jangan menyerah dan bersedih seperti itu Ra...aku akan terus berusaha mencari informasi tentangnya..."


kata Heni mencoba memberi harapan pada Ara.

__ADS_1


"Apa yang akan aku lakukan tanpanya Hen...aku bahkan seperti kehilangan arah...aku sangat mencintainya....tapi dia tiba-tiba menghilang begitu saja..."


ungkap Ara dengan air matanya yang mulai mengalir deras.


Heni pun tak dapat menjawab apapun dia tau betul apa yang tengah di rasakan Ara sekarang, hidup tanpa orang yang di cintainya.


"Apa Nura masih belum tau tentang pekerjaanmu..."


kata Ara tiba-tiba.


"Belum Ra...aku masih merahasiakannya...kau juga tak bilang kan..."


"Aku tak pernah membahas tentang itu...aku juga tak mengatakan alasan sebenarnya Jodi menghilang dariku...aku hanya mengatakan bahwa orangtuanya tak setuju denganku..itu saja..dan dia percaya tentang itu..."


"Hmm..baguslah...terimakasih kau telah menjaga rahasia ku dari Nura..."


kata Heni yang merasa lega.


"Rahasiamu....itu juga akan menjadi rahasia ku juga..."


kata Ara menatap ke depan dengan pandangan kosongnya.


"Maksudmu..."


"Katakan pada Bu bos...aku akan kembali menjadi wanitanya..aku akan kembali kesana dan bekerja lagi sepertimu...."


Seketika mata Heni terbelalak mendengar perkataan Ara,


"Kau sudah gila....aku tak akan membiarkan hal itu...kau tak boleh kembali kesana..."


kata Heni cepat dengan nada suara tinggi pada Ara.


"Jodi telah menebusmu dengan uang yang tak sedikit...kau tak boleh kembali kesana...itu bukan pekerjaan yang baik untukmu Ara...kau masih punya banyak uang...kau bisa mendirikan usaha darisana..."


kata Heni lagi berusaha menghentikan niatan Ara.


" Kau benar Hen....tapi apa yang harus aku lakukan...aku tak memiliki ketrampilan apapun dalam bekerja..."


kata Ara menatap kosong pada Heni.


"Nura...Nura...kau bisa memiliki usaha berjualan seperti Nura...itu lebih baik daripada kau harus bekerja lagi seperti dulu..."


jawab Heni cepat dan asal, agar Ara menghentikan niatanya kembali lagi menjadi wanita malam sepertinya.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2