
"Sayang...ayolah...jangan buat mereka menunggu terlalu lama..."
kata Jodi lagi dengan tangan yang masih menggantung di udara.
Ara pun menerima uluran tangan Jodi, dan keluar dari mobil.
Jodi yang menyadari tangan Ara mengeluarkan keringat dingin, dia pun berkata.
" Jangan gugup sayang...mereka hanya orangtuaku...mereka tak akan memakanmu....kenapa kau terlihat takut seperti itu..."
"Tidak...hanya saja aku merasa tak pantas berada di dekatmu..."
kata Ara dengan menundukkan kepala.
"sayang...hanya kau yang pantas berada di dekatku...tak ada yang lain...maka tegakkanlah kepalamu...aku ingin kau meyakinkan orangtuaku bahwa hanya kau wanita yang aku cintai...hanya kau yang akan menjadi istriku..."
kata Jodi berusaha menyemangati Ara.
Ara pun memandang Jodi yang tersenyum kepadanya, lalu sedetik kemudian Ara pun juga tersenyum, kata-kata Jodi barusan mampu membuatnya merasa percaya diri berada di dekat Jodi.
Ara mengangguk dan Jodi pun menarik tangan Ara agar segera masuk ke dalam istananya.
ya dia benar..hanya aku wanita yang dia cintai dan hanya aku yang akan segera menjadi istrinya..tak ada wanita lain lagi...Jodi baik..dia pasti juga di lahirkan dari orangtua yang bersifat baik pula....
batin Ara, mencoba berfikiran positif menyemangati dirinya sendiri.
Keduanya pun masuk di iringi oleh beberapa pelayan yang slalu mengekor di belakangnya nya. Ara masuk di sebuah ruang tamu, terlihat banyak hiasan-hiasan dinding berupa guci, kristal atau apapun yang terlihat sangat menyilaukan mata. Lantai yang Ara pijak sekarang pun, terbuat dari marmer berwarna putih yang semakin membuat kesan mewah di setiap langkahnya.
Segala furniture yang ada pun juga berwarna putih bersih, dingin AC juga terasa menusuk kulit apalagi bagi Ara yang sedang gugup, lidah dan hatinya di buat semakin membeku saat mengetahui segala yang ada di dalam rumah Jodi, dengan segala sentuhan kemewahan di setiap detail ruangannya.
Ara sampai di sebuah ruangan keluarga, di ujung terdapat sebuah meja makan yang terlihat sudah terhidang banyak makanan di atasnya.
Seorang wanita dengan senyum ramah datang mengulurkan kedua tangannya menyambut kedatangan Ara.
"Selamat datang menantuku...sungguh kau benar-benar cantik sayang...tak salah jika anakku memilihmu.."
kata Rianti, ibu dari Jodi sambil memeluk Ara hangat dan menepuk-nepuk bahunya.
Rianti mengajak Ara duduk di sofa yang ada disana, berbincang hangat dengan Ara. Dari sana terlihat dengan jelas bahwa Rianti sangat menyukai Ara dan setuju dia menjadi menantunya.
Penampilan Ara mampu membuat Rianti sangat mengagguminya.
Dress panjangnya yang berwarna merah muda mampu membuat kulit putih Ara semakin terlihat, wajahnya juga cantik dengan riasan natural, rambutnya di ikat sebagian dengan sebuah pita berwarna senada dengan dress nya.
Tubuh Ara yang ramping dan cukup ideal, wajah yang cantik berseri, juga kulitnya yang putih bersih membuatnya terlihat sangat cocok jika bersanding dengan Jodi.
tak salah...selera anakku memang benar-benar luar biasa...aku ingin segera menikahkan mereka..sepertinya aku akan memperoleh cucu yang luar biasa juga dari keduanya...wanita itu sangat sempurna...dia pantas menjadi menantuku...
batin Rianti saat pertama kali melihat Ara yang datang menggandeng tangan Jodi.
__ADS_1
Telah lama berbincang-bincang hangat antara mereka bertiga, Jodi pun bertanya pada Rianti.
"Dimana Papa ma....aku tak melihatnya, apa dia sedang keluar..."
tanya Jodi sambil menatap ke segala arah.
"Oh ya...astaga...aku sampai melupakan papamu...dia mungkin tak mengetahui kalau kau sudah sampai sayang...sebentar aku akan memanggilnya..."
"Memangnya dimana papa ma...aku saja yang akan memanggilnya..."
"Dimana lagi, dia pasti sedang dengan hewan kesayangannya itu....biar aku saja yang memanggilnya... aku juga ada sebuah hadiah untuk calon istrimu ini...aku akan mengambilnya juga..."
kata Rianti sambil tersenyum pada Ara, lalu mulai berdiri dan berjalan meninggalkan keduanya.
"Sudah ku katakan kan...kalau orangtuaku akan menyambut baik kau disini...mereka pasti juga suka padamu...."
kata Jodi tersenyum lebar lalu secepat kilat mencium pipi Ara.
"Ya...aku kan hanya takut jika mereka tak setuju dengan hubungan kita...."
jawab Ara dengan tersenyum tipis.
"Tak perlu khawatir... aku yakin mereka akan menerima apapun pilihan ku...dan kau satu-satunya wanita pilihanku..."
kata Jodi lagi sekarang sudah berdiri mengulurkan tangannya.
"Mau kemana..."
"Ayo duduk di meja makan...dan segera makan setelah papa datang...makanan akan terasa tak lezat jika sudah dingin bukan..."
"Hmmm"
Ara pun mengangguk dan keduanya berjalan dan duduk di meja makan dengan posisi bersebelahan.
Di sebuah ruangan terbuka Rianti menghampiri suaminya, dia bernama Emir Heswari. Emir sedang mengelus-elus binatang kesayangannya yaitu seekor elang yang sekarang tengah bertengger di salah satu tangannya.
"Sayang..."
"Hmm...apa dia sudah datang..."
jawab Emir sama sekali tak melihat ke arah Rianti.
"Dia sudah datang sejak tadi sayang...tapi kau malah enak-enakan disini tak menyambutnya..."
"Benarkah.... maaf aku tak tau kalau mereka sudah datang...ayo kita kesana..."
kata Emir, menaruh dengan hati-hati Elang ke kandangnya kembali.
Emir juga sangat menunggu kehadiran calon menantu pilihan Jodi, dia bahkan yang paling antusias untuk menyuruh para pelayan menyiapkan semua perjamuan untuk Ara.
__ADS_1
"Aku sudah menemuinya ...kau turun saja dulu...aku akan menyusulmu nanti....aku ingin mengambil salah satu gelangku untuk calon menantu kita...pasti dia akan sangat cocok memakainya...sungguh dia benar-benar cantik sayang..."
kata Rianti sambil membayangkan lagi wajah Ara beserta pergelangan tangannya memakai gelang yang akan Rianti berikan padanya.
"Benarkah... apa dia sangat cantik..kalau begitu berikan dia perhiasan terbaik..aku akan membelikanmu lagi nanti..."
Rianti pun hanya tersenyum dan mengangguk pada Emir, lalu keduanya terpisah. Emir yang turun ke lantai bawah menemui Jodi dan Ara,sedangkan Rianti pergi ke kamarnya.
Mendengar suara langkah kaki, Jodi dan Ara yang sedang bercanda seketika menoleh bersamaan ke arah sumber suara.
"Papa... kenalkan...dia Ara..."
kata Jodi antusias saat melihat Emir berjalan ke arahnya.
Emir pun tersenyum, kedua matanya terlihat memicing melihat lagi lebih detail wajah Ara yang belum begitu jelas.
dia ayah dari Jodi...tapi sebentar..aku seperti pernah melihatnya...tapi dimana ya...
batin Ara sambil tersenyum ke arah Emir.
istriku benar, calon menantuku benar-benar cantik....tapi aku seperti tak asing dengan wajahnya...
batin Emir yang sudah berada dekat dengan keduanya.
"Ara kenalkan dia papa ku...."
kata Jodi mengarahkan tangannya menunjuk Emir.
Bayangan Emir tiba-tiba mengingat wajah seorang wanita yang pernah terlihat di sebuah hotel bersama seorang teman kerjanya.
"Astaga...kau menyewa wanita lagi..."
"Ya...dia yang terbaik.. lihatlah dia cantik kan...apa kau mau menyewanya juga...aku akan membayarnya juga untukmu nanti..."
"Tidak...lebih baik aku pulang sekarang... maaf aku telah mengganggmu..."
Sebuah percakapan yang tiba-tiba teringat dengan jelas di dalam fikiran Emir.
Sepertinya dia wanita yang pernah disewa oleh temanku kala itu...tapi apa mungkin dia wanita seperti itu....Jodi tak mungkin memilih istri dari wanita rendahan ...
batin Emir dengan senyum yang mulai memudar dari wajahnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...