Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Tinggal di desa


__ADS_3

"Ceritakan padaku bagaimana kalian bisa bertemu..."


tanya Alma memandang ke arah Lilia dan Ara bergantian.


Baik Ara dan Lilia tak ada yang menjawab, terutama Ara yang malah berpaling seakan menghindar dari pertanyaan Alma, dia tak sanggup menjawab pertanyaan Alma.


"Alma kenalkan dia Bima suamiku.."


kata Lilia sambil menunjuk Bima yang sedari tadi terdiam di belakangnya, berusaha mengubah topik pembicaraan.


"Saya Alma..."


kata Alma sambil mengatupkan tangannya sebagai isyarat untuk berjabat tangan.


"Saya Bima.."


jawab Bima sambil mengangguk dan tersenyum ramah pada Alma.


"Baiklah ..lebih baik kita masuk dulu..kalian pasti juga lelah kan..."


kata Lilia sambil mendorong perlahan Lilia untuk masuk.


"Masuklah...inilah rumahku Aisyah..maaf berantakan..."


Alma dan Lilia pun banyak berbincang-bincang disana. Menceritakan ayah dan ibu masing-masing yang sudah tiada, juga bercerita tentang kehidupan mereka dan keluarganya. Disana tak lupa Alma juga memperkenalkan suami dan juga anak-anaknya pada Lilia.


Lama berbincang akhirnya Alma mengingat lagi tentang sosok Chandra yang tak terlihat,dia pun bertanya pada Ara.


" Ara kemana suamimu nak....kenapa dia tak ikut kemari..."


"Aku tak memiliki suami Bu..."


jawab Ara acuh tak memandang sama sekali Alma, dia malah lebih fokus pada anak-anak Alma yang mengajaknya berbicara banyak hal.


"Apa maksudmu nak...bukankah kalian baru saja menikah..."


tanya Alma dengan wajah terkejut.


"Itulah yang perlu kita bicarakan Alma...mereka sudah tak lagi berstatus sebagai suami istri...pernikahan mereka tak sah..."


"Apa maksudmu...mereka bahkan baru saja menikah..."


jawab Alma semakin bingung.


"Ya aku tau...aku pun menyesal di hari pernikahan itu aku tak menunggumu datang...kalau pun hari itu kita bertemu mungkin semua tak akan terlambat Alma...aku juga menyesal karna tak mengenal Ara lebih jauh sebelum dia menikah dengan Chandra..batu itu...batu giok itu baru aku temukan tepat satu Minggu setelah pernikahan mereka..."


kata Lilia dengan nada penyesalan yang mendalam.


"Sebenarnya apa yang kau bicarakan...aku sama sekali tak mengerti..."


jawab Alma semakin bingung karna perkataan Lilia yang menurutnya penuh dengan teka-teki.


"Aku adalah ibu dari Chandra...pernikahan mereka tak seharusnya terjadi...karna Chandra masih memiliki hubungan darah dengan Ara...dia adalah adiknya..."


"Apa... kenapa semua ini bisa terjadi..kenapa kau tak mengenali Ara...lalu bagaimana dengan mereka sekarang...".


jawab Alma dengan cepat karna terkejut dengan penuturan Lilia.

__ADS_1


Dan akhirnya Lilia pun menceritakan semua kejadian yang telah mereka alami selama beberapa Minggu ini sampai akhirnya dia bertemu dengan Alma. Sepanjang Lilia bercerita dengan penuh kasih sayang Alma memeluk Ara dengan hangat, dia bahkan juga menitikkan air mata, tak tega dengan semua yang telah di alami oleh Ara.


" Jadi kedatanganku kali ini kesini untuk menitipkan Ara padamu...apa dia boleh tinggal disini untuk sementara waktu...sampai dia bisa menjalani hidupnya lagi..."


tanya Lilia pada Alma dengan penuh permohonan.


"Tentu saja...dia sudah aku anggap sebagai anakku sendiri...dia bisa tinggal disini sampai kapanpun... aku sama sekali tak keberatan..."


jawab Alma sambil memandang Ara penuh kasih sayang.


"Terimakasih Alma...aku akan sering-sering kesini untuk menjenguk Ara nanti...aku juga ingin dia segera kembali tinggal bersamaku..."


"Hmm...tinggal dimana pun tak masalah bukan...yang penting Ara merasa nyaman..datanglah kemari sesukamu...Lilia...mm...itukan namamu sekarang..."


"Hmm...kau benar Alma...semoga Ara betah tinggal disini....ya...namaku mulai saat itu adalah Lilia..."


jawab Lilia dengan tersenyum getir.


Dan mulai hari itu Ara tinggal bersama Alma di desa, dia tinggal serumah dengan Alma dan anak-anaknya yang lain.


Kedatangan Ara disana di sambut baik oleh anak-anak Alma, mereka senang karna Ara tinggal bersama mereka.


Pagi itu Ara yang masih berada di kamarnya tengah duduk di sebuah kursi di dekat jendela, dia terdiam disana memandang ke arah luar .


udara disini sangat sejuk bahkan tergolong dingin apalagi di pagi hari seperti ini....ntah kenapa aku disini lebih bisa merasa tenang...


batin Ara.


Lamunan nya di buyarkan oleh salah satu anak Alma yang masuk dan menyapanya.


"Kak Ara sedang apa..."


"Apa kakak suka tinggal disini...aku harap sih begitu.. Karna aku sangat suka ada kak Ara disini..."


tanya Sari dengan tersenyum cerah.


"Suka...aku sangat suka disini...disini lebih membuatku tenang..."


jawab Ara tersenyum penuh arti.


"Apa kakak mencari ketenangan disini..."


"Tentu saja Sari...memangnya apa lagi yang aku cari..."


"Kalau begitu kakak ikut aku..."


kata Sari sambil mengulurkan tangannya.


"Kemana...?"


"Kita ke masjid pondok..."


kata Sari sambil menaikkan kedua alisnya.


"Untuk apa kesana...apa disana sedang ada kegiatan..."


"Disana tak pernah sepi kak...selalu ada kegiatan...ayo kita mengaji disana...aku yakin kakak akan lebih tenang..."

__ADS_1


Mengaji....kapan terakhir kali aku mengaji...aku bahkan sudah tak pernah memegang apapun yang berhubungan dengan agama...Sari benar...mungkin aku bisa lebih tenang disini dengan mendekatkan diri pada Tuhan...


batin Ara memandang Sari penuh Arti.


"Tunggu sebentar kak..."


kata Sari, kemudian dia segera saja keluar dari kamar Ara, dia kembali dengan sebuah kerudung di tangannya.


"Ini...pakai ini kak...aku yakin kak Ara akan semakin cantik jika memakainya..."


imbuh Sari lagi sambil menyodorkan kerudung pada Ara.


Ara pun dengan malu-malu mulai memakainya, lalu dia memandang cerminan wajahnya di sebuah kaca kecil.


"Apa aku masih pantas untuk mendekatkan diri lagi pada Tuhan Sari..."


Mendengar pertanyaan Ara sari mengernyitkan dahinya , lalu berkata.


"Memangnya apa yang telah kakak perbuat sampai-sampai kakak tak pantas mendekatkan diri lagi pada Tuhan..."


"Banyak dosa yang telah aku perbuat...apa Tuhan bisa memaafkanku. ."


kata Ara memandang ke arah Sari dengan mata berkaca-kaca.


"Semua orang punya dosa kak...tak ada dosa yang tak dapat di maafkan jika orang tersebut benar-benar bertobat...Tuhan maha pemaaf kak..."


ungkap Sari tersenyum penuh makna.


"Apa kau mau membantuku untuk mendekatkan diri lagi pada Tuhan..."


kata Ara dengan air mata.


"Tentu kak...tentu..."


"Terimakasih Sari.."


jawab Ara sambil menyeka air matanya, dia memeluk Sari dengan hangatnya.


Mulai hari itu Ara mulai belajar mengaji lagi, dia lebih banyak melakukan kegiatan di dalam pondok bersama para santri. Dia juga mengikuti berbagai pelajaran pondok, wajahnya yang cantik menyamarkan usianya. Ara terlihat seperti para santri pada umumnya jika sudah bergabung di area pondok pesantren.


Alma dari kejauhan memandang Ara yang sedang berada di dalam masjid pondok, terdengar darisana Ara melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran.


sungguh suaranya sangat merdu....sayang sekali selama ini suara merdu seperti Ara tak pernah di pergunakan untuk membaca Al-Quran... semoga setelah ini dia selalu dekat dengan Tuhan...dengan begitu aku berharap dia dapat menemukan kebahagiaannya suatu saat nanti...


doa Alma untuk Ara dari kejauhan.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2