Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam

Takdir Rumit Tamara Sang Wanita Malam
Senasib


__ADS_3

Melihat sikap aneh Lilia ketika Emir datang, Bima segera saja meminta Lilia duduk, dia juga berkata.


"Sayang ada apa... duduklah...apa kau mengenalnya..."


kata Bima sambil memegang bahu Lilia menuntunnya untuk duduk kembali.


Lilia tak menjawab dia hanya menggelengkan kepalanya, lalu duduk dengan pandangan tajamnya ke Emir.


Ara seketika juga menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Lilia.


apa Mama mengenal tuan Emir sebelumnya... atau dia merasa marah karna sudah mengetahui tentang kasus perampokan yang menimpa ku kala itu...Mama kan tau bahwa dia adalah dalang dari semua...


batin Ara.


"Katakan padaku...apa wanita itu adalah ibu dari Ara..."


kata Emir membisik pelan pada Rianti, bibirnya bahkan menempel tepat di telinga Rianti.


"Kau jangan membuatku semakin malu di depan besan kita...tidak bisakah kau bersikap seperti biasanya..."


jawab Rianti lirih dan tertahan, karna tak ingin semua orang disana mendengar pembicaraannya.


"jawab pertanyaanku dulu..."


kata Emir masih membisik di telinga Rianti.


"Iya...iya...mereka adalah orang tua dari Ara...kau ini kenapa sih...kenapa bertingkah aneh seperti ini..."


kata Rianti dengan nada amarah.


Mendengar jawaban dari Rianti Seketika expresi wajah Emir berubah, lalu dia segera berkata lagi sambil menyeret Rianti.


"Ayo sekarang kita pulang.... tempat ini tak baik untuk kita..."


kata Emir dengan suara yang bisa di dengar oleh seluruh orang yang ada disana.


Mendengar itu seketika Jodi berdiri.


"Berhenti...kalau papa tak suka disini..papa boleh pergi...lagi pula aku tak mengharapkan kehadiran papa disini..."


kata Jodi berjalan mendekat pada keduanya, lalu merebut tangan Rianti dan menariknya.


"Sudah aku bilang kan maa....dia hanya akan mengacaukan semuanya..."


kata Jodi lagi yang lebih di tujukan pada Rianti.


"Bukan hanya kau...tapi kau juga Jodi...ayo sekarang kita pulang...cepat.. jangan pernah datang ke tempat ini lagi"


kata Emir kini mendorong Jodi dan Rianti secara bersamaan.


"Tuan Emir yang terhormat...tidak bisakah Anda sedikit saja menghormati orangtua saya disini...ini rumah orangtua saya...apa yang membuat Anda berfikiran bahwa tempat ini tak baik...orangtua saya adalah orang baik-baik... jangan menilai semua tempat karna adanya wanita hina seperti saya...saya memang kotor dan hina tapi saya mohon hargai orangtua saya..."


kata Ara kini dengan sorot mata penuh amarahnya melihat tingkah Emir yang di nilainya sudah keterlaluan.

__ADS_1


Ara berfikir bahwa Emir masih sangat membencinya dan menilai semua tempat dimana terdapat Ara di dalamnya adalah tempat yang tak baik.


Rianti yang mengerti arah pembicaraan Ara, dia segera menjawab.


"Tidak sayang...maaf atas sikapnya... kami tak bermaksud seperti itu..."


"Maaf Ara..maafkan aku...dia memang seharusnya tak datang kesini..."


kata Jodi menatap Ara penuh rasa bersalah.


"pa... lebih baik papa pergi dari sini...kedatangannya papa hanya akan membuat semuanya menjadi berantakan..."


imbuh Jodi kini menarik tangan Emir untuk pergi dari sana.


Emir pun tak menjawab, kini dia malah semakin menggiring Jodi dan Rianti untuk keluar dari rumah Lilia dengan wajah yang sulit di artikan.


"Cukup pa.... apa yang papa lakukan...urusan kami belum selesai disini..."


kata Jodi


"Semua sudah selesai Jodi...kau dan Ara tak akan menikah..."


kata Emir dengan angkuhnya.


" Apa kau bilang....kemarin kau sudah menyetujui akan melamar Ara untuknya.. sekarang kau tak menyetujui hubungan mereka lagi...kau datang...tapi sekarang kau mengajak kami pergi...sebenarnya ada apa ini ...katakan...aku sangat bingung dengan sikapmu ini..."


kata Rianti kini benar-benar marah, dia menatap Emir tepat di depan wajahnya.


kata Emir kini dengan wajah memohonnya memegang kedua bahu Rianti.


"Apa terlalu sulit memberikan restu untukku dan Ara pa... dia wanita baik Pa...Papa belum mengenalinya dengan benar...sebenarnya ada apa dengan papa...kenapa papa begitu membencinya...."


kata Jodi yang terbakar amarah juga.


Tanpa di sangka Lilia menjawab dengan lantang, dia bahkan berdiri dan menatap ke arah Emir dengan amarahnya.


"Dia takut...."


Seketika semua yang ada disana menatap ke arah Lilia, terkaget dengan apa yang dia katakan.


"Takut...apa kau mengenal dia sayang...apa yang kau maksud dengan takut..."


tanya Bima yang seketika juga berdiri di samping Lilia memandangnya.


"Takut..."


kata Rianti dan Jodi bersamaan, Rianti sendiri kini memandang Lilia dan Emir bergantian.


"Apa yang di maksud nyonya Lilia dengan takut....kalian saling mengenal sebelumnya..."


tanya Rianti cepat pada Emir.


"Sudah aku bilang...lebih baik kita pergi dari sini...ini bukan tempat yang baik untuk kita...minta aku untuk datang kemana pun asalkan jangan kesini....aku tak mau menginjakkan kakiku lagi disini....dia hanya membual...ayo sekarang kita pergi..."

__ADS_1


kata Emir bergegas menarik tangan Rianti lagi dengan wajah cemas.


"Aku rasa tak perlu membahas tentang masalah perampokan itu maa...itu malah akan memperumit masalah disini sekarang... lagi pula Tante Rianti dan Jodi sudah tau tentang semuanya maa..."


Kata Ara yang berada di samping Lilia, dia mengira bahwa Lilia marah dan akan membahas tentang masalah perampokan yang telah menimpa Ara karna ulah Emir dulu.


Seakan tak mendengar segala pertanyaan dari Bima dan Ara, Lilia malah berkata lagi.


"Dia takut....kalau nyonya Rianti tau.. apa saja yang telah dia lakukan di belakangnya....dia tak lebih dari seorang bajingan...."


Semakin terkejut dengan ucapan Lilia semua yang berada disana hanya menatap Lilia dengan penasaran.


"Cukup.... kau tak perlu membahas apapun disini...."


kata Emir kini dengan wajah takut, cemas, bingung dan marah menjadi satu, dia menunjuk-nunjuk ke arah Lilia dengan emosi.


"Itu karna kau takut kan...kau takut kalau mereka tau bahwa Ara adalah anakmu....hah..."


kata Lilia lagi sambil menunjuk-nunjuk ke arah Emir.


"Apaaa...."


kata Rianti dengan spontan.


"Ja....jadi dia orangnya...."


kata Bima terbata karna terkaget dengan pengakuan Lilia, wajah Bima seketika berubah menjadi penuh amarah karna dia mengingat lagi, cerita bagaimana Lilia berada dalam kesulitan karna ulah Emir.


apa.... jadi dia ayah kandungku....


batin Ara dengan menutup mulutnya terkejut dengan fakta yang baru dia dengar.


Ara anak papa.... jika dia anak dari papa itu berarti aku dan Ara juga saudara.... Sebenarnya apa yang terjadi dengan masa lalu papa....


batin Jodi syok dengan penuturan Lilia, dia kini terduduk lemas di lantai, memandang Ara dengan pandangan yang sulit di artikan.


Sementara Chandra yang sedari tadi berada di balik ruang tamu, dia mendengar segala pembicaraan disana. Mendengar perkataan Lilia dia seketika berdiri dengan wajah terkejutnya.


jika Ara adalah anak dari ayah si Jodi itu...itu berarti mereka juga tak bisa melangsungkan pernikahan....jadi di antara kami tak ada yang boleh memiliki Ara....kami adalah saudaranya...saudara yang terpisah sejak kecil....


batin Chandra dengan seringainya, tanpa disadari kini Chandra merasa senang karna menurutnya dia senasib dengan Jodi. Mereka berdua mencintai Ara tapi tak bisa memilikinya karna Ara adalah saudara mereka.


.


.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2