
Kicau burung di atas pohon membangunkan gadis yang masih meringkuk dalam selimut, bias cahaya matahari mulai memasuki kamarnya dari celah ventilasi yang tak tertutup kawat nyamuk.
"Berisik banget sih, Rung! bangkong napa sekali-sekali!" ucap gadis itu dengan malasnya bangun dan menyandarkan dirinya ditepi ranjang. Menjangkau benda pipih di bawah lampu tidurnya.
"Astaga, setengah tujuh!" Selimut yang masih melilit menutup pinggangnya seketika ditariknya dan dilempar kesembarang arah. Kebetulan hari ini dia belum wajib beribadah, karena masih memasuki hari ke empat masa datang bulan.
Rambutnya yang lurus di ikat keatas dengan gaya cepol harazuku, kacamata berbingkai hitam. Menambah kesan santai pada tampilan gadis yang memakai kaus berwarna putih itu. Hari ini hari Jum'at, waktunya olahraga, seluruh staff rumah sakit diharuskan berkumpul lebih cepat dari biasanya, karena setiap jum'at diadakan senam bersama.
Juna turun dari motor ojek langganannya, dia meminta di turunkan diluar area rumah sakit.
"Disini aja, Mun!" Juna menepuk bahu driver ojol.
"Kenapa gak sampai kedalam seperti biasa, Jun?" tanya driver yang disapa Juna dengan panggilan 'Mun' itu.
"Hari ini olahraga, males mau ikut! aku mau ngumpet aja! Kalau turun di tempat biasa, ntar keliatan! haha ...." Jelas Juna, Mun hanya menggelengkan kepalanya.
"Kau tak pernah berubah, Jun! sifat malas mu itu konsisten ya!" Mun mengambil helm yang diberikan Juna.
"Haha ... masih ingat aja kau! Da Mumun." Juna melambaikan tangan meninggalkan driver ojek yang masih tersenyum memandangnya. Dua teman sebangku saat sekolah dasar itu berpisah untuk bekerja di bidang masing-masing yang mereka geluti.
Juna berjalan memasuki rumah sakit dengan jalan perlahan layaknya jalan pengantin yang hendak bersanding di pelaminan, Sambil mengunyah permen karet yang selalu ada dalam tasnya.
Alunan musik pengiring senam kesehatan jasmani semakin terdengar jelas tertangkap di pendengaran gadis yang berjalan mindik-mindik itu.
Tatapan dengan senyuman dan gelengan kepala datang dari sosok perempuan berperut besar yang sedang ikut bersenam ria. Juna meletakkan jari telunjuknya ke depan bibirnya, begitu kedua manik matanya bertemu dengan pemilik senyuman tadi.
Akhirnya Juna berhasil masuk kedalam ruangan kerjanya yang berada disudut koridor rumah sakit. Beberapa pasien yang hendak berobat di poliklinik sudah tampak duduk di kursi tunggu, menanti dokter masuk keruangan prakteknya.
Saat melewati ruangan praktek dokter spesialis jantung Juna berpapasan dengan ibu muda yang diperkirakan seusia dengannya, menggendong anak laki-laki yang sangat pucat. Dengan ramah Juna menyapa perempuan itu.
"Mau berobat, Bu? kenapa adek?" sapanya ramah.
"Iya, Bu. Kata orang-orang sih anak saya punya kelainan jantung! ini mau saya periksakan. Katanya dokter ahli jantung sudah mulai ada hari ini! Dokternya adakan, Bu?" ucap perempuan itu.
__ADS_1
"Duh, apa ada ya? setau aku dokter ahli jantung masih kosong sih, setelah Dokter Arnold pindah! aku harus bilang apa nih, malah kasian banget sama si adek kecil ini!" gumam Juna dalam hatinya.
"Oh, nanti saya cek dulu ya, Bu! ibu tunggu disini saja! nanti saya kabari. Saya permisi!" Juna berlalu meninggalkan ibu dan anak itu, setengah berlari masuk kedalam ruangannya, menaruh tasnya ke meja kerjanya kemudian keluar menemui Sasha yang masih istirahat dilapangan.
\=\=\=\=
"Capek, Bu!" Juna menyodorkan botol minum yang ada disebelah Sasha.
"Botol minum gue nih, Neng!" Sasha menatap heran.
"Iya, emang. Kan gue ambil disebelah loe tadi!" Juna duduk menyelonjorkan kakinya sama seperti Sasha.
"Capek banget ya!" Juna seolah menyeka keringat di dahinya. Dengan senyum menyeringai.
"Capek ngapain? ngunyah! kenapa sih, males banget ikut senam!" tanya Sasha.
"Males ah, aku tu udah sehat! eh ... hampir lupa, dokter spesialis jantung udah ada yang ngisi? tadi aku ketemu ibu-ibu muda bawa anak, anaknya kasian banget, badannya kurus, pucat banget. Tadi dia tanya, aku gak tega bilang dokternya gak ada! tapi ibu tadi bilang kalau sudah ada dokternya!"
"Emang udah ada kok! itu disana. Dokternya masih muda banget, besok-besok pasti banyak pasien jomblo yang mendadak sakit jantung deh!" Sasha menunjuk kearah selatan, terlihat sosok laki-laki yang hanya tampak punggung berbicara dengan Toni, perawat yang biasa membantu dokter Arnold.
"Aku ke Toni dulu deh, Sha! gak enak sama ibu tadi. Aku udah janji mau bantu. Aku harus bisa pastiin tu anak langsung diperiksa dokter gak pakai antri!" Juna bangkit dari duduknya, berjalan kearah Toni meninggalkan Sasha sendiri.
"Bisa tolong aku gak?" Juna menceritakan tujuannya menemui Toni.
"Ya sesuai nomor antrian lah, kalau si ibu yang kau maksud no 1, pasti dia duluan masuk. Lagipun masih setengah jam lagi bukanya. Dokternya masih kecapean tu, katanya mau mandi dulu!" Toni menatap dokter baru yang menjadi atasannya saat ini.
"Ah, percuma aku minta tolong padamu! aku bilang dokternya langsung saja lah!" Juna mendekati dokter yang dari tadi hanya menunduk menatap keringat yang berjatuhan dari dagunya yang runcing. Saat Juna menyapanya tadi dia hanya menjawab tanpa melihat keasal suara.
"Permisi, Dok! saya mau minta tolong! Dokter bisa gak meriksa pasien yang katanya ada kelainan jantung di sebelah sana! sekarang!" Juna menunjuk ke arah tempat ibu muda itu yang tampak masih berdiri dan menggendong anaknya yang menangis.
"Maaf, Bu! semua pasien saya memang punya masalah sama jantungnya!" jawab laki-laki itu tersenyum geli.
"Oh iya saya lupa dokter kan ahli Jan ... Adzka!" Juna menatap tak percaya, wajah dokter yang ada dihadapannya itu adalah orang yang dikenalnya.
"Hai! Terkejut?" sapa Adzka yang sudah dari tadi mengetahui bahwa Junalah yang bersamanya.
__ADS_1
"Dokternya kau, Dek!" Juna tersenyum memancing kemarahan Adzka, menggodanya, mencoba mengucap kata yang tak disukai dokter ganteng itu.
"Panggil aku Dokter!" Adzka menarik hidung Juna yang mancung.
"Iya, maaf Dokter! ayo dokter, kasian sekali anak kecil itu." Juna menarik tangan Adzka, seketika pandangan orang yang ada disekitar tertuju pada mereka.
"Aku mandi dulu! bau nih!" Adzka melangkah mengikuti Juna yang memegang tangannya.
"Yaudah, diruanganmu ada kamar mandi kan? aku tungguin! ayo cepat jalannya, jangan seperti siput!" omel Juna, mereka sudah dekat dengan ruangan praktek Adzka, melewati ibu muda yang tadi.
"Sebentar ya, Bu! dokternya mandi dulu!" Juna tersenyum menatap ibu muda yang masih tetap berdiri menenangkan anaknya yang masih menangis.
"Udah belum, dek! ku suruh masuk ya pasiennya! aku juga mau kerja nih!" teriak Juna yang duduk di kursi tempat pasien biasa berbicara dengan dokter.
"Bentar! tanggung jawab dong! temani aku dulu." Adzka mengeluarkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi yang terbuka.
Beberapa menit kemudian, Adzka sudah keluar dengan kemeja lengan panjang. Wajahnya tampak fresh dengan kacamata yang melekat di netranya.
"Suruh masuk!" Adzka memakai jas putihnya. Duduk berhadapan dengan Juna. Sekilas Juna terpesona menatap laki-laki gagah dengan jas putih khas dokter di hadapannya itu.
"Iya, Dok!" ucapnya berdiri meninggalkan Adzka yang tak berhenti menebar senyum.
"Terpesona!" ucap Adzka.
"Ih ... gak la yaw!" Juna menjulurkan lidahnya.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Hai reader, terimakasih sudah setia membaca karya ku. Jadi semakin semangat deh..., 😍💕💕