Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
80


__ADS_3

Gerimis turun sepanjang hari, aroma kemalasan melanda. Dengan berselimut tebal Juna masih berada diatas kasur, meski jam sudah hampir siang. Tidur? tidak. Matanya sudah begitu kenyang menyantap malam. Ia hanya tengah berkhayal, menyusun daftar pekerjaan dan juga strategi untuk menjadi istri yang baik.


Jendela yang sengaja di buka lebar membuat mata leluasa menangkap cucuran air yang terus mengguyur bak tepung yang sedang di ayak.


Teleponnya berdering panjang, pertanda ada panggilan masuk, masih pada posisinya Juna meraba nakas sebelahnya.


"Apa aku belum laporan siang ini!" gerutunya, namun malasnya hilang saat nama yang tertera di ponselnya


"Assalamu'alaikum, Ibu." sapanya dengan suara yang di stel sedemikian rupa, semoga saja gak ketahuan kalau aku seperti ini, batinnya berdoa


"Jun, apa ada barang-barang lain yang kau inginkan, Nak?"


"Tidak, Bu. Itu saja sudah cukup bahkan terlalu banyak." balas Juna sungkan. Sampai saat ini dia masih merasa kikuk jika harus berbicara dengan Fatmala meskipun hanya dari telepon.


"Kau ini! jangan sungkan kalau menginginkan sesuatu. Minggu depan kami akan mengantar ini. Apa papamu punya permintaan lain? oh ... iya, Nak. Kalau masalah tepak, apa ada kain yang khusus warnanya sebagai pembungkus?"


"Iya, Bu. Juna sudah berterimakasih dengan banyaknya hantaran itu. Tepak? nanti biar Juna tanya papa ya, Bu. Sore nanti Juna akan kasi kabarnya."


Pernikahan mereka hanya tinggal kurang dari satu bulan. Mengikut adat yang ada di daerah Juna tinggal, setelah prosesi lamaran atau pertunangan akan ada istilah mengantar belanja , tradisi melayu Sumut. Keluarga mempelai lelaki membawa segala bentuk pemberian yang mereka ikhlas memberikannya, biasanya berupa satu set pakaian beserta dalamannya, mahar, dan juga yang lainnya. Ada juga yang membawa lemari plus kasur untuk pengantin.


Pengantin baru, semua barang-barangnya juga harus baru. Begitulah kira-kira.


Juna dengan malas keluar dari selimutnya, seperti anak kangguru yang baru saja keluar dari kantung marsupialia betina itu.


"Aaaargh!" Juna menggeliat, meluruskan otot-ototnya yang serasa kaku. Berjalan ke arah balkon mininya, menampung air hujan dan mengusap sisa air itu ke wajahnya. Tepatnya ke kedua matanya.


"Hemat air!" ucapnya berlalu.


\=\=\=\=


"Loh, kok cepat kali bangunnya, Nak? tidur lagi sana. Masih malam ini." Rudi yang masih memakai seragam kerjanya menatap Juna dari bawah tangga.


"Oh, masih malam ya? Hah ... pantas saja aku masih sangat mengantuk." Juna membalikkan tubuhnya, hendak kembali ke kamarnya


"Hihihi, Papa." gadis itu secepatnya membalik tubuhnya, menuruni anak tangga, memeluk tubuh tegap yang sudag berumur itu.


"Anak gadis kok bangunnya jam segini! malu dong!"


"Kan gak tiap hari, Pa. Cuman hari ini aja kok. Iya kan, Bunda!"


"Iya cuman hari ini kok. Besok mungkin bangunnya sore sekalian." Cindy mengacak rambut Juna.


"Eh, mau kemana ini? bunda kok cantik. Papa juga kenapa jam segini sudah di rumah?" Alis itu bertaut, Cindy telah rapi dengan hijab berwarna orange muda.

__ADS_1


"Mau ke rumah kerabatnya, Bunda. Ngundang!" jawab Cindy. Juna hanya membentuk donat di bibirnya.


Rudi membersihkan dirinya, sembari menunggu Cindy dan Juna berbincang di teras rumah. Wejangan demi wejangab selalu di dapatkan dari sosok berhati lembut itu.


"Suami itu nomor dua setelah Tuhan, kalau boleh kita menyembah selain Allah, maka jawabnya ya ke suami." Juna hanya mengangguk faham.


Tak perlu menggunakan payung, Juna menutup pintu pagar dengan hujan-hujanan. Meski gerimis, tapi jika berlama-lama akan basah juga. Aktifitasnya ia hentikan karena dering handphonenya kembali terdengar panjang.


"Ampuuun deh, apa sudah saatnya laporan?" gerutunya mendekati ponsel ia letakkan di atas meja teras.


"Eh!" rasa tak percaya melihat nama yang tertera di benda pipih itu.


"Assalamu'alaikum, Mama." ucapnya bergetar, penuh kerinduan.


"Wa'alaikumsalam, sayangnya mama apa kabar?" suara dari seberang sana begitu lembut terdengar.


"Mama, Juna kangen ...." gadis itu kini terisak. Ada rasa sakit di sebagian hatinya, rasa yang tak bisa di jelaskan. Ada juga rindu dan rasa bersalah. Sejak Juna kembali tinggal dengan papanya tak satu kali pun gadis itu menelpon atau sekedar menanya kabar Maria walau hanya melalui pesan singkat


"Kalau kangen kenapa tidak kesini? Mama juga rinduu sekali, Nak. Mama sudah mendengar kabar bahagia itu. Jun, apa mamanya sudah merestui kalian? kau harus memastikannya, Kalau sampai wanita itu menyakiti mu lagi, aku akan membawamu lagi ke sini." sepertinya wanita itu sedang berapi-api, ikatan darah sama sekali tak mengalir pada keduanya, namun kasih sayang tulus itu mengalir begitu saja


"Mama, Insya Allah ... ibu yang melamar waktu itu, Ibu itu baik, Ma. Kejadian waktu itu juga tidak ada yang salah. Semua yang di ucapkan ibu benar kok."


"Kau ini! terlalu baik! ya ... mau bagaimana lagi. Mama srlalu berdoa untuk kebahagiaanmu, Nak. Berbahagialah."


"Mama ...." suara itu begitu lirih, seperti ada yang tercekat di tenggorokan


"Hm, iya, Nak."


"Apa mama merestui Juna?" ucapan itu terdengar gugup


"Apapun untuk kebahagiaan mu, Sayang. Restu mama untukmu. Kau tau, Jun. Rasa kecewa karena kau batal menjadi menantu mama pasti ada, Lia sudah menceritakan semuanya. Tapi jodoh tak bisa di paksakan. Marchel juga sudah bahagia, kini saatnya giliranmu." Maria tersenyum bahagia di seberang sana


"Alhamdulillah kalau begitu, Ma." ada rasa ingin tau, apa yang sedang terjadi dengan Marchel saat ini, apakah dia sudah menemukan cintanya! tapi di urungkan, tak ada hak untuk sekedar kepo tentang laki-laki itu, doa dari jauh untuk kebahagiaannya mungkin itu lebih baik.


"Ya sudah, Mama mau kebelakang. Juna jaga makannya ya, Nak. Mau jadi pengantin harus semakin cantik, Oke" panggilan itu berakhir, beban yang seketika hadir saat Maria menelponnya, kini sudah hilang bersama kabar mengenai kebahagiaan Marchel, apapun itu.


Belum sempat ia masuk ke dalam rumah, suara pagar yang di dorong membuatnya mengedar pandang. Laki-laki berkacamata sudah berdiri disana dengan senyuman manisnya.


"Selamat siang calon istriku." ucapnya hampir berteriak, membuat Juna menggelengkan kepalanya


"Pakai toa aja sekalian!" ucapnya mendudukkan kembali tubuhnya di kursi teras


Bip Bip

__ADS_1


Adzka keluar dari mobil, membawa dua bungkusan makanan.


"Ayo masuk!" ucapnya menenteng makanan itu, seolah bukan dia yang bertamu.


Hampir mendekat ke bibir pintu, Juna menarik kemeja biru tua yang di kenakan Adzka hingga laki-laki itu terhenti langkahnya.


"Papa sama bunda gak ada dirumah!"


"Terus?" kening Adzka berkerut


"Ya jangan masuk rumah la, makan di luar saja."


"Mana enak makan di teras, mana habis hujan lagi, gak enak lembab!" dokter itu beralasan


"Ya sudah, masuk aja sana! aku tunggu disini." Juna memainkan handphonenya.


"Makan bareng, Ayo." Adzka seketika manja


"Sayang, kita masih belum halal. Apa kata orang nanti, gak ada muhrimku di rumah. Tunangan bukan berarti setengah halal. Aku gak mau terjadi hal yang tak di inginkan."Tatapan Juna yang berani menatap manik mata coklat calon suaminya kini tertunduk sayu.


"Iya baiklah. Maafkan aku. Kita makan disini saja. Bisakah kau mengambilkan minum?"


"Baik, Den ... sebentar ya." Juna berdiri


"Sayang! bukan Den, berasa bibik ya?" Adzka mengulum senyum


"Iya, Sayang ... sebentar ya." kali ini gadis itu tak ingin mencari masalah, menurut saja itu lebih baik


"Jun!"


"Iyaa ...." suara itu lembut namun gigi gadis itu rapat saat menjawabnya, baru saja ia melangkah kaki sudah harus berhenti lagi


"Tadi siapa yang telpon? tadi nomormu sibuk!" pertanyaan itu seperti jaksa penuntut umum


"Ya Tuhan, manusia ini!" gerutu Juna dalam hati


.


.


.


.

__ADS_1


Like dan komen ya 😉


__ADS_2