
Sang Surya mulai memperlihatkan diri, bias cahayanya memberikan efek penguapan kepada embun-embun yang masih saja menggantung di dedaunan. Meski begitu, sisa hujan sepanjang malam masih memberikan udara sejuk nan dingin bagi tubuh yang masih berselimut didalam kamar.
Tangannya sudah terlukis indah, warna putih menjadi pilihan gadis itu, tak seperti pengantin kebanyakan yang memilih Henna berwarna merah terang. Perias pengantin baru saja memasuki kamar yang telah dihias dengan bunga-bunga nan cantik.
"Bisa kita mulai sekarang, Dok!" Ucap si perias sambil meletakkan beberapa perlengkapannya diatas meja rias yang dikelilingi lampu tersebut.
"Sebentar, Mba. Saya mandi dulu" Dewi bangkit dari duduknya, bergegas mengambil handuk yang tersampir di towwel stand.
"Gak usah mandi, Dok. Katanya pengantin gak boleh mandi loh, nanti hujan." ucap perias tersebut.
"Kalau hujan, ya hujan saja, Mba. Gak ada hubungannya sama pengantin mandi. Yang ada suami ku bisa pingsan disebelahku nanti, kalau aku tidak mandi."
"Ini sudah zaman apa sih, Mba. Masih aja percaya mitos. Dari alis yang dikerok habis sampai sekarang zamannya sulam alis masih percaya aja sama yang begituan." Gerutu Dewi dalam hati.
\=\=\=\=\=\=
"Apa mama bilang, kesempitan kan! masih belum jadi bapak-bapak, perutmu udah gede aja, Zu." Perempuan paruh baya itu berdecak kesal saat baju pengantin anaknya tampak sedikit ketat akibat kenaikan berat badan si empunya.
"Masih tetap tampan kok, Ma. Lagipula masak gara-gara ini Dewi minta batalin pernikahan, kan gak mungkin, Ma." Zuan menyeringai, benar saja. Berat badannya memang bertambah beberapa kilogram. Nafsu makannya semakin menggila saat dia sudah bertunangan dengan Dewi.
Kedua ibu dan anak tersebut tampak sibuk mempersiapkan penampilan dan segala keperluan lainnya untuk acara pernikahan yang akan dilaksanakan pagi ini dirumah kediaman perempuan. Dari mulai baju, make up, buah tangan mas kawin dan yang lainnya telah siap. Namun kerepotan itu tak berlaku bagi pria tampan berlensa yang masih saja duduk santai di sofa memainkan gadgetnya.
Wajah datarnya seakan tak perduli dengan rutinitas yang dilakukan orang disekitarnya. Dia memang sudah berpakaian rapi, karena beberapa menit yang lalu, dia baru saja sampai ketempat tersebut. Adzka memilih datang ke hotel tempat mama dan kakaknya menginap. Karena ada jadwal operasi malam kemarin.
"Adzka." Fatmala menyebut nama anaknya. Laki-laki itu menjawab dengan "hm" saja tanpa melihat kearah wanita yang memanggilnya.
"Indah mana ya, kok belum datang." ucap Fatmala lagi
"Tau!" Sekejap ia hentikan kesibukannya, menatap mamanya memberikan jawaban kemudian kembali sibuk dengan kegiatannya.
__ADS_1
"Telepon dong. Takutnya kita terlambat kesananya, kalau Indah masih jauh ntar dia suruh nyusul aja, waktunya udah mepet soalnya." Seru Fatmala sambil melilitkan songket kepinggang Zuan yang tak lagi ramping itu. Walau mereka bukan orang sumatera asli tapi menghargai permintaan keluarga dari pengantin wanita kan ada baiknya juga.
"Ya mama telpon saja, bilang sendiri."
"Adzka, kamu gak lihat mama sedang apa sekarang! Ini lagi anak satu, jangan gerak-gerak terus dong. Susah mama makeinnya." gerutu Fatmala, Zuan hanya cengengesan. Seumur-umur baru ini dia memakai kain khas itu. Kalau saja bukan dia yang menikah, dia tidak akan mau memakainya.
"Adzka gak punya nomor hapenya. Gak penting!" Adzka meninggalkan mereka, masuk kedalam kamar mandi.
Zuan hanya tertawa melihat tingkah adiknya yang tampak tak semangat lagi untuk hidup. Dia tau apa penyebabnya, namun dia tak ingin mencampuri itu. Persiapan menuju pernikahan saja begitu menyita waktu dan pikirannya, apalagi ikut campur urusan Adzka dan mama mereka.
Adzka membanting pintu, masuk kedalam toilet kamar tersebut yang besar dan bersih. Dia memilih duduk diatas kloset yang tertutup dan melanjutkan aksinya bermain game. Shower yang menempel didinding ia nyalakan agar dia tak mendengar keributan diluar yang samar-samar terdengar.
\=\=\=\=\=
Gaun berwarna putih gading dengan taburan mutiara dibagian pinggang begitu pas ditubuh gadis yang berprofesi sebagai dokter gigi itu. Riasan diwajahnya juga tampak sempurna, hari ini dia menjelma menjadi putri.
Perias pengantin pun tampak puas dengan hasil karyanya, berdecak kagum melihat pantulan wajah kliennya dicermin.
"Benarkah? semoga calon suamiku seperti Ken hari ini." senyumnya terpancar.
"Iya, aku setuju. Kau cantik sekali dokter." Seorang gadis dengan menggunakan masker memeluknya dari belakang.
"Selamat atas pernikahan mu. Semoga jadi istri yang menjadi penyejuk hati suami. Mendampingi dalam keadaan sedih maupun senang, menua bersama dan bersama pula disurga." ucap perempuan itu membuka maskernya.
"Juna!" suara jeritan Dewi tak terkontrol, begitu girangnya dia melihat siapa yang datang kekamarnya hari ini.
"Aku yakin, kau pasti datang." ucap Dewi, matanya mulai berkaca-kaca menatap sosok ramping dihadapannya.
"Jangan menangis. Aku tidak mau dikasihani. Aku tidak apa-apa." ucap Juna, dia tau pasti Dewi merasa kasihan padanya atas apa yang terjadi antara dia dan Adzka.
__ADS_1
"Kau sudah cantik sekali, jangan nodai hasil karya Mba ini. Yakan, Mba." Juna tersenyum menatap perias pengantin yang senyum-senyum melihat mereka.
"Foto dulu yuk." Benda pipih Juna telah siap menangkap selfie mereka.
Berbagai pose dilakoni kedua gadis itu, foto pun memenuhi memory handphone, begitupula dengan perias pengantin yang beralih profesi menjadi tukang foto dadakan.
"Sayang, abang gak disini. Kalau tidak kita bisa foto bertiga. Apalagi kalau ada Adzka." ucap Dewi yang kembali melow
"Iya, apa kabar Zuan. Apa baju pengantinnya tidak sempit?" Juna tertawa, sebelum dia ke Makassar beberapa kali dia bertemu tanpa sengaja dengan Zuan, laki-laki itu tampak berbeda dari biasanya, pikirnya.
"Haha, gak tau. Belum ada telepon. Nanti kita lihat saja. Kau akan disini sampai acara selesai kan?" tanya Dewi penuh harap.
"Menurut ngana? mau terjadi hal yang tak diinginkan? apa kau ingin acara bersejarahmu ini menjadi hari bersejarah kedua bagiku karena akan mendapat hinaan lagi dari mertuamu itu?" ungkap Juna tersenyum.
"Kau dendam?"
"Aku dendam? haha ... Insya Allah, aku tak mengenal sifat itu, semoga Tuhan menjauhkannya dariku. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama kalau anakku dekat dengan seseorang yang aku tidak suka." Juna masih saja tersenyum.
"Maafkan mama." Dewi memegang tangan Juna yang memainkan jemarinya.
"Aku sudah memaafkannya."
Keduanya asik bercengkrama bertukar kabar dan cerita dan semuanya harus berhenti saat sepupu Dewi masuk dan mengabarkan Zuan dan keluarganya telah sampai.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Sekali lagi selamat untukmu." Juna memeluk Dewi sekali lagi, dia memasang maskernya lagi dan beranjak keluar meninggalkan Dewi dan juga sepupunya yang tampak keheranan.
"Oh ya. Kado ku titip di depan ya." ucap Juna memasukkan kepalanya lagi.
"Kau datang saja aku sudah sangat bahagia. Terimakasih." ucap Dewi menyeka air matanya yang menetes tanpa bisa dicegah.
__ADS_1
"Maafkan aku kalau dulu aku pernah berprasangka buruk padamu, Jun. Kau memang benar-benar baik. Mama pasti akan merasakan hal yang sama kalau beliau mengenalmu lebih jauh. Apalah kasta atau level, semua itu akan musnah kalau mama sudah mengetahui kepribadianmu ini." gumam Dewi dalam hati. Ia kembali mendudukkan tubuhnya menghadap cermin, perias pun paham maksudnya. Ia merapikan kembali polesannya yang tampak sedikit berubah.