
Seolah ringan seperti balon, kerinduan yang menggunung telah menjadi landai kini. Pertemuan yang sebentar saja dirasa sudah sangat cukup. Tak ada lagi ketegangan antar keduanya, semuanya kian melebur dimakan waktu, dan lebih besarnya rasa sayang.
Bersenandung ria, Juna tampak sumringah dalam perjalanan menuju bandara. Tapi tidak dengan lelaki yang sedang mengemudikan mobil disebelahnya.
"Kenapa sih, Chel?"
"Kenapa apanya?"
"Kamu tuh? kebelet? mukanya kok ditekuk gitu?"
"Aku lapar." jawab Marchel malu-malu, dia berbicara begitu pelan, namun Juna masih jelas mendengarnya.
"Apa kau tidak kenyang sarapan tadi?" Pertanyaan Juna hanya dijawab gelengan oleh Marchel. Juna malah menertawakannya.
"Kenapa? apa masakan ku tidak enak?" Juna mencebikkan bibirnya
"Eh, bukan gitu. Enak kok, enak banget malah. Tapi ... aku segan aja." Marchel memang sedikit canggung. Sebenarnya Rudi ramah kepadanya, mungkin karena ini adalah pertemuan pertamanya.
"Kalau gitu kita makan dulu aja. Cari tempat makan terdekat. Nanti lambungmu bermasalah lagi." perintah Juna kemudian, matanya celingukan melihat dari jendela mobil, siapa tau mereka melintasi warung atau rumah makan yang menjual sarapan. Maklum saja ini masih jam setengah sembilan pagi. Kalau mau makan makanan berat seperti di resto Padang, pasti makanannya belum lengkap.
Beberapa menit kemudian Marchel menghentikan mobilnya. Warung pinggir jalan dengan menu lontong, dan mie balap menjadi pilihannya.
"Ikut turun kan?" tanya Marchel, Juna masih tetap pada posisinya seperti tak ingin ikut.
"Oh, harus ikut ya? aku kan gak lapar?"
"Nanti kamu malu-malu lagi makannya." Sambung Juna sedikit menggoda
__ADS_1
"Aku segannya sama Pak polisi itu saja, bukan sama anaknya. Malah kalau kau yang nemanin aku makan aku akan semakin lahap." Marchel menyeringai, sedangkan Juna berasa mual. Haha
"Oh ya, tolong ambilkan botol dalam Dashboard itu ya. Aku duluan." Marchel menutup pintu mobilnya.
Juna pun membuka Dashboard yang ada dihadapannya. Satu botol berukuran kecil dengan gambar unggas itu Juna ambil dan memasukkannya kedalam tasnya. Dengan alis yang berkerut, Juna keluar dari mobil tersebut.
"Sejak kapan nyetok ini?" tanya Juna penuh keheranan.
"Apaan? ini?" Marchel memegang botol kecap tersebut, lalu menuangkan sebagian isinya kedalam piring.
"Terkadang rasa rindu bisa terobati dengan mengingat bahkan melakukan apa yang disukai oleh orang yang kita rindukan itu. Awalnya hanya coba-coba sih, tapi jadi keterusan. Enak!" Ucap Marchel yang sudah menikmati satu piring mie balap yang sudah dilumuri dengan kecap yang dibawanya.
"Kemaren tu sebenarnya lupa bawa, jadinya mampir dulu ke mini market. Makanya aku taruh di dashboard itu." ucap Marchel menatap Juna yang tampak melamun.
"Heh butet! napa loe?" Marchel mengusap wajah Juna dengan tangan kirinya.
"Ih, apaan sih Udin. Siapa yang melamun." ucap Juna ketus.
\=\=\=\=\=
Rudi masih berada dirumah menunggu Cindy selesai mengerjakan pekerjaan rumah. Laki-laki paruh baya itu sedang sibuk menyirami tanaman-tanaman peninggalan gadisnya. Sejak Juna pergi, merawat bunga-bunga yang ada di taman mininya itu menjadi rutinitas hariannya.
Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kesehatannya. Bertemu Adzka dirumah sakit adalah pilihannya, padahal Adzka sudah menawarkan diri untuk datang kerumahnya saja.
"Biar Adzka saja yang kerumah Om. Om, gak usah capek-capek ngantri." ucap Adzka waktu itu.
Rudi merasa sungkan, hubungan antara anaknya dan dokter tampan itu tak seperti keinginannya. Jadi lebih baik dia mulai berjarak dengan dokter spesialis jantung tersebut. Ditambah lagi orangtua Adzka juga tak menyukai anaknya. Walaupun begitu hubungan antara keduanya masih tetap baik.
__ADS_1
"Sudah selesai bunda? ayo, berangkat. Semoga kita bisa dapat nomor antrian yang dekat ya, supaya gak lama-lama dirumahsakitnya."
"Iya, ya udah yuk." Cindy mengunci pintu. Memberikan kontak mobil kepada suaminya.
"Apa Cindy saja yang bawa mobilnya, Bang?"
"Tidak usah. Abang kan sudah sembuh. Hari ini juga semangat abang bertambah. Ternyata anakku bersama seseorang yang sangat menyayanginya." ungkap Rudi dengan mata berbinar.
\=\=\=\=\=
Laki-laki berkacamata berpakaian rapi tampak sedang mengaduk susu dalam gelas yang berukuran besar. Dia mendudukkan dirinya dihadapan roti yang sudah dioles selai coklat.
"Sarapan ini aja, Ka?" tanya wanita paruh baya yang juga sudah rapi seperti hendak pergi bekerja
"Iya, Ma." jawab laki-laki itu datar. Sikap dinginnya semakin menjadi-jadi. Tak ada lagi kehangatan keluarga antara kedua dokter yang beda spesialis itu.
Adzka cepat-cepat menyelesaikan sarapannya. Meneguk habis susunya kemudian berlalu meninggalkan Fatmala yang masih duduk dimeja makan.
"Adzka berangkat, Ma" hanya itu yang diucapkannya, itupun tanpa melihat kearah wanita yang sangat menyayanginya itu.
"Kenapa kau jadi seperti ini, Nak?" batin Fatmala seolah menangis. Perubahan besar telah terjadi kepada anak bungsunya tersebut.
"Mama hanya ingin yang terbaik untukmu, Nak." ucapnya lirih, airmatanya jatuh tak tertahan.
Adzka yang sudah berada dalam mobil serasa mendengar ucapan itu. Ikatan batin antara orangtua dan anak tidak akan bisa dihapus meski ada setitik benci dalam hati.
"Gak semua yang menurut mama baik itu, baik juga untuk Adzka, Ma. Adzka tidak ingin apapun. Adzka tidak mau dengan siapapun. Dari dulu Adzka hanya jatuh cinta sekali dan sampai saat ini, cinta itu masih tetap ada dan tak akan pernah terganti." gumam Adzka melajukan mobil putihnya.
__ADS_1
Sementara Juna dan Marchel sedang sarapan bersama ditempat lain, tanpa tau kesedihan yang terus menyelimuti hati Adzka, Juna dan Marchel hanya bisa berkata
"Jangan lupa di like dan vote episode ini ya, maaf sudah lama tidak up. Doakan author sehat terus ya 😄