
Percakapan sesama laki-laki itu kian menarik. Kesamaan antara keduanya yang tidak menyukai gadis yang berada di rumah mereka saat ini menjadi topik utama pembahasan mereka malam itu. Semenjak sampai ke rumahnya, Adzka tak pernah keluar dari kamarnya, bahkan saat Fatmala memanggilnya untuk makan bersama. Laki-laki itu menjawab 'sudah kenyang'.
"Kayaknya ada yang gak beres dari si Indah itu." ucap Zuan
"Dari dulu gak beresnya, baru sadar? tapi aku gak perduli sih." Adzka tetap konsentrasi meninju bantal guling yang tergantung.
"Tadi waktu kami sampai sini, papasan sama mobil yang sepertinya baru keluar dari sini. Laki-laki, Ka."
"Ya, terus? kenapa memangnya?"
"Bisa saja itu teman kerjanya Indah kan...."
"Duh, yang ngebelain."
"Siapa yang mbela." Adzka meninggalkan Zuan sendiri di balkon. Menutup kamar mandi dengan keras.
Bruk!
"Hei, mau buat pintu itu pecah!" teriak Zuan
"Ah, diam kau, bukan urusanmu!" balas Adzka dari dalam.
\=\=\=\=
Usia Fatmala memang sudah hampir setengah abad, namun penglihatannya masih normal, bahkan tanpa bantuan kacamata. Mungkin karena dia penyuka sayuran berwarna.
Wanita paruh baya itu menatap pepohonan yang masih tampak berembun, entah itu embun yang tebal atau sisa air hujan. Matanya menerawang. Pikirannya terbang mengingat sesuatu yang membuatnya bertanya dalam hati.
"Apa yang di ucapkan asistenku waktu itu benar?" dia terus saja berbicara sendiri dalam hatinya.
Laki-laki jangkung yang ada dalam mobil tempo hari masih jelas dalam ingatannya. Sebenarnya Dia, Dewi dan Zuan sempat berpapasan dengan laki-laki yang mengemudikan mobil hitam yang di juluki dengan mobil sejuta ummat itu.
"Kalau memang Indah sudah bertunangan, kenapa dia sepertinya jatuh cinta pada Adzka. Laki-laki waktu itu juga gak kalah tampan kok sebenarnya. Pengusaha juga, trus apa yang kurang?"
"Ah, biar saja lah. Selagi janur kuning belum terpasang. Masih ada hak untuk menikung." semangatnya kembali berkobar untuk mendekatkan anaknya dengan gadis yang bernama Indah chandrika itu.
\=\=\=\=
Matahari tertutup mendung, awan hitam membuat siang serasa malam. Juna menuruni taksi yang mengantarkannya ke tempat naik turunnya pesawat.
__ADS_1
Dengan sabar dia menunggu. Memainkan ponsel pintarnya, memantau sosial media miliknya, atau hanya sekedar melihat kabar teman-temannya.
Tak lama pemberitahuan pesawat yang ia tunggu telah sampai dengan selamat menginjak bumi. Ia pun bangun dari duduknya dengan sangat bersemangat. Menyambut kedatangan perempuan yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri.
Gadis itu tampak tak sabar, memanjangkan lehernya mencari keberadaan sosok yang ditunggunya mungkin telah tiba, namun karena ramainya orang berlalu lalang membuat lehernya harus ekstra lentur kalau bisa seperti jerapah.
Laki-laki menggunakan jaket hoodie berwarna hitam, serta kaca mata berwarna senada tampak mengumbar senyuman. Lambaian tangannya seolah seperti artis internasional yang sedang ditunggu fans. Semakin lama sosok itu semakin dekat dengan gadis berambut sebahu itu.
"Hai." sapanya, laki-laki itu tampak canggung. Maklumlah, status mereka kali ini beda. Walau Marchel belum melamar Juna secara resmi, namun jawaban dari gadis itu satu bulan yang lalu sudah membuatnya seakan memiliki wanita itu.
"Hai." Juna masih saja celingukan.
"Hello, aku sudah disini. Kau mencari siapa?" tangannya mengibas penglihatan Juna.
"Mama lah. Mama mana?"
"Mama di Jepang. Kerasan Mama disana, gak mau pulang." Marchel menjawab ketus.
"Pacar pulang ya di cium kek, atau gak di peluk gitu. Ini malah dilihatin juga enggak. Gini amat nasib gue." batin Marchel menggerutu.
"Kok gak pulang. Apa mama masih belum sembuh?" gadis itu tampak kecewa.
"O, Eh ...." Juna terkejut saat tangannya ditarik tiba-tiba oleh Marchel kepelukannya.
"Pacar pulang dari jauh itu di giniin." Marchel memeluk Juna erat. Tak ada balasan dari gadis itu.
"Jangan begini ah, gak enak di lihat orang. Lepas." pinta Juna
"Gak perduli, pokoknya aku mau peluk!"
\=\=\=\=
Perempuan berambut panjang sedang mengemasi beberapa barang-barangnya. Hanya ada satu koper ukuran kecil. Dia menariknya keluar dan berjalan kearah kamar yang ada dilantai satu.
Di ketuknya perlahan daun pintu berwarna coklat itu. Hari ini hari minggu, pemilik rumah yang berprofesi dokter itu tak bekerja hari ini.
"Tante ... Indah mau pamit." ucapnya
Pintu itu terbuka, wajah ramah keluar dari dalamnya.
__ADS_1
"Mau kemana, Nak?" tanya perempuan itu heran melihat gadis dihadapannya telah membawa koper.
"Indah mau pulang ke Jakarta, Tan. Urusan disini sudah kelar. Indah sudah punya orang yang bisa dipercaya untuk mengurus cabang disini. Tapi nanti sesekali Indah bakal datang, kok."
"Loh, masak tante ditinggal." Fatmala tampak sedih.
"Rumah Indah kan disana, Tan. Nanti Indah akan urus pekerjaan Indah disana deh. Semoga aja bisa cepat kembali ke Sumut. Indah juga betah disini. Makasi udah baik banget sama Indah ya, Tan." Indah memeluk wanita paruh baya itu.
"Kalau ada waktu mainlah kesini, Tante juga kalau ke sana boleh mampir kan?"
"Boleh dong, Tan."
Keduanya kembali berpelukan. Ada rasa tak rela keluar dari rumah ini. Tapi rasa tak rela juga ada untuk melepas Pramono yang tampak semakin dekat dengan kakak sepupunya.
Flashback
Malam hari setelah Pram pulang dari kediaman Fatmala yang disebut Indah tempat kostnya. Pram kembali kerumah Nia. Dia disambut baik oleh keluarga sederhana itu.
Setelah makan malam, Nia berpamitan kepada Ibunya untuk belanja keperluan bulanan. Pram yang mengetahuinya menawarkan diri untuk mengantar. Mumpung ada mobil rentalnya. Nia pun mengiyakan.
Di pusat perbelanjaan Indah ternyata menelpon. Pram yang merasa tak terjadi apa-apa malah mematikan panggilan itu dan menggantinya dengan panggilan video. Indah tampak tak senang melihat tunangannya berbelanja dengan kakak sepupunya tersebut.
"Aku gak akan melepaskan mu, Mas. Aku gak akan rela jika mas dengan Nia." tangan Indah mengepal.
"Aku harus urus semuanya. Gak apa-apa kan. Kalau disana aku punya Mas disini aku mengejar dokter tampan itu." gumamnya.
Flashback off
Perempuan paruh baya itu mengetuk pintu kamar, setelah letih memanggil anak lajangnya beberapa kali dari bawah namun tak ada sahutan, dia pun bergegas menuju kamar anak bungsunya itu.
"Ada apa sih, Ma." Adzka keluar dari kamarnya, muka bantalnya masih terlihat suaranya juga masih serak khas orang bangun tidur.
"Anterin Indah gih! Dia mau pulang ke Jakarta." seru Fatmala
"Eh, gak usah Tante. Indah sudah pesan taksi kok." ucap gadis itu yang ternyata menyusul.
"Nah tu, mama dengar sendirikan. Kasihan kalau bang taksi onlinenya di cancel." ucap Adzka bahagia.
"Mm, Mas Adzka ... Indah pamit ya." ucap gadis itu mempersembahkan senyum semanis madu.
__ADS_1
"Oh, iya. Semoga selamat sampai tujuan."