Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
22


__ADS_3

Malam semakin larut, bahkan sudah menjadi pagi dini hari. Wanita berpiyama dengan celana yang hanya sebatas lutut masih saja terjaga. Dia belum tidur barang sedetikpun.


"Kenapa harus ketemu lagi sih! buat nambah galau aja." ucapnya kemudian.


Sosok laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya tadi, membuat ingatannya kembali ke masa lalunya semasa dia menempuh pendidikan di kota ini.


Flashback on


"Sebenarnya ada rasa penasaran sih, Mil. Gimana ya rasanya punya pacar! kalau mau langsung nikah aja seperti keinginan mu aku takut ah. Gak yakin aku. Yang udah kenal dari kecil aja seperti Papa mamaku bisa End, apalagi yang belum kenal sama sekali. Eh, aku gak bermaksud apa-apa loh, Mila. Jangan tersinggung, Ya." Juna tampak begitu antusias bercerita melalui panggilan video dengan temannya.


"Enggak kok, biasa aja. Ngapain pakai tersinggung segala. Terserah mu lah, mau pacaran atau apa. Yang penting prestasi jangan turun. Kekmana disana? makin betah la ya." garis berjilbab hitam itu tampak sangat manis.


"Makin betah dong, tapi dia itu terkenal Playboy, Mil. Resiko patah hatinya besar nih, kalau nekad jadian."


"Loh, terus? berarti udah siap patah hati lah ya?"


"Disiapin aja lah, hahaha. Aku merasa tertantang, Mil. Jangan cerita sama Erwin ya. Bawel ntar tu bapak-bapak. Berasa seperti punya papa tiga aku." Juna mengingat betapa cerewetnya sahabatnya satu lagi itu. Rasa kepeduliannya yang tinggi membuat Erwin sangat posesif menjaga dua sahabat perempuannya.


Mila dan Erwin adalah sahabat Juna saat masih duduk di bangku Madrasah Aliyah, sekolah menengah atas yang lebih fokus kepada ilmu agama tapi tetap mengedepankan pelajaran umum juga (Kalau belum tau baca novel author yang pertama ya gaes).


"Memangnya orangnya ganteng, Jun?"


"Gak ganteng-ganteng amat sih. Ya kali ada cowok ganteng mau ame gue yang jelek ini."


"Jangan meninggi gitu ah, nanti kalau jatuh sakit loh. Haha"


"Aku sudah tahan banting, santai aja." Juna masih ingin berlama-lama mengobrol. Tapi sedari tadi Mila sudah berkali-kali menguap. Dia paham betul, Mila terbiasa tidur cepat. Jam sepuluh malam seperti saat ini sudah sangat larut baginya.


"Ya udah deh, tidur sana. Sudah ratusan kali kau menguap. Bau nafasmu sampai kemari, aku mau pingsan jadinya." godanya mengakhiri panggilan itu.


"Enak aja kau,Junaidi! oke, baik-baik disana ya, Nduk. Jangan nakal, belajar yang bener biar jadi orang bener. Assalamu'alaikum." Percakapan pun berakhir, kini ponsel itu menunjukkan walpapper yang memperlihatkan keakraban antara dia dan pokok pembahasan mereka malam ini. Statusnya saat ini masih pedekate sebenarnya, awalnya dari sebuah persahabatan.


Siapa lagi kalau bukan Marchel. Laki-laki berdarah Manado tionghoa itu kini sering mengganggu konsentrasinya. Siapa yang tak terkesima, penampilannya yang keren, kepribadiannya yang humble, dan juga kaya membuatnya menjadi idola kampus, walau badung. Kuliah hanya sebatas menuruti keinginan orangtuanya saja. Datang ke kampus pun hanya untuk nongkrong di kantin atau bascam saja.

__ADS_1


Pertemuannya dengan Juna waktu itu adalah hal yang tak disengaja. Saat di kantin tak ada kursi kosong lagi selain yang ada di meja Juna. Marchel tanpa pikir panjang mendudukkan tubuhnya disana. Tanpa permisi sekalipun! dia juga merasa terpaksa makan dikantin tersebut, karena dari semalam dia belum makan. Konfliknya dengan orangtuanya membuatnya meninggalkan rumah untuk menghindari pertengkaran.


"Iya duduk aja, gak papa kok. Tas gue letak aja dibawah meja. Biar aja kotor yakan. Ini kan kantin mbah mu!" mata Juna membulat, saat laki-laki dihadapannya mengambil tas milik Juna yang diletakkannya diatas kursi yang sekarang diduduki laki-laki itu, kemudian melemparkannya begitu saja kebawah meja.


"Gak sopan!" ketusnya lagi.


"Kan tadi loe bilang, ini kantin mbah gue. Ya sudah suka-suka gue." jawab laki-laki itu tak kalah ketus.


Flashback End


"Hahaha, orang kaya aneh. Tapi alhamdulillah, sekarang dia sudah punya Apotik. Harapannya sudah terkabul. Semoga kesuksesan bersamanya." Juna mengingat kembali masa-masa itu.


\=\=\=\=\=


Satu buah koper berukuran kecil telah berdiri diruang tamu. Saatnya untuk pulang. Satu minggu lebih 2 hari dirasa sudah cukup melepas rindu. Walau kerinduan itu akan kembali lagi bahkan setelah melangkah keluar dari pintu masuk rumah ini. Andai mamanya berada tetap dikotanya waktu itu. Mungkin tak akan membutuhkan waktu yang harus terbagi seperti ini.


Dua wanita yang tampak mirip itu berpelukan. Ada rasa tak rela melepas kembali putri pertamanya itu untuk kembali kerumah papanya.


"Sering-sering kemari lah, Yun!"ucap wanita paruh baya itu.


Tingtung!


Suara bel rumah itu berbunyi. Lia bergegas membuka pintu.


senyumnya mengembang ketika melihat sosok yang ada dibalik pintu tersebut.


"Chel! masuk." ucapnya


"Makasi tante. Pagi, Om." sapanya saat masuk kedalam rumah. Mata Juna membulat melihat Marchel yang masih berdiri mengumbar senyum kepada semua penghuni rumah.


"Ngapain loe?" ketus Juna.


"Mau ngantar cewek jutek pulang ke habitatnya!"

__ADS_1


"Loe kira gue bin Atang!"


"Bukan, gue tau loe itu bin Rudi kan?"


"Hm ...."


"Ayo berangkat! pesawat jam sembilan kan?" Marchel menarik koper Juna.


"Udah, sama Marchel aja. Udah berbaik hati mau ngantar ya jangan ditolak dong." ucap Mama Lia, menepuk bahu Juna yang masih menatap Marchel dengan tatapan membunuh.


"Kalau saja mama tidak disini, sudah habis loe." umpat Juna.


"Ya sudah, Ma. Juna pulang dulu ya mama. Makasih untuk semuanya." sekali lagi mereka berpelukan.


"Ya sayang. Hati-hati. Mama menyayangimu, Nak." airmata itu tak bisa dibendung lagi. Setiap perpisahan akan memberikan kesedihan.


\=\=\=\=\=


Mobil melaju dengan kecepatan penuh membelah jalan yang mulai ramai kendaraan yang membawa anak sekolah.


"Kenapa pakek ngantar aku ke bandara segala sih, Chel. Nti nangis liat gue pulang."


"Aku mau ikut! aku mau bilang sama pak Rudi. Aku mau membawa anaknya untuk tinggal disini." ucap Marchel tanpa melihat Juna. Fokusnya hanya kedepan saja.


"Bisa ae, bang. Serius. Jangan buat orang baper. Memoryku sudah di instal ulang, memory yang lama sudah rusak." Juna menatap keluar jendela.


Laju mobil sedikit berkurang dan semakin berkurang. Marchel menghentikan mobilnya ditepi jalan.


"Jun, sudah berapa kali ku jelaskan. Aku mau kamu. Aku sudah berubah. Pendidikanku sudah selesai, aku juga sudah mandiri. Masalah Lyra biar jadi urusanku." mencoba memegang tangan Juna, tapi Juna segera menepisnya.


"Dari awal aku menjalani hubungan denganmu setengah hati, Chel. Aku penasaran, sebenarnya aku juga ingin mempunyai hubungan yang serius. Aku merasa tertantang untuk merubahmu. Ya, aku berhasil. Tapi ternyata tidak dengan sifat playboymu itu. Aku sudah siap patah hati kok. sekarang aku sudah melupakan semuanya. Kau yang merusak kepercayaanku. Marchel, 4 tahun ini kau bisa hidup tanpa aku kan? kenapa harus menggangguku lagi?"


"Aku minta maaf, Jun. Aku benar-benar menyesal."

__ADS_1



__ADS_2