Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
41


__ADS_3

"Tadinya aku memang tidak mengijinkannya. Ada rasa takut ditinggalkan lagi. Mungkin semua orangtua merasakan hal yang sama. Tapi setelah dipikir-pikir, aku mulai berdamai dengan diri sendiri. Melihat dari matamu, kau juga tulus menyayangi anakku. Walau status kalian mantan, tapi semua itu bisa berubah kan? Sekarang kuserahkan semuanya kepada Tuhan. Aku hanya bisa mendoakan semoga anakku mendapatkan suami yang menyayanginya lebih dari aku. Jika orang itu adalah kau, aku menyetujuinya. Titip Juna ya, jangan sakiti dia lagi."


Marchel menarik nafas dalam-dalam. Matanya memandang langit-langit kamarnya. Masih terngiang jelas kata-kata Rudi sebelum mereka berangkat ke bandara pagi tadi.


"Apakah itu bisa dibilang restu?" gumamnya memeluk bantal guling.


Rasa kantuk dan penatnya membuatnya begitu cepat masuk kedalam mimpi, satu jam yang lalu dia telah sampai kerumah kediaman nya. Juna pun ikut menginap disana, karena pesawat delay sampai empat jam, membuat mereka tiba di kediaman keluarga Marchel hampir tengah malam.


Ditempat lain, perempuan cantik masih merendam kakinya dengan air hangat ditaburi garam kasar didalamnya. Untung saja didapur Maria selalu menyetok garam kasar untuk membasmi serangga.


Dengan mata yang masih on Juna memainkan telepon genggamnya. Membuka media sosialnya yang sejak empat bulan terakhir ini dilupakannya.


Jemarinya terus menggulir layar benda pipih tersebut dan berhenti pada story yang baru saja dibagikan beberapa menit yang lalu. Tertera kotak berwarna pink yang masih tertutup rapat dengan caption masih menunggu.


Juna spontan menggulirkan dengan cepat benda pipihnya tersebut, hatinya mendadak melow.


"Bukankah kau sudah mempunyai gadis cantik? Ya, dia bahkan sangat cantik. Pasti ibu menyukainya. Semoga kau bahagia." Juna membatin.


Dimatikannya layar ponselnya lalu melemparnya ke ranjang. Dirasa sudah cukup, Juna membersihkan kembali kakinya yang mungkin tinggal dijemur beberapa hari saja, sudah menjadi ikan asin yang siap digoreng.


Sambil bersenandung dia membersihkan sepasang kaki jenjangnya. Percakapannya dengan Marchel diruang tunggu bandara terngiang pula.


"Apa sebenarnya dia serius? kalau iya, aku harus bagaimana? Marchel dan mama sudah sangat baik padaku. Setega itukah aku menolaknya, egois sekali kalau aku berbuat seperti itu. Tapi, apa Marchel memang benar-benar sudah jomblo? ah, sudah lah besok saja dipikirkan lagi, semoga saja Marchel hanya bercanda." Juna mengeringkan kakinya dan berhambur ke tempat tidur yang sudah dirindu tersebut. Berlayar di lautan mimpi, melupakan segala problem kenyataan hidupnya.


\=\=\=\=\=


Kotak berwarna pink itu disimpan kembali kedalam box plastik yang ada dalam lemari. Box itu tampak sedikit lusuh seperti sudah lama disimpan. Namun tetap cantik dengan ornamen pita diatasnya. Laki-laki itu menyimpannya rapi dalam boks plastik, agar tak ada debu yang mengotorinya.


"Kapan kau akan bertemu tuan mu." ucap laki-laki itu dengan senyum dan tatapan sendu.

__ADS_1


Flashback on


Hidup dinegara orang, dengan subsidi yang berlebih. Tak membuat laki-laki yang sedang mengambil gelar spesialis dibidang kesehatan itu berpangku tangan. Bekerja paruh waktu di restoran cepat saji menjadi pilihannya disela-sela kesibukkannya menimba ilmu.


Dengan langkah penuh semangat dan percaya diri, laki-laki itu berjalan menapaki jalanan rindang, pepohonan hijau menjadi pemandangan sepanjang jalan.


Ini adalah bulan ketiga lelaki itu menerima gaji. Setelah uang yang tak seberapa itu diterimanya, dia pun pergi membeli sesuatu yang sudah diincarnya terlebih dahulu. Seperti hari ini, Laki-laki berkacamata itu memasuki toko perhiasan.


"Permisi, apa pesanan saya sudah jadi." ucap lelaki itu dengan menggunakan bahasa inggris.


"Oh, sudah. Tunggu sebentar saya ambilkan. Dilihat dulu, mungkin ada yang kurang atau tak sesuai dengan keinginan anda." ucap perempuan muda berambut panjang dengan warna khas perempuan bule tersebut.


"Ini sudah sesuai dengan keinginan saya. Baiklah, terimakasih." Laki-laki itu memberikan uangnya, perempuan tadi pun memasukkan kalung dengan liontin berinisial nama kedalam kotak berwarna biru.


Harga liontin itu dua bulan gaji laki-laki tersebut. Dengan senyum bangga karena telah berhasil membeli sesuatu yang sangat diinginkan dengan keringatnya sendiri, laki-laki itu kembali ke rumah sementaranya selama tinggal di kota tersebut.


"Semoga kau menyukainya." ucap laki-laki itu, matanya terpejam, bayangan wajah seorang perempuan cantik memenuhi ingatannya. Perempuan cantik namun tak menyadari kecantikannya.


Laki-laki tadi kemudian membersihkan dirinya. Kemudian membentang sajadahnya yang wangi dan melaksanakan ibadah dengan khusuk. Berdoa dengan hidmat meminta kebahagian untuknya dan untuk masa depannya yang jauh disana.


Beberapa saat setelahnya, buku berukuran tebal pun menjadi santapannya. Menjadi mahasiswa berprestasi tak pernah lepas dari dirinya, kerja keras dan semangat belajar yang gigih tak menghianati hasilnya.


Flashback Off


\=\=\=\=\=


Dinginnya pagi membuat mata tak ingin segera terjaga. Sepasang suami istri masih saja berpelukan dalam satu selimut. Membagi kehangatan dan semangat menyambut pagi.


"Sudah bangun? selamat pagi, Sayang" Zuan mengecup kening Dewi

__ADS_1


"Pagi, Bang." Dewi masih saja terpejam


"Belum shalat loh." ucap Zuan mengingatkan wanita yang sudah menjadi tanggung jawabnya itu.


Dewi mengambil benda pipihnya diatas nakas dekat lampu tidur mereka.


"Jam enam ya." Dewi dengan malas mendudukkan tubuhnya dan melepas selimutnya.


"Pesawat kita jam 9 loh, Dek." ucap Zuan lagi


"Oh iya." Mata Dewi segar seketika, mengingat penerbangan mereka hanya tinggal beberapa jam lagi.


Dengan setengah berlari dokter gigi itu mengambil handuk dan baju gantinya kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Zuan hanya tersenyum melihat istri mungilnya yang berubah menjadi sangat semangat tak seperti tadi.


Dibereskannya tempat tidur yang tampak kusut itu, melipat bad cover dan merapikan bantalnya.


"Hm, rapi. Apalagi ya, oh ... baju" Zuan mengambil koper yang ada disamping lemari kemudian memasukkan beberapa pakiannya.


"Bang, biar adek aja nanti." Dewi keluar dari kamar mandi, merasa tak enak melihat Zuan membereskan sendiri pakaiannya.


"Gak apa-apa, Sayang. Sholat gih. Udah siang, jangan ditunda-tunda lagi."


"Iya, tapi abang duduk aja. Gak udah ngapa-ngapain lagi."


"Iya, iya. Abang tiduran aja deh. Eh, gak jadi. Nanti kusut lagi. Abang baca berita aja deh." Zuan merapikan kasur yang sedikit kusut karena dia duduki tadi.


Perjalanan indah akan dimulai hari ini. Beberapa hari cuti untuk menghabiskan waktu bersama dalam ikatan yang sudah sah dimata hukum dan agama akan segera dimulai dari terbang menuju pulau yang seperti huruf 'K'. Menemui gadis yang menjadi saksi hubungan mereka.

__ADS_1


__ADS_2