
"Kenapa terlambat datangnya? kesiangan lagi kau? Gadis macam apa itu bangunnya siang-siang." Marchel bergidik seolah jijik membayangkan kebiasaan buruk perempuan yang duduk disebelahnya. Mereka sedang berada dalam mobil menuju panti asuhan membawa beratus nasi kotak didalamnya, sementara Maria sudah lebih dulu ke sana.
"Enak aja, tanya dulu kek, kenapa terlambat, Dek. Main hakim sendiri. Siapa yang bangun kesiangan? aku bahkan bangun satu jam sebelum subuh." Juna mencebikkan bibirnya.
"Jangan menggodaku! Tolong ya, bibir itu dikondisikan. Orang ganteng disebelah mu ini sudah lama tidak di cumbu." seringai Marchel dengan tatapan menggoda.
"Ih, apaan sih loe. Dasar mesum. Buruan kawin loe, kawin. Biar terjaga tu mata." ungkap Juna kesal, jepitan khas kepiting bakau yang direalisasikannya dengan tangan kanan yang dijadikan sebagai capit, sempurna menerkam mangsa yaitu bagian kiri perut Marchel.
"Sakit, sakit! aduh ... ya Allah. Kejam!" jerit Marchel menahan sakit dan fokus menyetir.
"Giliran sakit aja ingat Tuhan!" omel Juna melepas cubitannya.
"Hahaha ... maaf kan hamba ya, Allah. Hamba khilaf."
Juna yang mendengarnya jadi senyum-senyum sendiri, begitu nyaman rasanya dekat dengan Marchel, dia selalu membuatnya tertawa. Walau kadang mereka seperti kucing dan anjing. Perasaan nyaman itu bahkan lebih dibanding dulu saat mereka masih terikat kasih.
"Tadi tu aku lama karena Dewi telepon. Pernikahannya sudah tinggal tiga hari lagi. Dia maksa aku untuk datang, sampai bela-belain mau bayarin tiket pesawat ku pulang-pergi. Tapi aku tetap menolak. Kemaren sempat ngambek tu anak, eh ... tadi pagi nelpon lagi. Aku jadi kasian. Tapi, ya mau gimana lagi." raut Juna berubah menjadi serius, begitu juga dengan Marchel yang terlihat manggut-manggut. Dewi ... tentu saja dia tak perlu lagi bertanya pada Juna siapa gadis yang dimaksudnya itu, karena selama tiga bulan ini, tak ada satupun yang luput diceritakan Juna padanya. Semua yang ada dalam hidupnya setelah pulang dari Makassar beberapa tahun lalu tak terkecuali Adzka ada dalam setiap curhat-curhatnya. Status sebagai abang dan adik yang ketemu gede, membuat Juna tak kekurangan teman sekalipun hanya satu orang saja yaitu Marchel.
Perjalanan panjang tak terasa, asyiknya perbincangan membuat mereka lupa bahwa telah sampai ketempat tujuan. Marchel memarkirkan mobilnya begitu dekat dengan pintu masuk Panti Asuhan Kasih tersebut, Maria dan ibu pengasuh tempat itu sudah berdiri menyambut kedatangan mereka. Lingkungan panti yang tak jauh dari masjid membuat suara lantunan ayat suci terdengar begitu keras di pendengaran. Marchel bergegas menurunkan nasi kotak dan beberapa paper bag, membawanya masuk kedalam. Setelah itu dia meninggalkan Juna dan mamanya untuk menunaikan shalat Jum'at.
\=\=\=\=\=
Dua sejoli yang sedang dirundung rindu tengah asik berbagi kabar melalui panggilan telepon, masa pingitan begitu menyiksa mereka, bukan hanya tak boleh bertemu. Bahkan untuk sekedar Video Call saja mereka tak di ijinkan.
__ADS_1
Dewi berkeluh, merengek dengan manjanya menceritakan kesedihannya kalau saksi perjuangan cinta mereka tak bisa hadir melihat perjalanan cinta mereka yang akan diresmikan tiga hari lagi.
"Kalau dia bilang seperti itu, kita bisa apa, Dek. Sayang kan tau bagaimana kerasnya Juna. Kalau dia bilang tidak bisa ya, sampai tahun kapan juga tetap tidak bisa." Bukan hanya satu hari Zuan mengenal Juna, sejak saat dia menjemput kepulangan Juna saat itu, hubungan mereka juga akrab. Meski awalnya sebagai pengawal pribadi non gaji. Haha
"Tapi, Bang. Rasanya ada yang kurang. Gak ada Juna gak rame. Eh, tapi sepertinya hatiku mengatakan kalau dia bakalan datang loh. Semoga aja iya ya, Bang."
"Ya semoga saja lah. Doakan saja yang terbaik untuknya. Abang juga memaklumi keputusannya, pasti rasanya sangat sakit mendapat perlakuan seperti yang dilakukan mama padanya. Luka karena lidah lebih sakit, daripada luka akibat senjata tajam." Zuan pun merutuki apa yang dilakukan mamanya. Entah setan apa yang merasuki pikiran mamanya saat itu, sehingga begitu tega berkata hal yang tak sepantasnya.
\=\=\=\=\=
Mobil putih itu berhenti di Klinik spesialis kandungan, gedung yang tak begitu besar, namun nyaman dan tentu saja banyak kunjungan pasien disana. Dokter Fatmala memilih resign dari rumah sakit tempatnya bekerja dulu, dan memilih membuka praktek sendiri di Klinik hadiah daru almarhum suaminya. Kesenioran dan kemampuannya yang mumpuni membuat ibu hamil dan yang bermasalah dengan kandungan lainnya memilihnya sebagai dokter yang memeriksa.
"Ayo masuk dulu. Tadi Nia WhatsApp mama katanya Indah sudah datang. Yok masuk." Fatmala menarik lengan Adzka yang tampak malas-malasan.
"Assalamu'alaikum." ucap Fatmala memasuki ruangan.
"Ini lo, Indah anak tante yang tante ceritakan kemarin." Fatmala mengenalkan Adzka yang menatap datar kearah Indah yang tampak sumringah. Indah mengulurkan tangannya, dengan dingin Adzka menyambutnya.
"Senang berkenalan dengan anda, Pak dokter." ucap Indah dengan tatapan penuh harap. Benar saja, dia merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Dingin banget sih nih orang. Hm ... menantang untuk ditaklukan. Mana ganteng lagi. Uwuu!!" Ucap Indah dalam hati, jantungnya serasa berdisco menahan gejolak asmara pada pandangan pertama.
"Cantik dari mananya? kayak pinokio gitu, panjang amat tu hidung, Mba. Mba pembohong, ya." Adzka bergumam dalam hati.
__ADS_1
Dengan kaos lengan panjang dan rambut yang dibiarkan tergerai, penampilan Indah tampak anggun tanpa kesan glamor dan berlebihan mengingat dia seorang pengusaha. Dia tampak seperti orang biasa kebanyakan. Namun pesonanya begitu terpancar, tatapan matanya yang tajam, bulumatanya yang lentik, tubuhnya yang indah bak model, namun semua itu tak membuat Adzka tertarik sedikitpun.
"Kalau gitu, Adzka berangkat deh, Ma" Adzka mengabaikan Indah, dia tidak suka dengan cara gadis itu menatap. Dia terlalu berani dan tak tau malu menatap laki-laki seperti tak berkedip, gumam Adzka.
"Loh, kok buru-buru. Cerita-cerita dulu dong." ucap sang Mama
"Lain kali aja deh, Ma. Takut kena macet. Assalamu'alaikum." Adzka meninggalkan Fatmala, Indah dan Nia.
"Yok, Nia kerja yang semangat!" Adzka menepuk pundak Nia yang dari tadi sibuk beberes.
"Mari, Mba." ucap Adzka pada Indah. Wanita itu tampak kecewa dengan panggilan yang di ucapkan Adzka, bahkan lelaki itu lebih ramah kepada sepupunya dibanding dia yang khusus datang untuk bertemu dengannya.
Adzka berjalan menuju mobilnya, koridor klinik tersebut sudah mulai dipenuhi dengan para ibu-ibu yang berperut buncit, tak jarang masing-masing mereka duduk berdampingan dengan suami. Ada yang terus mengelus perut istrinya, ada yang mengikhlaskan bahunya pegal akibat beban kepala istrinya. Mata para istripun menjadi terfokus pada pemandangan indah yang melintas, pasti lebih dari satu para bumil tersebut berdoa agar jabang bayinya setampan dokter berkacamata itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Maafkan kalau ada typo ya manteman. Tanpa pratinjau nih hehhe. Happy reading 🥰🙏