
Matahari menyengat dengan teriknya. Kumandang adzan sudah selesai berkumandang lebih dari satu jam yang lalu. Juna baru saja selesai beberes, dengan apron yang masih melekat di tubuhnya, gadis itu menyantap makanannya sendirian.
Kehadiran Bi Sumi lumayan membantunya, meskipun dia tak sungkan untuk tetap turun tangan, tapi untuk hal memasak Juna tak mau kompromi. Segala yang masuk ke dalam perut suaminya jika di rumah harus karya dari tangan kreatifnya.
"Bi, Ayo makan sini!" ajak Juna, asisten rumah tangga yang mengabdi belasan tahun dengan keluarga suaminya itu mengangguk. Bi Sumi sengaja Adzka ajak bekerja di rumahnya, karena Dewi dan Zuan sekarang tinggal bersama mama Fatmala dan Dewi ikut mengajak asisten rumah tangganya pula.
Makan siang itu terasa lebih hangat, Juna tidak menganggap Bi Sumi sebagai pembantu, melainkan keluarganya. Tak ada jarak antara majikan dan pekerja.
"Non, lihatin hape terus! apa den Adzka enggak pulang makan siang?" tanya bi Sumi hati-hati
"Mas mau ngajak ketemu teman-temannya, Bi. Katanya mau makan disana saja nanti." rasa kecewa Juna tak bisa ia tutupi.
"Loh, non kok sudah makan?"
"Laper, Bi. Lagi pula Juna enggak yakin bisa nyaman makan sama teman-temannya, Mas. Aku enggak pede, Bi." tanda tanya dalam hati wanita paruh baya itu terjawab sudah, ternyata majikan barunya ini tak begitu percaya diri.
Bel rumah pun berbunyi, bi Sumi yang ingin bangkit dari duduknya langsung Juna hentikan.
"Bibi lanjutkan saja makannya. Itu mungkin teman Juna. Tadi Juna minta tolong ambilkan beberapa pakaian di rumah papa." Juna pun melangkah menuju pintu.
\=\=\=\=\=
Hampir jam dua siang, mobil Adzka memasuki halaman rumahnya. Dokter tampan itu memilih duduk di gazebo yang ada di depan rumahnya, menikmati angin sepoi-sepoi di teriknya matahari menjelang sore. Mencoba menelfon istrinya namun masih tak ada jawaban dari sana.
Adzka menatap kamarnya di lantai dua, tak terlalu mendongakkan kepala karena gazebo itu lumayan tinggi. Adzka terkejut melihat sosok putih samar-samar dari balik tirai kamar yang terbuka.
Deg, Adzka langsung memalingkan wajahnya.
Lima belas menit kemudian, Juna keluar menemuinya degan tunik berwarna abu-abu di padukan pashmina berwarna hitam membuat gadis itu semakin tampak manis saja.
"Kenapa enggak masuk dulu sih, Mas."
"Hm ... disini enak adem."
"Enggak sabar banget pengen ketemu Silva!" ucap Juna, membuat Adzka melotot.
"Kalau ngomong suka bener, Sayang!" Adzka mengelus kepala yang tertutup hijab itu.
Keduanya kini sudah berada dalam mobil, Adzka menjalankan mobilnya perlahan.
__ADS_1
"Tadi ketemu Momon di simpang jalan. Apa tadi dia kesini?" tanya Adzka, karena ojek wanita itu menjadi langganan Juna sewaktu kerja dulu, Adzka jadi mengenalnya.
"Eh, iya. Tadi nganterin baju ini. Aku minta tolong dia ambilin di rumah papa."
"Ooh." Adzka hanya ber oh ria saja.
"Nanti Dewi ada kan, Mas?"
"Hm, sepertinya ada. Kenapa?"
"Alhamdulillah, tidak apa-apa. Mungkin ada teman yang kita sudah kenal akan lebih baik. Aku insecure." Jemari Juna saling menaut, terkadang malah masuk kedalam rongga mulutnya sekedar menggigit ujung kuku.
"Kenapa begitu? kemana Juna yang selalu percaya diri!? apa kamu tau, Sayang. Diantara semua wanita yang aku kenal, dari segala bentuk prestasi yang mereka miliki. Kau jauh lebih baik dari mereka semua." Adzka mengelus lembut tangan Juna.
"Manusia itu semua sama, Yank" senyumnya membuat debar jantung Juna tak beraturan.
"Inikah rasanya jatuh cinta berulang-ulang." gumam gadis itu dalam hati
\=\=\=\=\=
Adzka terlihat makan bersama dengan teman-temannya, sesekali terdengar tawa di sela-sela makan mereka. Makanan yang hampir sama jenisnya namun nama yang berbeda membuat Juna tak berselera untuk hanya sekedar mencicipinya.
"Kok di lihatin aja, Jun?!" ucap Dewi yang sejak tadi memperhatikan adik iparnya.
"Kenyang, Dew. Tadi sebelum pergi aku makan dulu." jawab Juna.
Juna terus memperhatikan suaminya yang tampak sumringah, tawanya begitu lepas. Dewi dan Juna serta satu teman mereka lagi memeilih sedikit memisahkan diri, Juna karena mindernya, Dewi karena lemahnya yang semakin bertambah-tambah maklumlah sudah tinggal menunggu hari lahiran sedangkan satu orang lagi sibuk mengejar kesana-kemari anaknya yang sepertinya baru pandai berjalan.
Tentu saja Silva menjadi makhluk yang menarik perhatian Juna. Gadis itu memang terlihat sempurna.
"Dia itu Silva. Anak akselarasi juga." Dewi menebak kemana arah pandangan Juna tertuju.
"Udah tau!" Juna terus memainkan sedotan dalam gelas jusnya.
"Kayaknya ada yang jealous nih!" Dewi bertopang dagu, senyumannya membuat Juna gemas ingin mendaratkan cubitan di pipinya yang semakin tampak cabi.
"Salah ya!"
"Aku enggak tau apa namanya ini! tapi aku enggak suka, suamiku nyaman dengan orang lain." Juna menyandarkan punggungnya.
__ADS_1
"Harus hati-hati sih, memang. Silva itu orangnya kalau sudah suka sama seseorang pantang menyerah sebelum dapat loh." Dewi menjelma menjadi emak-emak kompor.
"Coba saja kalau berani!" tanduk Juna seakan keluar, membuat Dewi menahan tawanya.
Suasana cafe itu semakin ramai, live musik pun terus mendendangkan alunan musik jazz, membuat kantuk Juna semakin menjadi.
"Ampun deh, ngantuk banget gue. Pulang yuk, Dew."
"Iya nih, aku juga capek banget rasanya. Tadinya aku udah mau enggak datang, tapi ya ... tau lah. Takut di bilang sombong. Ayok lah."
Setelah pamit dengan Niken, teman Dewi yang juga tampak kelelahan mengikuti anaknya yang aktif mereka berdua pun meninggalkan cafe tersebut.
"Yakin enggak mau langsung izin sama Adzka dulu?!"
"Iya, ntar gue telpon aja. Takut ganggu!" Juna tersenyum kecut.
"Siniin kunci mobilnya, takut gue. Ntar loe tabrakin mobil gue. Orang galau di larang nyetir!" serkah Dewi
"Loe masih kuat, Kak? perut loe itu, enggak kecepit ponakan gue."
"Aman, tenang aja." Keduanya pun masuk ke dalam mobil.
\=\=\=\=\=
Di rumah mertua, Juna masih terasa canggung. Sejak Fatmaoa sadar dan kembali sehat gadis itu memang memberi jarak, walau statusnya selama 6 bulan pertunangan pun hanya sesekali ia berkunjung ke rumah putih tersebut.
"Ibu!" cium Juna, pelukan hangat dari mama mertua membuatnya lupa akan rasa kesalnya pada suami tersayang.
"Kalian bareng? Adzka mana?" Fatmala celingukan.
"Dia lagi sibuk, Bu." Juna duduk di sebelah Fatmala. Panggilan Ibu di rasa lebih nyaman untuknya, Fatmala juga tidak mempermasalahkannya.
"Ada yang lagi cemburu, Ma. Juna takut pesona Silva menggantikan posisinya." Dewi tergelak. Bantal kursi melayang tepat di wajah ayu sang Dewi.
"Issh, dasar gadis bar-bar. Kalau Silva enggak gini loh. Dia itu lembut."
"Ah, berisik! Ibuuu ...." Juna mengharakan Fatmala berempati padanya, namun mertuanya itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Udah Adzan itu, ayo shalat semuanya!" Fatmala langsung beranjak, sayup-sayup suara adzan menghentikan seluruh aktifitas manusia untuk memberi sejenak waktu menuntaskan kewajiban sebagai muslim yang baik.
__ADS_1
Juna menatap pantulan wajahnya di cermin. Bertanya pada dirinya sendiri, benarkah ini yang namanya cemburu! rasa panas di bagian dada membuat matanya juga ikut memerah.