
Dengan langkah tanpa tenaga, ibarat daya dalam telepon seluler gadis itu saat ini sudah kurang dari sepuluh persen.
"Cepat dong kak jalannya. Bunda gak enak nih sendirian." Cindy menoleh kebelakang, Juna tertinggal jauh sedangkan suaminya sudah diambang pintu kamar yang mereka tuju.
"Iya, Bun. Alon-alon asal kelakon" ucap gadis itu menyeringai.
"Bisa aja ngomongnya Giliran gini aja pakai kata-kata begitu. Kalau lagi ngebut naik motor ingatannya ngilang!" jawab Cindy, menyuil sedikit daging perut Juna.
"Bunda ih ... sakit." Gadis itu mencebik. Cindy tak menggubrisnya malah menarik lengan gadis itu agar secepatnya menemui suaminya yang sudah dari tadi masuk ke kamar rawat tersebut.
"Selamat pagi." ucap Cindy membuka pintu. Adzka dan Zuan serta Rudi menjawab salam yang diucapkan Juna dan Cindy bersamaan. Juna dan Adzka saling tatap tanpa sengaja, kedua manik mata coklat mereka beradu.
"Kenapa cemberut gitu, Om?" Adzka menanyakan kepada Rudi.
"Abis batre." Rudi hanya menjawab asal, membuat Juna semakin memanyunkan bibirnya.
"Belum sarapan? oke kalau gitu pas. Ndan, Izin bawa anaknya makan ya." Zuan langsung bangun dari duduknya, mendengar istilah Juna yang habis batre.
Rudi mengangguk, sedangkan Juna dengan senang hati mengikut. "Zuan yang ajak, berarti makan gratis ini." ucap gadis itu dalam hati. Lumayan lah menghemat pengeluaran yang semakin menjadi-jadi akhir-akhir ini, maklumlah sekarang dia sudah menjadi pengangguran.
Berbeda dengan Adzka, laki-laki ganteng itu menggerutu dalam hatinya merutuki kelakuan kakak laki-lakinya yang seperti sengaja ingin menjauhkan Juna dari dirinya.
"Awas aja! laporin bini loe nanti." umpat Adzka
Kini hanya tinggal mereka bertiga ditambah Fatmala yang masih lelap dalam kondisi komanya. Tidur? ya ... Fatmala memang seperti tertidur, tak ada guratan rasa sakit dari wajahnya yang sudah berumur itu. Bibirnya yang tadinya sedikit miring karena stroke waktu itu kini tampak seperti orang normal.
"Bagaimana perkembangannya, Nak?" tanya Cindy, ia mendudukkan tubuhnya yang mungil diatas brangkar wanita yang pernah menghina anak tirinya dulu.
"Ya begini lah, Bunda. Menunggu ke ajaiban." jawab Adzka dengan senyuman ikhlas.
"Yang sabar, ya. Pengabdian seorang anak di uji saat ini." sambung Cindy pula.
__ADS_1
\=\=\=\=
Dentingan sendok dan garpu yang beradu diatas piring sesekali terdengar, Kedua insan yang sama-sama kelaparan menikmati makanan berbeda yang mereka pesan beberapa waktu lalu.
Kantin rumah sakit, pilihan tepat bagi keduanya tanpa harus repot-repot ke tempat parkir mengambil mobil untuk mencari sarapan yang sesuai pilihan hati. Lagipula dua tiga langkah saja, keduanya merasa enggan menjauh dan meninggalkan sosok yang masih terbujur lemah diatas bed rumah sakit tersebut.
Juna menyudahi sarapannya, meneguk air putih hangat sampai tandas. Zuan juga demikian, nasi putih dengan sambal teri medan dan tumisan buncis dan wortel telah habis tak tersisa. Laki-laki itu mengaduk teh manis hangat yang tinggal setengah, sambil sesekali meminumnya menggunakan sendok teh.
"Sebenarnya aku mau menawarkan pekerjaan padamu. Kau kan menganggur!" Zuan mulai bicara.
"Gak perlu ditekan gitu bilang nganggurnya." Juna menjawab ketus, Zuan tersenyum mendengar jawaban gadis kurus itu.
"Hahaha, maaf ... maaf, jangan baperan! orang memang kenyataan juga."
"Iya iya, Oke. Pekerjaan apa? gajinya berapa?" dalam urusan kerja berapa gaji yang akan diterima adalah suatu kewajiban yang harus diketahui kan!
"Gajinya sesuai permintaanmu." jawab Zuan dengan serius.
"Hah! kau ini ada-ada saja. Singa dan buaya sudah lari lebih dulu begitu melihatmu masuk ke kandang mereka, wkwkwk" laki-laki yang tubuhnya mulai sintal itu terkekeh.
"Udah deh, serius." Juna mencebik, seperti biasa kakinya ia hentak-hentakkan di lantai.
"Oke ... oke. Begini, Dewi kan hamil muda ini, kau juga tau pekerjaan ku bagaimana, pekerjaan Adzka juga, jadi aku mau menawarkan mu untuk menjaga Mama setiap hari, kau boleh pulang jika aku atau Adzka punya waktu luang untuk tak meninggalkan mama. Bagaimana?"
"Kalau masalah gaji, aku akan memberikanmu gaji diatas UMR, dan Adzka juga akan memberimu gaji yang sama, itupun kalau dia setuju, soalnya aku belum cerita ke dia masalah ini. Dia gak mau aku cari perawat untuk mama. Bukannya aku gak sayang atau gak berbakti loh ya, tapi cobalah maklumi aku. Istriku juga sedang membutuhkan aku disaat-saat seperti ini. Kau juga tau sendiri kan, Dewi bukan gadis yang lemah sebenarnya, dia juga bersikeras ingin kerumah sakit setiap hari menemani ibu, tapi tubuhnya berkata lain."
"Anggaplah gaji dari Adzka nanti sebagai bonus untukmu, yang penting gaji pokoknya dari aku." Zuan mengangsur nafas, penjelasannya benar-benar sudah panjang kali lebar.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaan ku di Makassar? kita kan tidak tau berapa lama Ibu kembali pulih." ucap Juna
"Dasar kau ini! kalau tidak biasa bohong, jangan berbohong! kau kemaren bilang mau cari kerja disini, setelah itu bilang kerjaan di Makassar bagaimana. Heh, Juna ... aku tau kau sudah di PHK. Aku juga tau laki-laki tampan yang ada disana sudah tidak di Indonesia lagi. Ya kan? apa kalian sudah putus?" tanya Zuan pura-pura tidak tau.
__ADS_1
"Hehehe, Iya aku sudah tidak akan kembali kesana. Tapi jangan bilang Adzka ya. Bilang saja aku kembali ke Medan ini karena membalas budinya yang dulu merawat papaku. Eh, masalah gaji udah lah gak usah dipikirkan. Gak di gaji juga gak apa-apa, ikhlas kok aku." Gadis itu mulai kegerahan, sebenarnya dia memang ikhlas, tapi manusiawi juga dia menginginkan tabungannya bertambah. Kalian ngerti kan?
"Oke, Deal!" Zuan mengulurkan tangannya.
\=\=\=\=
"Apa kalian masih lama berdua-duaannya?" ucap Adzka melalui telepon, membuat Zuan tertawa.
"Dasar manusia pencemburu!" umpat Zuan dalam hati.
"Sebentar lagi, teh ku belum habis. Kan pak Rudi dan istrinya disana. Jadi, kau tak perlu merasa kesepian." ucap Zuan.
"Om sudah pergi beberapa menit yang lalu, ada telepon dari kantor, Bunda masih disini menunggu Juna."
"Bunda apa kau yang menunggunya." laki-laki perut buncit itu menggoda adiknya, pasti wajahnya sudah merah saat ini. Pikir Zuan.
"Ah, sudah cepatlah. Tak perlu kau habiskan teh manismu, nanti kena diabetes pula kau." Adzka mulai kesal, tak bisa di ungkapkan bagaimana perasaannya jika melihat atau mengetahui jika gadis ramping nan manis itu berduaan dengan orang lain. Naluri monopolinya tak bisa ia hilangkan, meskipun Juna sedang bersama dengan abangnya sendiri.
"Iya, iya deh. Ini udah jalan pulang ini." Zuan hampir memutus teleponnya, saat Adzka yang menyambar bertanya "Memangnya kalian makan dimana?" dengan nada yang semakin meninggi.
"Dasar bocah kecepatan gede! cemburuan amat! Gue jadiin bini ke dua nih cemceman loe baru tau rasa." Zuan menggerutu, mengambil dompetnya dan membayar tagihan makan mereka.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading gaes, selamat pagi dunia 💕🥰