Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
94


__ADS_3

Gaun berwarna pink, riasan yang tampak sangat pas menghias wajah ayu tersebut membuat sosok manusia tak rela untuk sekedar mengedipkan matanya.


"Aduh, saya saja jadi grogi nih! gimana sama nyonya nya. Pak dokter kedip! kedip!" ucap wanita yang berprofesi sebagai MUA itu.


"Aku menyesal, Mba!" jawab Adzka, dengan kedua tangan yang di lipat diatas perut. Kedua wanita dalam kamar hotel yang sangat luas itu kompak melihat ke arahnya.


"Maksudnya, saya menyesal ... kenapa tidak dari dulu menikahinya!" Adzka membenarkan jasnya. Berjalan semakin mendekat, mengedipkan matanya.


"Genit!" ucap Juna bibirnya yang di poles lipstik tebal semakin terlihat maju kala dia sengaja mencebikkannya.


"Sabar! sabar! aku keluar dulu! jiwa jablay ku meronta-ronta ini!" wanita yang usianya sepantaran dengan Adzka membereskan peralatannya dan keluar dari kamar itu.


Setelah pintu benar-benar tertutup rapat Adzka semakin mendekat dengan tatapan elangnya, seolah telah siap menangkap mangsa.


"Mas, jangan aneh-aneh deh!" ucap Juna, namun Adzka semakin mendekat sehingga tak ada jarak diantara mereka berdua.


Di pinggang ramping itu kini telah melingkar lengan kekar sang dokter tampan. "Aku harus cium yang mana ini? bibir?! ah, tidak. Aku benci lipstik yang terlalu tebal seperti ini. Hm ... kening saja, aduuh! kenapa model jilbabnya di buat seperti ini!" Adzka tampak kesal.


"Aku lebih menyukai pakaian tadi siang, kau tampak cantik walau dengan riasan sederhana!" Juna memang memakai dua gaun pada resepsi ngunduh mantu ini.


"Ya sudah kita tidak perlu keluar. Nanti aku akan mempermalukan mu dengan tampilan ku yang tidak cantik ini!" suara Juna parau, beberapa hari ini dia sangat sensitif.


"Siapa yang bilang tidak cantik?"


"Terus apa?!"


"Jelek!" jawab Adzka cepat, pukulan manja mendarat di dada bidangnya


"Tuh, kan." Juna merengek.


"Becanda! istriku ini pakai apapun dengan riasan setebal tembok sekalipun tetap cantik kok. Mau pakai baju atau tidak sekalipun aku juga suka!" ocehnya, kali ini bukan pukulan manja yang ia dapatkan, melainkan cubitan ala kepiting soka membuat laki-laki itu menjerit.


"Aaauuu!!" Adzka mengusap lengannya yang terasa panas.


"Rasain! mesum! itu aja yang di pikirin!!" omel Juna.


Suara ketukan pintu menghentikan pertengkaran kecil mereka, Fatmala menyembul dari balik pintu yang Adzka buka.


"Ayo keluar! betah banget di kamar." ucap wanita paruh baya itu. Juna pun menggandeng ibu mertuanya meninggalkan Adzka yang mengejar dengan rasa gemasnya yang belum jadi mendaratkan bibirnya.



\=\=\=\=

__ADS_1


Suasana malam itu begitu menyenangkan, tamu silih berganti memberikan doa restu. Keduanya tampak bahagia terbukti dengan senyuman yang mengembang dari ke duanya.


Tapi sosok wanita bergaun merah yang semakin mendekat membuat senyum manis Juna menghilang. Rasanya ia ingin sekali mengajak Adzka untuk segera meninggalkan tempat itu.


"Akhirnya datang juga. Gue kira loe ingkar janji!" ucapan Adzka begitu terekam di ingatan Juna.


"Pasti datang lah! selamat ya." ucap Silva menjabat tangan suami Juna di lanjut dengan cipika cipiki.


Tangan Juna mengepal, kalau tidak memikirkan nama baik keluarga, dia sudah meninggalkan tempat itu sekarang juga.


Adzka menangkap raut wajah yang tak bersahabat. Sebenarnya ia mengetahui apa penyebab senyum istrinya yang terus mengembang sejak tadi itu hilang. Tapi jahilnya, membuatnya bertanya dengan muka tidak bersalah.


"Istriku kok lupa senyum!" ucapnya, Silva telah meninggalkan pelaminan beberapa saat yang lalu.


"Jangan pura-pura tidak tahu, Mas! apa rasanya di cium sama Silva? apa darahmu berdesir?!" ocehnya namun pelan, jangan sampai mama mertua atau bahkan papanya mendengar.


"Biasa aja! itu hal yang biasa, Sayang." jawab Adzka menunjukkan lesung pipinya.


"Oh, biasa ya? oke!" ucapan Juna seperti menyetujui peperangan yang akan segera di mulai.


Pucuk di cinta ulam pun tiba, sosok laki-laki dengan stelan jas berwarna hitam tampak semakin mendekat di dampingi wanita yang sangat Juna rindukan.


"Mama!" Juna melambaikan tangannya, saat Maria dan Marchel mulai mendekat dan naik ke atas pelaminan yang cukup luas itu. Adzka pun mengikuti pandangan istrinya.


"Loh, katanya itu hal yang biasa. Ya sudah biasa saja!" Juna menjawab dengan senyum kemenangan.


"Jangan, Sayang. Hanya aku yang memiliki pipimu itu!"


"Bodo!"


"Sayang ...." mereka semakin mendekat, Adzka yang lebih dulu di temui Maria menyalam wanita paruh baya itu dengan sopan.


"Malu sama Jilbab mu!" bisik Adzka, membuat Juna berdecak sebal.


"Mamaa" Juna memeluk Maria dengan kerinduan yang menggunung.


"Cantik sekali anak mama!!" Maria memegang kedua bahu Juna, memandangi beberapa waktu kemudian kembali memeluknya.


"Samawa ya, Nak!" ucap wanita itu. Pelukan Marchel membuat Juna berasa lega. Laki-laki itu benar-benar tampak tulus mengikhlaskannya. Kedua laki-laki yang pernah singgah di hidup Juna di masa lalu dan saat ini itu saling berpelukan.


"Titip Juna!" suara Marchel jelas menerpa gendang telinga Juna. Tatapan rindu dan rasa terimakasih yang dalam Juna berikan kepada mantan nya.


Marchel mendekat, Adzka harap-harap cemas.

__ADS_1


"Selamat ya, semoga langgeng sampai maut memisahkan." ucap Marchel keduanya saling berjabat tangan.


"Aamiin terimakasih, Udin!" jawab Juna riang, semakin riang lagi melihat wanita yang ada di belakang Marchel. Dia pernah melihat wajah gadis itu sebelumnya.


"Kenalkan! Lyra istriku!" ucap Marchel merangkul Lyra yang tersenyum ramah.


"Jadi ini alasan sebenarnya!" Juna mencubit lengan Marchel yang tertutup jas, namun sangat mudah mendapatkan bagian kulitnya.


"Aww!!" jerit Marchel, mengusap-usap pengannya yang tersakiti.


"Kau berhutang penjelasan pada ku!" tatapan Juna begitu mematikan.


"Terimakasih sudah datang, Lyra. Senang bertemu dengan mu. Yang sabar ya menghadapi anak mama ini!" Lyra hanya tersenyum, tak raut cemburu di wajahnya. Semua tentang Juna sudah suaminya ceritakan tanpa menutupi sedikitpun.


Saat tamu menikmati hidangan, Pasangan pengantin itu kembali duduk di singgasananya. Mata Juna menatap haru dan sedikit tak percaya. Ibu mertuanya terlihat sangat akrab dengan mama Maria.


"Bagaimana bisa? mereka terlihat aktab, bahkan sepertinya sudah kenal lama." ucap Juna.


"Mama dan tante Maria dulu pernah satu kampus. Tapi tante Maria berhenti di tengah jalan karena keburu di lamar, dan langsung hamil. Jadi ya, tante Maria tidak meneruskan kuliah kedokterannya." jawaban Adzka membentuk huruf O di bibir Juna.


"Terobati dong kangennya?!" ucapan Adzka seperti tak ikhlas.


"Pasti dong!"


"Tapi sayang sudah menikah juga!"


"Memangnya kenapa kalau sudah menikah?" ketus Juna


"Yang sudah menikah saja ada kok yang ke ganjenan sama wedo'an liyo!." ucapan Juna penuh dengan penekanan


Malam ini keduanya masing-masing mengantongi rasa cemburu. Memang mereka benar-benar jodoh. Satu hal yang baru di ketahui Adzka setelah menikah. Ternyata Juna memiliki sifat pencemburu yang hampir sama kadarnya dengan dirinya.


.


.


.


.


Happy Reading πŸ‘°πŸ½πŸ€΅πŸΌπŸ˜πŸ₯°


Juna cantik pakai gaun yang mana?

__ADS_1


__ADS_2