
Harta memang akan membuat bahagia, jika hati juga merasakan hal yang sama. Tapi jika hati merana semua itu tak ada artinya.
✓Terjebak Cinta Brondong ✓
______________
Sejak malam itu tak ada lagi perbincangan mengenai hal itu. Adzka memilih diam atau lebih baik menghindar saja dari ibunya. Perasaannya tak bisa ia tawar-tawar lagi. Orang yang sangat didambakannya saat ini telah dekat dengannya, hanya tinggal memenangkan hatinya saja selangkah lagi, tak mungkin rasanya dia bisa melupakannya bahkan selama hidupnya. Entah pesona apa yang dilihatnya dari wanita jutek itu. Tapi ia juga tak mau membuat mamanya kecewa karena sifat membangkangnya dalam pilihan hidupnya itu. Pemberontakannya cukup dilakukannya didalam hati saja, sebisa mungkin dia menyibukkan dirinya, agar tak ada waktu senggang untuk berbicara membahas hal serupa. Untuk meruntuhkan komitmen yang dipegang teguh oleh sang mama membutuhkan pembuktian. Adzka akan berusaha membuktikan bahwa tak ada istilah tak sederajat baginya, semuanya sama.
Harta memang akan membuat bahagia, jika hati juga merasakan hal yang sama. Tapi jika hati merana semua itu tak ada artinya.
\=\=\=\=\=
Ini adalah hari yang sangat dinantikan oleh gadis manis berambut sebahu itu. Pancaran kebahagiaan tampak sangat kentara dari wajah ayunya. Riasan khas pengantin dengan pakaian khas Sunda membuatnya bak boneka.
"Permisi, apa aku boleh masuk ibu polisi yang memakai rok!" ucap laki-laki bertubuh atletis dengan mengetuk pintu yang terbuka. Dia juga bersama seorang gadis berjilbab, gadis itu hanya tersenyum-senyum saja.
"Mas ngejek ih! aku cantik kan, Mas? pasti mas menyesal gak jadi nikah sama Ismi kan!" goda gadis itu manja.
"Hm ... sepertinya iya! kalau begitu biar aku menculik mu saja." ucap laki-laki itu. Ia mendudukkan tubuhnya di pinggir ranjang tepat berhadapan dengan Ismi yang duduk di kursi meja riasnya.
Gelak tawa dari mereka mengisi seluruh ruang kamar pengantin tersebut. Keakraban tampak diantara mereka bertiga. Dewi yang sedari tadi hanya tersenyum dan tertawa saja akhirnya membuka suara.
__ADS_1
"Ternyata bang Zuan selama ini buta. Bagaimana bisa menolak gadis secantik ini." ucapnya pula. Tangannya berada di kedua pundak Ismi. Mereka sama-sama menatap kaca dihadapannya.
"Berarti aku salah pilih dong kalau begitu!" sergahnya.
"Hm ... tidak. Ini sudah benar. Yang cantik ini adikku dan yang manis ini istriku." ucapnya mantap. Kedua gadis itu menyunggingkan senyuman manis. Ismi menghela nafasnya seketika, ya ... inilah yang terbaik. Mas Zuan hanya masa lalu ku. gumamnya dalam hati. Raut mukanya tampak berubah sebentar saja, tapi ia secepatnya menghilangkan perasaan aneh itu, senyuman manis kembali tersungging kan.
Zuan dan Dewi, serta Adzka dan sang mama ikut menyaksikan prosesi ijab qabul. Kini Ismi sah telah menjadi istri orang. Ada rasa lega dalam hati Zuan, dia tak lagi merasa bersalah. Mantan calon istrinya sudah bahagia sekarang, tinggal dia merasakan kebahagiaan yang sama beberapa bulan lagi. Dewi akan segera menjadi istrinya. Dalam hayalnya dia sudah merasakan kebahagiaan saat bersanding diatas pelaminan dengan cinta pertamanya.
Tamu undangan silih berganti datang dan pulang. Pesta yang sangat meriah itu tampak sederhana saja tidak mewah, tapi tamu undangannya sangat banyak. Kolega bisnis orangtua Ismi yang seorang pengusaha serta si pengantin sendiri yang sama-sama berprofesi sebagai abdi negara membuat undangan begitu membludak. Zuan dan keluarga tengah mengantri untuk bersalaman.
"Baarokallahulaka ...." doa Zuan saat ia dan suami Ismi saling berhadapan setelah berjabat tangan. Keduanya mengaminkan dengan begitu ta'zim.
"Terimakasih, Mas. Semoga mas bahagia." ucap Ismi, saat sosok laki-laki tampan itu menjabat tangannya.
"Jangan cengeng!" bisik Zuan. Ismi menyeka air matanya yang sudah terkumpul di sudut mata.
Dewi berusaha untuk tidak cemburu, melihat kedekatan keduanya memang membutuhkan hati yang begitu luas untuk tak berprasangka buruk. Dia juga mengerti, dia tau memposisikan dirinya. Sambil berjalan menuruni tangga pelaminan, netranya menangkap sosok laki-laki berbaju batik yang sedang duduk menyendiri dengan tatapan kosong. Tak berfikir lagi, dia langsung menemui laki-laki itu.
"Kenapa Juna gak diajak sekalian sih, Ka!" Dewi mendudukkan tubuhnya tepat disebelah Adzka, hanya berjarak satu kursi saja.
"Boro-boro mau bawa. Dari lebaran kedua dia terbang ke Makassar. Ini sudah seminggu dia belum pulang juga, ditelpon gak diangkat lagi. Rasa pengen nyusul kesana gue!" jawabnya ketus.
__ADS_1
"Oh, jadi ceritanya ada yang kangen ini! ya susulin aja lah. Jangan-jangan dia dinikahin lagi sama mamanya." senyum Dewi penuh dengan maksud.
"Nah, itu dia masalahnya. Aku harus beralasan apa sama mama. Mama tu gak suka aku berhubungan sama dia." wajah Adzka semakin bete.
"Kok bisa! salahnya apa? Tante sudah pernah ketemu?"
"Belum. Gak sepadan. Gue paling gak suka seperti ini. Mama tu bolehin nya aku tu sama dokter juga."
"Aku gak nyangka Tante Fat seperti itu, Ka. Coba dulu aja dikenalin. Kalau sudah kenal sama Juna pasti mindset nya berubah. Juna itu asik, sopan, ramah, dewasa ...." Dewi mengingat pertemuan pertamanya dengan Juna. Kalau tidak kenal Juna memang terkesan jutek, ketus dan juga cuek. Tapi kalau sudah kenal lama dan dekat ternyata dia orang yang sangat asik.
"Kalau dewasa jelaslah. Diakan sudah tua!" senyum Adzka.
"Tapi kamu suka kan? ternyata Adzka suka cewek yang lebih tua."
"Hah! entahlah. Perasaan itu datang tanpa di undang. Dan tak pernah pergi walau sudah berpisah lama sekalipun." Adzka menatap Dewi lekat-lekat. Memastikan cintanya begitu dalam kepada Juna, dan Dewi yang ada disampingnya hanya menjadi kakak iparnya saja.
Wanita paruh baya menghampiri mereka.
"Adek, belum salaman sama keluarga Ismi lho, Nak. Jangan sombong gitu dong. Ayo sekarang, kita sudah mau pulang nih." ucap dokter Fatmala.
"Iya, Ma. Tadi Adzka lapar. Jadi, Adzka makan duluan ... setelah selesai makan lupa, he he." dia berdiri beranjak menemui keluarga Ismi.
__ADS_1