Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
76


__ADS_3

Ibarat slogan Tamu wajib lapor! Juna selalu menggerutu dalam hatinya, jika pagi, jam makan siang, malam sampai sebelum tidur ia harus membalas pesan singkat atau bahkan telepon dari laki-laki yang akan menjadi suaminya.


Malam semakin menghitam, bulan pun tertutup awan. Di saat semua manusia terlelap dalam tidurnya, gadis manis dalam balutan mukena masih tetap pada posisinya diatas sajadah.


"Ya Allah, permudah segala urusan kami. Jadikan ini yang terbaik untuk untuk hamba." air mata itu tak kuasa ia tahan. Tak menampik memang, sifat posesif Adzka membuatnya selalu kesal, terbiasa bebas tanpa kekangan bahkan dari orang tua sekalipun, membuatnya selalu risih. Namun, kalau ditanya hati sebenarnya dia menyukai sifat calon suaminya yang amat cemburuan.


Di tempat yang berbeda, satu sosok anak manusia juga pada posisinya. Dengan koko yang melekat indah membalut tubuh atletisnya, laki-laki itu menengadahkan tangannya mengucap kata memohon kepada Tuhan agar wanita pilihannya itu benar-benar akan menjadi istrinya di dunia sampai surga.


Tak ada tempat meminta, tempat mengadu, yang membuat kita merasa senang dan tenang, melainkan kepada zat yang maha menciptakan.


\=\=\=\=\=


Tiga bulan berlalu, Juna semakin siap menjadi nyonya dari Adzka. Kebiasaan laki-laki itu untuk selalu 'kepo' membuat Juna seakan terbiasa. Lewat dari jam biasanya tak ada pesan masuk ke dalam benda pipih miliknya gadis itu merasa hidupnya kurang sempurna.


Seperti hari ini, hanya pagi tadi Adzka memberikan kabar. Mengirimkan fotonya yang bertugas dengan menggunakan pakaian biru lengkap dengan maskernya, membuat jantung gadis tersebut semakin berpacu.



4 bulan menuju halal, doakan aku bisa memberikan yang terbaik untuk mu. Apa kau sudah mulai mencintaiku?


Caption yang selalu Adzka sertakan membuat bibir tipis Juna melengkung sempurna. Pipinya merona, membuat bunda menggodanya.


"Duh, ada yang kangen ini!" Cindy melihat anaknya sedang menatap benda pintar di tangannya. Masih dengan tangan sebelahnya yang memegang sendok. Ya, gadis itu sedang makan saat ini.


"Siapa yang kangen sih, Bunda!" Juna mencebik,


"Jangan gengsi, kalau sayang bilang sayang." Cindy menepuk bahu. Mendudukkan tubuhnya di sebelah Juna. Pekerjaan rumahnya semakin berkurang, bahkan hampir semua pekerjaan rutin yang wajib di lakukan ibu rumah tangga di kerjakan oleh Juna semuanya.


"Udah master aja nih! Masakan mu enak banget sayang." Cindy menyuap makanannya.


"Jangan mengejek, Bunda. Masakan bunda jauh lebih enak dari ini."


"Bun ...." dengan manjanya gadis itu memanggil bundanya, Cindy menjawab dengan memfokuskan netranya.


"Kenapa, Sayang?"


"Adzka kok gak ada kasi kabar ya, Bun?"


"Ya telpon dong! tanya. Atau mungkin dia sedang sibuk. Nanti juga dia pasti ngasi kabar."

__ADS_1


"Hehehe, malu Bunda. Juna malu mau telepon." ucap gadis itu malu-malu, membuat Cindy tergelak-gelak.


"Gak ada salahnya kan! yang di telepon juga tunangan sendiri. Kalian itu sebentar lagi sudah mau sah loh."


Ting tung!


"Ada tamu, Bun!" Juna beranjak dari kursinya, berhambur ke pintu depan, tak sabar melihat seseorang di luar sana. Mungkin itu orang yanh sedari tadi ia rindukan.


"Iya, sebentar!" Juna membuka daun pintu itu, senyumnya hilang melihat tamu di depannya. Namun, senyumannya kembali ia hadiahkan kepada gadis berjilbab yang mulai menampakkan perut buncitnya.


"Ada bumil, masuk! masuk!" Juna menggandeng lengan calon kakak iparnya, kepala gadis itu celingukan menatap mobil kepunyaan Dewi.


"Sendirian?"


"Iya"


"Kenapa memangnya?" selidik Dewi.


"Kau mau aku sama Adzka ya?"


"Tidak! siapa bilang!" Juna mencebik.


"Mau kemana? aku gak lama kok." Dewi mencegah Juna meninggalkannya.


"Jun, ayo temani aku ke mall. Aku mau makan ayam penyet Jakarta. Sekalian nyari baju, pakaian mu sudah banyak yang sempit." tanpa meminta persetujuan dari siapapun Juna langsung mengiyakan ajakan Dewi.


"Aku ambil tas dulu." Juna berlalu meninggalkan Dewi yang sandaran di sofa, berpapasan dengan Cindy membuat wanita paruh baya itu bertanya, apa yang akan dilakukan anaknya. Juna pun riang mengatakan hendak pergi bersama Dewi.


"Bilang dulu sama Adzka, nanti berantem lagi." Nasehat Cindy, beberapa kali ia mengetahui keduanya selalu bertengkar kalau calon menantunya itu cemburu.


"Gak usah, Bun. Dia aja gak ngasi kabar kok." Juna mencium punggung tangan Cindy.


Sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling, Juna menaiki tangga berjalan dengan Dewi yang ada di sebelahnya. Wanita itu seperti burung yang baru saja keluar dari sangkar emasnya. Betapa tidak, biasanya dia harus menjaga image nya karena pergi bersama Adzka. Gak berani lirik sana sini, karena akan panjang ceritanya jika gadis itu melakukannya.


"Happy banget, Neng!" ucap Dewi


"Haha, iya lah. Tau gak biasanya kalau pergi sama adik iparmu itu. Issh ... ampun. Kalau bisa aku tuh di suruh nunduk terus sama dia, haram lirik sana sini." Juna menggelengkan kepalanya.


"Tapi kamu suka kan?" ucap Dewi mengejek.

__ADS_1


"Hehe, iya sih. Sedikit!" Juna menggandeng Dewi, masuk ke dalam resto yang sudah di idamkan oleh ibu hamil itu


Juna hanya memesan minuman, karena masih kenyang. Lain hal dengan Dewi, dia sedang lahap-lahapnya memakan ayam penyet Jakarta yang penuh dengan kremesan di piringnya.


Mata Juna terus mengedar menyapu seluruh sudut resto, tiba-tiba sosok yang sedari tadi menjadi bahan gibahan mereka tampak disana dengan seorang gadis cantik sedang tertawa-tawa.


Juna mengerjapkan matanya, sesekali dibantu telunjuknya.


"Iya, itu memang dia. Pantas saja gak ngasi kabar." matanya mulai berkaca-kaca. Bayangan kegagalan menikah menari-nari di matanya. Mungkin waktu enam bulan membuatnya terlalu lama menunggu.


Seringai senyum yang dipaksa membuat Dewi menjeda makannya.


"Kenapa, Jun?" Dewi ikut mengedarkan pandangannya, sedikit terkejut melihat laki-laki berkacamata itu


"Adzka! sama siapa dia?" Dewi mencermati siapa gadis di sebelah Adzka, wajahnya memang tak nampak, karena posisi gadis itu membelakangi mereka.


Juna bangkit dari duduknya, menyampirkan tas ia letakkan di atas meja.


"Jun tunggu!" ucap Dewi mencegah, namun Juna sudah semakin mendekat ke meja Adzka.


"Pantesan gak ada kabar. Ternyata disini! asik ya dua-duaan. Pantesan aku selalu di awasi kemana aku pergi wajib lapor, ternyata ini alasannya. Takut ketauan!" Juna melirik sekilas teman wanita calon suaminya itu.


Dengan mata yang sudah semakin panas, Juna berlari keluar dari resto itu. Berlari kearah yang ia tak tau kemana ujungnya, yang pasti yang ia mau saat itu adalah pulang!


"Bodoh! bodoh! seharusnya aku tak membiarkan perasaanku semakin besar. Untung saja aku meminta waktu 6 bulan untuk menikah dengannya. Kalau saja aku setuju menikah seminggu setelah pertunangan aku akan melihat pemandangan ini setelah ia jadi suamiku. Hiks ... hiks!"


"Semua laki-laki itu sama!" Juna teringat apa yang dilakukam Marchel dulu, menyeka air matanya kasar dan meniup tissue dengan hidungnya cairan bening juga memenuhi benda tipis yang selalu menjadi penunggu tasnya.


.


.


.


.


.


pokoknya mau up, maaf kalau episode ini lebih garing dari biasanya 🙏😅

__ADS_1


__ADS_2