Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
83


__ADS_3

Suasana hening, detak jarum jam terdengar jelas membuat kantuk semakin dalam. Tak seperti biasanya gadis manis itu sudah tenggelam dalam mimpi sebelum tengah malam. Di sebelah bantalnya benda pipih ikut menemani. Menunggu adalah hal yang paling membosankan.


Kalau sudah tiada baru terasa


Bahwa kehadirannya sungguh berharga


Bait dari syair lagu itu benar, semua serba salah. Diperhatikan marah di cuekin apa lagi! memang wanita susah di mengerti. Terus menanti pesan bahkan paggilan masuk seperti biasa, namun hasilnya tetap nihil sampai gadis itu terlelap dalam mimpinya.


Kicauan burung menyambut pagi, matahari pun mulai meninggi. Juna telah siap memulai pagi, dengan tubuh yang masih terlilit handuk, benda pipih yang masih berisi daya ia pegang.


"Harga gengsi merosok turun dah, yang penting hati damai." keluhnya, jarinya menari di atas kyboard.


"Selamat pagi, semoga hari ini lebih baik." tulisnya dengan menyertakan emoticon senyum.


Seperti terbebas dari tali yang mengikat seluruh badannya, perasaannya plong begitu saja, tak lama notifikasi hapenya berdering pendek.


"Aamiin, semoga hari ini juga lebih baik untuk adik." netranya membulat sempurna membaca panggilan yang di tujukan kepadanya.


"Adik?! kenapa aku yang di panggil adik." gerutunya, jemarinya kembali mengetik kalimat untuk berbalas pesan, namun logo pensil bertanda 'x' di dalamnya ia tekan.


"Ah, biarlah. Adik pun adik lah." gumamnya mengurungkan niat membalas.


Di tempat yang berbeda, denting sendok dan garpu yang jatuh kelantai membuat wanita paruh baya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Segitu girangnya, Nak." ucap wanita itu menahan senyum


"Hehe, mama seperti gak pernah muda saja." jawab laki-laki berkacamata itu dengan senyuman malu-malu.


"Dia yang kirim pesan duluan, kan?"


"Itu yang mama mau, sebenarnya mama dulu marah ya karena itu. Juna itu gadis baik, kau yang bucinnya keterlaluan, pengemis cinta. Mama tidak suka kau seperti itu. Berprilaku lah semestinya. Jangan seperti budaknya. Bisa saja wanita mu itu merasa risih terlalu di perhatikan seperti itu." Fatmala bicara panjang, lalu meneruskan makannya.


"Entah lah, Ma. Di usahakan deh." Adzka membuang napas kasar.


Sebenarnya hatinya menolak, tapi ada benarnya juga. Selama ini, bahkan setelah hubungannya dengan Juna berstatus tunangan, baru kali ini gadis itu yang mengirim pesan duluan.


"Kalian itu saling cinta, cuman beda aja cara mencintainya. Sabar lah, tinggal menghitung hari saja kok." ucapan Fatmala di sambut dengan anggukan anaknya. Pagi ini sepi, hanya ada mereka dan bibi yang bersih-bersih rumah, Zuan dan Dewi sudah kembali ke rumah mereka beberapa bulan terakhir, dan mungkin dalam waktu dekat mereka berdua akan kembali tinggal disini karena HPL Dewi sudah dekat.

__ADS_1


\=\=\=\=


Perempuan berambut sebahu dengan piyama tidurnya terlihat masih sibuk dengan tumpukan undangan yang berserakan ditempat tidur. Sesekali dia menguap karena jam sudah sekitar jam satu dini hari.


Ia membuka kacamatanya dan meletakkannya diatas nakas yang ada di sebelah tempat tidurnya. Mengambil gawainya, memeriksa pesan yang dikirimkan ke sahabatnya.


"Kok belum di balas, ya? tapi sudah dibaca. Gak biasanya dia gini. Udah tiga hari dia gak ada kabar. Besok saja lah aku telepon!" ucapnya sendirian. Membaringkan tubuh lelahnya disebelah undangan yang berserakan itu.


Dua jam kemudian alarm di Handphone nya berbunyi. Perempuan itu membiarkannya saja. Suara pintu terbuka, dan derap langkah yang semakin mendekat.


"Kakak, alarmnya sudah berbunyi. Mau bangun atau tidur lagi? Udah mau jadi istri kok bangunnya susah sih, Kak!" ucap perempuan itu.


"Iya, Bunda! Lima menit lagi, ya." ucap Juna yang masih malas membuka matanya.


"Hm... kalau dokter Tirta tau, calon istrinya pemalas begini, bisa-bisa dibatalin nih. Gak jadi nikah!" ucap perempuan yang dipanggil bunda tadi. Mengganti nama dokter sang calon mantu dengan nama dokter yang sedang viral saat ini.


"Biarin! nanti cari lagi! kali aja ada dokter lain yang mau!" ucap Juna yang saat ini sudah duduk dengan malasnya.


"Biasa aja muka nya! Gak usah di manis-manisin gitu!" Cindy memegang dagu anak sulungnya itu. Meski dia hanya ibu sambung, tapi kasih sayangnya tulus. Cindy meninggalkan Juna yang masih mengantuk. Juna mengambil Hapenya melihat pesan yang dikirimnya namun masih belum dibalas. Ia menekan icon bergambar gagang telepon.


"Gak pernah-pernahnya kawan ini, mematikan hapenya. Kenapanya kau Mila? kok gak enak hatiku!" Juna mencoba menelepon nomor yang bertuliskan SUAMI MILTUL.


tuuut... tuuut.


"Halo, Assalamu'alaikum." ucap Dzaki


"Wa'alaikumsalam, bang. Ini Juna bang, kawan Mila sekolah dulu! masik ingat kan, bang! Ada si Mila bang? kok gak dibalas-balasnya chat ku dari semalam, ah... gak semalam pun. Udah empat hari sama hari ini lo. Bang! Kok diam aja abang?" Mila mengeraskan suaranya mengucap kata Halo sebanyak-banyaknya sampai mendapat jawaban dari lawannya bicara, logat Medan seketika mengental kembali.


"Sebentar! nanti saya telepon lagi." jawab Dzaki berbisik.


"Bah... kenapa pula nan...."


tut... tut...tut. panggilan terputus.


"Apanya abang ini, maen matikan-matikan aja dia!" Juna melemparkan gawainya ke kasur, berjalan menuju kamar mandi. Adzan subuh sudah selesai beberapa menit yang lalu.


Di rumah sakit

__ADS_1


"Adek, masih lama di dalam?" Dzaki mengetuk pintu kamar mandi.


"He-em!" ucap Mila.


"Mas, keluar sebentar ya! Ada yang telepon tadi, sepertinya penting!"


"Iya, Mas. Gak papa. Adek bisa sendiri kok!" ucap Mila yang tampak sangat segar pagi ini.


Dzaki keluar dari kamar itu, berjalan sedikit menjauh, mendekati kursi yang bersusun di sudut ruangan. Melihat gawainya, memanggil kembali panggilan yang masuk ke gawainya beberapa menit yang lalu.


"Halo!" jawab orang dari seberang sana.


"Halo, ini Juna tadi kan!"


"Iya la, Bang! baru kuteleponnya tadi. Oh... iya, mana si Mila bang?"


"Mila sedang sakit, mohon doanya ya, Juna. Sekarang kami di Penang, Mila sedang radioteraphy di sini. Empat hari yang lalu dia drop. Jadi harus di rawat inap disini."


"Loh, kenapa gak cerita dia!" suara Juna bergetar.


"Dia tidak mau membebani, mu! Pernikahan Juna kan tinggal sebulan lagi, katanya nanti Juna kepikiran!" jelas Dzaki


"Ah, ada-ada saja si Mila ini! kayak orang lain di buatnya aku. Pantas saja dari semalam perasaanku gak enak! Makasi ya bang, udah mau kasi tau aku" ucap Juna menutup teleponnya.


"Pantas saja, gak enak perasaanku dari semalam, rupanya kenapa kalok aku tau kau sakit! gak mau kau rupanya ku doakan. Awas saja kau ya, ku jitak kepalamu itu nanti!" Juna menurunkan kopernya dari atas lemari. Memasukkan beberapa baju, mukena beserta sajadah kecilnya. Juna melirik jam dinding, sudah pukul enam kurang sepuluh. Dia terlupa sesuatu.


"Astaga, aku belum sholat subuh!" umpatnya, seketika berlari mengambil wudhu kembali.


Shalat subuh kali ini, begitu khidmat. Do'a setulus hati terucap dari bibir Juna, mengharapkan kesembuhan sahabatnya.


.


.


.


maaf lama uploadnya manteman, part ini juga ada di "keteguhan hati" ya. Jangan lupa like dan komen ya, jangan cuman dibaca duang hehe,

__ADS_1


__ADS_2