Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
62


__ADS_3

Hujan deras seolah sengaja menahan keberadaan gadis berambut sebahu itu, dengan ketulusan Juna mencium tangan perempuan yang dulu pernah membuatnya tersadar akan statusnya.


"Ibu ... cepat sembuh. Allahumma rabban naas mudzhibal ba’si isyfi antasy-syaafii laa syafiya illaa anta syifaa’an laa yughaadiru saqoman." mungkin hanya Juna dan orang yang berada diatas kursi roda itu yang bisa mendengarnya.


Setelah sibuk mencari keberadaan Indah, Adzka naik ke kamarnya saat bibi membukakan pintu. Zuan dan Dewi yang menyambut kedatangan Juna.


"Terimakasih sudah menjenguk mama. Apa kabarnya orang Makassar?" Zuan mendekat, mengelus pucuk kepala gadis itu. Zuan sudah menganggap Juna sebagai adik perempuannya, ya ... walaupun mereka seumuran.


"Alhamdulillah, orang Medan yang merantau ke Makassar ini baik-baik saja!" Juna masih bersimpuh di dekat Fatmala.


"Ibu ingat aku kan?" Juna masih bersikap ramah seperti biasa, walau wanita paruh baya di depannya tak bisa diartikan ekspresinya. Hanya pandangan mata wanita itu yang dapat di baca, tak ada amarah atau pun benci di dalamnya, sebaliknya seperti rasa malu yang tak bisa di ucap dengan lisan.


"Duduk dulu yuk, Jun. Mama mau aku antar ke kamar. Sepertinya mama sudah capek duduk terus." Dewi mendekati kursi roda Fatmala berniat mengantar mertuanya tersebut.


"Ya sudah ayo. Biar ku bantu." Mereka berdua pun meninggalkan ruang keluarga itu.


Setelah membaringkan Fatmala, Dewi dan Juna keluar dari kamar, namun tetap membiarkan pintu kamar itu terbuka. Agar gampang di pantau.


"Kapan nikahnya, Jun?" Dewi menarik lengan Juna yang mendahuluinya berjalan menuju ruang keluarga tempat mereka berkumpul barusan. Terjadi percakapan yang seperti rahasia. Dewi mengetahui kabar Juna yang bersedia menikah dengan Marchel dari Adzka beberapa bulan yang lalu.


"Aku? nikah? ya ... wallaahu a'lam" Juna menjawab dengan gamblangnya.


"Ih, serius! ada yang curhat loh sama aku." Dewi kembali menghentikan langkah wanita ramping itu.


"Aku kesini mau jenguk ibu. Bukan mau bahas yang itu."

__ADS_1


"Ih, gak seru ah!" Dewi mencebik. Juna hanya tertawa melihat tingkah temannya itu.


Bruuk!


Suara benda berat terjatuh yang berasal dari dalam kamar. Juna dan Dewi yang masih tak jauh dari kamar asal suara berlari menuju sumber.


"Ya, Allah!!" ucap keduanya bersamaan. Berhambur menemui Fatmala yang sudah tak sadarkan diri. Wanita itu jatuh dari tempat tidurnya. Juna meninggalkan tempat itu memanggil Zuan dengan berteriak karena panik.


"Zu! Zuaan! Toloong!" wanita itu berlari menuju ke tempat terakhir gadis itu melihat Zuan.


\=\=\=\=


Adzka membersihkan dirinya, sedikit berlama-lama membiarkan air dari shower mengucuri tubuhnya yang penat setelah seharian bekerja.


"Kalau mau pergi harusnya ya pergi saja kan, tinggal pamit, gak ada yang menghalangi juga. Kenapa harus bertindak seperti pencuri. Tapi kalau di pikir dia mencuri sesuatu, tentu saja kami sudah kehilangan sesuatu, dan untuk apa juga ... bukannya dia mengaku kalau dia itu pengusaha ekspedisi? Ah ... sudah lah. Kenapa aku jadi memikirkan gadis kucing itu." Adzka cepat-cepat menyelesaikan mandinya. Berniat segera menemui ibunya, kasian Dewi sedari pagi tak punya teman pengganti.


Sementara di ruang keluarga Zuan tengah bertukar kabar dengan seseorang. Sesekali laki-laki itu menyunggingkan senyum, lawannya berbalas pesan itu memang kocak dalam situasi apapun.


"Tenang saja pokoknya semuanya aman. Percaya padaku. Dan terimakasih informasinya kemarin. Untung saja laki-laki itu belum membuat keputusan bodoh. Kalau tidak, mungkin dia akan menyesal karena menikahi gadis kucing." Zuan mengirim pesan tersebut, daya ponselnya minta segera di isi Zuan yang masih berbalas chat meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya.


Bau khas mawar tercium setelah Zuan membuka kamar tidurnya. Dia yang selalu menggunakan aroma lavender sejak zaman remaja, harus mengalah demi istri tercinta.


"Kamar ini seperti bau obat nyamuk, Bang. Adek gak suka." Dewi langsung protes begitu masuk kedalam kamar yang berukuran lumayan besar itu.


Menatap ranjang besar yang rapi dengan sprei berwarna putih, membuat Zuan merubah niatnya. Di benamkannya wajahnya yang semakin cabi kedalam bantal empuk diatas kasur. Kedua lengannya seperti ingin menggapai sesuatu.

__ADS_1


"Nyamannya ... kok aku jadi ngantuk ya." laki-laki itu membatin.


\=\=\=\=


Kaos lengan panjang berwarna maroon di padukan dengan celana jins, Adzka tampak sedang menikmati secangkir kopi sambil membaca buku di kamarnya. Dia mengurungkan niatnya untuk turun, setelah bibi datang memberikan yang ia pinta sebelum naik ke kamarnya beberapa saat yang lalu.



Pintu kamar yang tak tertutup rapat, membuat Adzka bisa mendengar suara seseorang yang berteriak minta tolong dengan menyebut nama Zuan. Laki-laki itu pun berlari keluar kamarnya, menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa mencari asal suara.


"Zuuaan!" Teriakan Juna semakin keras, tak perduli dengan apapun. Dia terus mencari keberadaan pria berperut gendut itu.


"Ada apa?" ucap Adzka begitu melihat Juna ada di rumahnya, paniknya tak kalah besar dengan rasa kagetnya.


"Kenapa Juna ada disini?" gumam Adzka.


Juna langsung menarik tangan Adzka, membawanya menuju kamar Fatmala.


"Ibu, Ka! Ibu!" ucap gadis itu.


Disaat bersamaan bel rumah itu kembali berbunyi. Karena mungkin tak ada sautan dari arah dalam kembali bel itu berbunyi kembali.


Juna yang ada di belakang Adzka saat ini pun berinisiatif membukakan pintu. Barangkali Dewi sudah menelpon dokter pikir Juna saat itu. Sesampainya di depan pintu Juna pun langsung menarik tamu tersebut sama seperti yang ia lakukan dengan Adzka tadi.


"Ibu! Ibu!" ucapnya yang tampak sangat sangat panik.

__ADS_1


__ADS_2