Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
96


__ADS_3

Dewi memberikan baby boynya kepada suster. Baby yang di beri nama Fadzli itu sudah tertidur baru saja selesai di beri Asi.


"Kenapa sih, Jun. Lagi PMS?" sudah tiga hari ini Juna tidak pulang, alasannya hanya ingin menjaga Dewi yang masih tidak boleh bergerak terlalu banyak, sedangkan Fatmala juga harus menjaga kondisinya tidak boleh terlalu capek.


"Kenapa? biasa aja. Iya kali PMS datang sebulan 2 kali." dua saudara ipar itu saling tatap.


"Ada masalah sama, Adzka?"


"Tidak ada." suara itu lirih, ada keraguan yang bisa di tangkap dari jawaban itu


"Ada yang ingin kau tanyakan padaku?" Dewi melipat tangannya di atas perut.


"Ayo lah! sejak aku sadar aku melihat sepertinya kau ingin mencari informasi tentang seseorang. Aku bisa melihatnya dari matamu!" ucap Dewi sok ahli bahasa batin


"Ternyata selain kai dokter gigi, kau ada bakat jadi dokter jiwa ya!" ucap Juna malas, dia lebih memilih merebahkan tubuhnya di sofa


Keduanya saling diam beberapa saat.


"Dew!"


"Hm"


"Apa dulu Adzka pernah punya pacar selain dirimu?"


"Apa???!!"


"Apa dulu Adzka pernah punya pacar selain kau?" Juna mengulang pertanyaannya.


"Kapan aku pernah pacaran dengan Adzka!"


"Kalian sempat mau bertunangan kan?" Juna membenarkan posisinya


"Bukan kalian tapi aku! aku yang terobsesi. Dia sama sekali tak menganggap ku ada! kau tau ... hanya ada satu orang yang dia cintai selama hidupnya, selain mama dan Zuan. Kau!! kau adalah cinta pertama dan terakhirnya, Jun."


"Banyak yang menginginkannya, selain sangat cerdas dia juga tampan, anak dari orang berada. Siapa coba yang tak mengharapkannya?"

__ADS_1


"Aku!!" jawaban Juna penuh percaya diri.


"Kau orang yang beruntung, Jun." ucap Dewi


"Kalau ada masalah di selesaikan, jangan menghindarinya. Sudah tiga hari kau mengabaikan Adzka. Kasihan uncle nya baby F. Dia membutuhkan istrinya pasti!" sebagai saudara dan teman yang baik Dewi berprilaku sebagaimana mestinya.


"Tau ah! gue masih kesel!" Juna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


\=\=\=\=


Hampir jam delapan malam, Adzka dan Juna kini berada dalam mobil menuju rumah mereka. Senyap! Juna larut dalam lagu yang ia dengarkan melalui headseatnya, sedangkan Adzka yang curi-curi pandang merasa ada yang tak beres dengan istrinya.


"Ini kali pertama dia kembali cuek padaku, sama seperti pertama kali kami satu mobil dulu. Ada apa ya? apa aku melakukan sesuatu yang ia benci." gumam Adzka dalam hati


Sebelumnya Zuan dan Fatmala memaksa keduanya untuk pulang malam ini. Karena besok, Dewi juga sudah bisa pulang.


Tepat jam 9 malam, mobil putih tersebut sampai di rumah. Juna keluar membawa bungkusan makanan yang tadi mereka beli dalam perjalanan. Sebenarnya Juna sangat lapar, namun untuk makan di luar bersama suaminya dia tak berselera, jadi pilihan selanjutnya adalah di bungkus.


"Mau makan sekarang, Dek" Adzka menutup pintu.


Setelah selesai membersihkan dirinya, Juna keluar dari kamar mandi. Terkejut melihat Adzka yang duduk di pinggir kasur dengan posisi menghadap pintu kamar mandi 12 pas.


"Loh! sudah selesai makannya, Mas?" Juna menutupi kegugupannya.


"Belum. Kita sudah tiga hari enggak makan bareng. Apa kau tidak lapar?"


"Oh, ya. Mas makan lah, nanti aku menyusul." Juna pura-pura sibuk dengan sisirnya. Adzka mendekat, namun Juna seolah tak melihat.


Mencoba kembali menghindar, Adzka memegang bahu Juna ketika gadis itu ingin beranjak dari duduknya.


"Mas salah apa? kenapa kau menghindari, Mas." pelukan rindu kini sudah Juna terima, Adzka meletakkan kepalanya di ceruk leher istrinya.


"Masih tanya apa salah nya? hm ... mungkin berduaan makan dengan gadis lain itu tak dosa ya, bahkan sampai tega meninggalkan istrinya yang kelaparan demi untuk bertemu perempuan itu!" Juna terus menggerutu walau dalam hati


"Hey, jangan diam saja! jawab aku."

__ADS_1


"Maaf kalau bulan madu kita masih belum terlaksana, Yank. Aku sudah mencoba mengatur jadwal untuk bisa cuti. Tapi masih belum bisa, sepertinya akhir bulan nanti. Kebetulankan tanggal merah nya panjang sampai tahun baru nanti! enaknya kemana ya, Dek?"


"Kita ke London saja ya?"


"Ngapain kesana! napak tilas perjalanan cinta mu dengan Silva?" ketus Juna


"Kok gitu? jadi kemana?"


"Jepang!"


"Kok Jepang? mau nostalgia. Mau ngunjungin tempat-tempat kalian mesra-mesraan dulu gitu!" Adzka mulai emosi.


"Siapa yang pernah mesra-mesraan sih, pegang tangan juga enggak! kamu tu, se enaknya. Istri sedang kelaperan malah tega di tinggal, katanya mau ke rumah sakit tau nya ketemu Silva, pakek makan di mall segala lagi. Enak ya jalan bareng gadis cantik, setelah makan kemana lagi kalian? belanja? karokean?" Tetesan bening jatuh ke pipi, Juna menyapunya kasar.


"Oh, jadi penyebabnya ini. Adek kok bisa tau!"


"Aku punya mata, masih normal belum minus!!"


"Ih, ketus amat. Mas, memang ke rumah sakit kok waktu itu. Setelah selesai baru ketemu Silva."


"Terus kok nyampe rumah sakit jengukin Dewinya malam banget! Mas kemana?"


"Oow, itu. Mas ketemu suaminya Dewi. Dia kan punya bisnis travel. Jadi ya, Mas tanya-tanya masalah honey moon kita lah. Kalau teman sendiri punya kan gampang, sekalian bantu!"


"Silva sudah punya suami?"


"Hahaha, Silva anaknya sudah dua loh, Sayang. Cuman memang sering di tinggalin sama mama mertuanya. Makanya, kalau cemburu tanya-tanya dulu." tawa Adzka semakin kuat.


"Apa yang lucu? tertawa saja terus. Sudah sana makan, aku mau tidur!" Juna mencebik, ada rasa lega dan juga malu yang ia rasakan.


"Loh, makan dulu ayo!"


"Enggak mau, aku nggak lapar!" Juna menyembunyikan wajahnya dalam selimut.


"Kalai begitu mas makan adek saja." bisik Adzka membuka selimut Juna perlahan.

__ADS_1


"Ayo makan! cepat turun. Cacing dalam perutku sudah demo ini!" Juna bergegas bangun dan mendekati pintu kamarnya. Membuat Adzka geleng-geleng kepala.


__ADS_2