Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
44


__ADS_3

Cerahnya sinar mentari pagi menambah semangat makhluk Tuhan yang ingin berpetualang mengeksplore negri indah Indonesia. Tak henti saling menebar senyum, sepasang kekasih halal itu terus bergandeng tangan menuju loby hotel untuk check out. Baru saja lift terbuka, sosok gadis cantik dan lelaki tampan sudah menunggu mereka.


"Selamat pagi, duh ... tolong dong, hargai kami yang jomblo ini. Tangan itu tangan! mau nyebrang?" celetuk Marchel


"Hah! nasibmu dong. Jangan salahkan ke halalan kami." ucap Zuan ketus. Dewi dan Juna hanya tersenyum melihat tingkah kedua laki-laki tampan itu.


"Udah, ayo. Belum pada sarapan kan?" ajak Juna kepada semua. Jam masih menunjukkan pukul 07.00 pagi. Mereka memang sengaja menjemput pasangan pengantin baru itu, untuk mengajak mereka sarapan bersama dirumah Marchel, Maria juga ingin berkenalan dengan sahabat dari gadis yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri.


"Jadi gak enak loh kami, Chel. Baik banget sih kalian." ucap Zuan membuka pembicaraan setelah mobil Marchel melaju meninggalkan hotel.


"Ya elah, gak enak ya kasi kucing aja." ucap Marchel sekenanya. Berbicara serius dengan Marchel adalah suatu hal yang langka, laki-laki itu memang selalu bercanda dalam situasi apapun.


"Kenapa pilihan kalian Gorontalo? apa yang mau kalian lihat disana? kenapa tidak Bali, Raja Ampat, atau pulau komodo." Juna menanyakan mengapa pilihan mereka jatuh kesana.


"Aku Bali udah pernah, Abang juga. Kalau Raja Ampat masih belum tertarik. Kalau pulau Komodo ... aku takut, hehe" ucap Dewi bergidik membayangkan bertemu dengan cecak raksasa itu.


"Sama cecak aja takut, apalagi jumpa sama mbahnya. Bisa kacau honeymoon kami." sambung Zuan.


"Apa kalian benar-benar tidak mau ikut?" Zuan menatap Marchel yang fokus menyetir.


"Kalau aku sih mau-mau aja. Tapi tuh anak gadis satu gak mau. Katanya takut ganggu. Nanti jadi kepengen honeymoon juga. Padahal aku kan ada, ngapain bingung-bingung, kan. Hah." Marchel terus mengoceh sementara Juna mendengarkan dengan bertopang dagu.


"Heh, Udin. Loe tau kan honeymoon itu apa. Iya kali kita ikut. Emang enak jadi obat nyamuk forever. Kan ada aku, mau bilang gitu ... gue mah ogah, gak ada laki-laki lain apa!" ucap Juna menyela Marchel yang ingin bicara.


"Dasar kalian ini. Awas aja kalau kami nanti nerima undangan pernikahan kalian." ucap Dewi


"Aamiin ya Allah. Kalau sampai ke kalian datang ya." ucap Marchel menengadah tangan. Zuan hanya tersenyum, disatu sisi dia senang jika Juna menikah dengan laki-laki yang ada disampingnya saat ini, Marchel memang tampak tulus menyayangi Juna. Disisi lain, ia juga ingin penantian panjang dari adiknya juga berujung bahagia.


Asyiknya perbincangan diantara mereka, tak terasa mobil telah berada di pelataran rumah keluarga Marchel. Wanita paruhbaya namun masih tampak cantik dan terawat telah menunggu kedatangan mereka.


"Assalamu'alaikum, Ma." ucap Juna berhambur, memberikan pelukan serta ciuman kepada Maria.


"Tuh pada lihat kan. Yang anaknya siapa yang manja siapa. Heh, itu Mama ku." ucap Marchel, Zuan dan Dewi hanya tertawa, sedangkan Juna semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Marchel ih, jangan iri. Dua-duanya anak Mama." ucap Maria pula.


Zuan dan Dewi mencium punggung tangan Maria. Mariapun mempersilahkan mereka masuk dan langsung menuju meja makan.


"Sarapan dulu, nanti kita lanjut ngobrolnya." ucap Maria ramah, menyuguhi tamunya dengan hidangan yang lumayan banyak. Ada bubur ketan hitam dicampur kacang hijau. Nasi goreng serta nasi putih, mie goreng dan juga coto Makassar.


"Ini sarapan atau makan siang, Ma. Banyak sekali pilihannya." ucap Marchel.


"Mama gak tau tamu kita sukanya apa. Jadi, ya sudah mama sama bibi masak ini deh. Ayo silahkan, jangan sungkan ya." ucap Maria.


Seketika suasana menjadi hening, semuanya menikmati pilihan makanan masing-masing. Dimeja itu ada dua botol kecap yang menarik perhatian Zuan. Dengan dahi yang mengernyit, dia menyaksikan dua orang yang memakan makanan berbeda tapi menggunakan isi dari botol yang bermerk sama tersebut.


"Kompak nih ye." ucapnya melirik Juna dan Marchel. Dewi dan Maria tersenyum mengerti.


"Iyakan nak, Zuan. Mereka itu cocok kan. Banyak banget kesamaannya. Tapi gak tau kapan mau di resmiin. Tante sudah gak sabar pengen lihat hasil mereka. Mirip Juna atau Marchel nanti." ucap Maria pula.


"Nikahkan saja, Tante. Udah klop gini juga." serkah Zuan.


Semuanyapun menggeleng-gelengkan kepalanya, Marchel memang tak pernah serius. Sementara gadis yang masih menikmati sepiring mie goreng, detak jantungnya sedang tidak stabil. Detak jantungnya lebih cepat dari biasanya setelah mendengar ucapan dari Maria.


Flashback on


"Lama kali kau gak nelpon. Apa kabarmu?" wajah perempuan manis berhijab ungu terpampang nyata dilayar ponsel milik Juna.


"Iya, maklumlah. Orang sibuk. Hehe" Juna masih menggunakan handuk dikepalanya.


"Kau habis dari mana, jam segini baru mandi."


"Tadi habis jadi tour guide pengantin baru aku. Jadi baru nyampek rumah jam delapan tadi. Mana anak muda tampanku?"


"Murojaah sama Abinya."


"Loh, gak sama Ummanya." Juna berbaring, badannya terasa pegal-pegal

__ADS_1


"Tadinya Ummanya yang murojaah, tapi karena ada telepon dari uwak-uwak cantik, jadi ya harus ngangkat telepon dulu, kalok tidak mengamuklah uwak-uwak itu." (logat Medan mulai terdengar gaes).


"Enak aja, janganlah panggil uwak. Masik muda aku. Panggil kakak saja lah." ucap Juna memelas.


"Eh, Junaedi ... apa lagi yang kau tunggu. Ingat umur. Marchel sudah berulang-ulang kan bilang mau serius. Mamanya juga sudah sebegitu dekatnya sama kau. Kemana-mana kau udah dibawa. Kau juga nya yang bilang kalau abang dokter itu, mamaknya tak setuju. Apalagi mau diharapkan." Oceh Mila


"Iya, taunya aku. Tapi ... ah, cemana ya. Mama pun bilang gitu juga apalagi yang kutunggu. Papa pun. Bahkan kemaren waktu jumpa sama Marchel nampakku Papa udah suka, macam akrab gitu. Kekmana menurut kau. Apa iya aja ya." Ketika kedua sahabat ini bertemu, walau hanya melalui panggilan video, suasana seolah-olah berubah menjadi benar-benar berada di Medan.


"Serahkan semua kepada Allah, Ia yang membolak-balikkan hati. Hanya dengan mengingatnya hati menjadi tenang. Dengan hati yang tenang Insya Allah kau bisa memutuskan mana yang baik dan mana yang kurang baik." ucap Mila


"Baikalah ustadzah, terimakasih waktunya. Ngantuk pula aku." Juna memang merasa mengantuk.


"Udah shalat isya belum?"


"Hehe, belum dong."


"Shalat dulu baru tidur. Jangan menunda-nunda shalat terus. Kekmana jodohmu gak tertunda." ketus Mila


"Iya, Mak ... iya, ni mau shalat aku." Juna bangkit dari tidurnya, membawa masuk benda pipih miliknya itu kedalam kamar mandi, memastikan temannya itu melihat dia mengambil wudhu.


Flashback off


.


.


.


.


Hai reader tersayang, yang belum kenal Mila yuk kenalan di "keteguhan hati" persahabatan Juna dan Mila dimulai dari sana. Yang tau, doakan Mila diampunkan segala dosanya ya.😊


happy reading 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2