Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
43


__ADS_3

Jas putih masih melekat di badan lelaki tampan yang tak sekalipun melepas pandangannya dari layar ponselnya. Pesan singkat dikirimnya lebih dari lima belas menit yang lalu masih belum juga dibaca, tanda centang satu tertera di pesan tersebut.


Beruntung, ruangan yang terdapat beberapa tagline dan slogan tentang kesehatan jantung itu tampak sepi. Kalau tidak, pasti sudah tersebar berita kalau dokter spesialis jantung itu tidak profesional.



"Lagi nungguin apa sih, Dok. Kayak mau dapat jackpot aja." ujar Tomy disela-sela kesibukannya yang juga bermain ponsel.


"Ini lebih dari Jackpot." ucap Adzka menebar senyum.


Kabar keberangkatan Zuan dan Dewi berbulan madu tak membuatnya sebahagia ini, yang membuatnya bahagia adalah keduanya memutuskan untuk mampir terlebih dahulu menemui gadis yang sangat dirindukannya.


Meskipun hanya tau kabarnya dan mendengar suaranya saja, dokter berkacamata itu pasti sudah sangat bahagia. Karena itu dia sudah sangat tidak sabar mendapatkan balasan dari pesan yang dikirimkannya ke pengantin baru tersebut.


Notifikasi hapenya berdering. Dengan sigap dia membukanya. Pemberitahuan bahwa mereka sudah sampai dengan selamat dan satu pesan suara terpampang di benda pipih miliknya itu.


Adzka mencari headset nya didalam tas. Didalam laci meja kerjanya, di saku jasnya, namun hasilnya nihil.


"Apa mungkin di mobil?" Adzka mengambil kontak mobilnya, memberikannya kepada Tomy.


"Tolong ambilkan headset saya, mungkin di dashboard atau kalau tidak ada coba lihat di bagian belakang kursi kemudi" perintah Adzka. Tomy pun segera pergi menuruti titahnya.


"Terimakasih, kalian the best." ucap Adzka tersenyum puas, walau pesan suara itu belum di dengarnya, tapi kebahagiaan sudah menghampirinya.


Tak ada rindu yang berat, selain bisa mendengar suaranya, mengetahui kabarnya namun tak bisa melihatnya.


\=\=\=\=\=


Mata laki-laki itu terpejam, badannya bersandar di kursi kerjanya yang empuk. Dengan headset yang sudah terpasang dibukanya pesan suara yang dikirim teman satu sekolahnya itu yang sekarang telah menjadi kakak iparnya.


Suara gadis yang sangat dirindukannya terdengar begitu jelas dalam rekaman tersebut. Tawanya masih sama seperti beberapa bulan lalu saat dia masih bisa mendengar tawa itu langsung dari pemiliknya. Suaranya yang manja namun galak di saat-saat tertentu.


Kristal bening menetes dari ufuk mata laki-laki itu. Ia membuka kacamatanya, meletakkannya diatas meja. Dengan ujung jemarinya dihapusnya air mata itu agar tak ada yang melihat kegalauannya.

__ADS_1


Ada rindu dalam hatiku


Rindu yang begitu menggebu


Harapkan kehadiranmu di hadapanku


Memberikan senyuman khasmu yang selalu aku rindu


Malu ... Ya, aku malu. Aku benar-benar malu


Dengan berani aku meraih kepercayaan orangtuamu


Tanpa sadarku, izin ibuku membuatku menjadi asing bagimu


Bahagialah disana, bahagialah dengan caramu


Biarkan aku disini yang menutup diri, berharap keajaiban mempercayaiku. Untuk bersamamu.


Perjalanan menjadi tour guide pun masih berlanjut, setelah Adzan Ashar ke empat anak manusia itu memutuskan untuk mencicipi aneka macam kuliner khas yang menjadi menu cafe dan resto yang ada di pantai Akkarena.


Semakin sore tempat itu malah semakin ramai pengunjung, walau kebanyakan dari mereka adalah para pekerja yang melepas penat mencari kesegaran setelah capek berkutat dengan kesibukan masing-masing.


Juna dan Dewi kembali ber-selfie ria, sedangkan Zuan dan Marchel memilih pergi menuju resto dan memesan makanan.


"Biarlah saudara yang bukan kembar itu ber-selfie ria. Aku sudah sangat lapar." ucap Marchel memegang perutnya.


"Masih jam Lima. Kau biasa makan sore begini?" tanya Zuan. Biasanya laki-laki itu makan malam jam 7 atau bahkan jam 8 malam. Sepengetahuan Zuan yang makan jam lima sore itu ibu menyusui atau ibu hamil saja.


"Iya, aku biasa makan jam lima. Kalau jam 7 atau 8 aku sudah tidak mau mengisi apapun kedalam perutku lagi. Nanti bisa-bisa aku gendut sepertimu." ucap Marchel menahan tawa.


"Wah ... body shaming nih." Ucap Zuan tak terima. Marchel hanya tertawa lepas.


"Tertawalah, nanti kau akan merasakan nikmatnya makan berkali-kali kalau kau sudah akan punya istri. Lihat saja, aku orang yang pertama menertawakan mu nanti." ucap Zuan lagi.

__ADS_1


Pesona pantai Akkarena di penghujung sore itu begitu membuat nyaman. Walau suasana penuh sesak karena semakin banyak wisatawan lokal yang berdatangan namun ke indahan matahari terbenam tak ingin untuk dilewatkan.


\=\=\=\=


Kedua gadis berbeda warna kulit itu asik berbagi cerita. Duduk ditepian Dermaga cinta salah satu spot yang banyak disukai di pantai Akkarena tersebut menikmati indahnya sang surya yang pulang keperadua nya.


"Jun, apa kau akan stay disini terus?" Dewi melepaskan pandangannya, kini tatapannya diarahkan kepada teman yang dikenalnya melalui suaminya itu.


"Ck ... entahlah. Aku sudah dapat pekerjaan disini. Baru beberapa bulan juga, gak enak kan kalau aku resign. Mungkin lebih baik aku disini saja, menghabiskan sisa umurku barangkali. Lagi pula Papa sudah mengizinkan aku, jika mungkin nanti aku akan mendapatkan jodoh disini." Juna memeluk kedua lututnya.


"Kau tidak merindukan Adzka?"


"Aku tak punya hak untuk merindukannya. Orangtuanya lebih berhak dari pada aku. Kau tau, Dew ... aku besar tanpa seorang ibu. Aku sangat merindukan kasih sayang seorang ibu. Allah baik kepadaku, Ia menggantikan segala kekurangan yang tak kumiliki itu dengan mendapatkan bunda, bisa kumpul bersama Mama, juga ketemu dengan Mamanya Marchel. Lengkap, Dew. Apa aku tega membuat celah diantara Adzka dan Mamanya? Tidak, aku tak akan setega itu, meskipun mungkin aku akan merasa kehilangan nantinya."


"Apa kau tau Dew, waktu aku ada masalah dengan jadwal haid ku, aku periksa ke dokter dan ternyata itu Mamanya Adzka, aku tidak tau. Bahkan Ibu sempat mengantarkan ku pulang ke rumah. Ibu sangat baik, ramah dan sama sekali tak seperti yang aku lihat malam itu. Mungkin Ibu melihat aku seperti membuat Adzka mengemis cintaku barangkali, makanya beliau tidak terima. Dan lagi, semua yang diucapkannya itu benarkan, aku hanya peracik obat ... mimpi apa bisa sandingan sama dokter. Hahaha. Ah, udah ah. Kok jadi melow gini, kita kan mau happy-happy. Udah mau Adzan juga. Yok balik. Eh, tu lelaki dua orang kemana ya!" Juna menyeka air matanya. Dewi melihatnya.


"Jangan nangis dong. Maafkan mama. Mama pasti menyesal jika tau perempuan yang ditolaknya itu sebaik kamu. Maaf juga ya, Jun ... dulu aku pernah sentimen sama kamu. Aku pikir gara-gara kamu, Adzka jadi berpaling dariku. Tapi justru gara-gara kamu juga, aku bisa pacaran sama bang Zuan dan gak nyangka bisa jadi istrinya juga. Makasih ...." Keduanya berpelukan.


Jangan menilai orang lain, sebelum anda benar-benar mengenal mereka.


(mutiara Islam.)


Dewi berjalan melambat membiarkan dirinya sedikit tertinggal dari Juna. Ponselnya kini ia tempelkan di telinganya.


"Kau mendengar semuanya?" tanya gadis berhijab itu


"Ya, semuanya."


"Kapan kau akan menyusulnya kemari?"


"Aku malu, Dew ...."


"Terimakasih. Aku tak akan melupakan ini. Sudah maghrib, jangan lama-lama diluar nanti ada hantu." suara dari seberang sana.

__ADS_1


__ADS_2