
Sepasang mata dari balik jendela menatap dengan kening yang berkerut. Tak berapa lama sosok di balik jendela itu menutup kembali tirai gorden yang disibaknya, setelah cahaya lampu mobil membuatnya kesilauan.
"Ngapain disitu, Bang? nanti masuk angin loh!" ucap Adzka mengejek, teringat panggilan dari temannya semasa sekolah itu yang sekarang menjadi pacar dari sang kakak. Zuan hanya melirik sesaat, benda pipihnya masih menempel di telinganya.
Setelah memastikan Dewi sudah sampai dirumahnya Zuan baru mematikan sambungan telepon itu. Dia pun berjalan hendak masuk kedalam rumah. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, saat Zuan melewati dapur sosok orang yang sangat dihormatinya sedang duduk ditemani secangkir teh diatas meja makan. Itu kebiasaan rutin mamanya, bukan teh biasa yang dikonsumsinya, melainkan teh tanpa gula dengan diberikan sedikit bubuk kayu manis, kapulaga dan cengkeh.
Zuan membatalkan keinginannya masuk dan beristirahat kedalam kamar.
"Belum tidur, Ma. Jam segini kok masih ngeteh, mama pulangnya kemalaman ya?" ucapnya menarik kursi di hadapan mamanya, kini tubuhnya dan sang mama saling berhadapan hanya terpisah oleh meja.
"Iya, hari ini pasiennya lebih banyak dari biasanya, Kalian dari mana? gak biasanya anak mama pergi berdua, pakai iming-iming apa Adzka mau keluar malam sama kamu!" tanya dokter Fatmala.
"Gak di imingin apa-apa kok, Ma! sudah lama gak makan bareng, sama mama juga sudah lama. Kapan kita bisa makan bareng, Ma?" ucap Zuan yang memang merindukan kebersamaan bersama orang yang penting dalam hidupnya tersebut.
"Setelah papa gak ada kita sangat jarang bisa makan satu meja, dulu walaupun hanya sarapan pagi papa mewajibkan kita untuk makan bersama. Tapi setelah papa meninggal, kita sibuk masing-masing!" Zuan seolah flashback mengingat kehangatan keluarganya bertahun-tahun yang lalu.
"Hm ... ada masanya itu nanti, Nak! kita akan kumpul makan bersama lagi, kau dengan Citra, dan Adzka dengan Dewi. Huh ... mama berasa sudah sangat tua sekarang, mungkin sudah saatnya mama punya mantu!" dengan tatapan datar Fatmala berucap, sorot matanya penuh harapan mendapatkan kejelasan dari apa yang baru saja dilihatnya. Dia tau betul, Dewi sangat menginginkan Adzka, dan Ismi putri dari teman almarhum suaminya juga menyetujui perjodohan antara dia dengan Zuan, walau anak pertamanya itu tak pernah meresponnya sama sekali. Tapi kenapa tadi dia melihat Zuan dan Dewi bersama, bahkan tampak seperti ada hubungan khusus.
"Ismi! aku bahkan tak pernah mengingatnya lagi!" gumam Zuan dalam hatinya, sosok perempuan cantik yang satu profesi dengannya itu seketika ada dalam ingatannya.
"Zuan istirahat dulu, Ma! sudah ngantuk!" dia berdiri dan menghampiri dokter Fatmala mengecup pipi sang mama.
"Selamat malam, Mama!" ucapnya
"Malam sayang!" jawab perempuan paruh baya itu.
"Apa yang kau sembunyikan dari mama, Nak?" ucap Fatmala merasa gusar, mencoba lari dari kenyataan. "Bagaimana mungkin Zuan memiliki hubungan dengan orang yang seharusnya menjadi adik iparnya!"
__ADS_1
\=\=\=\=
Gadis yang berada di dapur itu tampak sedang merebus mie instan. Setelah beberapa menit, tersajilah satu piring mie instan goreng dengan telur mata sapi setengah matang diatasnya. Gadis itu mencium aroma yang begitu sedap keluar dari hidangan yang saat ini berada di hadapannya dengan sedikit asap yang masih mengepul di sana.
"Loh, kok makan malam-malam begini, Kak? gak takut gendut!" ucap Rudi yang baru saja mengecek seluruh pintu akses keluar masuk, yang ada dirumah itu.
"Lapar, Pa! tadi makannya gak kenyang!" ucap Juna mengambil sendok dan garpu.
"Papa mau?" ucapnya
"Tidak, perut papa sudah sangat penuh. Tadi sebelum pulang kami makan sate dulu, sampai rumah dibuatin minum lagi sama bundamu!" ucap Rudi memegang perutnya yang sedikit buncit.
"Makanya kalau lagi ngedate jangan jaim, pura-pura kenyang eh, sampai rumah makan lagi!" celetuk Rudi menggoda anak gadisnya itu.
"Papa apaan sih, siapa juga yang ngedate! Papa salah paham tu, Juna sama Adzka gak ada apa-apa kok!" ucap Juna membela diri
"Kalau ada apa-apa juga tidak apa-apa, Nak! justru papa bersyukur! ya sudah, papa kekamar dulu ya!" ucap Rudi mengacak rambut sang putri lalu berlalu menuju kamarnya.
"Iya, Pa!" jawab Juna, jarak kamar utama dengan dapur tak terlalu jauh. Sehingga Juna masih dengan jelas mendengar ucapan Papanya, ditambah suasana yang hening karena tengah malam.
"Masih berani tidur sendiri?" ucap Rudi menahan senyum.
"Masih la, Pa! kapan memangnya Juna takut tidur sendiri?" jawab Juna yang mengingatinya, memang benar sejak kecil dia tak pernah merasa takut tidur sendirian.
"Oh, kalau nanti kau sudah takut tidur sendiri bilang saja sama Adzka! papa bersedia men'SAH' kannya!" Rudi membuka pintu kamarnya dengan cepat, seketika sosoknya tak lagi tampak disana.
"Ih, Papa apaan sih!" jerit Juna
__ADS_1
\=\=\=\=
"Keberanian mu itu, membahayakan jiwamu, Nak! dari awal memang ibu tak pernah setuju kau menjadi seorang polisi!" ucap wanita paruh baya yang sedang memijat kaki seorang gadis yang berbaring diatas brangkar.
"Aku tidak apa-apa, Bu! hanya luka sedikit saja!" ucapnya menebar senyum.
Dia hanya sedikit terluka terkena serpihan kaca rumah yang meledak akibat bom yang diledakkan oleh terduga *******. Gadis itu ikut mensterilkan lokasi penyergapan, dan tak disangka bomnya diledakkan.
Ismi, perempuan cantik, berprestasi berpangkat Bripda. Sosoknya yang sangat sayang kepada keluarga membuatnya mematuhi perintah dari sang ayah, apapun itu termasuk perjodohan.
Hubungan persahabatan ayahnya dengan sahabatnya semasa kecil, membuat Ismi harus mengubur jauh-jauh mimpinya untuk menikah dengan pilihannya sendiri.
Meskipun orang tua dari laki-laki yang dijodohkan kepadanya itu sudah tak ada lagi di dunia ini, namun kesepakatan itu tetap berlanjut.
"Lebih baik secepatnya kau menikah, Is! setelah itu kau akan ikut tinggal bersamanya dan bekerja satu tempat dengannya. Ibu akan lebih merasa nyaman jika kau bekerja didampingi oleh seseorang yang menyayangimu." ucap ibu tadi.
"Bu, apa ibu tega melihat putrimu ini menikah dengan orang yang tidak pernah mencintainya? Mas Zuan tak pernah sedikitpun punya rasa ke aku, Bu. Mas Zuan hanya menganggap Ismi teman saja, tak lebih! bagaimana hidup berumah tangga tanpa cinta? apa ibu mau, satu hari setelah menikah kami bercerai, dan aku akan menjadi janda,Bu? hanya karena merasa tidak enak dengan keluarganya almarhum Pakde Pras, Ibu tega membiarkan ini semua terjadi?" ucap Ismi dengan mata yang berkaca-kaca. Dalam hatinya ia ingin mengatakan bahwa dia sebenarnya mempunyai pilihan sendiri. Tapi dia tak kuasa mengatakannya.
"Cinta itu akan datang dengan sendirinya, Ismi! begitu kalian bersama benih-benih cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Zuan itu anak yang baik." seorang laki-laki paruh baya masuk kedalam ruang inap gadis itu.
"Tapi, Pak! Mungkin mas Zuan juga sudah punya pilihan sendiri." ucap Ismi lagi
"Juga? jangan bilang kau sudah punya pacar Ismi!" tanya Joko selidik.
"Jangan membuat malu bapakmu, Nak! kau jadi seperti ini juga karena bantuan dari mas Pras, dia yang membantu biaya sekolahmu. Kalau kita yang membatalkan perjodohan itu, apa kata keluarganya nanti. Mau ditaruh kemana muka bapak?" Joko terduduk lemas.
"Maaf, Pak! Ismi sama sekali tidak bermaksud membuat bapak malu!" kristal bening tak urung jatuh dari tempatnya. Wajah pasrah dengan tatapan kosong Ismi mengeluarkan kata-kata yang membuat kedua orangtuanya bisa bernafas lega.
__ADS_1
"Baiklah, terserah bapak dan ibu! Ismi manut wae."