
Dengan menggunakan kebaya atau bahkan gaun cantik dengan polesan make up, serta dekorasi full bunga yang tertuliskan nama kedua pasangan yang sedang bahagia semuanya hanya mimpi belaka, tak ada gaun, tak ada polesan bedak tebal untuk menambah kecantikan apalagi dekorasi atau apalah itu. Lamaran yang di iringi dengan pertunangan sekaligus itu pun jauh dari impian sang gadis.
Dengan menggunakan piyama tidur berwarna abu-abu, cincin mode belah rotan dengan satu mata berwarna putih telah di sematkan oleh wanita yang beberapa waktu lalu sering ia ajak bicara bahkan bercanda dalam keadaan tidur.
Perasaan Juna campur aduk, lelah setelah seharian berkeliling mencari pekerjaan sudah tak lagi ia rasakan. Rasa pegal di bagian kaki yang tadinya di rasa seakan hampir putus kini begitu ringan sampai terasa terbang.
"Mm ... boleh kami bicara berdua, Om?" Adzka sedikit sungkan mengucapkan kata itu, kondisi saat ini bukan seperti saat ia biasa bertamu kerumah itu.
"Ya, silahkan saja kalau Junanya mau." Rudi menoleh menatap anak gadisnya yang dari tadi terus mencubit lengannya.
"Sana! sana! ngobrol noh ma pak Dokter. Habis tanganku coel ini." Rudi meniup lengannya yang banyak bekas cubitan.
Adzka lebih dulu berjalan ke teras rumah, Juna mengikuti di belakangnya jauh.
"Astaga ... kok gini amat rasanya, bukan Juna ini. Juna yang asli mana yang asli. Juna kok jadi pemalu gini sih!" gadis itu terus membatin
Lelaki berkacamata itu duduk di kursi teras menatap Juna yang terus menunduk, tak sengaja gadis itu menabrak kaki kursi, sedikit terhuyung akhirnya Juna bisa menyeimbangkan diri, ia pun duduk di samping Adzka, meja kayu bundar menjadi pemisah mereka.
Rasa malu Juna semakin bertambah, kalau saja wajahnya bisa ia lepas, sudah dari tadi gadis itu melakukannya. Pasti!
"Aglonema red gold nya banyak sekali? gak takut di curi ini?" Adzka membuka pembicaraan, tanaman yang termasuk dari bagian 'ratu daun' itu memang banyak tertanam rapi dalam vas berwarna putih di sebelah dan di hadapan laki-laki itu.
"Awas aja kalau berani nyuri! aku yang akan mengadili pencuri itu. Gak tau apa butuh perjuangan untuk mendapatkannya." Juna mulai terpancing
"Tabunganku berkurang drastis loh untuk beli itu." sambung Juna lagi.
"Hm ... iya deh yang punya tabungan." Adzka menampakkan lesung pipinya.
Seketika suasana kembali hening. Adzka membuka kacamatanya, membersihkan kaca bening itu dengan tissue basah yang selalu ia bawa di sakunya. Kemudian mengeringkannya dengan tissue yang tersedia di meja.
"Jun!" panggil Adzka lirih, tak ada sautan sama sekali.
"Minggu lalu dr.Kevin ngantar kamu sampai rumah?"
__ADS_1
"Hah?" gadis itu terperangah, kirain mau tanya apa batinnya.
"Oh, dokter Kevin ... ooo iya iya, lupa aku. Iya kemaren diantar ke rumah, awalnya udah aku tolak sih, cuman karena bang ojeknya gak nyampe-nyampe ya udah deh gak bisa nolak lagi. Kenapa memangnya?"
"Itu yang terakhir, aku tidak suka kau dekat dengan dokter ganjen itu." ucap Adzka penuh penekanan
"Dia gak ganjen kok, dia ganteng!" ucap gadis itu polos.
"Ya sudah kalau gitu nikah aja sama dia sana." Adzka menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, kedua lengannya ia lipat ke depan.
"Eh ... kok gitu?" Juna menggaruk kepalanya.
"Kalau gak serius mau nikahin aku ya bilang aja, ngapain pake repot-repot datang kesini bawa ibu segala." mata Juna sudah mulai berkaca-kaca, rasa takutnya kembali gagal kawin menghantuinya.
"Kemarin Marchel juga ngasi harapan, tiba-tiba pas aku udah usaha fokus ke dia walau sebenarnya gak bisa sih, dia nyuruh aku pulang." Gadis itu menggerutu dalam hati.
"Ini bukan hal yang bisa di main-mainkan ya, Dok. Aku udah malu dari tadi, lihat apa yang aku pakai! lihat wajahku. Semuanya serba polos, harusnya acara seperti ini di abadikan, aku harusnya terlihat cantik. Bukan seperti ini. Kirain dokter serius, ternyata enggak. Apa masalahnya kalau aku di antar pulang sama Kevin, aku juga gak kenal, ketemunya cuman di rumah sakit doang. Tua-tua gini, kalau boleh minta, aku juga gak mau nikah sama duda. Kayak gak laku banget jadi orang." Juna berucap dengan emosi yang tertahan, tak ingin keluarga mereka mendengarnya. Juna menangis dengan menutup mulutnya.
Adzka jadi merasa bersalah. Entah kenapa, rasa cemburunya selalu saja membuatnya menjadi emosi.
"Maaf!" ucapnya lagi
"Boleh peluk?" tiba-tiba Adzka mengucapkan kata itu, membuat Juna membulatkan matanya sempurna, spontan menggeleng. Adzka yang melihat gadis nya sudah tak menangis lagi kembali duduk di kursinya.
"Aku serius ingin menikahi mu. Apa kau siap menikah denganku secepatnya?"
"Mm ... aku gak tau. Kau bicarakan saja sama Papa. Kalau boleh meminta aku ingin minta waktu 6 bulan lagi."
"Kenapa harus 6 bulan?" laki-laki itu tampak keberatan
"Ya, gak ada. Mau gitu aja." ucap gadis itu pula 'aku malu tau, nanti di bilang tetangga buru-buru banget, di kira aku hamil di luar nikah lagi.' Juna membatin
"Aku setuju! Tapi ada syaratnya!" Adzka juga merasakan waktu 6 bulan cukup untuk memberikan sesuatu yang dulu pernah ia impikan.
__ADS_1
"Apa?" Juna mengangkat dagunya
"Kau di rumah saja, belajar jadi istri yang baik. Jangan kelayapan. Dan ... tak usah kerja." kata-kata itu sengaja di jeda Adzka, memberikan penekanan pada kata paling akhir ucapannya.
"Dih, gak bisa gitu dong. Masak aku pengangguran seumur hidup, masih tunangan aja gak di izinin kerja, apalagi nanti kalau udah nikah!" Juna mencebik, rasanya sia-sia dia memiliki ijazah.
"Kalau tak setuju aku akan bilang Om kalau kita nikahnya minggu depan." Adzka ingin bangkit dari duduknya, namun Juna menahannya.
"Eh, eh ... iya iya. Iya deh. Setuju." Juna memutar-mutar cincin yang ada di jari manisnya.
"Pasti bosan deh di rumah terus." bibirnya manyun seperti donal bebek.
"Jelek ah! udah yok masuk. Angin malam gak bangus untuk kesehatan." tangan kiri Adzka menarik bibir Juna yang sedang manyun, membuat gadis itu terkejut dan spontan menepuk lengan Adzka yang gratil.
"Jangan pegang-pegang bukan muhrim." ucap Juna ketus. Adzka menghentikan langkahnya yang sudah di bibir pintu
"Bukan, bukan Muhrim! belum muhrim!" ucapnya menunjukkan kedua lesung pipinya, membuat pipi Juna merona.
"Mm ... dok!" Juna bangun menghampiri Adzka yang masih diam di tempatnya.
"Aku belum mencintaimu, tapi kalau halal nanti aku akan mencoba mencintaimu." ucap Juna menatap lekat wajah yang selalu tampak tampan itu.
Adzka tersenyum dan mendekat kearah Juna.
"Tak masalah! aku akan membuatmu cinta kepadaku." ucapnya memegang puncak kepala Juna, mengacak rambutnya.
.
.
.
.
__ADS_1
Haduuuh, othor pengen nyanyi nih gaes. Aku bisa membuatmu cinta kepadaku meski kau tak pernah mencintaiku, biar saja waktu yang kan menjawab semua padamu...., hahah, berasa riang gembira bener saya akhirnya step by step menuju halal ini.
Makasi yang udah mau baca ya, saran dan kritiknya di kolom komentar boleh loooh ✌️😉