Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
18


__ADS_3

"Anak laki-laki cengeng, jatuh dari sepeda, layangan, Arjuna!" Juna mencoba membuka kembali memorynya. Untuk mengingat sesuatu adalah kelemahan Juna, tapi ia tetap mencobanya. Arjuna, kata itu memang sedikit familiar ditelinganya, memang dia merasa pernah dipanggil seseorang dengan nama itu.


"Jadi kau bocah tengil yang sok sebaya itu! wah sudah besar kau sekarang ya!" Juna seperti baru saja bertemu dengan keponakan saja.


"Ya aku sudah dewasa sekarang, aku sudah tidak takut ketinggian, tak cengeng lagi!"


"Tapi masih tengil!"


"Tidak! aku berwibawa sekarang kan!"


"Iya deh, wibawa." senyum manis Juna terukir disana, sejenak dia melupakan konflik batinnya dan mulai kembali mencair kepada Adzka.


"Aku sudah pantas mendapatkanmu kan? aku mau kau menjadi pendampingku, Juna! aku serius." suasana seketika menjadi hening, bahkan tak ada suara jangkrik sebagai tanda candaan Adzka itu garing, tapi dia juga sedang tidak bercanda. Senyum Juna kembali hilang. Malam dimana ummat muslim memulai shalat tarawih pertama mereka, Adzka mengutarakan keseriusannya.


"Aku tak tau, aku tak berani mengambil resiko, Dokter! aku tak mau menjadi janda, aku tidak mau. Aku tak mau nanti anakku akan bernasib sama sepertiku. Hiks ... hiks, aku tak mau Adzka. Usia kita juga terlampau sangat jauh. Apa kau bisa mengimbangi ku, apa kata orang nanti. Kau seorang dokter, tampan, mapan sedangkan aku? hah ... sudah lah. Tolong antarkan aku pulang sekarang!" masih terisak, Juna hanya menundukkan pandangannya. Dilema dalam hatinya membuat kepalanya terasa sangat pusing saat ini.


"Dokter, tolong antarkan aku pulang!" Juna mengangkat kepalanya, menatap Adzka yang masih menatapnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Philophobia. Kau harus segera disembuhkan, Jun. Aku tau kau nyaman denganku kan? tapi kau melawan perasaanmu. Kau sengaja menghindariku dengan alasan yang kau buat-buat. Jangan siksa dirimu, jangan siksa aku juga. Bertahun-tahun aku menyimpan rasa ini. Kau lah orang yang ada dihatiku sejak aku mengenal cinta. Dulu ku fikir itu hanya sekedar cinta monyet, tapi aku ternyata memang jatuh cinta pada monyet itu!" disela keseriusannya dia mencoba menyisipkan sedikit candaan.


"Aku tidak sakit! aku baik-baik saja. Kau hanya terlalu pede, kau hanya ku anggap teman tak lebih." Juna membuka sabuk pengaman yang masih melekat ditubuhnya, keluar dari mobil dan berlari meninggalkan Adzka.


"Aku tidak sakit! aku memang tidak punya rasa apa-apa kepadanya!" jerit batin Juna sambil berlari menyeberangi jalan. Untungnya jalan sedang sepi, jadi dia masih selamat karena dia tak melihat kiri kanan sedikitpun.


Adzka pun mengejarnya, ini masih jauh dari rumah gadis itu. Dia harus menyelesaikan semua ini segera agar tak berlarut-larut.

__ADS_1


"Jun, tunggu!" ucapnya sambil berlari. Tiba-tiba suara decitan rem mobil yang di injak mendadak terdengar begitu kencang ditelinga Juna. Spontan kakinya berlari menuju asal suara. Bayangan yang tidak-tidak merasuki pikirannya.


"Adzka!" jeritnya ketika tubuhnya semakin dekat dengan sosok berkacamata itu.


\=\=\=\=\=


"Ma, Zuan mau bicara serius!" ucap polisi tampan itu membantu sang mama membereskan sisa makanan mereka. Zuan pun menyuci piring-piring kotor, sedangkan Fatmala membersihkan meja makan yang tampak kotor karena kuah gulai dan sambal yang tak sengaja terjatuh saat disendok.


"Seserius apa sih, Zu. Kok mukanya tegang banget."


Zuan membersihkan tangannya dengan sabun anti kuman dan mengeringkannya dengan handuk yang sengaja digantung di dinding dapur.


"Zuan buatin teh kesukaan mama dulu ya, Ma. Mama tunggu sambil nonton tv aja deh!" Zuan membalikkan tubuh mamanya menghadap keruang tv.


Ia pun duduk sambil memeluk bantal kecil yang selalu berada diatas karpet, sudah lama rasanya dia tak memiliki kesempatan untuk bersantai seperti sekarang ini. Biasanya dia akan pulang malam, jangankan untuk menonton tv, menyapa anaknya saja tak bisa. Terkadang anak-anaknya sudah masuk ke kamar masing-masing, atau bahkan keduanya juga belum pulang bekerja.


"Teh sehat, sedap tanpa penyedap sudah datang." Zuan membawa nampan yang berisi dua gelas teh.


"Terimakasih anak mama yang baik hati! duduk sini. Mama sudah tak sabar."


"Mama jangan marah ya, Ma. Sebelumnya Zuan minta maaf. Zuan gak bisa ikutin apa mau mama dan Papa kali ini." Zuan menarik nafas dalam-dalam terlebih dahulu sebelum memulai ucapannya.


"Maksud mu apa, Nak?" tanya Fatmala lembut.


"Zuan tak pernah mencintai Ismi, Zuan mencintai Dewi, Ma. Dan Dewi juga sama, kami sudah berpacaran 3 tahun terakhir ini. Tadinya kami masih akan tetap merahasiakannya sampai Adzka jadian sama pilihannya. Tapi kemaren Ismi datang ke kantor, dia bilang dia ingin segera menikah. Ternyata Ismi juga sudah punya pilihan sendiri, Ma. Ismi tersiksa karena perjodohan itu. Disatu sisi ia ingin menikah dengan pujaannya, disisi lain dia tak ingin melukai perasaan orang tuanya. Maafin Zuan, Ma!" Zuan terus menggenggam tangan orang yang paling dia hormati itu Raut wajah Fatmala tampak berubah tak seperti tadi.

__ADS_1


"Bagaimana ini bisa terjadi? bukankah kau sendiri tau kalau Dewi sangat menginginkan Adzka." wajah dokter spesialis itu seketika menjadi datar dan dingin.


"Ma, Adzka sama sekali tak pernah menganggap keberadaan Dewi. Dewi harus sadar itu! dan aku ... aku sangat menginginkannya, Ma. Sudah saatnya Dewi bahagia, tak lagi mengemis cinta."


"Apa kau bisa membahagiakan Dewi? kau bisa memastikan itu, Zuan! lalu bagaimana dengan keluarga Ismi?"


"Sebenarnya Zuan sudah jatuh cinta pada Dewi sejak dulu, Ma. Mungkin karena Zuan selalu melihatnya kesini dulu saat kerja kelompok dengan Adzka. Tapi cintanya malah untuk Adzka, Zuan berusaha selalu menghiburnya saat Dewi tampak sedih karena kejutekan Adzka. Awalnya aku hanya menganggapnya sebagai adik saja, tapi lama kelamaan dia semakin cantik. Dan ternyata perasaan itu tumbuh dengan sendirinya." jelas Zuan.


"Zuan hanya butuh restu dari mama. Kalau restu itu sudah Zuan kantongi semuanya akan aman, Ma."


"Hm ... kau pikir restu mama ini seperti SIM saja!" dengan helaan nafas yang lebih panjang dari biasanya, Fatmala kembali ke wajah ramahnya. Seperti sudah menerima kenyataan yang tak sesuai dengan keinginannya.


Sekeras apapun usaha, Semantap apapun planing, jika tuhan tak berkehendak, semua tak akan terjadi. Nasi yang sudah dalam piring, yang sudah siap disantap bisa saja tumpah atau dimakan kucing kalau itu bukan rezeki sipemiliknya.


Telepon genggam Zuan berdering, notifikasi pesan masuk. Dibukanya dengan cepat pesan yang sedikit tampak dilayarnya apalagi itu dari Dewi.


"Bang, ayah mau ketemu habis shalat tarawih malam ini." tulisnya singkat. Zuan tersenyum kecut, nafasnya sedikit tercekat. Hm, Dewi pasti sudah membicarakan hal ini kepada orang tuanya pikir Zuan.


"Ma, Dewi bilang papanya ngajak ketemu habis shalat Tarawih nanti. Bagaimana, Ma? Mama sudah mengijinkan kan, Ma?" tanya Zuan lagi memastikan keputusan mamanya.


"Ya sudah la, mau bagaimana lagi. Kalau kalian sudah saling suka mama mau bilang apa! tapi Adzka bagaimana?"


"Adzka sudah punya target dari dia masih berumur 6 tahun, Ma! dia tidak suka gadis yang sebaya dengannya." Zuan menyeringai, memeluk sang mama kemudian mengecup pucuk kepalanya.


"Terimakasih, Ma. U are my everyting. Terimakasih sudah menyayangiku sama seperti Adzka." ucapnya menyium punggung tangan dokter Fatmala dengan hormat kemudian mengambil kontak mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2