Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
48


__ADS_3

Detak jantung gadis itu begitu mengganggu. Iramanya tak selaras seperti biasanya, ada perasaan bergemuruh dalam dada, kebahagiaan yang begitu membuat bibir gadis itu tak bisa menutup rapat. Senyuman bahkan sedikit tawa tak bisa ia hentikan.


"Ada apa dengan ku? kenapa seperti ini. Mungkin suami istri seperti itu ya, menyiapkan makanan, menemaninya makan, sedikit berbincang, hm ...." Juna menatap langit-langit kamarnya.


"Walau hanya sehari, tapi aku merasa sangat bahagia. Meskipun ada beberapa butiran air mata yang jatuh sih, Terimakasih ya Allah." batin Juna berdo'a.


Gadis itu membuka kotak pemberian Adzka. Diambilnya beberapa kertas putih yang berada di dalamnya.


Cinta ... aku tidak mengetahui dengan pasti


Ini cinta atau hanya sekedar mengagumi


Dia berbeda, tanpa polesan bahkan bau


Tapi aku suka


Disaat wanita seusianya sudah mahir menata rambut,


Aku lebih suka melihatnya, walau rambutnya yang panjang terurai seperti tak terjamah sisir sedikitpun


Kalau memang ini benar-benar cinta,


Berarti benar cinta itu buta.


"Ya ampun, ini kertas sudah kelihatan usang sekali. Tahun yang tertera dikertas ini?" juna menghitung menggunakan jari nya.


"Berarti dia menulis ini waktu dia SMA, sialan dia bilang aku bau!" Wajahnya berubah, tapi kembali berbunga-bunga lagi.


"Sebegitu cintanya kah kau, Dokter." Juna meletakkan kertas itu di dadanya. Perasaan bahagianya dikalahkan dengan rasa sedihnya. Ingatannya tentang sosok perempuan paruhbaya itu, membuatnya tersenyum paksa.


"Aku tidak akan membuat Ibu kecewa." di simpannya kembali kertas itu, kalung liontin ungu yang sedari tadi dipegangnya dan sempat teringin memakainya, kembali dimasukkannya kedalam kotak.


"Ini mungkin ujian dalam pertunangan sepertu kata orang-orang. Eh, aku kan belum tunangan!" gumam Juna sendiri, menepuk jidatnya.


\=\=\=\=


Kamar yang sangat jauh berbeda ukuran dengan kamar miliknya itu namun tetap membuat laki-laki berkacamata tersebut merasa nyaman.


"Andai Engkau mengizinkan kami halal ya Allah ...." ungkap Adzka lirih.


Flashback


"Lama sekali mandinya, Dok. Apa udah minum air waktu mandi?" tanya Juna ketus. Dia sudah menunggu lama di meja makan. Lia dan suaminya sudah duduk di ruang keluarga.


"Gembung dong! Tante sama om mana?" Adzka menarik kursi makan minimalis itu.


"Lagi nobar lah. Lihat tuh jam berapa? ayah tidak akan melewatkan acara kesukaannya." Juna menghampiri Adzka, menyendokkan nasi kepiring yang sudah terbuka di hadapan laki-laki tampan itu.


"Terimakasih, perhatian banget." ucap Adzka tersenyum sumringah.


"Jangan terlalu bahagia begitu. Aku hanya menjalankan titah sang ratu." jawab Juna menunduk.


"Lauknya mau apa?"


"Semua!"

__ADS_1


"Laper, Boss?"


" ...." Adzka hanya menjawab dengan senyum termanisnya.


"Ya Allah, senyumnya. Kalem Juna, kalem." gumam Juna


Juna mengambil gelas kemudian menuangkan air, kebetulan jarak dring jar itu jauh dari tempat Adzka duduk.


"Terimakasih ...."


"Andai aku bisa mengatakan Terimakasih, Istriku. Aku akan menjadi laki-laki paling bahagia." Adzka membatin


\=\=\=\=\=


Sayup-sayup terdengar suara merdu mengalun melantunkan ayat-ayat suci. Adzan subuh masih tersisa 30 menit lagi.


Lia keluar dari kamarnya, menuju dapur. Apalagi tujuan ibu rumah tangga setelah bangun pagi kalau bukan itu. Spot terfavorit seluruh IRT.


Langkah Lia terhenti saat pemandangan didepan matanya membuatnya tak percaya. Dia pun mengerjapkan netranya, sedikit menggosoknya.


"Apa ini mimpi?" gumamnya


Perempuan yang selama hidupnya selalu dirindukkannya itu, kini tampak tengah sibuk dengan apron yang terpasang dibadannya.


Kedua bahu Lia dipegang oleh suaminya, membuat wanita itu terkejut. Suaminya menggunakan bahasa isyarat, seolah bertanya kenapa istrinya mematung seperti itu. Seolah mengerti, Lia menunjukkan jarinya kearah dapur.


Reaksi yang sama hadir dari wajah sang suami.


"Itu kakak, Ma?"


"Iya, Yah." jawab Lia datar


"Hooh." Lia menjawab sambil mengangguk.


"Cinta memang merubah segalanya, mengubah duri jadi mawar, mengubah cuka jadi anggur, mengubah iblis jadi malaikat, mengubah musibah jadi mahabbah. Itulah cinta." ucap laki-laki yang dipanggil Juna dengan sebutan ayah itu, mengutip defenisi cinta dari Ayatul Husna dalam KCB.


"Cinta, Bang! Marchel bagaimana?" Lia dan suaminya saling bertatapan.


Ceklek!


Suara pintu kamar terbuka, Adzka pun keluar dari balik pintu, tampak sudah rapi.


"Mau kemasjid, Om?" sapa Adzka


"Ya, ayo" jawab laki-laki paruh baya itu.


Mereka berdua pun meninggalkan Lia yang masih memikirkan masalah anaknya sendiri.


"Cinta, Adzka ... Marchel. Duh, tau ah. Pusing kepala saya." Lia mengunci pintu, kemudian berjalan kearah dapur menemui anak gadisnya.


"Masak apa, Sayang." sapa Lia


"Nasi uduk, ayam geprek."


"Buat sarapan pagi ini?" Lia memastikan.

__ADS_1


"Iya, memangnya kenapa, Ma?"


"Hm ... gak apa-apa kok. Mama mandi dulu ya." Lia meninggalkan Juna yang masih sibuk menggoreng ayam.


"Itu sarapan atau makan siang?" Lia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Setelah semuanya selesai, Juna membersihkan dirinya dan melaksanakan shalat subuh. Jam 6 kurang 15 menit, kedua laki-laki yang berangkat ke masjid sampai kembali kerumah sederhana itu.


"Sekalian jalan pagi, Bang?" tanya Lia melihat suaminya yang mengambil segelas air putih


"Iya, ngenalin lingkungan juga sama Adzka. Siapa tau dia mau jadi warga sini." ucapnya asal.


"Iya kan, siapa tau. Bisa aja kan, Dok?" sambungnya lagi


Adzka hanya tersenyum. Penerbangannya pukul 09.45 pagi ini. Dia harus segera bersiap-siap. Mereka semua kini berkumpul di meja makan.


"Ayam geprek?" ucap laki-laki paruhbaya itu. Menatap sambal yang sudah berlumuran disekitar daging ayam. Perutnya terasa akan bermasalah melihat sambal semenyeramkan itu.


"Ayah, makan saja." ucap Lia berbisik.


Berbeda dengan Adzka, sajian yang ada di hadapannya kali ini begitu menggugah selera ditambah lagi dia melihat perjuangan gadi yang memasaknya.


Sebenarnya, Adzka mendengar beberapa kali suara benda jatuh dari arah dapur saat dia baru saja terbangun. Dengan hati-hati Adzka mendatangi asal suara. Dan senyumnya seketika mengembang melihat Juna sedang berjibaku dengan alat-alat masak di dapur.


Mereka semua sudah siap melahap sajian tersebut, Adzka mengambil benda keramat milik Juna.


"Nih!" Adzka memberikannya kepada Juna.


Kedua orang yang pernah muda di antara mereka saling bertatapan dan mengumbar senyum. Botol kecap menjadi saksi bahwa kedua anak muda itu menaruh perhatian lebih antar keduanya.


"Semoga kau suka ayam geprek dengan sambal judes ini, Ka." gumam Juna dalam hatinya. Entah apa yang membuatnya serasa ingin memberikan kesan terbaik dipertemuan terakhir mereka ini. Kesukaan Adzka terhadap sambal membuat Juna teringat dengan pertama kalinya mereka makan berdua.


"Terimakasih sudah bersusah payah memasak untukku, Jun. Kau tak perlu berkata-kata. Aku sudah bisa menyimpulkan sendiri bagaimana perasaanmu terhadapku. Aku yakin, aku tidak sedang berlebih percaya diri. Masalahnya saat ini hanya ibu ku." gumam Adzka pula.


"Terimakasih sudah menerima saya disini, Om ... tante." ucap Adzka disela-sela makan.


"Ini bukan apa-apa, Dok. Justru tante dan keluarga berterimakasih, karena kau rela merawat Papanya Juna tanpa pamrih." ucap Lia, kata-kata itu keluar begitu saja membuatnya menyesalinya. Tapi tak mungkin kata yang sudah keluar ditarik kembali.


"Memangnya Papa kenapa, Ma? Ayah? Dok?" Juna menghentikan makannya. Apa yang terjadi dengan Papa, kenapa aku tidak diberitahu apa-apa. Batinnya berkecamuk.


"Hm, itu ... Papamu kemarin ada masalah di jantungnya. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa kok. Yakan, Dok." Lia mencoba menjelaskan.


"Kenapa tidak ada yang kasi tau aku. Papa ...."


"Waktu Juna pulang, Papa sehat-sehat aja kok. Memang papa kelihatan kurus. Sebenarnya Papa sakit apa? kenapa semuanya di sembunyikan seperti ini?" Air mata Juna menetes, ingin rasanya ia segera menemui laki-laki yang membesarkannya itu.


"Tenang, Om waktu itu mengalami penyempitan di pembuluh darahnya. Sudah di tangani, kami sudah melakukan operasi pemasangan ring. Dan sekarang Om sudah sangat sehat, tak ada yang perlu di khawatirkan." Adzka menjelaskan sedikit terperinci.


"Ya Allah, Alhamdulillah. Terimakasih Dokter. Terimakasih." Juna merasa sangat bersyukur.


.


.


.

__ADS_1


Hai mba Yanti delfiyanti, like terus 😁


Komentarnya manaa? ✌️✌️


__ADS_2