
Langit malam yang bertabur gemerlap bintang memberikan cahaya terang di kelamnya malam, gadis berbaju rapi dengan kemeja panjang dan rok dibawah lutut berjalan menyusuri komplek perumahan.
Mulai dari post satpam gadis itu berjalan kaki, angkot yang ia tumpangi tak mungkin ikhlas mengantarnya sampai kedepan rumah.
Dengan memeluk map, serta tas yang ia sampirkan di bahu kanan, gadis itu berjalan dengan wajah yang tampak kelelahan. Susahnya mencari pekerjaan di zaman sekarang ini, pikirnya. Walaupun ia sudah memasukkan beberapa lamaran pekerjaan via email, tapi gadis itu juga mencari pekerjaan langsung ke sumbernya.
Waktu sudah menunjukkan hampir jam 7 malam, gadis itu mempercepat langkahnya.
"Aku belum shalat maghrib!" ucap gadis itu berlari sampai ke rumahnya yang hanya tinggal seratus meter lagi.
"Assalamu'alaikum, Bunda." ucap gadis itu, Cindy menjawabnya dari dapur. Jam segini, pasti dia sedang menyiapkan makan malam, pikir Juna
Juna menaiki anak tangga, membuka pintu kamarnya dengan tergesa-gesa, setelah meletakkan barang penting yang ia bawa diatas meja riasnya, wanita itu menyambar handuk yang ia gantung di balik pintu.
Sepuluh menit kemudian gadis itu sudah keluar dengan memakai piyama tidurnya. Membentang sajadah dan mengenakan mukena biru muda, gadis itu larut dalam ibadahnya.
Suara bunda dari bawah yang menyerukan namanya membuatnya segera menyudahi doanya, di usapnya wajah manisnya dengan kedua tangannya yang tadi sedang
bersatu menengadah mengharap Tuhan mengabulkan segala doanya.
"Iya, Bunda. Juna makannya nanti aja ya. Mau tiduran dulu." ucap gadis itu dari pintu yang sedikit ia buka, hanya menampakkan kepalanya dan rambutnya yang terurai.
Gadis itu membaringkan tubuhnya diatas kasur.
"Seronoknye dapat baring!" ucap nya menirukan gaya dua bocah kembar yang selalu ia tonton setiap sore hari.
Tak menunggu lama, mata itu terpejam. Juna sudah masuk ke alam mimpinya yang indah.
\=\=\=\=\=
Wanita paruhbaya tampak sholat diatas kursi rodanya, berada di shaf kedua sebelah kiri pojok, di sebelahnya tampak gadis berjilbab yang sudah membuka mukenanya, menyisakan kain bagian bawah dengan tangan yang masih diangkat keatas lurus dengan dada. Dalam musholla itu hanya ada kipas angin, membuatnya sedikit merasa kegerahan berlama-lama memakai mukenanya yang lumayan berbahan tebal.
"Sudah, Ma?" ucap Dewi lembut, disusul anggukan Fatmala. Dewi pun mendorong kursi roda itu keluar dari musholla berwarna hijau kuning tersebut.
Adzka dan Zuan sudah menunggu didepan pintu, mobil memang sengaja mereka parkirkan di depan musholla, hanya ada mobil mereka disana dan beberapa sepeda motor saja, warga komplek sekitar banyak yang berjalan kaki, sehingga tak banyak kendaraan yang terparkir.
Zuan menggendong tubuh mamanya, membawa wanita paruh baya itu kedalam mobil dan mendudukkannya di kursi paling depan sebelah pengemudi. Semua penumpang sudah masuk kedalam mobil tersebut.
__ADS_1
"Udah siap kan, Ka? biasa aja mukanya gak usah tegang gitu!" Zuan melihat Adzka dari kaca yang ada di depannya, laki-laki itu menghidupkan mesin mobilnya. Mobil putih itu berjalan lambat di belakang sepeda motor yang baru saja mendahului mereka. Kaca mobil Zuan masih terbuka saat klakson motor tersebut berbunyi menyapanya.
"Siap, Ndan." ucap laki-laki berperut buncit itu.
"Camer lewat tuh!" ucap Zuan sambil tertawa, disusul oleh yang lainnya.
Flashback
Suara bel rumah beberapa kali berbunyi, menandakan ada tamu yang datang berkunjung kerumah putih tersebut.
Zuan bangkit, membuka pintu utama.
"Eh, Ndan. Silahkan masuk." Zuan terkesiap melihat tamu yang di balik pintu yang ia buka. Sosok laki-laki gagah bersama dengan istrinya yang anggun berdiri menunggu.
Rudi dan Cindy masuk beriringan, Zuan mengarahkan tamunya menemui mama, istri, dan adiknya yang sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Eh, Om." Adzka yang kini rebahan memeluk kaki mamanya yang berselonjor di karpet, bangun dan menyalami ke dua tamu tersebut secara bergantian.
"Bagaimana keadaannya, Mba. Sudah semakin membaik ya sepertinya." ucap Cindy, Fatmala tersenyum ramah menerima uluran tangan Cindy.
"Alhamdulillah, seperti inilah. Maaf saya selonjoran ya. Kaki saya yang masih sakit." ucap perempuan paruh baya itu, Rudi dan Cindy mengangguk paham.
"Silahkan di minum, Pak ... Bu" ucap Dewi
"Terimakasih, sepertinya ada yang mau jadi ayah ini." ucap Cindy, Zuan yang menyimak percakapan itu langsung menjawab membenarkan keadaan istrinya yang berbadan dua.
"Mohon doanya, Bu" kata Zuan
"Anak gadisnya mana, Pak? kok gak ikut?" Fatmala membuka pembicaraan serius, kebetulan sekali orangtua Juna datang berkunjung.
"Oh, Juna sedang keliling, Dokter. Katanya mau cari kerja, maklumlah." Rudi menatap Fatmala saat menjawab pertanyaan darinya. Laki-laki itu memang selalu menatap mata setiap lawan bicaranya, kecuali jika sudah bersama dengan koran tentunya.
"Dia masih disini?" tanya Adzka heran. Tapi, sepertinya hanya dia yang keheranan.
"Juna sudah enggak akan balik kerja ke Makassar lagi. Dia stay disini. Marchel sudah mengikhlaskannya mengejar cintanya disini. Mungkin ...." Rudi mengendikkan bahunya, tersenyum penuh arti menatap Adzka yang masih tampak heran.
"Maksudnya?" ucap dokter muda itu.
__ADS_1
"Marchel saat ini di Jepang, hampir satu bulan yang lalu tepatnya tanggal ... hm." Zuan membuka aplikasi pesan singkat di hapenya.
"Tanggal 12 kemarin, dia berangkat ke Jepang mamanya sedang berobat disana. Dia sudah mengikhlaskan Juna untuk pulang ke Medan, dan mengikhlaskan ikatan pertunangan mereka yang sebenarnya belum di resmikan. Iya kan, Komandan?" lanjut Zuan lagi.
"Iya, saya juga waktu itu terus menunggu. Kapan peresmian pertunangan mereka, kenapa lama sekali setelah Juna mengabari saya kalau dia memutuskan untuk menerima lamaran Marchel. Tadinya saya kira mungkin Marchel memilih untuk terus menikah saja. Eh, gak taunya Juna nelpon kalau Marchel menyuruhnya pulang ke Medan. Nasibnya lah, mungkin tidak jodoh, mau di paksakan juga gak akan bisa." terang Rudi
"Kalau begitu pas! nanti malam kami akan bertamu kerumah Bapak. Kami akan meminang Juna secara resmi. Aku ingin meminang Juna untuk anak bungsu ku ini." Fatmala berucap dengan penuh keseriusan.
"Mama ... tanya dulu kek sama Adzka, dia mau apa enggak." Zuan menggoda Adzka yang tampak menahan senyumnya.
"Oh iya, Mama lupa. Nanti di kira mama egois lagi. Adzka ... bagaimana, Nak? udah cocok ini?" ucap Fatmala. Semua mata kini tertuju kepada laki-laki yang tampak begitu bahagia.
"Cocok, Ma. Cocok!" ucap Adzka memberikan dua jempolnya, seisi ruangan itu dipenuhi dengan gelak tawa. Dua keluarga sebentar lagi akan bersatu menjadi keluarga besar.
flashback off
\=\=\=\=\=
Cindy membuka pintu rumahnya lebar-lebar, daun pintu yang terpasang dua ia buka semuanya. Rumah itu tampak sunyi seperti hanya ada Cindy disana.
Setelah semua tamu masuk ke dalam rumah, tentu saja laki-laki berkacamata itu mencari keberadaan wanita pujaan hatinya. Netranya berkeliling menatap setiap runag, berharap sosok itu ada di salah satu nya.
"Mana dia?" Rudi bertanya kepada istrinya, Cindy menjawab dengan berbisik, namun yang lainnya bisa mendengarnya walau samar.
"Maklum ya, Mba. Tadi sampai rumahnya jam 7-an gitu. Kecapean barang kali." ucap Cindy, Fatmala memakluminya. Sambil menunggu, Cindy menyuguhkan aneka jajanan pasar dan teh hangat.
Rudi meninggalkan mereka, berjalan menaiki anak tangga menuju kamar putri sulungnya itu, mengetuknya perlahan namun tak ada sautan. Di bukanya daun pintu yang tak terkunci itu, anak gadisnya tampak tertidur diatas pembaringan. Rudi menutup kembali pintu kamar itu dengan sangat hati-hati, tanpa mengeluarkan suara laki-laki itu pun turun dan menemui kembali tamunya.
"Permisi semuanya. Maaf ya, kalau sebentar lagi kalian akan menyaksikan drama, akan ada orang yang menuruni anak tangga dengan kecepatan diatas rata-rata." ucap Rudi yang berdiri disudut ruang tamu.
Semuanya tampak bertanya-tanya, kecuali Cindy. Dengan menggeleng-gelengkan kepalanya, Cindy mencoba memberikan penjelasan.
"Maaf ya, Mba. Tingkah mereka ini memang begini. Kalau ketemu saling mengganggu, kalau pisah saling rindu." ucap ibu sambung dari gadis yang sedang di tunggu mereka. Masih belum mengerti, semuanya di kagetkan dengan suara Rudi yang menggelegar seisi ruangan.
"Kakak bangun!! Juna, ayo makan!! dalam waktu lima menit gak turun juga Papa akan ...." belum selesai Rudi berbicara terdengar sautan jauh dari arah kamar.
Pintu kamar terbuka, Juna menuruni anak tangga secepat kilat, sepertinya satu langkah kakinya menapaki 5 anak tangga tanpa terjatuh tentu saja. Dalam waktu tiga menit, Juna sudah berada di hadapan Papanya.
__ADS_1
"Siap, Pa!" ucap gadis itu dengan wajah khas bangun tidurnya. Suara tepuk tangan riuh dari para penonton membuat Juna mengedarkan pandangannya.
"Loh, Kok?! Papa ...." Juna memeluk tubuh kekar itu, dengan kaki yang terus menghentak lantai.