
Suasana dalam kamar VVIP tersebut begitu bahagia, perasaan senang semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut seolah memberikan cahaya terang di gelapnya malam.
Dengan masih berseragam lengkap Zuan orang yang terakhir sampai, memeluk wanita yang masih tampak cantik di usianya yang tak lagi muda. Dewi sudah lebih dulu di sana bersama Papanya yang kebetulan sedang ada urusan pekerjaan di kota ini. Nia dan juga dokter pengganti yang menggantikan Fatmala di klinik miliknya juga datang menjenguk.
"Benar-benar keluarga terpandang, semuanya dari praktisi kesehatan dan kepolisian." Juna berbicara dalam hati, menatap bangga pemandangan yang sedap di pandang mata. Gadis itu membereskan barang-barangnya, kemudian berjalan tanpa mengendap-ngendap meninggalkan mereka yang masih berbahagia.
"Pekerjaanku selesai." ucapnya lirih menutup pintu ruangan itu, kepergiannya hanya ditangkap oleh satu pasang mata yang masih tampak lemah, namun membiarkannya luput dari pandangan.
Juna membuka aplikasi ojek online sambil berjalan, koridor rumah sakit yang tampak sepi membuatnya tetap melanjutkan langkahnya. Saat memasuki lift gadis itu masih saja fokus dengan benda pipih miliknya, sampai tak menyadari keberadaan laki-laki berjas putih yang ada di sebelahnya.
"Mau pulang, Dek?" suara itu begitu enak di dengar, mungkin kalau menyanyi akan sangat merdu
"Eh, dokter. Iya, Dok." ucap Juna menghentikan kegiatannya bermain ponsel, tak sopan rasanya jika ia masih dengan kegiatannya sendiri.
"Rumahnya dimana biar saya antar." tawar dokter tersebut dengan senyuman yang membuat Juna merinding.
"Ini dokter ganteng sih, tapi senyumnya kok serem ya. Dok ... situ orang apa bukan?" batin Juna
"Di komplek dekat sini Dokter, maaf ... tidak usah, ojek langganan saya udah nunggu." Juna menangkupkan kedua tangannya, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.
Dokter yang bername tag dr.Kevin Wardhana itu tak menyerah begitu saja, bersamaan berjalan menuju jalan keluar, dokter dan Juna tak menemukan keberadaan kang ojek disana.
"Sudah lah, tak usah sungkan. Kau juga tampak pucat sekali, ayo biar saya antar." ucap Dokter itu sekali lagi. Sebenarnya Juna masih merasa kurang enak badan seperti saat tadi pagi. Tak bisa menolak lagi gadis itu pun menurut, membuka pintu mobil CRV hitam milik dokter duda tersebut yang terparkir tepat di sebelah mereka menunggu.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah sakit terbesar di kota itu. Kepergian mereka tak lepas dari mata yang memandang dengan rahang yang mengeras dan tangan terkepal. Laki-laki berkacamata itu, wajahnya tampak memerah menahan marah. Kalau saja ia tak terlambat menyadari kepergian Juna, pasti dia yang akan mengantarkan gadis itu pulang, bukan dokter ganjen itu.
Flashback
__ADS_1
Ditengah-tengah kebahagiaan mereka Adzka mencari-cari keberadaan Juna, namun tak membuahkan hasil. Ia bertanya kepada kakak iparnya, namun perempuan itu juga baru menyadari ketidak beradaan Juna lagi di ruangan itu sejak 10 menit yang lalu.
Adzka kemudian keluar dari ruangan tersebut, setengah berlari menuruni anak tangga melihat ke lokasi parkir tempat biasa Juna menunggu ojeknya dari lantai dua. Benar saja, ia melihat gadis itu masuk kedalam mobil yang ia kenal siapa pemiliknya.
Flashback off
\=\=\=\=
Satu minggu berlalu, Fatmala kini sudah berada di kediamannya. Masih menggunakan kursi roda karena bagian kakinya masih sering mati rasa, dan dokter itu sangat mudah kelelahan.
Dewi selalu berada bersamanya, Cuti panjang, mungkin sampai bayi dalam kandungannya lahir nanti baru dokter cantik itu kembali praktek lagi. Walau masih sering mual dan muntah, sebagai menantu yang baik ia ingin selalu mendampingi ibu mertuanya.
Sebenarnya dari hati kecilnya, Dewi sangat mengharapkan kehadiran Juna bersama mereka. Tiga minggu lebih gadis itu menjadi perawat pribadi Fatmala, Dewi merasa sangat terbantu dengan itu, tapi saat mertuanya sadar, Juna tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya.
Siang itu gerimis kembali turun, bulan ini mungkin musim telah berganti. Beberapa hari terakhir hujan selalu mengguyur kota dalam waktu yang tak menentu. Adzka masuk kedalam rumah dengan tas kerja yang ia jinjing di lengan kanannya. Berucap salam setelah menutup pintu utama, laki-laki itu berjalan menghampiri Fatmala dan kakak iparnya yang sedang menonton Tv.
"Sudah. Mama sudah makan. Kau bagaimana?" tanya sang mama.
"Belum. Gak selera makan."
"Kenapa? lagi gak enak badan?" Dewi yang mendengar percakapan itu ikut bergabung.
"Enggak! ya gak selera aja." ucap Adzka menutup matanya, kepalanya masih bertumpu di tempat yang sama. Seberapapun usiamu, jika bahu ibu menjadi sandaranmu akan membuatmu nyaman dan tak ingin untuk segera pergi dari sana.
"Rindu?" ucapan Fatmala membuat kedua alis tebalnya menaut, begitu pula dengan Dewi
Rindu adalah sebuah kebenaran, yang sengaja ia lupakan, demi menjaga perasaan ibunda yang baru saja kembali melihat dunia. Egonya ia kesampingkan demi menjaga emosi orang yang telah melahirkannya, Juna bukan pilihan untuknya mempertahankan cinta yang telah bersemi dikala Tuhan memberikannya rasa yang begitu membuatnya bahagia untuk pertama kali.
__ADS_1
Sudah satu minggu sejak Adzka melihat Juna diantar pulang oleh Kevin, itu kali terakhir Adzka melihatnya. Ingin rasanya ia berkunjung ke rumah gadis itu, sekedar mengucap terimakasih, atau bahkan memberikan upah yang belum sempat mereka berikan kepada wanita yang menjaga ibu mereka saat pekerjaan tak bisa di tinggalkan.
"Apa dia baik-baik saja. Mungkinkah dia sudah kembali menemui tunangannya di Makassar? Oh ... aku bahkan lupa dia sudah tak pantas untuk ku cintai, selangkah lagi dia milik orang." itu yang sebenarnya menghantui perasaan Adzka yang membuatnya tak berselera untuk makan.
Zuan masuk kedalam rumah dengan sengaja membanting pintu.
Jedeeer!
Membuat tiga pasang mata terfokus kearah yang sama. Laki-laki berseragam coklat itu memberikan seringai khasnya.
"Apa penyakitmu kambuh?" ucap Adzka ketus, menatap kakak laki-lakinya dengan tatapan permusuhan.
"Aku sudah berdiri di pintu lima menit yang lalu, tapi tak ada yang menghiraukan ku." Zuan mencebik, membuat istrinya menghampirinya dan memberikan pelukan hangat.
"Maaf, Abang. Tadi sedang bicara serius." Dewi memeluk tubuh yang semakin berisi itu dengan mesra, tak perduli ada manusi jomblo yang menyaksikannya, kalau Fatmala pasti wanita itu sudah maklum.
"Iss ... kalian sok mesra!" Adzka meminjam kembali bahu Fatmala yang tersenyum penuh arti melihat anaknya yang semakin tampak uring-uringan. Tangan yang sedikit keriput itu mengelus pipi Adzka yang mulus.
"Makanya, jangan jomblo terus. Bilang aja kalau iri." ucap Fatmala, membuat kedua alis Adzka bertaut seperti tadi.
"Mama sebenarnya maksudnya apa sih?" Adzka membenarkan posisi duduknya.
"Kau sudah dewasa, apa mama harus menjelaskannya? sudah sana cepat, lamar gadis itu! nanti keburu keduluan dr.Kevin." ucap Fatmala dengan senyum tulusnya.
"Maksud mama?" Adzka tak berani mengambil kesimpulan sendiri, takut salah.
"Maksud mama, sana lamar Juna. Mama kangen tuh sama perawat pribadinya tempo hari. Iya kan, Ma?" Dewi dan Zuan duduk bersamaan di sebelah Fatmala sisi yang lain, Fatmala tersenyum dan mengangguk
__ADS_1
"Kalian lupa? bahkan jika dokter Kevin mencuri start pun, dia tak akan berhasil. Marchel bagaimana?" Adzka mengedarkan pandangannya menatap ke tiga orang tersebut secara bergantian.