Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
56


__ADS_3

"Hallo, Dewi." percakapan itu di mulai. Juna yang mengetahui kabar bahwa mertua temannya itu terkena stroke merasa prihatin. Tak perduli apa yang pernah di lakukan oleh wanita itu kepadanya. Dia sudah memaafkannya bahkan sudah melupakannya.


"Semoga ibu cepat sembuh. Kalian yang sabar ya. Salam buat Zuan."


"Adzka?"


"Ya ... salamin juga deh."


"Assalamu'alaikum." panggilan itu berakhir. Juna menghela nafas, ingatannya kembali menuju beberapa bulan ke belakang. Masih jelas di ingatannya percakapannya yang berlangsung selama dalam perjalanan menuju rumahnya malam itu.


Wanita paruh baya itu bahkan sangat asik menjadi teman ngobrol. Walau usianya sudah menua tapi jiwanya masih muda. Itu kesan pertama yang Juna tangkap dari sosok Dokter Fatmala.


Awan mendung menutup sore, berangsur semakin deras air dari langit itu mengguyur kota metropolitan yang tampak seperti sudah malam. Teriknya matahari siang tadi tak menjamin kalau-kalau akan datang hujan seperti saat ini.


Juna mengurungkan niatnya untuk pulang. Apotik yang tetap buka sampai malam hari itu pun tak ada pembeli. Juna memutuskan untuk tetap tinggal menunggu sampai hujan reda. Rekan ganti sipnya sesama apoteker juga belum datang. Mungkin karena hujan yang mendadak ini, rekan kerjanya terjebak hujan dalam perjalanan.


Dalam derasnya hujan, gadis itu menitipkan doa. Doa setulus hati, meminta kesembuhan atas jiwa wanita yang telah melahirkan dua orang hebat yang pernah di kenalnya.


"Berikan yang terbaik kepada ibu ya Allah. Angkat penyakitnya, berikan ia kesembuhan agar bisa beraktifitas kembali seperti biasa. Masih banyak yang membutuhkannya, Ya Allah." lirihnya.


Gadis itu pernah mendengar, salah satu saat mustajabnya doa adalah sewaktu rahmat Tuhan itu turun dengan deras.


\=\=\=\=


Wanita cantik tengah asik mendengarkan musik dalam mobil yang ia kemudikan. Setelah mengantar tunangannya ke bandara, gadis itu pergi memanjakan matanya ke sebuah mall yang ada di kotanya.


Beberapa papper bag telah mengisi kursi bagian belakang mobil. Sambil bersenandung mengikuti irama lagu, gadis itu tampak sangat bahagia.


Telepon genggamnya berdering, tertera nama kakak sepupunya di layar. Dengan malas gadis itu mengangkatnya.


"Ya, Kak."


"Apa kau tidak membaca pesan yang kakak kirimkan?"


"Baca kok, apa kakak tidak melihat centangnya sudah biru!"

__ADS_1


"Oh, jadi kapan kau kemari? apa kau tidak ingin memberikan semangat kepada dokter Fatmala?"


"Besok aku kesana! Mas Pram baru berangkat ke Makassar tadi pagi setelah dari sana dia terus ke Palangkaraya katanya, jadi aku punya waktu untuk bersama Adzka." gadis itu tersenyum licik.


"Dek, jangan seperti itu. Bu Fatmala mungkin memang membutuhkan mu, tapi kalau kau menghianati Pram kakak gak suka." Nia meninggikan suaranya.


"Ini bukan urusan kakak. Apa kakak masih mengharap mas Pramono mencintai kakak? cih, jangan mimpi ... dia mencintaiku, hanya aku!" gadis itu menampakkan ke angkuhannya.


"Lalu Adzka? asal kau tau, sekalipun aku tak pernah mengharapkan laki-laki yang sudah bertunangan apalagi tunangannya sepupuku sendiri!"


"Oh, bagus lah kalau begitu. Terimakasih sudah memberitau kabar Tante Fat. Aku akan berkunjung, tenang saja. Tante, anak kesayanganmu akan datang." Indah menyeringai, senyumannya membuat jijik Nia diseberang sana.


Panggilan itu berakhir. Ada hati yang hancur di seberang sana. Sudah sangat banyak dia mengalah, bahkan merelakan cinta pertamanya untuk gadis yang dianggapnya adik kandung itu.


Flashback On


Nia yang mempunyai orang tua komplit waktu itu, menatap iba dengan sosok gadis kecil yang tertidur diantara kedua jenazah orang tuanya. Sebuah kecelakaan tunggal telah merenggut nyawa kedua orang tuanya.


Indah kecil tertidur sambil sesekali terisak. Sisa tangisannya bahkan tidak bisa hilang meskipun dia dalam keadaan tertidur.


"Aku akan selalu ada untuk mu. Kakak janji. Apa pun untuk kebahagiaanmu." ucap Nia lirih.


Flashback off


\=\=\=\=


Adzka memberikan pijatan-pijatan ringan di sekitar kaki orang yang melahirkannya. Seperti melakukan terapi, Dewi juga melakukan hal yang sama di bagian kepala ibu mertuanya. Sedangkan Zuan hanya mengelus tangan Mamanya.


Ketiganya begitu kompak merawat wanita paruh baya tersebut. Semua ibu akan bangga dan bahagia jika anak yang mereka lahirkan dan rawat dengan baik, membalas jasa mereka walau pun sesungguhnya tak akan terbalaskan.


"Adek tidur lah." ucap Zuan, melihat istrinya yang sesekali tampak menguap.


"Iya, tidurlah Dew. Biar aku yang tidur disini. Kau jangan terlalu capek." Adzka ikut bicara.


"Sebentar lagi, aku belum mengantuk." ucap gadis berjilbab itu.

__ADS_1


"Belum ngantuk kok nguap-nguap terus, Dek." Dewi hanya tersenyum kepada suami tampannya itu.


Fatmala seakan ingin berbicara, mencoba mengeluarkan suaranya. Tapi hasilnya masih sama. Namun dari sorot matanya, semua tau bahwa dokter kandungan itu juga menyuruh menantunya itu untuk segera beristirahat.


"Iya, Dewi tidur deh. Apa kalian mau ku buatkan kopi dulu?" tanyanya. Kedua laki-laki yang kadar ketampanannya seimbang itu sama-sama menggeleng.


"Ya sudah. Ma ... Dewi tidur ya." Dewi mencium pipi mertuanya.


"Cepat sembuh, Ma." ucapnya lirih. Kemudian meninggalkan kamar tersebut. Selama Fatmala sakit, Dewi dan Zuan tinggal disana, Dewi juga mencari dokter pengganti untuk tetap menjalankan kliniknya.


Baru saja gadis itu merebahkan tubuhnya, ponselnya berdering panjang, menandakan ada panggilan suara disana. Ia tersenyum melihat nama yang tertera di layar.


"Assalamu'alaikum" ucapnya, sambutan salam dari seberang sana terdengar jelas.


"Bagaimana keadaan ibu?"


"Masih belum ada perkembangan yang baik. Harus ekstra sabar merawat dan membujuk Mama agar terapi nya sukses. Mohon doanya, ya." jelas Dewi


"Kau apa kabar? kapan menikahnya, ku dengar-dengar sudah dilamar." Dewi mengingat pertemuannya dengan laki-laki yang melamar teman dalam panggilan telepon itu.


"Ah, gak usah bahas itu. Nanti kalau ada kabar baik, tidak mungkin aku gak kasi tau kalian kan. Ya sudah tidur lah, suara mu sudah serak, kau pasti kecapean dan sudah mengantuk." Gadis dalam panggilan itu menebak dengan benar.


"Kau ternyata bisa melihat kesini ya. Apa kau memasang cctv di sekeliling kamar ini?" Dewi menyapu seluruh bagian ruangan dengan pandangannya.


"Ya bisa jadi. Awas kalau kamar itu kalian buat beradegan tidak senonoh." Gadis itu terdengar tertawa.


"Biar saja. Semua itu akan membuat naluri kejombloan mu memberontak. Cepatlah menikah kak. Aku takut nanti aku tak di izinkan terbang kalau sudah berbadan dua." ucap gadis itu terkekeh juga.


"Hei, gak ada cerita gak datang ya. Kau harus balas pengorbanan ku."


"Wah ... wah, ternyata ada yang pamrih ini. Ternyata Ikhlas mu itu palsu."


"Hahaha, makin ngawur ceritanya. Ya sudah tidur sana. Cuci kaki jangan lupa, nanti mimpi di kejar kerbau baru tau." wanita diseberang sana terdengar terpingkal, dan mematikan sambungan teleponnya tanpa mengucap salam.


"Dasar Juna. Ada-ada saja." Dewi bergegas ke kamar mandi, mencuci kakinya. Entah kenapa kata-kata Juna barusan seperti mensugestinya untuk takut kalau tak melakukannya.

__ADS_1


__ADS_2