
"Bukan aku tak normal, aku hanya mencari yang tepat, saat ini aku belum siap."
Juna, Terjebak Cinta Brondong
__________
"Selamat datang di dunia pengangguran." Setiap tugu perbatasan kota yang bertuliskan kata selamat datang, yang kulewati saat ikut Papa keluar kota, membuatku merasa tersinggung, setelah beberapa bulan menyelesaikan pendidikan ku. Dua gelar sarjana yang ku sandang, tak membuatku bangga sedikitpun. Malah sebaliknya, aku merasa malu karenanya.
Hanya menjadi penambah jumlah pengangguran di Indonesia. Tapi semuanya berubah setelah aku mendapatkan kabar dari salah satu temanku saat kuliah dulu, dia menghubungiku.
Pakaian ku sudah rapi, aku memilih memakai kemeja biru lengan panjang, dan rok hitam yang panjangnya dibawah lutut ku.
Bersama temanku Sasha, aku mendaftar kerja di sebuah rumah sakit yang membuka lowongan sesuai ijazahku.
Singkatnya, keberuntungan ada padaku dan Sasha. Akhirnya aku dan dia sekarang menjadi salah satu pekerja yang sudah mengabdi selama tiga tahun di rumah sakit itu. Aku dan Sasha menikmati pekerjaan kami. Bekerja dengan sepenuh jiwa, melayani dengan segenap ke ikhlasan di hati. Sungguh menyenangkan bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat selama bertahun-tahun ini, bisa mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keahlian dan ijazah yang ada, menurutku salah satu keberuntungan bukan?
Saat ini Sasha sedang hamil anak pertamanya, namun dia masih tetap bekerja. Mungkin dua bulan ke depan, baru dia akan cuti. Sedangkan aku masih tetap setia menjomblo tanpa ada laki-laki yang dekat dengan ku.
Sekarang aku sudah kembali kerumah Papa. Rumah sakit tempatku bekerja, berada di kota yang sama dengan tempat tinggal ku. Walau jaraknya cukup jauh. Butuh waktu satu jam untuk sampai kesana. Menurutku itu masalah bagiku. Tapi tidak untuk Papa. Satu jam perjalanan itu dekat, katanya. "Jangan cari-cari alasan agar kau bisa kost lagi!" itu ucapan Papa, saat aku mencoba untuk kembali meminta izinnya untuk tinggal di kosan yang ada disebelah rumah sakit.
Jadilah seperti ini, setiap pagi akan ada drama, buru-buru karena kesiangan, tak sempat sarapan, atau pakaian kerjaku yang tak di cuci, bahkan pernah aku pergi bekerja tak sempat mandi. Haha ... anak gadis seperti apa aku ini.
\=\=\=\=
"Apa gak berat, Sha?" Juna menatap iba, melihat teman satu profesinya yang baru saja keluar dari toilet dengan perut yang membusung.
"Coba saja kau pikir sendiri. Bayi seberat 2 kilo lebih dikit ada dalam perutku. Kemana-mana selalu ku bawa, tanpa bisa menaruhnya barang beberapa menit saja!" celetuk Sasha, penuh arti.
"Lalu kenapa kau mau?"
"Kau ini aneh, setiap orang yang menikah pasti menginginkan memiliki keturunan kan? sebelum anak itu lahir, pasti perempuan harus mengandungnya dulu. Hamil itu menyenangkan, Jun! aku bisa melihat kasih sayang suamiku semakin bertambah, orangtuaku juga. Lain lagi kalau dia menendang!" Sasha mengelus perut buncitnya.
"Memangnya kau tak kepingin? kau masih normal kan?" Sasha bergidik ngeri, menatap Juna dengan geli.
__ADS_1
"Ya masih lah! aku masih normal, Sasha!" Juna menarik kuncup jilbab yang dikenakan Sasha, perempuan satu itu selalu menggunakan jilbab dengan bagian di dekat dahi begitu runcing seperti paruh burung.
"Lalu nunggu apa lagi? keburu Zuan jatuh cinta sama orang lain!" Sasha sedikit berteriak karena Juna sudah menutup pintu kamar mandi.
"Zuan udah ada yang punya ya! jangan sangkut pautkan aku dengan dia. Tau pacarnya nanti bisa-bisa gigiku di cabutnya!" pekik Juna dari dalam kamar mandi, matanya mendelik ngeri menatap wajahnya di cermin, teringat Dewi yang akan mencabut giginya paksa karena mengambil Zuan darinya.
"Aku bukan tidak normal, aku hanya mencari yang tepat! dan saat ini, aku belum siap?" ucap Juna saat keluar dari toilet.
"Kapan kau siapnya? eh ... aku punya tetangga yang masih jomblo loh, tapi ya gitu. Masih suka ngences, mungkin racikan obatmu ditambah dengan sedikit cinta bisa menyembuhkan penyakitnya!" Sasha tersenyum manis.
"Dih! ogah!" badan Juna sedikit bergetar, mengingat laki-laki yang dimaksud Sasha. Beberapa kali datang kerumah Sasha membuatnya pernah melihat anak laki-laki yang selalu duduk di balik pagar rumahnya, dengan pakaian yang selalu basah akibat terkena air liurnya sendiri.
"Tega amat loe, jodohin gue sama yang begituan! dah ah, aku pulang duluan ya!" Juna menyampirkan tasnya, berjalan ke arah pintu melambaikan tangannya. Sasha hanya menganggukkan kepalanya sambil tertawa dan membalas lambaian tangan teman kerjanya tersebut. Dia memilih tetap disana, sampai suaminya menjemputnya.
\=\=\=\=
"Rumah sakit P, Pak!" laki-laki berkacamata, memakai kemeja coklat kotak-kotak, memasuki mobil yang dipesannya beberapa saat setelah keluar dari stasiun kereta api.
Mobil silver berlambangkan huruf S seperti yang ada di baju super hero itu melesat dengan kecepatan sedang mengantarkan penumpangnya ke tempat tujuan.
"Siapa yang sakit, Nak Mas?" tanya sopir itu ramah. Dia berfikir mungkin penumpangnya baru datang dari jauh, hendak menjenguk ayah atau ibunya yang sakit. Karena penumpangnya itu seperti baru saja datang dari tempat yang jauh mengingat banyaknya barang bawaannya.
"Tidak ada yang sakit, Pak! hanya melihat tempat kerja saya. Besok saya mulai bekerja disana!" balas laki-laki itu ramah.
"Oh, Nak Mas dapat kerjaan disana! wah, ternyata kamu ini perawat ya!" ucap supir itu lagi, "ternyata dia baru selesai kuliah, pantas saja barang bawaannya sebanyak itu!" gumamnya lagi.
"Iya, Pak. Alhamdulillah, begitu selesai kuliah dapat pekerjaan!" balas pemuda itu tersenyum ramah.
45 menit kemudian mobil itu berhenti tepat di depan rumah sakit, walau sudah sore. Tapi masih banyak mobil dan motor yang terparkir disana.
"Kenapa ya, rumah sakit itu tak pernah sunyi. Selalu saja ramai. Sepertinya setiap hari, ada saja orang yang sakit! mungkin dokter-dokter disana setiap hari berdoa supaya banyak orang yang sakit ya, Nak! apa perawat seperti bapak juga berdo'a begitu?" tanya supir taksi itu panjang, sebelum menghentikan kendaraannya.
"Kami para dokter tak pernah berdoa seperti itu, Pak!" pemuda itu melebarkan senyumnya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar disini ya, Pak! saya hanya sebentar. Setelah itu antarkan saya pulang kerumah!" Laki-laki berkacamata itu membungkukkan badannya berbicara disebelah supir yang masih duduk manis didepan kemudinya. Kemudian setengah berlari memasuki gerbang rumah sakit dan sudah menghilang dari pandangan sang supir yang bengong.
"Loh, dia dokter! malunya aku!" ucap sopir tersebut membenturkan keningnya ke setir bulat didepannya.
\=\=\=\=\=
"Kenapa, Pak? kepalanya sakit?" Juna menautkan kedua alisnya, melihat perlakuan supir taksi yang baru dilewatinya.
"Masuk saja pak kedalam, periksain kepalanya. Ada dokter jaga kok! tapi kalau dokter spesialis saraf gak ada sore begini, malam nanti baru ada!" jelas Juna panjang lebar, melihat supir itu sedang membenturkan kepalanya kebenda bulat itu.
"Enggak, Neng! saya gak sakit kok!" balas supir itu tak berani berkata banyak. Takut salah lagi. "Jangan-jangan perempuan di hadapannya juga dokter. Tapi masak dokter muda begini, pikirnya lagi. Tapi iyalah, dokter yang tadi juga muda," gumam pak supir lagi.
"Bapak! bapak! hello ...." Juna menjentitkan jarinya ke arah muka pak supir yang bengong.
"Ah, sudah lah. Bang gojek ku sudah sampai!" Juna meninggalkan supir aneh itu, setelah pemotor berjaket hitam dengan tulisan hijau dibagian belakang jaketnya sampai menghampirinya dan memberikan helm kepadanya.
Juna memakai helmnya kemudian menaiki motor bebek itu.
"Kita jalan, kak!" tanya driver di depannya.
"Menurut ngana? rupanya udah sampek ini?" ketus Juna pada supir gojek tersebut.
"Yaelah, cantik-cantik galak amat!" ucap driver itu menyalakan mesin motornya kemudian menjalankannya.
"Sesuai aplikasi!" Juna menepuk pundak driver itu. Kemudian mengencangkan pegangannya. Juna memegang erat jaket pemotor itu.
"Juna! Arjuna!" Laki-laki berkemeja tadi berlari mengejar Juna, motor yang ditumpangi Juna baru saja keluar dari halaman rumah sakit.
"Ah ... sial! padahal kesini cepat-cepat biar bisa langsung ketemu!" Laki-laki itu menendang sampah bekas air mineral di depannya. Kemudian mendatangi sopir taksi yang masih linglung mencari keberadaan perempuan cantik yang baru saja menyapanya tadi.
"Ayo, Pak! kita jalan." Laki-laki itu masuk kedalam mobil, menghempaskan badannya di kursi mobil.
Juna melihat kebelakang, melonggarkan helm yang di pakainya dengan sedikit menaikkannya keatas.
__ADS_1
"Seperti ada yang memanggil namaku!" ucapnya, saat melihat tak ada satu orangpun di belakangnya, hanya deretan mobil dan beberapa motor yang terparkir disana.