Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
61


__ADS_3

Fatmala pov


"Semakin kesini aku semakin memahami, tak salah anakku tak bisa jatuh cinta dengan gadis pilihanku. Sebenarnya aku juga tak mengetahui pasti apa sebabnya aku bisa begitu percaya Indah dapat menjadi istri yang baik untuk anakku. Ah ... tidak! menantu yang baik tepatnya. Harusnya aku memilih berdasarkan selera anakku, bukan seleraku sendiri. Yang akan menikah dan menjalani kehidupan berumah tangga kan Adzka. Aku salah! Ternyata sakit ini memang sengaja di berikan yang kuasa untuk membuka mata ku. Aku bersyukur masiu belum terlambat. Pergilah! pergilah jauh, tak usah kembali kesini lagi."


\=\=\=\=\=


Fatmala mengerjapkan netranya, dari kejauhan ia melihat gadis yang berjalan mengendap-endap seperti pencuri dengan memeluk koper mini berwarna biru.


Wanita paruh baya tersebut melihatnya dari kaca transparan yang langsung terhubung ke ruang tamu rumah mereka. Dari taman belakang, Fatmala bisa melihatnya dengan jelas. Gadis itu tak lain adalah Indah.


Hari ketiga keberadaan Indah di rumah itu, wanita paruh baya itu merasa tergores hatinya. Ucapan yang di dengarnya dari perempuan yang selalu bersikap manis di hadapannya sungguh menyakitkan.


"Nyusahin aja sih. Aku juga mau istirahat." ucap gadis itu saat wanita paruhbaya yang di jaganya meminta minum pastinya dengan kode gerakan tangan.


Laki-laki yang masih mengenakan jas identitasnya berlari menemui Fatmala dan Dewi.


"Ada apa?" Dewi menangkap wajah tegang Adzka


"Apa Indah mencuri sesuatu?" tanya Adzka pula, ia mengambil alih kursi roda ibunya.


"Mencuri apa! Indah kan di kamarnya, tadi izin mandi. Jadi kami gantian, dari pagi dia yang jaga mama." Dewi mendahului mereka, membuka pintu kamar tamu yang memang tak di tutup rapat.

__ADS_1


"Ndah ... Indah! Indah!" Dewi membuka pintu kamar mandi. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sudut manapun.


Dewi membuka lemari pakaian. Benar saja semuanya sudah kosong, tanpa tersisa satupun pakaian. Koper mini yang biasa Indah letakkan di sudut ruangan pun tak kelihatan.


"Gak ada!" ucap Dewi.


"Ya gak ada lah! Indah sudah pergi tadi aku lihat dia naik taksi. Tapi kenapa seperti membawa lari sesuatu gitu, gerak-geriknya mencurigakan. Makanya tadi aku tanya, apa dia mencuri sesuatu!"


Ting Tung!


Bel rumah putih tersebut berbunyi beberapa kali. Menandakan ada kehadiran seseorang di balik pintu itu. Bibi yang masih berada di dapur tampak berlari membukakan pintu.


\=\=\=\=\=


Dengan senyuman khasnya, laki-laki tampan itu masuk kedalam mobil, mengempaskan tubuhnya di kursi dan menyandarkan kepalanya yang tertutup topi.


"Watashitachiha ima shuppatsu shimasu, sā? (kita berangkat sekarang, tuan).


Pertanyaan tersebut hanya di balas anggukan oleh Marchel.


Ia mengaktifkan kembali ponselnya, memeriksa pesan masuk dari benda pintar miliknya itu. Senyumnya merekah menampakkan gigi ginsulnya, pesan singkat dari Juna membuatnya merasa tenang. Namun dia tak membalas apapun. Malah memblokir nomor tersebut.

__ADS_1


"Ini lebih baik." pikirnya


Marchel kemudian menelepon seseorang, wajahnya tampak amat serius.


"Tolong pastikan kalian menjaganya dengan baik. Aku tidak akan segan-segan membom kediaman kalian kalau kau dan keluargamu membuatnya menangis!" ucapnya penuh penekanan.


"Siap!" ucap laki-laki dari seberang sana. Marchel menghela nafas, membuka folder penyimpanan foto. Ia menghapus seluruh kenangan nya bersama gadis kurus itu, dia hanya menyisakan satu foto terakhir mereka saat dia mengantarkan Juna kebandara beberapa jam yang lalu.


"Aku akan simpan yang ini. Aku suka dengan wajahmu yang ceria seperti ini. Baik-baik disana. Aku juga akan baik-baik disini. Aku janji."


.


.


.


.


**Kon'nichiwa, subete o yonde shiawasedesu. Gozonji no yō ni, Nihon no shiyō gūguru wa hon'yaku sa rete imasu. Anata mo dekimasu.💕💕💕


Apa artinya? Jangan lupa like dan komen aja deh 😊**

__ADS_1


__ADS_2