Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
25


__ADS_3

Laki-laki yang bersamamu tadi lah, siapa lagi!" Adzka membentak. Membuat Juna terperanjat.


"Namanya Marchel, dulu satu kampus denganku. Dia kesini mau nyusul Mamanya. Kebetulan mamanya sedang ada urusan di Medan." Juna menundukkan pandangannya, dia sangat terkejut, dia tak habis pikir, Adzka yang begitu lembut membentaknya.


Airmatanya jatuh, semakin deras. Sebisa mungkin suara tangisnya dia sembunyikan.


"Jadi ini jawaban kenapa nomorku di blokir? maaf kalau aku mengganggu." Emosi Adzka sedikit berkurang, kini ada rasa bersalah dalam hatinya. Kenapa aku membentaknya! gumamnya pula.


"Ma-maaf!" suara itu terdengar sangat lirih. Adzka mencoba memegang tangan Juna yang memegang erat kain bajunya namun Juna menepisnya.


Juna Pov


"Aku menyesal membuka hatiku. Mama salah, dia tidak mencintaiku! kalau dia mencintaiku dia tak mungkin membentakku. Apa dia cemburu? kan bisa tanya baik-baik dulu padaku, tak perlu membentakku seperti itu."


"Kenapa aku secengeng ini sih. Aku pernah merasakan sakit hati saat dulu Marchel selingkuh. Tapi, tak sesakit ini. Kisah ini bahkan belum dimulai, tapi aku sudah takut untuk melanjutkannya. Apa setelah aku setuju mengenalnya lebih jauh lagi akan kelihatan seperti apa Adzka sebenarnya?"


Flashback On


"Dia dokter, Ma. Spesialis jantung, satu rumah sakit tempat Yuyun kerja. Ganteng, Ma. Baik, sholatnya juga rajin. Tapi usianya jauh dibawah ku. Apa kata orang nanti, masak aku pacaran sama brondong. Kayak gak laku aja."

__ADS_1


"Emang iya kan? anak mama gak laku. Padahal cantik gini kok! umurmu sudah berapa, Yun! Peduli amat sama kata orang. Sekarang tanya hati kamu, sebenarnya masalah umur terlalu masalahkah buatmu? kalau dia bisa mengimbangi kenapa enggak? banyak kok yang menikah suaminya usianya dibawah umur istrinya tapi toh adem ayem bahkan sampai maut memisahkan."


"Kedewasaan seseorang itu bukan umur yang menentukannya. Cobalah membuka hati, Yun. Dia yang terus-terusan nanya kabarmu selama kau sampai disini kan? Mama rasa dia itu sangat menyayangimu. Makanya dia terus mau tau kabarmu. Apa papamu sudah mengenalnya?"


"Sudah, Ma. Bahkan sangat akrab. Kalau dia datang kerumah yang ditemuin bukan aku, Ma. Tapi malah lebih suka ngobrol sama papa. Masak sih kepo begitu sayang, Ma? Aku malah risih, ih ... kayak siapa aja. Tiap jam harus lapor. Memangnya dia siapa?"


"Katanya mau cari cowok yang sayang lebih dulu sama kamu. Biar nanti kamunya yang nyusul sayang ma dia. Takut ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya gitu! Nah ini ... sudah ketemu orangnya. Jalani aja, mulai membuka diri. Sayang dan cinta akan datang sendiri seiring berjalannya waktu."


"Papamu itu gak gampang loh click sama seseorang. Berarti dia juga mendukung anak mama yang bau ini berjodoh dengan pak dokter itu!"


"Mama ih ...."


"Udah tua loh, Kak. Mandi kok malas banget sih!"


\=\=\=\=


Mobil yang dikemudikan Adzka berhenti disebuah cafe. Kelapa muda yang dipajang didepan cafe itu membuat Adzka menelan ludahnya sendiri. Teriknya cuaca sore itu dirasanya begitu pas memanjakan diri dengan meneguk buah yang mempunyai banyak manfaat tersebut.


Setelah mobilnya terparkir rapi pada tempatnya, Adzka bermaksud meninggalkan gadis disebelahnya yang sedang tertidur pulas. Melihat wajah sendu itu dia mengurungkan niatnya. Mesin mobil dibiarkan menyala, agar Juna tak kegerahan. Dia terus menatap wajah gadis masa depannya tersebut.

__ADS_1


"Maafkan aku, membiarkanmu tertidur dalam keadaan menangis seperti ini!" gumamnya dalam hati


Juna mengerjapkan matanya, dia terbangun.


"Apa sudah sampai?" dibukanya sabuk pengaman yang dikenakannya.


"Belum, kita masih dikota B. Aku haus. Minum yang kubawa sudah habis. Ayo, kita minum es kelapa muda." Adzka merasa canggung karena peristiwa tadi.


"Dokter saja lah. Aku tidak haus!" Juna memalingkan wajahnya menatap sekeliling dari balik kaca mobil.


"Maafkan aku! aku tak bermaksud membentakmu. Aku terbawa suasana. Mungkin aku terlalu bosan menunggumu tadi!"


"Oh, ternyata hanya karena bosan menunggu mood dokter jadi berubah gitu, ya!"


"Kenapa tidak membiarkan aku pulang naik taxi saja tadi! kenapa harus terus menunggu! aku kan tidak minta dijemput oleh dokter. Kalau papa tidak bisa ya tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendirikan, aku sudah terbiasa kemana-mana sendiri."


"Aku yang mau menjemputmu. Aku rindu!"


Suasana hening seketika. Pemutar lagu yang bervolume sangat rendah itu dimatikan Juna, Ac mobil juga. Kemudian dia membuka pintu mobil dan keluar.

__ADS_1


"Ayo, Dok! aku haus." ucap Juna membuka pintu mobil itu kembali. Adzka hanya bisa menjawab dengan senyum dan gelengan kepala.


"Perempuan memang tak pernah bisa ditebak."


__ADS_2