
Dinginnya udara dalam kamar itu tak mengalahkan wajah dingin dari sang pemilik hati yang sedih gulana, merana tanpa harapan.
*Cinta mestinya bagai sepasang sayap yang membawa kita terbang tinggi.
Cinta mestinya bagai udara yang membuat kita selalu memiliki harapan
Tapi cinta juga mestinya bagai lukisan yang tak kunjung selesai, dengan begitu kita tak pernah meninggalkannya.
(Asma Nadia*)
"Ck! bahkan aku belum memulainya saja sudah sesakit ini! apalagi kalau sudah." gumam gadis yang memeluk lututnya diatas pembaringan. Kepalanya bertumpu dikedua tangannya. Meratapi nasibnya yang terombang ambing tak tentu arah. Dulu ada Papa yang selalu bersamanya melewati hari tanpa kehadiran seorang mama. Tapi saat ini, sosok itu bahkan tak diharapkannya menenangkannya saat ini.
Dia terus mengerjapkan matanya yang seolah tak bisa terbuka sempurna akibat sepanjang malam terus menangis.
Cklek!
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok berisi dengan piyama yang membalut tubuhnya yang tak lagi kencang.
"Sudah bangun anak mama! selamat pagi, Sayang." sapa Maria mengecup puncak kepala Juna dengan senyum yang menenangkan. Sapaan itu hanya dibalas dengan senyum yang sekejap disusul pelukan dengan tangisan yang tersedu sedan.
Tak ada kata-kata yang terucap dari bibir gadis itu. Ia hanya menumpahkan kesedihannya lewat air matanya yang seolah terus berproduksi tanpa henti.
"Sudah sayang, jangan terus seperti ini! Mama harus apa, Nak. Coba bilang ke mama. Apa yang harus mama lakukan untuk membuatmu tak sedih lagi?" Perempuan paruhbaya itu terus mengelus.
"Terimakasih, Ma. Juna gak tau harus balas mama dengan apa. Kalau saja mama tidak ada, Juna gak tau harus kemana." seru Juna yang masih menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Maria.
Juna memang tak pulang kerumahnya malam itu. Sejak kepergian Adzka, Maria dan Marchel membawanya ke kamar tempat Maria menginap malam itu. Tanpa sengaja, Maria memang ingin tinggal bermalam disana untuk meminimalisir kepenatan selama perjalanan, sekaligus memeriksa langsung kesiapan hotelnya menyediakan yang terbaik untuk acara resepsi yang telah di booking jauh-jauh hari oleh sahabat kecilnya dokter Hari.
__ADS_1
"Mandi gih! biar lebih segeran badannya. Terus kita sarapan. Mama juga mau telepon Marchel!"
"Iya, Ma." Juna melepas pelukannya, mengikat rambutnya yang berantakan.
\=\=\=\=
"Apa ini, Bang! kalau abang sudah gak mau lagi Juna tinggal disini ya bilang. Biar dia sama ku saja. Aku bisa menuhi semua kebutuhannya sekalipun dia gak kerja!" hardik Lia yang merasa sangat marah. Penerbangan terakhir dari Makassar, malam itu juga dia berangkat ketanah kelahiran mantan suaminya. Dengan amarah yang memuncak, dia dan suaminya berangkat.
"Dulu kau yang tak mengijinkan aku membawanya bersamaku. Bertahun-tahun aku menahan kerinduanku, bahkan hanya mendengar suaranya saja, kau tak mengijinkannya. Sekarang? setelah dia dewasa dan berhak menentukan pilihannya sendiri, kau malah memaksanya menikah dengan orang seperti Dadang! Ck!" Lia begitu meledak-ledak, bagai gunung api yang siap meletuskan semua isinya, sementara suaminya hanya bisa menggenggam tangannya sambil sesekali mengelus pundaknya menenagkan jika kata-katanya mulai kasar.
Sedangkan Rudi hanya diam, tatapannya kosong. Dia hanya menundukkan pandangannya. Cindy juga menemaninya, cindy duduk disampingnya.
"Mba, Maaf. Sebenarnya abang berbuat begini karena ...." Cindy mencoba menjawab omelan Lia yang semakin menjadi-jadi, tapi Rudi menghentikannya. Abdi negara itu pun akhirnya angkat bicara dari kebisuannya. Matanya memerah menahan tangis, sedikit lagi airmata yang sudah mulai menggenang di ufuk mata itu pun akan lolos.
"Sudah selesai ngomelnya? keluarkan semua uneg-unegmu, jika kau bisa merasa bahagia karena itu!" dengan tenang Rudi berbicara
"Kau yang meminta cerai. Aku mempertahankannya karena untuk menggertakmu, agar kau membatalkannya. Tapi ternyata aku salah, tekadmu sudah bulat. Kau lebih memilih teman kecilmu karena dia mengijinkanmu berkarier lagi, bukan sepertiku. Begitupula-lah yang kulakukan saat ini. Aku tak ingin Juna meninggalkan aku, aku tau ada pemuda yang begitu mencintainya, tapi anak itu masih belum mau menerimanya. Ditambah lagi aku mendengar dia pulang kesini bersama seorang laki-laki, belakangan aku tau laki-laki itu orang Makassar, aku tak mau dia meninggalku sama sepertimu. Aku ingin setelah dia menikah nanti, dia tak jauh dari ku. Maka dari itu, aku mengancam untuk menikahkan dia dengan teman kecilnya dulu, dan kau tau kan kalau dia sangat membenci kepribadian laki-laki seperti Dadang. Tapi sungguh aku tak pernah menyangka, ternyata Adzka belum memiliki restu dari orangtuanya. Apa salah anakku, sehingga ia dihina seperti itu didepan umum!" Rahang Rudi mengeras, tangannya mengepal menahan marah. Lia mengingat kemasa lalunya, masa dimana dia menggugat cerai suaminya kepengadilan Agama.
Semuanya terdiam. Suara jarum jam terdengar nyaring. Empat orang tua yang ada dalam ruangan tersebut hanyut dalam pikiran masing-masing.
"Sebegitu cintanya kau dengan istrimu dulu, Pak!" benak suami Lia
"Ternyata cintamu untuk mamanya Juna begitu besar, Bang." dalam pikiran Cindy dia merasa cemburu.
"Dasar laki-laki posesif!" batin Lia
\=\=\=\=
__ADS_1
Laki-laki dengan kaca mata yang melekat indah membingkai netranya menuruni anak tangga, Jas putih kesayangannya disampirkan dibahu kekarnya.
"Sarapan dulu, Ka!" ajak Fatmala yang duduk dimeja makan bersama dengan Zuan yang makan dengan lahapnya.
"Mm ... ayo, Ka. Sarapan! ada nasi goreng nih! mmm ...." Zuan terus mengunyah makanannya memanggil adiknya yang berjalan malas-malasan menuruni tangga, wajah kusut penuh dengan masalah pun amat sangat kentara.
"Gak laper! loe abisin aja jatah gue!" ucapnya dari kejauhan kemudian mengambil kontak mobilnya dalam laci nakas.
"Aku pergi!" ucapnya membuka daun pintu dan menutupnya dengan keras. Tak lama terdengar suara mesin mobil menyala, sepersekian detik mobil tadi sudah meninggalkan garasi dengan kecepatan maksimal.
"Kenapa tu bocah!" celetuk Zuan yang masih lahap. Semakin dekat ke hari pernikahan selera makannya semakin bertambah saja. Kebalikan dari calon pengantin wanitanya, perempuan akan kehilangan selera makan walau pura-pura, hanya untuk membuat penampilan tampak sempurna dihari pernikahan.
"Dua piring aja, Zu. Nanti jasmu gak muat." Fatmalapun bermalas-malasan menyuap makanannya.
"Jatahnya Adzka, Ma. Dibuang sayang kan. Jarang-jarang Zu makan masakan mama." ucapnya menyeringai.
"Andai kau tau apa yang terjadi tadi malam, mungkin selera makanmu akan sama seperti Adzka, Nak. Aku juga tak habis pikir kenapa aku bisa sekasar itu pada wanita itu. Ah, biar saja lah. Kadang kebenaran itu memang menyakitkan. Aku tinggal mencarikan gadis yang selevel dengan kami saja. Adzka mesti sedikit dipaksa jika dia menolak lagi. Hm ...."
.
.
.
.
Hai hai 😁
__ADS_1
lama gak ketemu ya, haduh. Gak ada mood buat up gaes, anak penulis receh ini sedang sakit. Mohon doa semoga gadis kecilku cepat sembuh ya manteman dan bantu author dengan jempol kalian ya. Haturnuhun 🙏