Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
29


__ADS_3

Alunan musik Jazz sebagai pelengkap acara resepsi malam itu seperti penenang bagi setiap tamu yang mendengarkan. Lembut suara penyanyinya menambah kesan damai bagi para pecintanya.


Gadis dengan balutan kebaya hitam dengan tatanan rambut yang rapi tampak sedang tertawa renyah dengan gadis kecil yang sepertinya baru belajar bicara. Dia tampak sangat menyukai gadis kecil bergaun merah tersebut. Tampak sesekali ia menyuapi gadis kecil yang bernama Kanaya itu dengan buah segar dalam piring kecil di mejanya.


Saat suapan terakhir gadis kecil itu menutup mulutnya. Dan bertepuk tangan. Membuat perempuan yang menyuapinya mengerutkan alisnya.


"Itu tandanya dia sudah kenyang. Hore! adek sudah kenyang. Iyakan sayangnya bunda! Tante Juna belum mengerti, maklum jodohnya masih jauh aja, sayang." Sasha yang baru saja kembali dari toilet menghampiri Juna dan anaknya.


"Ya Allah, gitu amat doanya, Neng. Bukannya doain yang bener!" Juna yang tampak semakin cantik itu, mencebikkan bibirnya.


Gadis kecil itu semakin mengeraskan tepuk tangannya, mungkin dia juga suka melihat ekspresi perempuan teman ibunya tersebut. Kemudian Kanaya mengangkat kedua tangannya kearah Sasha, meminta ibunya untuk menggendongnya.


"Bobok!" ucap Kanaya


"Oh, anak ibu sudah mengantuk. Tunggu sebentar ya, Nak. Ibu makan dulu ya. Cantiknya ibu kan pinter, yakan ... yakan." ucap Sasha bernegosiasi, dengan wajah memelas nya.


"Ayo siapa yang mau ikut tante jalan-jalan. Kita kesana yuk, lihat om-om cakep." Juna merayu Kanaya kecil, pun gadis itu tertarik. Diangkatnya kedua tangannya seperti tadi.


"Hm, dasar genit! buah jatuh gak jauh dari pohonnya ya, Sha." Juna tertawa kegirangan, Sasha hanya bisa diam tanpa perlawanan.


"Oke, aku mengalah. Demi perutku. Kasian adiknya Naya kalau sampai aku kelaparan." ungkap Sasha.


"Iya deh, bumil. Semangat makannya. Sisakan piring dan tulang belulang ikannya ya. Hahaha" Juna pun membawa Kanaya pergi berkeliling.


Ternyata gadis imut itu menyukai musik. Jari kecilnya menunjuk terus kearah sumber suara.


"Naya mau ke sana?" tanya Juna, disusul anggukan Naya dengan tangan yang masih tetap menunjuk. Wanita yang tak masalah dipanggil tante itu pun menuruti keinginannya.


Dalam dekapan Juna si imut Kanaya merasa sangat senang, ia tak berhenti menebarkan senyuman. Tapi namanya anak-anak, pasti ada saja tingkah nakalnya.


Tepak!


Tangan imut itu melayangkan tamparan, dan mengenai kepala wanita paruhbaya berhijab disampingnya. Jalan yang mereka lalui menuju pentas musik memang sedang ramai. Banyaknya tamu yang hendak bersalaman kepada pengantin membuat antrian yang lumayan panjang, dan tujuan Kanaya dan Juna tepat disebelahnya sehingga mereka mau tidak mau harus melewati baris antrian tersebut.


"Eh, maaf-maaf. Adek jangan gitu dong. Ayo minta maaf sama Oma."


"Maaf ya, Bu. Loh, eeh ... ibu, kita ketemu lagi! Juna menatap sosok wanita paruhbaya tersebut.


"Hai, iya. Siapa anak nakal ini? kenapa kepala Oma ditempeleng, Sayang?" ucap wanita itu. Tak mungkin rasanya ia memarahi perbuatan anak kecil, walaupun dia belym mempunyai cucu, tapi naluri seorang ibu pasti memaklumi perbuatan anak kecil seperti tadi.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Mungkin dia tidak sengaja."


"Amuk, Amuk!" oceh Naya memandang jilbab yang dikenakan wanita paruhbaya tersebut.


"Oh, katanya nyamuk, Bu. Mungkin tadi Naya melihat nyamuk dikepala ibu, makanya dia memukulnya! ini Naya bu, Kanaya, anak teman kerja saya. Mamanya sedang ngisi bahan bakar, maklum lah makbun. Bawaannya lapar aja." oceh Juna


"Hm ... untung ada aunty cantik ya, Sayang. Jadi bisa nemani kamu." Wanita itu mencubit pipi Kanaya. Kanaya malah memeluk erat Juna, tak suka diperlakukan seperti tadi.


"Ibu silahkan dilanjutkan. Kami mau kesana dulu!" Pamit Juna pula, mereka meneruskan niat mereka untuk lebih dekat ke panggung.


\=\=\=\=\=


Derap langkah sepatu menggema di loby hotel. Laki-laki bertubuh atletis dengan stelan batik lengan panjang berjalan memasuki lif menuju ballroom yang ada dilantai tiga hotel bintang lima itu. Ia baru saja melaksanakan kewajiban ibadahnya, kewajiban berjamaahnya terlewatkan karena terlalu lama menunggu Mamanya berdandan.



Pandangannya menyapu seisi ruangan kala dirinya telah sampai ketempat acara resepsi pernikahan berlangsung.


Netra itu terkunci seketika, pandangannya tak ingin lagi berpaling. Saat sosok yang dicarinya telah ia temukan.


"Cantiknya! hm ... sudah pantas!" gumamnya serasa tersenyum penuh makna. Ia pun bergegas menemui gadis itu.



"Hai, dok!" sapa Juna malas. Dia masih marah kepada Adzka. Menurutnya Adzka lah sumber masalahnya dengan Papanya.


"Masih ketus aja. Nanti cantiknya hilang lo!"


"Biarin!" Juna memilih pergi. Namun Adzka mengikutinya.


"Maaf, Jun. Maaf. Aku gak tau bakalan jadi seperti ini. Please jangan marah gini. Gak enak dicuekin!" Adzka terus bicara, namun gadis di depannya tetap saja dingin.


"Sudah selesai makannya, Neng?" Sasha sudah tampak kekenyangan dibuktikan dengan mulutnya yang sudah berhenti mengunyah.


"Sudah! udah gendut perutku!"


"Kau hamil lagi, Sha?" mata Adzka membola, rekan kerja wanita pujaannya ini ternyata sudah berbadan dua kembali. Adzka melihat Kanaya yang masih dalam gendongan Juna.


"Gercep ya. Kanaya baru berapa nih umurnya!" ucap Adzka memegang tangan Naya, gadis itu tersenyum ramah. Dia juga mengenal dokter tampan itu, sesekali dia pernah bertemu dengan dokter itu, saat dia dan ayahnya menjemput Ibunya pulang bekerja.

__ADS_1


"Iya dong, Dok. Kejar target sebelum umur 35. Dokter kapan lagi? awas keburu yang ono makin tua loh." Sasha melirik Juna yang tampak tersindir.


"Aku sih ayok aja, tapi dianya belum mau. Mungkin dia memilih laki-laki yang seperti itu. Saya ini apalah, Sha." ucap Adzka melirik. Juna menatapnya dengan tatapan menahan emosi.


Sasha menatap sahabat satu profesinya itu penuh iba. Beberapa tahun menjalin keakraban membuatnya sedikit paham perasaan Juna.


"Aku tau bagaimana perasaanmu, Jun. Kau hanya masih bimbang saja. Dan kemarahan mu ini hanya butuh waktu menyelesaikannya." batin Sasha. Kanaya yang masih dalam dekapan Juna diambilnya, diapun melambaikan tangannya kepada suaminya yang asik mengobrol dengan tamu undangan lainnya. Sasha memilih mendatangi sang suami, memberikan waktu Juna dan Adzka untuk bicara.


"Jun, aku temuin Mas ku ya. Kasian nih Naya sudah ngantuk berat. Kalau gak di rem, si Mas bakalan cerita terus tuh!"


"Mari, Dokter. Saya duluan!" ucap Sasha santun, Adzka tersenyum mengajak rambut gadis kecil dalam dekapan Sasha.


"Bye sayang. Sampai ketemu besok!" ucapnya


Naya melambaikan tangannya dan tertawa, begitu menggemaskan. Membuat siapapun yang melihatnya seakan ingin mencium pipi gembul nya.


\=\=\=\=


"Selamat ya, Hari. Akhirnya kau mantu juga. Tahun depan kau akan punya cucu. Insya Allah. Hm ... bahagianya." cetus salah seorang tamu. Mereka terlihat sangat akrab.


"Sudah kepengen nimang cucu ya? kenapa tidak kau nikahkan saja anakmu. Atau biarkan Bian menikah lagi, agar kau segera memiliki cucu." ucap dokter Hari gamblang. Membuat raut wajah wanita yang tampak anggun namun wajahnya yang tampak mulai menua itu seketika berubah menjadi sedih.


"Seandainya aku bisa tega melakukannya, sudah kulakukan sejak dulu, Har." ucapnya penuh dengan kesedihan.


"Kebahagiaan anak-anakku adalah hal yang paling penting. Hak mereka membahagiakan mereka sendiri. Bian sangat menyayangi istrinya, walaupun dia tak bisa memberikan keturunan. Aku tak ingin memisahkan mereka. Hm ... udah ah, sedih-sedihnya. Aku kesini mau happy-happy. Ku ucapkan selamat sekali lagi kepadamu!" Airmata yang menggenang disudut matanya jatuh, perempuan itu langsung menyekanya.


Lelaki berjas dengan wajah oriental mendekati mereka. Dia merangkul wanita paruh baya itu.



"Ma, lihat siapa itu!" laki-laki tampan itu menunjuk. Wajah Mamanya yang tadinya sedih berubah menjadi sangat senang. Terlihat dari senyuman manisnya yang merekah indah.


"Itu Juna, Chel? benarkan itu Juna, Sayang! Mama nggak salah lihat?" ucap wanita itu memastikan. Anak laki-laki kebanggannya itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


.


.


.

__ADS_1


.


Semangat membaca teman-teman, kritik dan saran selalu ditunggu ya, supaya karya ini bisa jadi seru dan keren seperti karya author2 yang lainnya. Terimakasih atas jempol dan vote yang kalian berikan. Semoga kita semua bahagia 🥰💕


__ADS_2