
Setumpuk nasi uduk dengan beberapa helai daun kemangi dan bawang goreng diatasnya, serta satu piring potongan ayam yang tak berbentuk karena mungkin terlampau emosi menggepreknya sudah tersaji diatas meja, siap disantap. Tak ketinggalan sebotol kecap manis permintaan perempuan yang sudah merasa sangat lapar itu.
Laki-laki di sebelahnya juga sudah siap melahap menu yang sama, hanya saja bulir biji cabai yang tak begitu hancur menghias diatas ayam miliknya.
"Tunggu apa lagi? ayo makan!" ucap laki-laki berkacamata tersebut mencuci tangannya kemudian mulai melahap hidangan yang sudah tersaji dihadapan mereka, mulut laki-laki itu komat-kamit sejenak melafalkan doa.
"Duluan saja, minumnya belum ada!" ucap gadis berambut sebahu itu. Jilbab yang dikenakannya bertengger di bahunya.
"Nanti kan datang, mereka masih sibuk melayani pelanggan lain. Lihatlah, ini jam makan siang, yang haus dan lapar bukan hanya kita!" ungkap Adzka, menatap
sekeliling tempat mereka makan yang memang sangat ramai.
"Iya, tapi aku tak bisa makan kalau tidak ada minum disebelahku!" Juna beranjak dari tempat duduknya, mendatangi salah satu pelayan yang baru saja mengambil nampan berisi makanan di dapur mereka.
"Maaf bang, dimana tempat air putih kalian? biar saya ambil sendiri!" ucap Juna menatap pramusaji itu ketus.
"Maaf, kak! Nanti biar saya antar!" ucap pramusaji itu merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa! saya maklum kok." Juna melangkahkan kakinya menuju dapur, sesaat setelah perempuan yang memakai apron diseberangnya menanyakan 'ada apa' dengan ramah.
Juna menghampiri Adzka dengan dua gelas kosong dan satu ceret kecil berisi air putih. Sementara laki-laki itu masih memakan sisa ayam di piringnya dengan menyiramkan kecap manis diatasnya. Sedangkan nasi di piring satunya telah habis berpindah tempat kedalam perutnya.
"Astaga! kemana perginya sambal-sambal itu, Dek?" ucap Juna spontan begitu melihat deretan sambal yang begitu banyak menghias diatas ayam tadi, saat ini sudah berubah menjadi hitam pekatnya kecap manis.
"Siapa yang kau panggil adek? enak saja! berasa sudah tua ya?" ucap Adzka ketus tanpa melihat kearah Juna.
"Ya, kau lah! aku sudah mengingatmu! Kau kan mahasiswa kedokteran yang masih umur belasan tahun itu! kata orang-orang, seharusnya kau masih SMA, tapi karena kau ikut kelas ... apa itu namanya, aku lupa! makanya diusiamu yang masih muda, kau sudah jadi Dokter!" ucap Juna, sedari tadi saat dia menunggu Adzka sholat di masjid kampus, dia terus memikirkan dari mana laki-laki itu tau, kalau dia dulu pernah bekerja di perpustakaan kampusnya. Ditambah lagi, perkataan Papanya yang mengatakan mereka kuliah dikampus yang sama.
"Akselerasi!" ucap Adzka sambil mengunyah satu-satunya timun yang masih tersisa.
"Yah apa lah itu! aku tak perduli! Bismillah." Juna meminum beberapa teguk air, lalu kemudian menyuap nasi dan disusul ayam yang di cocol kedalam bowl kecil berisi kecap manis.
"Jadi kau sudah mengingat ku, Juna?" tanya Adzka begitu kesenangan.
"Ingat apa? kata-katamu seolah-olah kita pernah berteman saja dan aku terkena amnesia!" omel Juna yang kembali meminum beberapa teguk air.
__ADS_1
"Kenapa kau makan seperti itu? makan sambil minum itu akan membuat perutmu kembung!" Adzka merasa aneh melihat cara makan perempuan disampingnya itu.
"Aku sudah begini sejak dulu! kalau tidak pakai air, rasanya yang kumakan semua tersangkut dileherku! kau tenang saja dokter. Perutku tidak akan kembung! yang kembung itu ikan, bukan Juna!" Juna menyeringai, kemudian menghabiskan sisa makanannya.
"Yassalam, orang bicara serius, malah becanda!" ucap dokter muda itu.
\=\=\=\=
Laki-laki dengan jaket denim dan topi hitamnya mengetik pesan singkat di telepon selulernya, sesaat setelah komandannya kembali masuk kedalam ruangan pertemuan para petinggi polisi tersebut.
Beberapa saat kemudian notifikasi hapenya berdering. Tawanya seketika pecah membaca balasan pesan dari seseorang.
"Dasar kau! memang itu maumu kan!" ucapnya memasukkan kembali benda pintar miliknya kedalam saku jaketnya, kemudian berjalan ke kantin untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
Matanya membulat seketika melihat sosok perempuan yang dikenalnya, sedang duduk menikmati segelas jus di hadapannya.
"Ngapain disini dok?" sapa Zuan kepada gadis berjilbab tersebut.
"Hei, bang Zuan disini juga!" ucap perempuan yang disapa 'dok' oleh Zuan tadi.
"Abang duduk disini, ya!" Zuan menarik kursi kosong di seberang meja Dewi, bahkan sebelum perempuan itu menjawab 'ya'.
"Bu!" panggil Zuan, tangannya melambai kepada seorang wanita paruh baya yang baru saja mengambil mangkuk dan gelas kotor di meja lain.
"Iya, Pak! mau pesan apa!" ucap perempuan itu membungkukkan badannya, sebelumnya meletakkan mangkuk dan gelas yang kotor tadi ke meja sebelah mereka yang kosong.
"Saya pesan nasi soto dan es timun serut gak pakai gula satu!" Zuan meletakkan buku menu itu kembali keatas meja.
"Baik, Pak! tunggu sebentar ya!" ucap perempuan paruh baya itu.
Tak berapa lama, pesanan Polisi muda itu sudah sampai kemejanya. Zuan mengucapkan terimakasih, lalu mengambil jeruk nipis yang ada di piring kecil yang bersanding dengan sambal cabe berwarna hijau.
"Dewi makan lagi, Yok. Sini kita sepiring berdua!" ajak Zuan, menatap perempuan yang begitu menginginkan adiknya tersebut.
"Hah ... abang bisa aja! Dewi sudah kenyang." ucapnya, bukan hal aneh baginya mendengar candaan Zuan. Dewi dan keluarga dokter Fatmala sudah sangat dekat, kecuali dengan Adzka. Adzka selalu cuek kepadanya.
__ADS_1
"Adzka apa kabarnya, Bang?" tanya Dewi tanpa merasa malu.
"Alhamdulullah, saat ini masih baik. Bahkan sangat baik!" jawab Zuan penuh arti. "Bagaimana tidak baik, dia sedang bersama pujaan hatinya!" ucap Zuan dalam hati. Tak mungkin dia mengatakan hal itu kepada gadis di hadapannya, bisa-bisa perempuan itu terkena serangan jantung, pikirnya.
"Hari ini, dia berangkat ke Eropa!" ucap Zuan.
"Gak terasa ya, Bang! sudah sepuluh hari Adzka disini. Pasti, lama lagi dia bisa pulang ke Indonesia kan, Bang!" wajah sedih Dewi tak bisa disembunyikannya.
"Tadinya, aku ingin menghabiskan waktu ku bersama Adzka barang beberapa hari. Aku merindukannya, tapi dia tetap saja tidak menganggapku! sampai kapan aku terus mengharapkannya! sekarang malah dia akan pergi lagi dan kembali lagi kesini dalam waktu yang lama!" rintih Dewi dalam hatinya. Perempuan yang berprofesi sebagai dokter gigi itu, mengingat wajah Adzka yang tanpa senyuman saat bersamanya.
Empat tahun mereka bersama dalam kelas Akselerasi, membuat benih cinta di hati Dewi semakin tumbuh menjadi besar. Adzka laki-laki yang pengertian, ramah dan sangat mengayomi. Dia tampak lebih dewasa dari umurnya. Tapi setelah dia mengetahui perasaan perempuan itu, Adzka berubah seketika. Yang tadinya ramah dan penuh senyum kini menjadi cuek dan tak mau lagi tersenyum kepada gadis itu.
"Kalau saja aku dulu tak mengatakan perasaanku kepadanya, mungkin kami akan tetap berteman seperti dulu!" Dewi mengingat kenangan nya beberapa tahun yang lalu.
Flashback On
"Ka, kau mau melanjutkan kemana?" Perempuan dengan jilbab putih membuka pembicaraan, saat melihat Adzka sudah menutup kotak bekal makanannya.
"Ke Makassar!" ucap Adzka setelah selesai merapikan tasnya.
"Kenapa jauh sekali! aku bagaimana?" ucap perempuan cantik itu.
"Kenapa denganmu?" Adkza menautkan kedua alisnya.
"Aku ... aku! aku tak mau kehilangan mu Adzka! aku menyukaimu!" ucap Dewi malu-malu, wajahnya tertunduk menyembunyikan pipinya yang terasa panas.
"Apa! kau itu sudah ku anggap saudaraku sendiri! bagaimana bisa kau suka padaku!" ucap Adzka tak ramah. Meninggalkan Dewi terduduk sendirian di pendopo sekolah. Adzka berjalan kembali menuju kelasnya, menendang semua benda yang menghalangi jalannya.
Flashback Off
\=\=\=\=
"Kata pak Rudi, Pertemuan beliau masih lama, kalian duluan saja ke bandara! Nanti kami menyusul. Kata pak Rudi titip Juna!" Adzka membaca pesan singkat yang dikirim dari saudara laki-lakinya itu. Dengan sigap jari-jarinya menari diatas layar hapenya yang lebar.
"Siap, Dan! Semoga selesainya lama!" balas Adzka dengan emoticon tersenyum lebar.
__ADS_1