
Malam pergantian tahun di langit kota Paris. Kota yang selalu identik dengan keromantisan itu kami habiskan dengan ikut berpesta kembang api. Aku yang sekarang berubah menjadi Juna yang lain dalam arti sangat perduli kepada seorang laki-laki yang bernama lengkap Tirta Adzka Ramadhan, rasa di kekang seperti seorang tahanan mungkin saat ini juga di rasakan oleh suami ku itu.
"Adilkan! biar dia juga merasakan bagaimana leluasanya hidup, jika setiap saat wajib lapor!"
Langit kota Paris begitu gemerlap dengan cahaya warna warni, walau sesaat kembali gelap hanya gemerlap bintang yang tak menghilang.
Tahun pertama yang kami lalui dengan status suami istri, pelukan tak lepas dari Adzka. Aku pun begitu nyaman bersamanya dan ingin terus seperti itu.
Tapi takdir harus memisahkan kami. Maksudnya memisahkan kami dengan kota yang penuh dengan kenangan itu. Pasti karena profesi suamiku yang tidak mau melanggar kode etik kedokteran yang menjadi sumpahnya. Aku sangat menginginkan suatu saat bisa kembali ke negara tersebut. Hanya ingin melihat, gembok cinta kami masih ada atau tidak hahaha.
Kami hanya punya waktu empat hari untuk berlibur, dengan waktu yang singkat seperti itu kami habiskan dengan mengunjungi tempat yang tak kalah romantisnya dari menara yang berbobot 7.300 ton itu. Aku heran, dari mana mereka tau beratnya ya? apa dulu ada raksasa yang pernah nyabut tuh tiang besi?! terus di timbang!! hahaha, leher ku nyaris terkilir saat Adzka menaruh kedua sikunya yang tidaklah ringan itu ke kepalaku.
"Astaga, pertanyaannya. Kenapa istriku memperlihatkan kecerdasannya di depan pemandu wisata ini!" itu ucapnya waktu itu.
Tapi begitu melihat mata ku berkaca-kaca, pelukan serta ciuman yang bertubi-tubi dia limpahkan untukku. Semoga saja pemandu wisata kami yang bernama Michelle kalau tidak salah ya, tidak single. Jadi dia bisa mencium dan mencumbu pasangannya karena iri melihat kami.
Dompet ku yang selalu membawa papa kemana-mana, sekarang bertambah berat. Kenapa? karena bukan hanya papa yang ada di dalamnya sekarang. Ada mas Adzka juga tentunya. Heran!! kenapa laki-laki itu tidak pernah merasa ingin di saingi oleh siapapun termasuk Papaku. Jadi lah aku menyisihkan satu tempat untuk foto dirinya yang hanya ukuran 3x4. Maksa banget kan gaes! itu lah suamiku. Tapi aku suka!
****
Hari-hari berlalu dengan bermacam cerita baru, aku yang kini punya pekerjaan baru pun mulai menikmatinya. Menjadi asisten pribadi dokter spesialis jantung pastinya. Apa lagi, Tomy sekarang sudah tidak bekerja lagi di rumah sakit, kabar gembiranya di lulus PNS di daerah Jambi. Karena itu, aku tidak memberikan ruang kepada penggantinya yang bernama Desi itu. Awas aja kalau berani ke ganjenan sama suami orang!
Apotik ku? kalian pasti bertanya bagaimana nasibnya kan? Alhamdulillah sudah buka dan selalu ramai. Tapi pasti aku tidak ada disana, hanya sekali-sekali saja memantau.
****
"Sudah selesai, Mas?"
"Sudah! ayo, nanti kelamaan ngambek lagi dia!"
Juna merangkul lengan Adzka, berjalan menuju parkiran mobil. Perjalanan yang lumayan lama karena lalu lintas padat di jam makan siang membuat Juna merasa bosan. Ac yang dingin tidak begitu terasa, tangannya terus mengibas-ngibas. Bahkan kancing hijabnya ia longgarkan sedikit sehingga memberi celah kepada angin agar bisa masuk ke bagian lehernya.
"Udah full loh ini, Sayang. Masih belum kerasa Ac nya?" Adzka menggeleng kan kepala, dia saja sudah merasa beku di dalam.
"Enggak berasa, Mas. Udah ayo jalan, aku lapar!" suara Juna terdengar begitu manja.
"Sabar! orang sabar badannya lebar." Adzka mengelus lengan Juna.
"Oh, maksudnya aku gendut gitu!"
__ADS_1
"Ck! jelek banget ya. Mas malu." air mata berjatuhan bak bom yang menyerang secara bertubi-tubi.
"Eh, enggak kok. Bukan gitu maksudnya. Sayang, jangan nangis dong." Adzka menepikan mobilnya, menghapus air mata Juna yang dia sendiri tidak bisa menghentikannya.
"Mas udah enggak sayang lagi ya sama aku? aku kan memang dari dulu jelek, enggak pinter. Nggak seperti mas yang pinter banget, ganteng lagi! aku tuh cuman perempuan biasa, biasaa banget. Nggak ada cantik-cantiknya, nggak seperti teman-temannya, Mas." Juna terus meracau dalam isaknya yang semakin menjadi.
"Astaga! udah kemana-mana itu coba ngomongnya. Sayang jangan gini dong. Nak, jangan tiru sifat bunda yang baperan ya!" Adzka mengelus perut Juna yang mulai tampak membuncit.
****
Ya, aku hamil. Sudah masuk trimester ke dua. Jenis kelaminnya laki-laki. Adzka dan seluruh keluarga besar kami bahagia. Terutama Papa. Beliau sangat bahagia karena sebentar lagi dia akan mempunyai sepasang cucu. Perempuan dan laki-laki.
Pada berkerut ya alisnya? haha. Anak pertama ku perempuan namanya Syifa, Assyifa berasal dari bahasa arab yang artinya penawar, penyembuh atau bisa di katakan obat.
Kami menyukai nama itu, mungkin karena ada hubungannya dengan kami. Kalian mengertikan maksudnya? Sekarang kami akan ke rumah Ibu, Syifa ada disana.
****
"Bunda!" gadis kecil memeluk erat tubuh Juna yang tampai lebih berisi dari biasanya. Gadis kecil itu juga memeluk Adzka dengan eratnya, Adzka menggendongnya. Gadis itu berbisik membuat Adzka melihatnya dengan tanda tanya.
"Boleh ya, Pa."
"Enggak kok, Pa. Malah Oma yang ajakin. Kata Oma kalau tidur sama oma, Syifa bebas guling-guling. Nggak takut ke tendang perut Bunda." ucapnya polos.
Fatmala hanya tersenyum melihat kepolosan cucu ke duanya. Syifa kembali bermain dengan Fadzli.
"Boleh dong, Ma." Adzka memeluk Fatmala, tatapan mama nya seakan meminta persetujuannya.
Adzka dan Juna pun kembali berpacaran di rumah mereka. Berdua, walau membawa satu kehidupan lagi dalam perutnya.
"Sayang?!"
"Hm"
"Kenapa masih pakai cincin yang itu saja sih? itu sudah keliatan gak zaman loh." Adzka memegang lengan Juna, hanya satu cincin yang melingkar di jari tangan lentik tersebut.
"Memangnya kenapa?"
"Cincin yang lain kan ada?"
__ADS_1
"Iya, ada. Tuh di lemari."
"Pakai yang lain dong!" ucapan itu seperti perintah, namun di ucapkan dengan sangat hati-hati, Adzka takut singa itu kembali mengamuk.
"Nggak mau, ini cincinnya penuh sejarah tau!"
"Sejarah apa?" Adzka terus mencecar dengan pertanyaan, lawan bicaranya malah menutup sebagian badannya dengan selimut dan memejamkan matanya.
"Dek, kok mas di tinggal tidur sih. Sejarah apa?" Adzka terlihat sangat penasaran, apa alasan istrinya hanya mau memakai cincin itu
"Sejarahnya ... karena cincin ini adalah jebakan!"
"Maksudnya?"
"Iya, jebakan. Karena ke datangan kamu waktu itu membawa kotak pink yang penuh dengan barang-barang ini. Katanya untuk mendapatkan cincin ini tuh butuh perjuangan, harus mengumpulkan beberapa bulan gaji untuk bisa membelinya. Katanya begitu! jadi untuk memberikan penghargaan kepadanya, aku memakainya terus. Cincin ini adalah bukti sejarah, sejarah kalau aku sudah terjebak, terjebak cinta brondong!"
Juna memeluk Adzka dengan penuh cinta. Cinta yang kini semakin menjadi-jadi. Cinta yang dulu tak pernah ia percayai. Mencintai orang yang lebih dulu menaruh cintanya kepada kita adalah hal yang paling membahagiakan.
Cinta dapat menaklukan hati yang keras, cinta dapat memberikan semangat untuk hidup menjadi lebih baik. Tapi jangan melebihi cinta kepada yang memberi cinta.
****
Yang terpenting, tuliskan komen cinta kalian di kolom komentar ya, karena kisah cinta Juna dan Adzka selesai sampai disini. Terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk sekedar membaca tulisan ku yang sangat ringan seringan kapas ini. 😊
Terimakasih semangatnya buat teman-teman yang join di grup author. Masih nerima new member kok😁
Spesial thanks untuk kak Amy harianti, Mas Yudi Azka wahyu, Flower dan Artisya/suci kalian sodara baru ku di Aplikasi ini, terimakasih semangatnya 🙏🥰
Join ke fb juga yuk, biar kita makin kenal. Tak kenal maka tak tau kan, hehehe.
Sampai jumpa di novel selanjutnya! Horas 👍🙏🙏🙏
Eh bentar-bentar, curcol ya. Waktu aku nulis ini aku membayangkan part ini seperti ending di felm-felm. Haha, ke haluanku merajalela gaes 🤭
udah deh, daaa see u in the next story 😘
Yang punya waktu boleh lah mampir di karya receh aku yang lain, yang terbaru ada ini ni ...
__ADS_1
Mariii mampir baru 4 episode zeee🥰