Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
32


__ADS_3

Senja mengukir Jingga, bias cahaya sang Surya yang pulang ke peraduan melukis indah ciptaan-Nya. Lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar berhenti, disusul dengan kumandang Adzan pertanda waktu untuk beribadah sudah tiba.


Wanita paruh baya dengan tas branded yang menggantung dilengan kirinya berjalan dengan tangan yang tergandeng kepada gadis manis berambut lurus. Tak didalam pesawat, mobil, bahkan saat ini menuju ke kamar wudhu, gadis itu terus saja bermanja menyandarkan kepalanya dibahu wanita yang berpenampilan bak sosialita tersebut.


Seet! beberapa sulur rambut gadis itu ditarik oleh tangan pemilik wajah tampan yang dari tadi mengekor dibelakangnya.


"Itu mamaku!" Ucapnya berlalu mendahului mereka, karena kamar wudhu mereka terpisah.


"Diam kau, ck" umpat gadis itu, seolah marah namun secuil senyuman melukis diwajah.


"Marchel!" Ucap Maria melerai, menggelengkan kepalanya dengan kelakuan kedua manusia yang sangat disayangnya ini.


\=\=\=\=\=


Dengan penuh kekhusukan tangan itu menengadah, berucap dalam hati memanjatkan doa tulus agar hatinya tenang dan ikhlas menerima semua yang sudah tergaris dihidupnya. Tanpa malu beberapa kristal bening turun dari sudut netranya yang tertutup bingkai kaca, tak perduli tatapan jamaah shalat lainnya yang melihat dengan penuh tanya.


"Dok, saya duluan ya." hanya Tomy yang mengerti apa yang terjadi pada dokternya tersebut. Membiarkan lelaki yang tetap duduk pada posisi awal setelah kedua tangannya disapukan ke wajah tampannya.


"Ya" anggukan serta ucapan yang perlahan namun tegas diucapkan Adzka, dia masih ingin berlama-lama dalam Musholla tersebut.


Flashback


"Ini surat pengunduran diri anak saya, terimakasih sudah menerimanya bekerja beberapa tahun disini. Senang bisa mengabdikan diri dirumah sakit ini. Itu pesan Juna." Lia menjabattangan kepala rumah sakit yang tampak sangat berwibawa itu.


"Kami pasti sangat kehilangan sosok gadis ceria itu, sampaikan salam ku padanya." ucapnya pula.


Lia kemudian keluar dari ruangan tersebut. Sasha sudah menunggu didepan pintu.

__ADS_1


"Terimakasih, Nak. Tante pulang, ya." semabari berjalan beriringan melewati koridor lorong itu, diujung sana tampak laki-laki yang gelisah, Sasha menatapnya dengan tatapan tak ramah tak seperti biasanya.


"Dia dokter Adzka, Tante." seru Sasha


"Oh, itu yang namanya Adzka. Ya sudah, sekali lagi terimakasih sudah menjadi rekan kerja dan teman Juna selama bekerja ya, Nak. Tante mau bicara dulu dengan Adzka." Sasha pun paham apa maksud dari wanita yang dipanggilnya tante tersebut, ia langsung meninggalkan keduanya begitu Lia dan Adzka sudah berdekatan.


Pandangan menyalahkan seolah tak bisa Sasha tutupi lagi kepada laki-laki berkacamata itu, siapapun tak ada yang menyangka kejadian di hotel tempo hari membuat teman satu pekerjaannya mengundurkan diri karena merasa sangat sakit dan pastinya malu.


"Tante, Maafkan Adzka."


"Apa Juna benar-benar resign?"


"Maafkan Adzka tak bisa berbuat apa-apa, semua ini diluar dugaan ku, Tante. Biasanya mama tak seperti itu." laki-laki itu terus saja menceracau, Lia hanya mendengarkan dan tersenyum kepadanya.


"Awalnya tante sangat marah, wajarkan. Siapa yang terima anaknya diperlakukan seperti itu. Tapi tante mulai memahami, mamamu pasti menginginkan yang terbaik untukmu. Mungkin pilihannya menurutnya yang terbaik, keluarga kami memang bukan keluarga kaya, kalau kekayaan menjadi alat ukur dikeluarga kalian, kau pantas melupakan Juna. Cinta tak harus memiliki bukan?" Lia mencoba berdamai dengan hati, kata-katanya jauh dari emosi, terdengar begitu bijak dan menenangkan.


"Serahkan semua pada yang kuasa, saat ini mungkin Juna sudah berangkat ke Makassar. Maria membawanya, alhamdulillah, banyak yang menyayangi anak tante. Terimakasih untuk hari-hari menyenangkannya selama ini. Semoga pilihan ibumu itu yang terbaik. Itu pesan Juna tadi, dia titip salam. Katanya maaf kalau selama ini merepotkan dokter. Saya permisi." Lia menepuk pundak Adzka, kemudian meninggalkannya


Flashback off


\=\=\=\=\=


Cindy, tolong bilang pada suamimu, Yuyun sudah sampai sebelum Maghrib tadi. Dan bilang jangan menghubunginya dulu sampai Yuyun yang menghubunginya nanti.


pesan singkat itu diterima Cindy beberapa saat yang lalu. Pesan itu dari Lia, dia pun membalasnya.


"Bang, ini." Cindy memeberikan hapenya menunjukkan pesan dari mantan istri suaminya tersebut. Rudi membacanya dengan tatapan sendu. Satu helaan nafas yang sangat berat membuatnya untuk segera mendudukkan tubuhnya di kursi ruang tamu. Satu tangannya memegang dadanya.

__ADS_1


"Abang kenapa?" Cindy tampak panik, merasa ada yang tidak beres pada kondisi kesehatan suaminya.


"Sakit." ucap Rudi lirih.


Cindy memngangkat kedua kaki Rudi untuk berselonjor diatas sofa. Telapak kakinya ditusuk-tusuknya dengan mengoleskan sedikit minyak.


"Kita ke dokter ya, Bang." ucapnya yang masih kawatir.


"Sepertinya ini jantung. Ya allah, tolong lindungi suami hamba dari sakit yang membahayakan jiwanya." doa Cindy dalam hati. Seketika ia teringat akan Adzka.


"Sebentar ya, Bang. Aku telepon Adzka dulu." Rudi hanya mengangguk. Kepalanya ia rebahkan dan matanya memejam.


"Dokter, bisakah kau datang sekarang?" ucap Cindy saat panggilannya tersambung.


\=\=\=\=


Adzka masih duduk diatas sajadahnya, saat telepon selulernya bergetar disaku jasnya ia mendiamkannya saja. Tapi gawainya terus bergetar, tanda panggilan itu terus berulang.


"Biar saja lah, mungkin mama." lenguhnya saat terjadi panggilan kedua, tapi tidak kali ketiganya. Diambilnya benda pipih itu, spontan ia segera mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, Bunda. Ada apa?"


"Dokter, bisakah kau datang sekarang?" jawab suara dari seberang sana. Suara itu tampak penuh kecemasan, Adzka merasa terjadi sesuatu.


"I-iya, Bunda. Saya kesana!" sebenarnya ada rasa canggung untuk bertemu dengan Rudi dan Cindy karena kejadian itu, kecairan suasana seperti keluarga sendiri itu pasti akan beda rasanya, tak seperti biasanya lagi.


Adzka keluar dari musholla dan memakai sepatunya dengan tergesa-gesa. Beberapa menit berlalu mobil putihnya telah melaju menuju kediaman Rudi di ujung kota.

__ADS_1


__ADS_2