Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
65


__ADS_3

Matahari mulai meninggi, melenyapkan semua embun yang tersisa di dedaunan. Gadis berambut sebahu sudah selesai dengan kotak bekalnya, seperti pengulangan gadis itu tetap saja merayu ayahnya untuk meminjamkan mobil kepadanya. Tapi masih tetap seperti biasanya, pendirian laki-laki paruh baya tersebut bak tembok, tidak mudah meruntuhkannya.


Walau kembali naik ojek, Juna kini kembali bersemangat mengantar sarapan pagi yang sengaja ia siapkan sendiri. Ada juga untungnya gadis itu kepikiran menikah beberapa waktu lalu, jadi ... walaupun niat itu urung terjadi, tapi meninggalkan bekas yang membuatnya rajin kedapur.


"Terimakasih." Juna memberikan helmnya kepada kang ojek. Kemudian berlalu menapaki koridor rumah sakit.


"Hei, Jun ... apa kabar? kapan datang ke Indonesia?" tanya seorang laki-laki. Usianya sepantaran dengan gadis itu.


"Mm ... maaf, saya tidak mengerti apa yang kamu katakan? kamu siapa? Saya tidak mengenalmu." ucap gadis itu dengan logat khas nona Belanda membuat laki-laki yang kini sudah dihadapannya tertawa.


"Bisa aja loe!" ucap laki-laki itu pula.


"Habisnya kau aneh! siapa yang keluar negri? aku tak seperti mu yang berlimpah harta dan bergelimang kemewahan." Juna juga tertawa.


"Aamiin" balas laki-laki tersebut.


"Apa kabar, Tom? udah lama ya gak ketemu. Tambah jelek aja" Juna meninju pundak Tomy pelan.


"Biar jelek yang penting sudah laku, memangnya kau mengaku cantik tapi masih jomblo aja."


"Kau sudah menikah? wah ... selamat selamat. Siapa wanita yang kurang beruntung itu? aku harus mengucapkan belasungkawa kepadanya." Keduanya masih saling serang candaan, hingga mereka lupa dengan tujuan mereka masing-masing.


"Ya ampun aku lupa." Tomy melihat jam di pergelangan lengan kanannya.


"Aku mau menemui dokter Adzka." sambungnya lagi menepuk jidatnya yang mulus.


"Hahaha, dasar pelupa. Ya sudah kita sama-sama menemuinya. Aku juga akan ke sana." ucap Juna santai, Tomy menautkan kedua alisnya.


"Bukannya dia dengan ibunya dokter Adzka .... ah, sudah lah bukan urusanku." Tomy berlari mengejar Juna yang sudah di ambang pintu.


"Assalamu'alaikum." ucapnya membuka pintu, Tiga orang yang tak asing baginya mejawab salamnya.

__ADS_1


"Sarapan datang. Masih pada belum makan kan?" tanya gadis itu kepada seluruh manusia yang berada diruangan tersebut.


"Belum dong, aku juga mau merasakan makanan yang paling enak sedunia versi Adzka." Zuan melirik Adzka dari ekor matanya, adiknya tersebut hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Dew, gak alergi udang kan?" tanya Juna yang sedang menyiapkan makanannya.


"Enggak. Bawa makanan apa?" Dewi melihat rantang makanan yang bersusun lengkap.


"Aku hanya masak sop dan sambal udang pakai tahu. Maaf ya, cuman ada ini. Semalam keliling cari kerja jadi cuman ketemu sama udang doang, ikannya pada habis." bisik Juna, Dewi hanya menjawab dengan abzad setelah huruf N.


"Ini pasti enak banget!" Zuan telah siap menyantap makanan tersebut, baru saja dia selesai membersihkan diri dan mencuci tangannya.


"Hm ... kalau kau mana ada makanan yang gak enak." ucap Juna membuat Zuan tertawa.


"Ya sudah cepat, aku sudah lapar." katanya membuat kedua wanita itu saling tatap dan tersenyum.


"Abang ini apa-apaan sih, makanan ini kan buat Adzka. Yakan, Jun." Dewi berbisik lagi.


Sesaat suasana hening, sepasang suami istri itu tampak menikmati sarapan paginya. Saat Adzka dan Tomy tampak menghampiri Juna mempersilahkan kedua laki-laki itu untuk ikut sarapan bersama, kebetulan juga rantang yang ia bawa berukuran jumbo, cukuplah untuk makan ber empat.


Juna mengerti, menjaga orang sakit dirumah sakit sangatlah melelahkan, tak jarang mereka melewatkan sarapan pagi. Mungkin saja capek untuk mencarinya keluar ruangan atau alasan lainnya, karena itu Juna berinisiatif membawakan sarapan.


"Aku harus ke rumah sakit, aku sudah libur dua hari, kasian juga pasienku. Hari ini juga aku ada jadwal operasi." ucap Adzka kepada Dewi dan Zuan.


"Ya sudah tidak apa-apa biar mama aku yang jaga." ucap Dewi, Zuan ikut mengangguk mereka pun melanjutkan ritual makannya.


Secepat kilat Dewi berlari kedalam kamar mandi. Memuntahkan semua isi perutnya, Zuan mengambil air hangat dan menyusul istrinya.


"Dewi kenapa?" gadis itu tampak panik. Namun Adzka tetap tenang menghabiskan isi piringnya.


"Biasa lah, bumil." ucapnya santai, Juna menutup mulutnya matanya membola sempurna.

__ADS_1


"Dewi hamil? Alhamdulillah." ucapnya.


"Ibu, kau akan punya cucu. Yeee ... ayo bu, Bangun." ucap gadis itu mengelus lengan Fatmala.


"Selamat Dew ...." ucap Juna saat suami istri itu tampak keluar dari kamar mandi, Zuan menggendong tubuh mungil Dewi.


"Kita pulang saja." ucap Zuan perlahan, mencoba bernegosiasi. Istri mungilnya itu sangat keras kepala. Sebenarnya saat pulang kemarin Zuan sudah mengatakan untuk tidak ikut menjaga mama biar istirahat saja, namun istrinya itu bersikeras untuk tetap ikut.


"Kalau kita pulang mama gimana? aku pulang sendiri saja. Abang disini saja ya. Kalau mau nurut sih. Kalau enggak ya sudah kita disini saja. Lagipun kan biasa wanita hamil muda begini bawaannya muntah terus." jawab Dewi


"Kalian pulang saja, kau istirahatlah. Kan ada aku. Biar aku yang jaga ibu." Juna menghampiri mereka.


"Beneran gak apa-apa?" Zuan bertanya, menatap anak bosnya tersebut.


"Memangnya kenapa? apa kau lupa kalau aku pengangguran." bisik Juna ketelinga Zuan.


Kepulangan Juna dari Makassar alasannya hanya Dewi dan Zuan yang tau selain keluarganya, Adzka tak perlu tau. Itu ucapan Juna saat Zuan membahasnya.


"Adzka sudah move on. Aku tak mau dia membuka sejarah lamanya." ucap Juna saat itu.


Zuan mengetahui segalanya, apa yang terjadi pada Juna sebelumnya juga sudah disampaikan oleh Marchel. Memang Zuan sudah tau ceritanya bahkan sebelum Juna menceritakan kepada mereka berdua.


Matahari sudah mulai tergelincir, Juna masih setia menemani Fatmala yang terbujur tak berdaya.


.


.


.


.

__ADS_1


happy reading ya, ngantuk banget aku. Cuman dikit ya gaes, gak pratinjau juga nih, bantu jadi editor ya manteman 😁


__ADS_2