
Perjalanan dari resto ke kediaman Rudi hanya menempuh waktu 45 menit saja. Suasana seketika hening, setelah Juna memberikan penjelasan atas apa yang terjadi antara Zuan dan Dewi yang sengaja menyembunyikan hubungan mereka.
"Pantas saja, Dewi tak pernah lagi mengirim pesan ke emailku beberapa tahun terakhir selama aku kuliah. Ternyata dia sudah nyaman bersama kakak ku disini!" ucap Adzka
"Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga!" Juna yang tak bisa menyanyi hanya mengucapkan syair lagu legendaris itu seperti puisi.
"Apaan sih! gak gitu ya, justru aku merasa nyaman tanpa gangguan pesan-pesan dari Dewi, tidur ku jadi nyenyak." mencebikkan bibir tipisnya, namun pandangannya tetap terfokus ke depan.
"Dih ... kelihatan sekali masih bocah! dimulut aja bilang enggak, dihati siapa yang tau."Juna bergumam dalam hatinya.
Mobil putih milik Zuan berhenti di depan sebuah rumah yang kebetulan pagarnya sudah terbuka lebar, mobil yang biasanya terparkir di bagian depan rumah itu sedang tidak ada ditempatnya. Membuat Adzka langsung memasukkan mobilnya kesana.
Juna membuka sabuk pengaman yang dikenakannya, membuka pintu mobil dan berjalan menuju pintu rumahnya.
"Tuh kan, Papa kemana lagi!" Juna mengintip dari jendela setelah mencoba membuka pintu yang ternyata terkunci. Kemudian mengambil telepon genggamnya dalam tas yang tadi diletakkannya diatas meja yang ada diteras. Adzka keluar dari mobilnya dan mendudukkan dirinya di kursi teras, pemandangan sekelilingnya begitu nyaman dipandang mata bunga-bunga mawar, tanaman Caladium dan beberapa pot kaktus menghias disana.
"Makasi ya, Dok. Sudah mau ngantar!" Juna berbicara tanpa melihat Adzka, dia masih fokus mengirim pesan singkat kepada Papa dan juga bundanya.
"Diliat kek, kalau ngomong sama orang!" ucap Adzka
"Maaf pak dokter, saya lagi gak fokus! duh ... papa kemana sih, kok gak balas sms ku." berulang-ulang Juna menatap ponselnya, berharap pesan yang dikirimkannya segera mendapat balasan.
"Ditelepon aja kali, siapa tau notifikasi pesannya gak kedengaran!"
"Itu ... a-nu, apa. Pulsa ku habis dok, quota internet juga. Ini tadi juga kirim pesan ke papa nunggu di 'yes' in dulu he ... he ... he!" senyuman menyeringai serta rasa malu bercampur jadi satu, tadinya Juna berfikir untuk meminjam ponsel dokter berkacamata itu, tapi dia mengurungkan niatnya.
"Biar aku yang telepon deh, kenapa gak bilang dari tadi!" ucap Adzka, mengeluarkan telepon genggamnya dari saku celananya.
Panggilan itu masih belum terjawab, hanya ada suara tut ... tut disana. Bersamaan dengan itu cahaya lampu mobil menyilaukan pandangan Adzka dan Juna, mobil hitam si empunya rumah tersebut berhenti sesaat kemudian mundur dan berhenti tepat di pinggir jalan komplek perumahan itu. Adzka pun mengeluarkan mobilnya, merasa tak enak kepada Rudi karena lancang memasukkan mobilnya kedalam pekarangan rumah.
"Maaf om, tadi lancang masukin mobilnya!" ucap Adzka setelah memarkir mobilnya, sedangkan Rudi saat ini sudah memarkirkan mobilnya ketempatnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Dok! sudah lama gak ketemu ya. Ayo masuk, ngobrol-ngobrol dulu kita!" Rudi merangkul Adzka, menerimanya ramah. Cindy dan Juni keluar dari mobil, membawa beberapa pepper bag dan beberapa kantong kresek yang berisi penuh dengan belanja bulanan.
"Dari mana, Bunda. Kok gak ngasi tau Juna, kalau kalian mau belanja bulanan. Kalau tau, kan Juna mau nebeng!" Juna sudah berdiri disamping pintu, tak sabar menunggu Cindy yang mencari keberadaan kunci rumah mereka.
"Kakak kan lagi pergi sama babangnya, ngapai bunda harus ngasi tau, ntar ganggu lagi!" ucap Cindy yang masih tetap sibuk
"Sini biar Juna bantu cari!" Juna mengambil tas yang disampirkan Cindy dibahu kanannya, membantu mencari kunci rumah tersebut.
"Ayo masuk, Nak!" ucap Cindy dengan tersenyum ramah, mempersilahkan laki-laki yang sedang bersama anak gadisnya itu. Adzka pun menganggukkan kepalanya dan berkata "ya bunda!" kepada Cindy.
Juna masuk terlebih dahulu, berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang ada dilantai dua.
"Kakak mau kemana? kok temannya di tinggal sih!" Cindy berbicara, menghentikan langkahnya yang hendak berjalan kearah dapur untuk membuatkan suaminya dan Adzka teh.
"Juna capek, Bunda! kepala Juna pusing!" ucap Juna yang sudah berada di depan pintu kamarnya. Cindy hanya bisa menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar.
"Sampai kapan kau menutup diri terus, Nduk!" ucapnya dalam hati. Sementara Adzka yang masih bisa mendengar pembicaraan antara ibu dan anak itu merasa sedikit kecewa.
\=\=\=\=\=
"Alhamdulillah, Om. Sejauh ini pekerjaan saya lancar." jawab Adzka, lebih nyaman rasanya dia memanggil orang tua dari wanita pujaannya itu dengan sebutan "Om".
"Banyak gadis-gadis yang mendadak sakit jantung dong, melihat dokter spesialisnya setampan ini!" ucap Rudi lagi
"Ha ... ha, bisa aja si om!" pembicaraan dua laki-laki beda generasi itu terus berlanjut, tak terasa sudah hampir satu jam Adzka disana. Cindy dan juga Juna sudah tak tampak lagi di ruang Tv, mereka sudah masuk kekamar masing-masing. Sedangkan Juna baru saja turun dan berjalan kedapur dengan memakai piyamanya, tak ada polesan make up lagi diwajahnya.
"Belum tidur, Nak!" ucap Rudi melihat Juna yang mengendap-ngendap kearah dapur.
"Eh, Papa. Belum Pa! haus." ucap Juna kikuk. Bersamaan dengan itu Adzka pun sekalian berpamitan kepadanya.
"Jun, aku pulang ya!" ucapnya, tersenyum manis kearah gadis manis itu. Namun Juna hanya menjawab 'ya' saja dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
__ADS_1
"Sering-sering main kesini, ya!" ucap Rudi mengantar Adzka keluar rumah.
"Iya, Om. Insya Allah, dengan senang hati!" ucap Adzka dengan lirikan kearah Juna yang masih mematung ditempatnya.
"Yes, lampu hijau dari orang tuanya sudah dapat nih, tinggal anaknya saja yang belum." gumam Adzka memasuki mobilnya. Dengan kecepatan sedang mobil itu berlalu meninggalkan komplek perumahan masa kecilnya itu. Sepanjang perjalanan, dia memikirkan pembicaraannya dengan Rudi tadi.
Flashback on
"Kau kan dokter, kau pasti lebih tau apa itu Philophobia. Aku dan mamanya sangat merasa bersalah atas apa yang telah terjadi. Usia putriku sudah sangat matang, beberapa kali aku sudah mencoba mengenalkannya dengan anak dari teman-temanku dan juga teman bundanya, namun satu pun tak ada yang berhasil membuatnya jatuh cinta, dia sangat cuek! Juna merasa dia bisa hidup sendiri, dia mampu mandiri walau nanti aku sudah tak ada lagi di dunia ini. Ini semua salahku, pertengkaran ku dengan mamanya dulu didepan matanya membuatnya jadi seperti ini!" keluh Rudi panjang lebar.
"Setidaknya jadilah sahabatnya, Ka. Aku ingin kau bisa memberikan rasa nyaman keada anakku, dia butuh orang yang dipercaya untuk mendengarkan segala kegundahan hatinya, dulu dia punya sahabat, tapi sekarang sahabatnya itu sudah menikah dan tinggal satunya di Jakarta dan yang satu lagi di Jawa Timur. Tadinya aku berfikir satu-satunya sahabat laki-laki anakku itu akan menjadi suaminya, karena kedekatan mereka, tapi ternyata memang murni sahabatan." sambungnya lagi. Adzka hanya mendengarkan penuturan Rudi dengan serius.
"Benar juga apa yang diucapkan om Rudi, untuk tahap awal kenapa aku tidak mencoba untuk menjadi sahabatnya saja. Mudah-mudahan seiring berjalannya waktu semuanya berubah menjadi cinta!" Adzka senyum-senyum sendiri membayangkannya.
Flashback off
\=\=\=\=
"Kalau abang tidak mengajak mampir tak apa ya, Dek!" ucap Zuan saat mobil yang dikendarainya berhenti tepat di depan rumahnya.
"Iya, Bang. Tidak apa-apa. Semoga secepatnya abang bilang ke tante ya, kalau abang sudah siap, Dewi juga akan bilang ke orangtua Dewi." Dewi turun dari mobilnya, sama dengan Zuan. Manik mata mereka bertemu, tersirat cinta yang sangat dalam diantara keduanya.
"Dewi pulang ya, Bang." ucap dokter gigi itu.
"Iya, hati-hati ini sudah malam!" Zuan melambaikan tangan kanannya.
Mobil itu meninggalkan Zuan yang masih menatap lekat kepergian kekasih rahasianya. Dia mengambil gawainya kemudian menelepon seseorang.
"Halo, ada apa bang? ada yang tertinggal di mobil?" ucap perempuan yang sedang mengemudi mobil, matanya mengitari sekeliling namun tak menemukan apapun.
"Gak ada kok! jangan matikan teleponnya, aku hanya ingin memastikan, sayangku sampai dirumah dengan selamat." ucap Zuan, sementara perempuan diseberang sana saat ini pipinya sudah seperti tomat busuk. Merahnya lebih dari merona, merasa sedikit malu namun juga sangat bahagia.
__ADS_1
"Sweet banget sih, kenapa aku dulu buta ya, tak melihat cintanya yang sebesar ini!" ucap Dewi dalam hatinya.
Saat kita mencintai seseorang, kita selalu ingin memberi dan membuat orang yang kamu cintai bahagia. Tapi jika perasaanmu itu hanya berupa rasa ingin memiliki yang sangat kuat sampai kamu rela melakukan apa saja untuk bisa memilikinya, itu adalah obsesi.