Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
89


__ADS_3

Bias cahaya matahari masuk melalui celah jendela yang terbuka. Gadis dengan rambut yang di cepol sembarang telah menyelesaikan ritual paginya. Apron merah masih melekat di tubuh, saat kedua tangan mampir memeluk pinggangnya.


"Selamat pagi istriku." Adzka meletakkan dagunya di pundak sang istri.


"Pagi, dokter! ih, jangan nempel-nempel, aku bauk!" Juna mencoba melupas pelukan suaminya.


"Iya, bau banget. Tapi aku tetap cinta kok."


"Aduh! Bunda datang disaat yang tidak tepat ini!" Cindy menutup matanya dengan jemari yang terbuka, mematung tepat berhadapan dengan pasangan yang baru saja halal itu.


"Lepas, Mas." Bisik Juna, sebutan mas lebih banyak di gunakan Juna saat ia membujuk lelaki tampan itu. Adzka pun menurut, walau wajahnya tampak berubah.


"Sarapan yok, Bun." ajak Adzka, ia pun menarik kursi makan untuk Cindy dan untuknya. Dokter yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya itu pun tanpa sungkan menyendok nasi goreng yang masih menampakkan kepulan asap.


"Adzka mau kerja? gak ambil cuti, Nak?" Cindy menatap Adzka yang sudah rapi


"Loh, iya. Juna gak lihat, Bun. Mas mau kerja?" raut wajah itu tak bisa menutupi rasa kecewanya


"Iya, Adzka memang gak ambil cuti, Bun. Nanti setelah resepsi baru cuti beberapa hari. Nggak apa-apa kan, Sayang." Adzka kembali menarik pinggang Juna yang berdiri disebelahnya.


"Mau bilang enggak boleh juga gak mungkin di turutin kan. Udah rapi gini. Yaa udah sana kerja aja." wanita itu berubah ketus, tangan yang melingkari pinggang rampingnya ia lepas paksa.


"Bunda, Juna ke kamar dulu." menatap Cindy dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Dengan berlari, Juna membuka apronnya dan melemparnya ke sembarang arah. Air mata itu kini menetes dengan derasnya.


"Benar-benar aneh nasibku. Lamarannya pakai baju tidur, satu hari setelah menikah di tinggal kerja pula. Sempurna!" Juna masuk kedalam kamar mandi, membanting pintunya. Kucuran air kran sengaja ia biarkan terbuka walau bak sudah penuh bahkan airnya telah tumpah. Dengan begitu isak tangisnya tak bisa di dengar oleh siapapun.


Hampir setengah jam, Juna masih belum juga keluar dari kamar mandi. Suara ketukan pintu ia abaikan dan tak menyahut sekalipun.


"Sayang, mandi atau nguras bak sih. Lama sekali" suara Adzka bahkan semakin membuat emosinya semakin menjadi.


"Istriku yang cantik, yang manis, yang baik hati buka dong pintunya. Jangan buat Mas khawatir!" suara Adzka terdengar jelas, Juna sudah menutup kran air. Namun, ia tetap diam tanpa kata.


"Sayang ... mas berangkat ya!" ucapan itu membuat Juna menghentakkan kakinya, pintu pun terbuka.

__ADS_1


"Ya udah pergi aja sana! gak usah pulang kesini." Juna keluar dengan pakaian yang sama bahkan belum terlihat ada perubahan pada tubuhnya.


"Belum jadi mandi?" Adzka mengernyit.


"Handuknya ketinggalan. Ya sudah sana pergi tunggu apa lagi? nanti pasiennya pada nungguin, kasian." tanpa memandang Adzka, Juna sudah memegang handle pintu kamarnya.


"Jangan marah! Mas, hanya kerumah sakit sebentar." Adzka menarik lengan Juna, tubuh ramping itu kini sudah dalam dekapannya.


"Issh, siapa yang marah. Lepas, Mas. Aku bau bawang!" Juna mencoba keluar dari pelukan Adzka yang begitu mengunci tubuhnya.


"Biarin! aku suka kau dalam keadaan wangi atau bau sekalipun. Lagi pula istriku ini lebih sering bau kan dari pada wangi." Adzka menangkup ke dua pipi Juna.


"Rasakan! selamat menikmati istrimu yang senantiasa bau ini kalau begitu. Siapa suruh kau mencintai ku." Juna mencebik.


"Aku sudah sangat ingin menikmatinya, tapi Allah masih tak mengizinkannya karena tamu mu hadir. Lihat nanti setelah ia pulang. Aku akan menikmatinya walau kau tak mandi satu minggu pun aku tak perduli." jawaban Adzka membuat pipi gadis itu merona.


"Mas pergi ya, maaf kalau edisi pertama setelah menikahnya harus mas tinggal kerja dulu. Jam sepuluh nanti insya Allah mas sudah selesai, siap-siap! kita akan kerumah. Mama Lia dan ayah juga akan ikut." Adzka mencium kening Juna, berlalu meninggalkan gadis itu yang tampak ingin bertanya.


Mobil putih Adzka yang terparkir di luar rumah pun melaju meninggalkan komplek perumahan tersebut.


"Hati-hati, Mas." Juna melambaikan tangannya dari balik tirai, ia mengintip dari balik jendela kamarnya sudah pasti Adzka tak melihatnya.


"Jam sepuluh!? hah ... masih lama. Nanti aja deh mandinya." Juna menggantung kembali handuknya yang sudah ia sampirkan di bahu. Memunguti pakaian kotor dalam keranjang dan membawanya turun kebawah.


\=\=\=\=\=


Gadis bergamis merah tampak mengeringkan rambutnya, setelah memoles wajahnya dengan riasan tipis. Waktu masih menunjukkan pukul 9.45 menit. Walau Adzka sudah mengirimnya kabar kalau dia sudah dijalan, Juna mengurungkan niatnya untuk segera memakai hijabnya.


Diambilnya benda pipihnya yang masih terisi daya. "Oh iya, sms Marchel!" Juna kembali membuka pesan yang ia terima tengah malam tadi. Menatap foto yang menampakkan sosok yang juga ia rindukan.


"Hm ... Mama!" Juna mencium foto itu.


"Kalau aku balas, Adzka marah tidak ya?!" gadis itu bimbang, membuat Adzka cemburu adalah hal pertama yang harus ia hindari dalam kehidupannya berumah tangga ini.


"Hah, nanti izin dulu saja deh, ribet ntar kalau si posesif cemburu." Juna membuka tirai jendelanya, Suara pintu mobil yang di tutup meyakinkannya sang suami telah sampai. Dengan berlari, ia menuruni tangga.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum!" ucap Adzka manis


"Wa'alaikumsalam." Juna mencium punggung tangan Adzka.


"Rindunya!" Adzka memeluk Juna dari belakang, Juna yang hendak kembali ke kamarnya pun mengehentikan langkah.


"Salah orang apa, Mas? cuman tiga jam gak ketemu kok rindu? hayoo ... ngayalin siapa!" Juna menarik hidung yang hampir seperti pinokio itu.


"Apa sih! jangankan tiga jam, Sayang. Lima menit tak melihatmu saja aku tak kuasa." gombal laki-laki berkacamata itu.


"Hahaha, dasar gembel! Lepas dong, geli. Jadi pergi kan, Mas? kita bawain mama apa ya?!"


"Mama? maksudnya?"


"Kita mau ke rumah mama kan?"


"Siapa bilang?"


"Loh, tadi katanya ke rumah."


"Ke rumah kita, Sayang."


"Rumah kita?" Juna teringat ijab qabul. Satu set perlengkapan sholat, satu buah cincin, dan satu buah rumah menjadi mahar yang di berikan Adzka waktu itu.


"Sudah, gak perlu ngerutin alis gitu. Ayo pakai jilbabnya, kita berangkat sekarang."


Keduanya berjalan bergandengan menaiki anak tangga. Tak ada kebahagiaan selain saling berpegang tangan saat berjalan, saling memeluk saat tidur untuk sepasang pengantin baru. Siang menjadi sangat panjang dan malam menjadi begitu pendek. Seolah tak ingin pisah, serasa ingin berhenti bekerja namun gaji tetap mengalir dalam rekening kita. Dunia hanya milik berdua yang lain hanya ngontrak.


.


.


.


.

__ADS_1


**Akhirnya bisa menyelasaikan episode ke 89 ini, setelah berhari-hari menyicilnya. Walau hasilnya tak seberapa tolong like dan komen ya pemirsa 😁.


Mohon doanya juga supaya saya cepat kembali sehat. Happy reading guys, aku sayang kalian semua.🥰**


__ADS_2