
Angin bertiup sepoy, Juna yang kali ini mengikat rambut lurusnya merasa mahkotanya itu aman. Tak perlu di sisir ulang.
"Kapan mau pakai hijab?" pertanyaan sahabatnya itu selalu terngiang, apalagi saat ia kesulitan menata rambutnya yang selalu terombang-ambing karena hembusan angin.
Tapi jawaban gadis itu hanya 'nanti kalau udah jadi nyonya' dengan senyuman khasnya. Membuat sahabatnya hanya bisa mendoakan tanpa memaksa.
Netranya menatap indah pemandangan yang dirasa cukup menenangkan. Desir ombak, suara riuh wisatawan yang bercengkrama membuat hatinya damai, walaupun dia sedang sendirian. Sejenak ia melepaskan penatnya kehidupan dunia.
Hati seseorang serupa lautan, memiliki badai, memiliki pasang surut, dan di kedalamannya memiliki mutiara juga.
Vincent Van Gogh
Gadis itu memainkan ponselnya, memeriksa sosial medianya. Meluangkan waktu sejenak untuk mengetahui kabar terupdate dari sahabat-sahabatnya. Senyumnya terukir melihat kedua sahabatnya sudah mempunyai pemuda-pemuda tampan generasi masa depan.
"Udah pada gede kalian. Ounty kangen deh." ucapnya.
Sejenak kemudian ia beralih ke profil laki-laki yang sesekali masih ia pantau. Sebisa mungkin ia sangat ingin melenyapkan ke kepoannya. Tapi hatinya berkata lain.
Deeer!
Bahu Juna terguncang. Tangan kekar sengaja membenturkan dirinya, benda pipih itu terlepas dari tangan gadis berambut lurus itu, bukan hanya hapenya jantungnya juga serasa pindah daru tempatnya. Tapi keberuntungan masih memihaknya, laki-laki berjaket hoodie menangkapnya.
"Apaan sih!" Juna memandang Marchel dengan tatapan membunuh.
"Pengen aku cepat mati!" tangannya mengelus dada
"Jangan dong! ya Maaf." ucap laki-laki itu tanpa merasa bersalah.
"Habisnya kesini sendirian aja. Kan tau aku sudah pulang, kenapa gak ngajak? lebih suka sendirian, supaya di bilang jomblo." ketus laki-laki itu.
"Apaan sih! aku gak mau ngerepotin kamu. Apa gak capek? kan baru pulang. Ya istirahat aja lah di rumah."
"Enggak, aku gak capek. Apalagi untuk ngedate bareng pacar." Marchel merangkul tubuh ramping disebelahnya.
"Iya deh, iya. Maaf aku gak ngajak tadi. Tapi gak usah pegang-pegang juga. Malu!" Entah sudah berapa kali tangan manusia tampan itu ditepiskannya.
"Sabar ... sabar." Marchel mengelus dada, melihat gadisnya meninggalkannya sendirian.
"Titip hape, Din. Aku ke toilet dulu. Jangan ikut! aku berani sendiri." ucap Juna penuh penekanan, Marchel yang hendak menyusul mengurungkan niatnya.
\=\=\=\=
__ADS_1
Jum'at sore yang cerah. Zuan telah pulang bekerja, hanya jarak beberapa menit mobil Adzka juga memasuki pelataran rumah bercat putih tersebut.
Adzka masuk terlebih dahulu mendahului Zuan yang memilih merenggangkan otot-ototnya di pendopo depan rumah itu, ditambah lagi Dewi tampak sedang duduk disana.
"Lagi apa?" tanyanya mendaratkan ciuman di kening wanita berhijab itu.
"Gak ada. Pengen aja duduk disini. Mumpung Mama ada yang jaga."
"Oh. Bagus juga si Indah itu disini. Jadi kamu bisa istirahat."
"Tapi aku gak enak, Bang. Iya kalau Indah ikhlas." ucap Dewi ragu
"Ikhlas gak ikhlas urusan dia. Kalau dia ikhlas baiknya untuk dia, kalau enggak ya untuk dia juga kan." Zuan memang tidak suka dengan gadis pengusaha itu.
"Abang kenapa sih, ketus banget sama Indah gak ada manis-manisnya. Awas loh, katanya gak boleh terlalu benci. Nanti anak kita mirip Indah loh."
"Eh, jangan ya Allah, jangan. Berikan hamba anak wajah yang cantik seperti ibu nya." tangan Zuan menadah tangan.
"Apa kita cari perawat saja, untuk bantu-bantu adek." Ide itu memang sudah ada di otak Zuan beberapa hari yang lalu karena melihat istrinya yang tampak kelelahan. Apalagi saat ini, kondisi Dewi tak boleh kecapean.
"Adek gak enak sama mama, Bang. Takutnya mama sakit hati. Dikira Dewi gak bisa ngurus Mama." wajah itu tampak serius
"Ah, adek dari tadi gak enak gak enak terus. Kapan enaknya?"
Di dalam rumah.
Adzka masih membawa tas kerjanya. Di bukanya kamar sang Mama.
"Assalamu'alaikum" Adzka mengucap salam, kedua pasang netra menatapnya dengan senyum. Sosok yang ada di balik pintu itu seperti sudah di tunggu-tunggu.
"Udah pulang, Mas." ucap Indah mengembangkan senyum.
"Seperti yang kau lihat." ucap Adzka datar tanpa melihat kearah gadis tersebut. Di pegangnya tangan ibunya, dan mengelusnya.
"Ma ... besok kita terapi lagi ya. " ucapnya disusul kode mata Fatmala seolah setuju.
"Apa mama sudah makan?" tanya Adzka kali ini dia mencoba bersikap sopan.
"Sudah, Mas. Tapi gak banyak." ucap Indah menunjukkan piring makan Fatmala yang masih banyak sisa.
"Yang banyak dong, Ma. Biar ada tenaga." ucap Adzka merayu.
__ADS_1
"Ya bagus lah gak banyak. Dipikir gak repot apa kalau ibu mu ini pup." gumam Indah. Wanita itu tampak menyesal mengunjungi wanita yang menyayanginya itu.
Sudah dua hari ia di sini. Merasa menjadi perawat jompo.
"Aku kesini kan tadinya hanya niat jenguk, tanda teringat aja. Bukannya malah di kasi kerjaan begini. Kerjaanku yang lain bahkan banyak, ini malah ditambah jadi baby sister bayi kolot. Ya Tuhan ujian apa ini." gerutunya dalam hati.
\=\=\=\=
Marchel memegang benda pipih yang harganya jauh dibawah harga ponsel miliknya. Di baliknya hape itu, menatap layar yang tampak beberapa goresan.
"Ini sudah wajar pensiun." ucapnya menyapu layar yang menyala.
Hape itu tak di kunci, Marchel melihat sosial media yang tengah terbuka.
"Oh, jadi masih belum move on juga." Marchel semakin lancang membuka chrome dan melihat riwayat penelusuran.
"Mertua Dewi stroke. Mertua Dewi ... berarti Mamanya Zuan kan, mamanya Adzka dong!" laki-laki itu terus bicara sendiri.
Kekepoannya melonjak terus, sesekali kepalanya memandang jauh ke arah kemungkinan pemilik hape tersebut muncul.
"Buat dia mules lagi ya Allah." doanya
Marchel kembali menelusuri history yang di lihat gadis yang telah menerima lamarannya itu.
"Tiket pesawat? apa dia sudah reserfasi?" Laki-laki itu terus melacak, mencari jawaban.
Dilihatnya aplikasi telepon genggam itu yang masih belum di tutup. Ada aplikasi kalkulator.
"Hm ... pasti ngitung saldo nih. Busyet dah ni cewek. Hati loe terbuat dari apa? Perempuan itu yang maki-maki loe, memperlakukanmu tidak adil. Kok malah mau di jenguk. Haduh, baik sama bodoh tu tetanggaan kali ya."
"Nambahin pikiran aja loe, Butet!" Marchel terus menggerutu dalam hati.
Laki-laki itu menutup semua aplikasi yang terbuka. Kemudian mengunci benda pipih itu tepat waktu. Beberapa saat kemudian, Juna telah selesai dengan ritualnya.
"Lama amat, Tet. Yang di keluarin batu?" seringai Marchel.
"Enggak, bukan batu tapi bayi." ketus Juna mengambil benda yang ia titip kan.
"Dih, mancing-mancing nih. Udah siap ngeluarin bayi?" tatapan itu tak dapat diartikan membuat Juna merinding.
"Ih, apaan sih. Jangan di serem-seremin gitu dong mukanya. Berasa liat hantu gue." Juna mengusap wajah Marchel kasar.
__ADS_1
"Kejadian beneran baru tau rasa loe. Hantu ... hantu, nih Juna nih katanya mau lihat."