Terjebak Cinta Brondong

Terjebak Cinta Brondong
49


__ADS_3

Air hujan semakin deras berjatuhan, membasahi pepohonan dan bunga-bunga dalam taman. Cuaca sedang mendung, sama seperti perasaan wanita yang sedang bersiap-siap didalam kamarnya. Ada rasa tak rela melepas kepergian laki-laki yang akan ia antarkan ke bandara beberapa saat kedepan.


Juna telah siap dengan tas mininya. Keluar dari kamarnya menuruni anak tangga. Hanya ada Adzka diruang tamu. Ia tampak tengah sibuk menggunakan gadgetnya. Lia masih berada di ruang belakang menjemur pakaian sedangkan suaminya tak tampak.


"Sudah pesan taxinya?" ucap Juna begitu sampai di anak tangga terakhir.


"Belum. Nih baru mau pesan. Panggilin Om dong. Aku mau pamit." Adzka memakai kaus kakinya.


"Iya, sebentar ya." Juna pun meninggalkan Adzka, mencari Lia dan suaminya.


Pintu rumah itu di ketuk beberapa kali. Disanding dengan ucapan salam dari tamu tersebut. Adzka beranjak dari duduknya, membuka knop pintu tersebut.


"Wa'alaikumsalam." ucapnya sambil membuka pintu.


Kedua netra mereka saling beradu, bibir membisu. Bukan Marchel namanya kalau tidak bisa mencairkan suasana yang seakan beku.


"Hei, ada dokter Adzka rupanya! boleh aku masuk?" sapa Marchel


"Oh, silahkan. Tuan rumahnya sedang pada sibuk. Jadi saya yang bukakan pintunya."


"Tidak masalah. Anggap saja kau juga tuan rumahnya." jawab Marchel.


Marchel menyapu semua ruangan, pandangannya liar. Dia sudah hapal setiap bagian ruangan tersebut. Diapun melangkah kearah dapur.


"Pagi, Tante." sapa Marchel, begitu bertemu Lia yang baru masuk dari belakang rumah.


"Eh, Chel. Kapan pulang?" sapa Lia


"Kemarin, Tan. Om mana?"


"Saya disini." jawab laki-laki paruh baya yang tiba-tiba sudah berada dibelakang Marchel. Marchel pun menyium punggung tangannya.


"Bagaimana keadaan Mama? apa mama ikut pulang?"


"Mama masih disana, Tan. Masih masa pemulihan. Mungkin bulan depan baru pulang ke Indonesia." jelas Marchel.


Gadis berambut sebahu itu menemui Adzka diruang tamu. Setelah menemui ayahnya, Juna kembali masuk kekamarnya, karena telepon genggamnya ketinggalan.

__ADS_1


"Sudah pamit, Dok. Ayo kita berangkat. Nanti ketinggalan pesawat." Juna sudah siap dengan menjinjing sepatunya.


"Tapi aku belum meme-" ucapan Adzka terhenti saat Marchel merangkul bahu Juna.


"Siapa yang ketinggalan pesawat!" ucap Marchel.


"Hei ... kapan datangnya manusia ini." Juna begitu terkesiap.


Sepatu yang dipegangnya jatuh kelantai. Adzka memalingkan pandangannya, tak ingin melihat kemesraan dihadapannya.


"Kangen gak sama aku? kangen lah ya, iya deh kangen aja bilang!" tangan Marchel masih setia berada di pundak kanan Juna.


"Iya kangen. Tapi gak pakek rangkul-rangkul juga dong." Juna menepis tangan itu.


Seperti ada dinding pemisah antara Juna dan Adzka saat ini. Kebahagiaan yang dirasakan Adzka selama beberapa jam berada dirumah tersebut kini menjadi sebuah kesedihan mungkin hanya dia yang tau rasanya.


\=\=\=\=


Perlahan tapi pasti Adzka melangkahkan kakinya berjalan mendahului Juna yang terus saja di goda Marchel. Keduanya lebih tampak seperti kucing dan anjing. Selalu bertengkar, namun disela-sela pertengkaran mereka saling tertawa. Tawa mereka seperti virus menular, membuat semua yang melihat mereka ikut tertawa termasuk Adzka. Tapi laki-laki itu memilih tidak berlama-lama dengan kedua sejoli itu, walau bibirnya sudah mengikhlaskan tapi nyeri hatinya masih terasa.


"Aku pulang. Terimakasih tumpangannya." kedua laki-laki itu saling berjabat tangan.


"Hati-hati, Dokter. Salam sama Dewi dan Zuan ya." Juna mengulurkan tangannya.


"Iya, nanti aku sampaikan. Jaga dirimu baik-baik." ucap Adzka, keduanya saling menatap. Netra mereka seolah bicara, tak ingin pisah. Namun ini kehendak takdir. Ini mungkin pertemuan terakhir mereka.


"Hei boss, sudah waktunya berangkat." ucap Marchel.


Juna terus melambai, matanya mulai berkaca-kaca. Secepatnya ia mengerjapkan mata, agar matanya kembali normal takut jika Marchel melihatnya.


Marchel memilih duduk menepi di kursi panjang, membiarkan Juna terus melambai dan melihat Adzka sepuasnya. Ia sangat mengerti perasaan wanita itu.


Juna menatap Adzka sampai sosoknya tak terlihat lagi. Juna kemudian menemui Marchel yang tampak sedang berbicara dengan seseorang di telepon genggamnya.


"Mama mau bicara." Marchel memberikan handphonenya.


"Halo, Mama apa kabar?" sapa Juna, ia pun tampak berbicara dengan serius.

__ADS_1


"Nih!" Juna memberikan handphone milik Marchel.


"Lama ya, Mama pulangnya. Semoga mama cepat sembuh deh. Aku rindu."


"Samaku rindu gak?"


"Tadi kamu sudah tanya itu" jawab Juna malas. Mereka berdua masih duduk dikursi panjang.


"Ngopi yok?" ajak Marchel.


"Enggak ah, aku masih kenyang."


"Kita pulang saja, Chel. Aku sudah terlambat satu jam ini."


"Kau cuti hari ini. Aku sudah bilang sama Neneng. Tenang saja." Seringai khas Marchel, memperlihatkan gigi putihnya.


"Katanya ada hal serius yang mau di omong-in. Apaan sih, aku jadi penasaran." ucapnya pula


"Oh, itu ... nganu ...." kerongkongan Juna seakan mengering. Bukan hanya itu, diapun seolah berada di padang pasir yang kering dan tandus.


"Kok, jadi gitu mukanya. Tegang banget." kedua alis Marchel menaut.


"Hei ... ada apa?" Marchel memegang tangan Juna yang tampak basah karena gugup.


"Aku ... aku, aku mau bilang tawaranmu satu bulan yang lalu. Aku menerimanya, Chel." Juna menunduk, bahkan hanya daru ekor matanya saja, gadis itu tak berani melihat Marchel.


"Apa? tawaran ku satu bulan yang lalu? tawaranku yang waktu itu? Waktu mau antar mama berobat itu kan, Jun? serius?" Marchel berdiri tepat di hadapan Juna yang duduk menunduk.


"Juna, lihat aku. Kamu serius?" Marchel memegang kedua pipi Juna, sehingga kepala itu terangkat menengadah. Kedua netra saling bertatap.


"Are you serious?" Marchel masih tampak tak percaya.


"Iya, Udin. Serius." Juna menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Rasa malu kian menyeruak. Pipinya memerah bak kepiting rebus.


"Yes!"Seru Marchel, luapan kebahagiaannya begitu jelas terlihat. Ia kembali duduk di sebelah Juna kali ini bahkan lebih dekat.


"Gak usah dekat-dekat juga kali" ketus Juna

__ADS_1


"Biarin, bentar lagi juga bisa lebih dari ini kan"


"Ih, apaan sih."


__ADS_2