
Otot wajah seakan mengendurkan seluruh urat-uratnya yang kaku, hanya dengan seyuman yang terus mengembang, membuat pemilik wajah tersebut tampak lebih muda dari usianya.
Juna terus senyum-senyum sendiri di dalam kamarnya yang tak begitu luas, membaringkan tubuh kurusnya diatas kasur, merentangkan kedua tangannya seperti burung yang siap untuk terbang. Ini bukan yang pertama kali baginya, dulu ... saat ia masih bekerja ditempat yang sama dengan dokter Adzka hampir setiap hari gadis itu makan siang bersama, tapi yang dirasakannya tak seperti malam ini. Ah ... tapi mungkin karena jadwalnya yang berbeda, biasanya kan makan siang ... ini kan makan malam! hehe
Seperti hari-hari sebelumnya, sebelum gadis itu menutup malamnya tak lupa ia menyisihkan waktu untuk berbagi cerita dengan wanita yang paling mengerti dirinya, siapa lagi kalau bukan Milatul Ulya.
Segala perasaannya ia sampaikan kepada perempuan itu, usia mereka memang tak sama walaupun mereka satu angkatan saat sekolah, tapi kedewasaan perempuan berjilbab itu tak lagi di ragukan, pengetahuan agamanya juga jempolan.
\=\=\=\=
Sambil bershalawat Juna berjalan menyusuri koridor rumah sakit, menaiki anak tangga sambil sesekali berdoa untuk kesembuhan wanita yang sudah hampir 3 minggu ini dia rawat. Gadis itu tak menaiki lift, tapi memilih tangga untuk memperbanyak bacaan sholawat, agar tidak lupa ... setiap anak tangga yang ia jejaki satu sholawat nabi ia lafadzkan.
"Apabila salah seorang di antara kamu membaca shalawat, hendaklah dimulai dengan mengagungkan Allah Azza wa Jalla dan memuji-Nya. Setelah itu, bacalah shalawat kepada Nabi. Dan setelah itu, barulah berdoa dengan doa yang dikehendaki." (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).
Biasanya Juna lebih banyak bersenandung, hari ini dia melakukan yang beda, tentu saja ini hasil dari kuliah tujuh menit yang ia terima dari temannya tadi malam.
Kesembuhan Fatmala adalah harapan dari semua orang yang menyayanginya. 20 menit berlalu, Juna telah sampai dibibir pintu ruang rawat dokter spesialis kandungan tersebut. Sambil mengucap salam Juna menarik hendle pintu, salamnya di jawab oleh dua orang yang berbeda gender. Adzka sudah rapi dengan kemeja lengan panjang dan celana bahan tampak sedang menikmati sarapan di kotak bekal yang mungkin wanita berjilbab yang saat ini di dekat Fatmala yang membawanya.
Gadis itu tersenyum ramah kepada Juna, suaranya begitu lembut menyapanya, wajah gadis itu seperti pernah dilihat oleh Juna, tapi ia lupa dimana ia bertemu dengan gadis berjilbab itu.
"Hai, Mba." Gadis itu mengulurkan tangannya, Juna menyambutnya dengan senyuman yang tak kalah ramah.
__ADS_1
"Masih ingat saya?"
"Maaf ... saya lupa" Juna menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Saya Nia, Mba. Asistennya dokter." Nia menunjuk dokter yang terbaring lemah itu dengan jempolnya.
"Oh ... iya, ya. Aku ingat." Juna menepuk jidat lebarnya, maklumlah ingatan gadis itu kan sangat payah, beberapa kali bertemu saja dia lupa, apalagi yang hanya bertemu satu kali.
Keduanya pun terlibat obrolan santai, Juna masih berdiri di dekat brangkar Fatmala sambil sesekali beberes ruangan yang tampak tak rapi, botol air mineral, gelas, sudah tak di tempat semestinya. Kamar tak serapi saat gadis itu meninggalkannya senja kemarin, tentu saja kalian paham itu perbuatan siapa kan? siapa yang menjaga Fatmala sepanjang malam?
Obrolan mereka terhenti saat Adzka mengucapkan terimakasih kepada gadis berjilbab itu dan sekalian berpamitan kepada semuanya. Adzka mencium kening Fatmala lama, berharap saat pulang kerja nanti wanita itu sudah membuka matanya dan mungkin saja sudah menyambutnya dengan senyuman hangatnya.
"Aku pergi" ucap Adzka dengan senyum manisnya menatap Juna yang juga melihat kearahnya. Wanita itu membalas senyumnya "Iya, hati-hati Dokter." ucap gadis itu
"Saya permisi, Mba. Titip dokter Fatmala ya." ucap Nia yang kembali mengulurkan tangannya.
"Iya, terimakasih sudah menjenguk Ibu." ucap Juna pula, mengantar gadis itu sampai keluar ruangan. Menatap punggung kedua anak manusia itu sampai tak terlihat lagi, keduanya tampak begitu akrab, sesekali Nia terlihat tertawa begitu juga dengan Adzka. Entah apa yang mereka bicarakan pikir Juna. Ia menutup pintu kamar itu dengan perasaan aneh dalam hatinya, dirinya yang periang seolah ditutupi awan mendung, serasa ada petir yang menyambar-nyambar hatinya.
Juna membasuh wajahnya berharap lupa pemandangan yang baru saja ia saksikan, mengambil handuk kering di dalam lemari dan baskom ukuran sedang yang ia letakkan di dalam kamar mandi. Dengan Bismillah, Juna membersihkan tubuh yang masih betah tertidur itu, masih dengan bershalawat dan berdoa agar Allah memberikan yang terbaik kepada wanita paruh baya itu.
"Haachim! hachim!" Hidung Juna memerah, merasakan gatal di dalam indra penciumannya, ia pun mengambil masker yang ia bawa di dalam tas mininya.
__ADS_1
Kepalanya terasa berat, mungkin karena sedikit kehujanan saat perjalanan menuju rumah sakit pagi tadi. Setelah selesai membersihkan tubuh Fatmala, Juna mendudukkan dirinya di dekat Fatmala. Murottal Al-qur'an tak lupa ia perdengarkan.
"Bu, kalau mau apa-apa bilang Juna ya. Juna tiduran sebentar aja. Boleh ya, Bu." ucap gadis itu, melipat tangannya diatas brangkar tepat di sebelah lengan Fatmala. Kepalanya ia baringkan diatas kasur tersebut.
Satu jam berlalu, Juna merasakan berat di kepalanya. Bukan karena sakit kepalanya yang semakin bertambah, tapi karena seperti ada benda yang menimpanya.
Juna membuka matanya, betapa terkejutnya ia. Tangan Fatmala lah yang berada diatas kepala gadis itu. Juna mengakat tangan itu, kantuknya hilang seketika.
"Sudah bangun." ucap wanita paruh baya itu lirih, hampir tak mengeluarkan suara tapi, Juna masih bisa mendengarnya.
"Ibu! Ibu sudah sadar." Juna tak percaya, kedua pipinya ia tepuk-tepuk,
"Ini bukan mimpi! Ini nyata. Ahamdulillah ya, Allah." ucapnya yang spontan memeluk wanita paruh baya itu.
Dokter pun masuk memeriksa keadaan Fatmala setelah tombol darurat ia tekan beberapa waktu lalu. Adzka, Zuan dan Dewi juga tak lupa ia beri kabar.
Ketiganya segera meluncur ke rumah sakit dengan perasaan bahagia. Adzka masih menggunakan jas dokternya saat tiba di ruangan itu, memeluk erat Fatmala yang tersenyum walau masih tampak lemah. Keajaiban telah mereka rasakan, Fatmala bangun dengan kondisi normal, tanpa menyisakan sedikitpun sisa stroke beberapa bulan lalu, bibir yang peyot tampak normal, lengan yang tak bisa digerakkan juga berfungsi seperti sediakala. Kini dokter masih memeriksa dokter senior itu.
"Mama sudah sadar, Jun. Mama sudah sadar." Adzka memeluk gadis itu, air matanya menetes tak perduli orang mau bilang dia laki-laki cengeng atau apapun itu, yang pasti saat ini bahagianya diatas rata-rata.
Juna juga meneteskam airmatanya, bahagia melihat keajaiban yang Allah berikan kepada perempuan yang ia panggil Ibu itu. Beberapa detik mereka masih larut dalam kebahagiaan, detik berikutnya dunia nyata kembali menyadarkan keduanya. Adzka melepas pelukan yang tak bersambut itu, sambil mengucap maaf.
__ADS_1
"Maaf, aku terlalu bahagia." ucapnya, Juna hanya menunduk menyeka air matanya.
"Astaga, jantung! jangan maraton disaat seperti ini." ucap Juna dalam hati.