
Gadis bergaun dengan sebagian kainnya terseret ke lantai sedang menatap pantulan dirinya di cermin yang ukurannya sangat besar.
Senyumnya tak bisa ia sembunyikan. "Bagaimana? apa mba Juna sudah merasa nyaman dengan ini?" ucap wanita yang selalu menyisipkan bunga di rambutnya.
"Apa perlu di kecilkan lagi? saya rasa akan lebih bagus jika seperti ini. Kau akan semakin terlihat ramping." perempuan itu menyatukan bagian kain di belakang pinggang Juna.
"Mm ... tidak, Mom. Saya mau seperti ini saja." jawab Juna, wanita yang selalu di panggil dengan sebutan mommy itu pun menerimanya.
Telepon genggam Juna berbunyi sebentar, notifikasi pesan masuk tentunya. Sambil mengangkat bagian kain yang menjuntai, gadis itu mengambil gawainya yang sengaja ia letakkan di sebelah tas mininya.
"Pasti dia! tuh kan, gak salah lagi."
"Masih lama? aku masuk ya! aku mau lihat! kau cantik apa tidak." pesan singkat itu membuat garis lengkung di bibir gadis itu.
"Dokter disana saja. Sebentar lagi selesai kok! tenang lah. Aku sudah cantik dari lahir, mau pakai apapun tetap cantik kok." pesan itu segera ia kirimkan. Membuat laki-laki yang menunggu di ruangan lain menghela nafasnya kasar.
"Aku sudah tidak sabar ya, Allah! kenapa beberapa hari ini berjalan sangat lambat." ucapnya setelah meletakkan handphonenya, mengambil majalah mode yang ada dibawah meja, membolak-balik halamannya tak tentu arah.
"Dok, Ayo." Juna berpamitan dengan mommy Ane, menenteng papperbag bertuliskan nama butik yang cukup ternama di kota itu
"Sudah selesai? Ayo." Adzka berjabat tangan, sekalian memberikan undangan kepada wanita yang merupakan bagian dari tamu penting sang mama.
\=\=\=\=
Wanita berjilbab lebar sedang menanti suaminya yang sedang berada di meja resepsionis. Dengan wajahnya yang semakin pucat wanita itu tersenyum menatap laki-laki tampan yang setia menemaninya.
"Ayo!" ucapnya. "Kita akan melakukan pemeriksaan ulang, kita diarahkan ke dokter ... siapa tadi namanya?" laki-laki itu membaca kertas yang ada ditangannya.
"Dokter M. Amir Shah, dokter spesialis Kanker,Sub Radioteraphy." ucapnya lagi.
Pemeriksaan seperti saat di Indonesia kemarin di lakukan kembali, Ct scan, Mri dan lainnya. Begitu prosedur rumah sakit yang harus di jalankan sebelum mereka menemui dokter yang akan menangani penyakit gadis berjilbab itu.
Tangan Mila berkeringat, wajahnya pucat, bukan karena menahan sakit, tapi karena ketakutan yang berlebihan. Seakan tak siap menerima hasil pemeriksaan yang akan di jabarkan oleh dokter beberapa saat lagi. Mungkinkah hasilnya akan lebih buruk dari hasil sebelumnya?
"Silahkan duduk!" ucap Dokter itu ramah.
"Jangan takut! saya tidak galak!" ucap dokter itu dengan menggunakan bahasa Inggris.
__ADS_1
"Oke, setelah saya baca hasilnya. Kesimpulannya sedikit berbeda dari hasil yang ada dari Indonesia, Qodarullah adek
Adek ni sekarang memang menderita sakit kangker otak, stadium II. Cara pengobatannya ada dua, yang pertama operasi, yang kedua dengan Radiotherapy."
Pasrah! Mila sudah jauh-jauh hari mempersiapkan mentalnya, menghadapi kenyataan saat ini. Tapi teori memang lebih mudah dari pada praktek. Pilihan kedua solusi dari dokter akan ia lakukan, semoga Allah memberikan ia yang terbaik.
Air matanya sengaja ia sembunyikan meskipun suaminya akan maklum jika itu terlihat.
Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan menggugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya
Hadits Riwayat Bukhori Muslim
"Aku ikhlas ya, Allah." sekelebat bayangan anak yang masih membutuhkan kasih sayangnya, suami, orang tua dan sahabat tayang di ingatan.
"Juna tak perlu tau aku disini. Sebentar lagi dia sudah akan menikah. Aku tak akan memberikannya beban fikiran."
\=\=\=\=
Perempuan paruhbaya nan anggun masuk ke dalam mobilnya, tersenyum ramah kepada sang pengemudi
Jalanan yang lengang membuat mereka sampai di depan kantor PPAT yang bertuliskan nama yang sangat wanita itu kenal.
"Kau makan saja dulu. Ini! Nanti jemput saya jam 3 sore, disini." ucap perempuan itu dengan jelas, sopir yang bernama Andre itu pun mengangguk menerima beberapa lembar uang.
Maria mengurungkan niatnya untuk bertamu ke rumah Lia, Ia mengubah alamat tujuannya ke tempat perempuan itu bekerja.
"Selamat siang!" ucap Maria membuka pintu, Lia menyambutnya dengan senyuman dan pelukan hangat.
"Apa kabar, Kak." ucap Lia setelah cipika-cipiki
"Ya, begini lah. Semakin kurus. Tapi alhamdulillah, semoga benar-benar sembuh." ucapannya segera di aminkan oleh Lia.
"Kakak sendiri? dimana Marchel?"
"Dia ada di rumah. Marchel juga tidak tau aku datang kesini. Lia, aku mau bicara serius, apa yang terjadi diantara Marchel dan Juna. Dan dimana anak cantikku itu? sudah satu minggu aku pulang, tapi dia belum pernah menjengukku. Selama disana aku sangat merindukannya. Nomor teleponnya juga tiba-tiba sudah tidak ada lagi di hape ku, tanya Marchel katanya juga di hapenya hilang karena waktu berangkat ke Jepang tempo waktu hapenya jatuh dan rusak. Aku merasa ada yang janggal ini." ucap Maria begitu serius.
"Hm ... mba, Juna sudah pulang ke Medan."
__ADS_1
"Ini, Mba." Lia memberikan ponselnya, menunjukkan pesan bergambar yang Juna kirimkan beberapa hari yang lalu.
"Undangan?"
"Iya, Juna sengaja mengirimkan ini. Coba kakak baca pesan di bawah gambar yang anakku kirimkan itu."
Ma, aku bahagia sekali. Akhirnya Ma, akhirnya aku benar-benar akan menjadi istri. Tinggal beberapa hari lagi, Ma. Mama harus datang satu bulan sebelum akad.
"Juna akan menikah?" pertanyaan itu di susuli anggukan Lia
"Alhamdulillah, siapa laki-laki beruntung itu? tapi kenapa kata-kata tadi seperti dia pernah gagal? apa aku melewatkan sesuatu?" alis Maria menaut, hanya beberapa bulan tinggal di Jepang, sepertinya ia melewatkan hal penting.
"Sebenarnya begini, Kak!" Lia menceritakan semuanya, mulai dari Juna yang menerima kembali Marchel sampai gadis itu menunggu kepastian resmi dari keluarga Marchel yang tak kunjung menghubungi dan akhirnya ... ya, seperti yang kalian tau.
Maria faham sekarang, kenapa tiba-tiba nomor telepon Juna menghilang, Marchel mengganti hanphone sekalian dengan nomornya, berbulan-bulan anaknya murung seperti tak punya semangat hidup.
"Kalau saja Marchel menceritakan semuanya padaku, aku tak akan menyia-nyiakannya. Hari itu juga aku akan datang melamar." ada rasa jengkel di hati wanita cantik itu
"Sudah lah, Kak. Kalau tidak jodoh bagaimana lagi." imbuh Lia
"Hah, betul itu. Kalau tak jodoh mau di paksa bagaimanapun tetap tak akan bisa berjodoh ya. Kalau begitu aku minta nomor telepon Juna, rindu kali aku." mama Lia mberikannya.
Sebelum Maria meletakkan handphonenya ke telinganya, Lia menghentikannya.
"Makan dulu kita, Kak. Aku sudah pesan makanan tadi, pegawaiku bilang driver baru saja mengantarnya."
"Oh, iya lah. Makan lah kita."
.
.
.
.
Mila ada di "keteguhan hati" ya manteman, kali aja ada yang pinisirin sama ceritanya 😉
__ADS_1