
Mengenalmu dalam mencintai membuatku semangat menjalani hari dan waktu untuk maju dan sukses demi mendapatkanmu, tak kan pernah terganti oleh sosok siapapun. Hanya kau yang mampu membuatku rela menjadi abdi dalam kehidupanmu.
Mungkin salah ... tapi itu terjadi
Relaku mengalahkan egoku
Semoga Tuhan menjaga mu
Hingga kita bersatu
Adzka, Terjebak cinta Brondong.
\=\=\=\=\=\=
Kaos biru lengan panjang dipadu dengan jeans warna senada, rambut yang di cepol serta kaca mata membingkai mata gadis manis itu mendorong troli yang tak penuh, hanya beberapa produk yang biasa di lihat di televisi serta bahan terpenting yang wajib ia miliki perbulannya.
Sembari menunggu antrian, wanita yang bisa dikatakan anti sosial ini hanya tertunduk, memainkan game yang sedang dimimati beberapa bulan terakhir.
"Dimana?" pesan ini tampak di layar sebelah atas, buru-buru Juna membalasnya spontan
"Di market!!" dengan membubuhkan lumayan banyak tanda seru
"Ngapain?" pesan itu langsung terbalas
"Silaturahmi!!!"
"O" pesan selanjutnya hanya satu huruf, membuat rasa nyeri di relung hati.
"Cuman 'O', gak biasanya." gadis itu mengernyit, memasukkan hpnya ke dalam tas, sudah saatnya menemui kasir tampan berkaos merah.
"Ada lagi, Mba?" sapa kasir itu ramah, namun hanya di jawab anggukan saja, mood nya seketika jelek menerima huruf seperti donat tadi.
"Dia kepo aku risih, dia cuek koi aku kayak gini." pertanyaan demi pertanyaan bersemayam di jiwa, sambil memasang helm Juna masih saja memanyunkan bibir tipisnya.
"Jangan cemberut gitu, Kak. Cantiknya hilang." ucap kang ojek langganan.
"Ah, berisik! bentar lagi udah laku juga." ucapnya menepuk pundak wanita itu, dengan terkekeh teman satu kelasnya semasa sekolah dasar itu menjalankan motornya.
Di tempat lain
__ADS_1
Senyuman terlukis di wajah putih mulus itu, "Aku usahakan sebisa mungkin, akan membuatmu nyaman. Kalau caranya harus begini ya sudah, jalani saja." walau dari hati terdalam pria itu merasa bahwa sifat sedikit cuek ini bukan dirinya.
Makan siang ini begitu berbeda, tak ada Juna di sisinya. "Hm ... bahkan aku sudah terbiasa makan siang bersamamu." semangkuk soto ayam dan nasi putih sudah terhidang di mejanya, membubuhkan perasan jeruk nipis dengan selera makan yang menghilang.
Flashback on
"Bertengkar lagi, Ka?" suara lembut menyambut dari seberang sana setelah mengucap salam
"Iya, Bunda." terdengar lirih di selingi sedikit tawa
"Kalian ini! bunda tidak mau membela siapapun. Kalian sama-sama keras kepala! Ka, mencintai itu gak harus se posesif itu, dan yang paling penting jangan terlalu mencintai makhluk dari kau mencintai Tuhan mu. Sesuatu yang berlebihan itu gak baik, Nak. Bunda tau, Adzka takut kehilangan Juna lagi kan! tapi sekarang kan statusnya beda, kalian sudah bertunangan, insya Allah Juna bisa jaga hatinya. Juna juga gak ganjen anaknya posisi mu aman tenang saja." terdengar suara mesin penghalus bumbu
"Bunda sedang masak ya?"
"Hm ... menurut Adzka? sepagi ini ngapain coba kalau gak masak."
"Juna kok gak di situ?"
"Kalau kalian lagi berantem gini, Jangankan masak ... mandi aja Juna ogah-ogahan" kalimat itu di selingi tawa
"Kalau itu sih udah maklum Adzka, Bun. Memang anak gadis bunda itu joroknya kelewatan."
"Hahaha, suka banget bunda. Ya sudah kalau begitu, maaf mengganggu, Bunda."
"Tidak apa-apa, Nak." panggilan itu berakhir, helaan napas panjang terhempas dengan sedikit kasar di susul gelengan kepala.
"Ada-ada saja, semoga setelah menikah adem ayem sampai maut memisahkan." lirih wanita paruh baya itu mengucap doa
Flashback off
\=\=\=\=
Masih dengan wajah yang di tekuk, wanita itu memberikan helm dan memberikan uang kepada driver ojol.
"Kembaliannya ambil aja!" masih ketus
"Kembalian dari Hongkong, uang mu pas gini." perempuan berbalut jaket itu mencebik
"Sekali-kali kasi tip kek, atau di kasi apa gitu." ucapnya membuat Juna melengkungkan bibirnya
__ADS_1
"Makasi, Butet. Terimakasih sudah mengantarku dan membawa motor dengan selamat sentosa sampai rumah. Ini hadiah kecil untuk mu." Juna memberikan undangan yang ia bawa dalam tasnya khusus untuk kang ojek langganan.
"Yah ... ini sih namanya bukan hadiah! malah minta hadiah! tapi gak apa lah, akhirnya kau laku juga hahah." teman satu kelasnya dulu itu bicara dengan gelagat mengejek
"Aku hanya menunggu orang yang tepat, supaya gak berulang-ulang nikah nya." balasan itu kian menohok sampai ke hati paling dalam. Bukan Juna namanya jika tak bisa menang dalam saling menghujat.
"Ya sudah pulang sana!" Juna mengebaskan jemarinya.
Teras yang di penuhi hamparan bunga tampak segar siang itu, panas yang tak begitu membakar seolah kasihan dengan tanaman hijau yang tadi pagi mendapat perbaikan tanah.
Juna mendudukkan tubuhnya di kursi, membiarkan dua kantung plastik belanjaannya tersusun di lantai. Mengamil benda pipihnya dalam tas berwarna hijau tua.
"Hm ... gak ada apa-apa." tampak kecewa, handphone itu kembali masuk kedalam tas.
"Seperti ada yang hilang." ucapnya pula, melihat arloji yang melingkar di lengan kanan
"Sudah setengah tiga, ngantuk!"
Gadis itu kemudian masuk ke dalam rumah sederhananya, menenteng belanjaannya dengan tas yang ia sampirkan asal di lehernya.
"Udah pulang, Kak!" ucap Cindy yang sedang tiduran sambil menonton tv.
"Iya, Bun." tanpa berhenti, kakinya mulai menaiki anak tangga
"Tadi Adzka ...."
"Biarin aja, Bun. Kalau dia tanya apa-apa bunda tinggal jawab aja apa adanya. Tidak usah cerita ke Juna. Bunda kan yang di telpon bukan aku!" ucapnya tegas, memotong ucapan Cindy.
"Kenapa tanya bunda! apa gak bisa tanya sendiri sama orangnya. Menyebalkan!" batin Juna marah.
.
.
.
.
Maaf atas keterlambatan ini, author sedang ada kesibukan di dunia nyata. Happy reading gaes 🥰
__ADS_1
aku sayang kalian ✌️